
Bukan hanya sekali aku bertemu pria bertopi dan masker itu, aku bertemu berapa kali dengannya tapi dia tidak berusaha mendekatiku lagi. Dia hanya berdiri diam di halte bis itu. Sepertinya dia memang sedang menunggu seseorang. Setelah berapa lama dia tidak pernah muncul lagi. Rasa takutku menguap begitu saja.
Nandes datang ke kosanku. Ini pertama kalinya kami bertemu lagi setelah aksi kiss scene itu. Sudah lewat 3 hari. Sialan juga dia, aku kepikiran setengah mati. Dia malah datang dengan santainya dan mengajakku makan nasi goreng. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Sepanjang jalan aku cemberut. Apa ini? Apa hanya aku doang yang berdebar? Dasar Nandes babon.
" Kamu kenapa? Mukanya ditekuk begitu? Nasi gorengnya tidak enak? ", Nandes bertanya sambil tetap menyetir mobil.
Aku diam saja, malah membuang muka. Bisa-bisanya aku berdebar dengan pria tidak peka ini. Akhirnya Nandes diam. Karena tidak tahan dengan keadaan yang terlalu tenang ini aku memulai pembicaraan.
" Kamu kemana saja selama 3 hari ini?", aku bertanya padanya tetapi mataku melihat ke arah jalan.
Nandes tersenyum " kemarin aku bekerja sampai larut malam. Ada proyek baru yang harus dikerjakan", Nandes menjawab santai.
" Kemarinnya?", terorku.
" Sama, ngantor, basket, lembur".
" Kemarinnya lagi?", Aku ngotot mencari kesalahannya.
" Ngantor, rapat bareng Monica, makan siang bareng Monica, kantor lagi, pulang, tidur", Nandes menjelaskan sabar.
Aku mengerutkan kening mendengar nama Monica. " Monica ini …. Pacar kamu ya?", tanyaku penasaran tapi seolah acuh tak acuh.
" Bukan… Dia teman kerja aku, orang yang kompeten", Nandes memuji.
" Oh..", jawabku seolah tak peduli.
" Sekarang kamu mau aku antar pulang atau mau ke mana?", tanya Nandes.
" Aku…. ", didalam hatiku, lubuk hatiku paling dalam aku ingin pergi ke apartemennya tapi aku belum siap menerima hal yang akan terjadi berikutnya.
__ADS_1
" jadi mau ke mana?", Nandes masih bertanya.
" ke tempatku", kataku singkat.
" Oke.. ", ada sedikit nada kecewa dalam suaranya. Aku bisa merasakannya.
Saat kami sampai di depan kosanku, aku tidak langsung turun. Aku memegang tasku cukup erat memberanikan diri bertanya kepada Nandes.
" Jadi kita ini apa?", aku bertanya.
Nandes diam lalu melihatku " Kita? Kalau aku mengikuti isi kepalaku aku mau kita adalah satu. Aku dan kamu bersama,seperti pasangan pada umumnya".
"Lalu? Kenapa kamu tidak muncul dalam 3 hari?", aku bertanya.
" Embun, aku sudah memastikan perasaanku. Aku hanya ingin kamu memastikan perasaanmu dengan benar. Aku mau kamu datang kepadaku atas kehendak hatimu, bukan karena merasa bersalah karena kebersamaan kita yang cukup lama".
" Tapi aku yakin dengan hatiku", aku ngotot.
Nandes tersenyum " Kamu belum bertemu dengannya?".
Nandes melihatku, menatap tepat di mataku seperti akan memastikan sesuatu " Juan.. Juan pulang ke Indonesia dan mencarimu".
***
Aku duduk di pinggir tempat tidurku. Saat Nandes mengatakan Juan pulang, hatiku seperti diberi sebuah kejut listrik dengan tegangan cukup tinggi. Aku cukup kaget karena sampai tidak bisa membalas kata-kata Nandes.
Malam saat kita makan malam di rumah Adam, dia memberitahuku bahwa Juan kembali. Juan bahkan menanyakan keadaanmu kepada Adam. Dia ingin bertemu denganmu.
