
Aku dan Juan duduk di pinggir lapangan yang di desain seperti tangga memutari lapangan itu. Bunyi alat musik Gendang dan nyanyian mulai berkumandang, beberapa wanita dan pria bergerak-gerak gemulai menarikan beberapa tarian pengantar.
Aku terpukau sekaligus merinding, jujur saja baru pertama kali aku menyaksikan acara adat seperti ini. Ternyata karisma yang dipancarkan suatu acara yang sakral itu sangat mengagumkan.
Juan mulai menjelaskan saat 2 orang pria mulai saling berhadapan seperti akan bertarung.
" Tari Caci ini adalah tari perang yang berasal dari daerah asli sini daerah Manggarai. Nah tarian ini hanya laki-laki yang bisa memainkannya. Kamu lihat cowok yang memegang cambuk pendek itu? Itu penyerang kalau bahasa di sini manggilnya Paki, kalau yang pegang tameng sama cambuk gede itu penangkis kalau bahasa sini panggilnya Ta'ang".
" Tang? ", aku mencoba mengeja.
" Ta'ang bukan Tang. Pegangan cambuknya itu dibuat dari kulit kerbau. Ujung cambuknya yang kena badan lawan itu dibuat dari kulit kerbau yang dikeringkan trus jadi keras biasanya disebut Lempa. Atau bisa juga pakai lidi dari pohon enau yang masih hijau disebut Pori. Kebayangkan rasanya kalau kena itu?", Juan menjelaskan dengan serius dan penuh kebanggaan.
Aku bergidik. Sakit banget pastinya. Aku menatap dengan serius ke arah lapangan.
" Acara ini tu gak setiap minggu. Ini diadakan kalau ada syukuran musim panen, ritual tahun baru atau ada tamu penting. Nah sekarang ini diadakan karena Gubernur ada di sini. Paham?", lanjut Juan.
Aku mengangguk-angguk sok paham. Cukup kagum dengan pengetahuan Juan terkait budaya-budaya ini.
" Kamu tau banyak ya?", Kataku memuji.
" Aku anak IPS harus tau yang macam gini. Tapi belum banyak sih, itu pengetahuan masih minim jadi harus banyak baca lagi ", kata Juan merendah.
" Kak Juan, pohon Enau itu macam apa?", aku bertanya serius.
Juan terdiam " jujur aku juga belum pernah lihat. Nanti kalau aku ketemu macam apa pohonnya aku bakal tunjukan ke kamu", Juan menjawab serius.
Aku tersenyum melihat Juan yang penuh tekad itu. Aku mengangguk setuju.
***
Setelah hari itu Juan terus menempel padaku. Saat berangkat sekolah, saat istirahat kelas, saat jam olahraga, saat ke TU bahkan saat pulang sekolah.
" Kak… kenapa sih nempel mulu", suatu hari aku protes saat Juan duduk di sebelahku di kantin.
Kelakuan Juan yang seperti ini membuat Elsa merasa tersingkirkan dari posisinya. Tentu saja Elsa protes keras kepadaku tapi menciut saat berhadapan dengan Juan.
" Bukannya sahabat harus ke mana-mana itu bareng ya? Kan kita sahabat", Juan berkata yakin.
" Gak. Sejak kapan kita sahabatan? ", aku protes. " Sahabat aku cuma Elsa", kataku sambil menunjuk Elsa di kursi sebelah yang wajahnya penuh tekanan karena Adam duduk di depannya.
" Ya udah kita sahabatan berempat. Kamu, Elsa, aku, Adam. Pas kan. Empat serangkai", kata Juan.
" Terserah deh ", kataku pasrah. Aku langsung berdiri meninggalkan Juan dan mangkok baksoku yang kosong, Elsa mengikuti dari belakang.
" Kang, bakso sama minumannya nanti di bayar sama mas itu ya", aku menunjuk Juan.
" Oke Neng ", kata Kang bakso.
Juan mengangkat sebelah alisnya padaku meminta penjelasan.
" Kan kita sahabat", kataku selow lalu tersenyum sok ramah kepada Juan. Melihat itu Adam tertawa keras.
" Kang punya saya juga di bayar sama mas Adam ya", Elsa melanjutkan sambil ngacir meninggalkan Adam yang terbatuk-batuk karena kaget di serang tiba-tiba.
***
Sorenya Juan muncul di Teras rumahku dengan martabak di tangannya. Bukan untukku tapi menyogok bibi di rumahku.
Aku menemuinya dengan malas. " Makin rajin ya ke sini", kataku jutek sambil melihatnya yang duduk santai di kursi teras rumahku.
" Iya nih. Namanya juga orang lagi usaha", kata Juan selow sambil menyeruput kopi buatan bibi.
Aku melengos kesal.
" Tolong dong ambilkan tissue", kata Juan cuek.
Aku melotot tapi tetap masuk ke dalam rumah mengambilkan tissue. Juan mengikuti dari belakang sambil membawa cangkir kopinya dan duduk di ruang tamu.
" Loh kok pindah duduk?", kataku kaget.
" Dingin di luar. Kamu gak kasihan sama aku, lihat ni kuku aku sampe biru", kata Juan memberi alasan.
__ADS_1
Aku melihat Juan dengan tatapan curiga.
" Untung kakak kelas, kalau gak ku sikat juga ni orang", aku ngedumel.
" Makasih kukang ", Juan tersenyum senang mendengar aku ngedumel.
Aku duduk bersama Juan di ruang tamu. Sambil membaca beberapa majalah bobo kesukaanku.
" Duile… udah tua masih baca bobo", Juan mengambil salah satu majalah itu.
" Suka tau. Ceritanya seru deh", kataku sambil mencari-cari halaman yang ingin ku baca.
Kami berdua membaca dalam keheningan. Tiba-tiba Juan tertawa.
" Ada apa?", tanyaku penasaran.
" Setelah dilihat-lihat, karakter rongrong ini mirip siapa ya. Ternyata mirip kamu", Juan menunjukan kucing rong-rong padaku.
" Asem", kataku mencibir.
Bibi masuk ke ruang tamu. " Neng, mau di masakin apa?", tanya bibi.
Aku berpikir dan tersenyum " Bibi istirahat aja. Nanti Embun masak sendiri sama teman Embun ini", kataku tersenyum.
" Oke non. Mas makasih ya martabaknya", kata bibi ramah kepada Juan.
" Sama- sama", Jawab Juan sopan.
" Kak makan malam di sini kan?", kataku sambil tersenyum penuh arti.
Juan yang mungkin melihat tujuan dan maksud dari senyum ku mulai tertawa kaku.
" Makasih. Aku makan di rumah aja. Pamit dulu ya Embun", kata Juan cepat-cepat sambil merapikan majalah menjadi 1 tumpukan.
" Eits, jangan gitu dong. Masa jauh-jauh kesini gak makan. Ayo kak Juan SA.HA.BAT aku", kataku sambil menarik kerah jaket kak Juan dan menyeretnya ke dapur.
***
Juan berkonsentrasi mengupas bawang yang aku berikan. Matanya mulai berair, tapi dia tidak terlihat mau menyerah karena takut aku mengejeknya.
" Kamu yakin mau pakai bawang sebanyak ini? ", tanya Juan lagi.
" Iih kakak udah nanya 5 kali ya. Yakinlah. Bawangnya harus banyak biar cita rasanya itu lebih oke", kataku sok yakin.
Juan mengangguk paham. Dengan sengaja Juan menggosok matanya dengan jari. Lalu dia berteriak.
" Argh.. mataku… argh…. Aku buta", Juan berteriak lebay.
Aku melihat Juan tanpa minat " Jangan akting. Itu kelingkingmu kan bersih", kataku sambil memotong tomat lagi.
Juan langsung terdiam, mengambil tisu dan menyeka matanya lalu melanjutkan mengupas bawang dengan cemberut.
Aku memakai sedikit bawang dari yang dikupas Juan, membuat dia tercengang dan bersungut-sungut. Tapi aku merasa puas karena bisa ngerjain Juan.
Aku meletakan spaghetti di depan Juan yang diam cemberut karena bawang yang dikupas tidak dipakai semua.
" Ya udah maaf. Kan hitung-hitung kamu nolongin bibi", kataku membujuk.
" Iya… selamat makan", kata Juan.
" Iya selamat makan. Semoga enak ya", kataku.
" Makasih ya, udah di ajakin makan malam", Juan serius.
" Ah lebay ", aku tertawa kaku. Harusnya dia tau niatku sesungguhnya adalah membuat dia tersiksa.
***
Aku dan Juan duduk di ruang tamu setelah makan. Juan mengambil gitar yang disandarkan di dekat sofa.
" Gitar siapa?", tanya Juan.
__ADS_1
" Aku ", jawabku singkat.
" Bisa main gitar? ".
" Sedikit. Jiwa seni aku di bawah rata-rata".
Juan tertawa mendengar jawabanku. Juan mulai memetik gitar dan menyetem senar gitarku. Setelah cocok dia mulai memetik tapi entah apa yang di mainkan. Juan sangat berfokus pada gitar itu.
Lalu Juan mulai bernyanyi. Menyanyikan lagu yang akan kuingat sepanjang hidupku.
Wajahmu selalu terbayang dalam setiap angan
Yang tak pernah bisa hilang walau sekejap
Ingin slalu dekat denganmu enggan hati berpisah
Larut dalam dekapanmu setiap saat
Setiap saat…
Oh kasih janganlah pergi tetaplah kau slalu disini jangan biarkan diriku sendiri larut di dalam sepi
Kasih janganlah pergi tetaplah kau di sini jangan biarkan diriku sendiri larut di dalam sepi
Larut di dalam sepi..
O..oo…o
Kasih jangan kau pergi
Terlelap dalam belaianmu
Tak kan pernah ku lepas
Biarlah diriku kau manja
Dalam pelukan
Gemulai setiap gerakanmu membuatku slalu rindu
Ku kecup lembut bibirmu
Ku sayang padamu
Ku sayang padamu ooo
Oh kasih janganlah pergi tetaplah kau slalu disini jangan biarkan diriku sendiri larut di dalam sepi
Kasih janganlah pergi tetaplah kau slalu di sini
jangan biarkan diriku sendiri larut di dalam sepi
Hanyut di dalam sepi..
O..oo…o
Kasih jangan kau pergi
Juan selesai menyanyikan lagunya dan menatapku. " Gimana? Suaraku keren kan? ", kata Juan bangga.
Aku melihatnya, jantungku berdegup. Pipiku bersemu merah. Wah aku pasti sudah gila, masa aku terpesona dengan Juan. Dia hanya main gitar dan menyanyi.
" Hei.. kamu terpesona ya? Sampai ngeces gitu", Juan menjentikkan jarinya di depan wajahku.
" Ha… apa… ha ha ha… gak. Udah ah sana pulang. Udah malam ", aku berkata kaku sambil membuka pintu ruang tamu.
" Wah tidak berprikemanusiaan. . . Ya udah… bye. Makasih ya makan malamnya", kata Juan berpamitan.
Aku mengangguk tanpa bersuara. Lalu cepat menutup pintu.
" Sial , masa dia tau aku terpesona", kataku memegang wajahku yang panas. Aku lalu mengintip lewat jendela, melihat Juan yang berlalu dari gerbang rumah dengan motornya.
__ADS_1
***