Malam itu aku seperti kehilangan arah. Itulah alasanku minum dan merokok, aku menciummu karena rasa takut yang melanda hatiku. Entah apa yang kutakutkan Embun…
Malam itu aku benar-benar ingin menjadikanmu milikku. Aku berusaha menjagamu disampingku selama ini agar kamu bisa jatuh hati denganku setiap harinya. Tapi setelah mendengar dia kembali aku kalap, aku lupa diri. Alasan aku keluar rumah dan tidak bertemu denganmu selama 3 hari adalah… aku takut aku akan melakukan hal yang berlebihan padamu. Aku tidak ingin memaksa hatimu. Aku tidak ingin kamu pergi dariku karena egoku.
__ADS_1
Embun aku akan menunggumu jika kamu ingin bersamaku datanglah ke tempatku. Tetapi jika tidak, ingat aku sebagai sesuatu yang baik untukmu karena aku tidak mungkin bisa berteman denganmu lagi.
Aku memandangi fotoku dan Nandes di atas meja saat aku wisuda. Kenapa aku bimbang setelah mendengar kedatangan Juan? Aku tidak tahu ada apa denganku. Padahal kemarin aku sangat gencar ingin bersama Nandes.
Juan meninggalkanku dan aku bersama Nandes selama ini. Perempuan waras manapun akan memilih Nandes, tapi apa yang membuat aku menjadi ragu? Apakah masih ada rasa yang tersisa untuk Juan? Aku bahkan tidak bisa memikirkannya.
***
Aku tahu aku bersalah pada Nandes. Seharusnya saat itu aku memutuskan untuk bersamanya. Tetapi keraguan di hatiku membuatku jatuh kedalam lumpur ini.
Juan muncul, dia menemuiku sebagai orang penting di tempat kerjaku. Perusahaan orang tuanya adalah sponsor yang menyokong Rumah Sakit tempatku bekerja. Saat Rumah Sakit merayakan ulang tahunnya yang ke 102, aku yang didapuk sebagai salah satu panitia terlibat langsung dalam acara ini. Juan melihatku dan menegurku di sebuah kesempatan.
" Halo dokter Embun. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?", Juan mengulurkan tangannya padaku dan tersenyum penuh arti.
Aku terpaku menatapnya, Juan tidak banyak berubah. Dia menjadi lebih tinggi dan tampan. Suaranya masih hangat seperti dulu. Tatapan matanya tidak berubah. Aku menerima uluran tangannya, menyadari posisiku dan menjawab dengan profesional.
" Halo pak. Lama tidak bertemu", aku tersenyum ramah padanya. Saat menyambut uluran tangannya aku menyadari getaran dihatiku yang dulu pernah kurasakan saat bersamanya sudah hilang bersama kenangan kami yang terkubur jauh di dasar hatiku.
Juan menungguku saat selesai bekerja. Kami duduk bersama di salah satu kedai kopi di rumah sakit. Aku menatap gelasku, apa yang Juan ingin katakan padaku setelah sekian lama adalah hal yang ingin ku dengar.
" Cantik, apa kabar?", Juan menyapaku dengan caranya yang sama seperti dulu, dengan suara yang sama,senyum yang sama.
Jantungku berdetak tidak karuan bukan karena aku menyukainya tetapi mengingatkanku pada masa di mana aku begitu menyukainya dan dia melepaskanku begitu saja.
Aku tersenyum " Kabar saya baik pak", aku berkata formal.
" Bisakah kamu berhenti bertingkah formal?".
" Ini di masih area Rumah Sakit. Saya tetap harus bersikap formal kepada bapak", aku memberi alasan.
" Kalau begitu mari bertemu di luar Rumah Sakit. Aku akan menjemputmu nanti malam Embun. Ada yang ingin aku sampaikan padamu", Juan berkata lembut.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan tanda setuju. Lalu Juan berdiri dan berlalu meninggalkanku. Aku menghembuskan nafas sedikit kasar. Aku akan menentukan hatiku saat bertemu Juan nanti malam. Aku akan memastikan bahwa debaran itu sudah berlalu sejak lama.
***