
" Memangnya harus banget kerja ya ?", aku menenggelamkan wajahku di rambutnya. Ini menjadi sebuah kebiasaan untukku.
" Ya tentu saja. Ini bukan masalah uang sayang, hidup bersamamu saja sudah membuatku kaya raya sampai mati, Embun menjawab polos membuatku tertawa terbahak-bahak.
" Jadi kamu suka pria kaya sepertiku?", aku menggodanya.
Embun menatapku penuh arti " Aku suka kamu dan rekeningmu".
Aku tertawa lagi lalu mencium pipinya.
" Aku suka pekerjaanku sayang", Embun melanjutkan setelah aku melepaskan ciuman gemasku padanya.
Televisi di depan kami menampilkan adegan demi adegan sebuah film komedi. Aku tidak fokus ke arah televisi, mata dan pikiranku hanya memperhatikan Embun.
" Apa aku harus membangun sebuah Rumah sakit untukmu?", aku berkata santai.
" Tidak. Jangan pernah lakukan itu. Aku hanya memiliki sebuah keinginan yang lain sebagai hadiah pernikahan kita", Embun menatapku.
"Katakan", aku menunggu.
" Bisakah perusahaanmu bekerja sama dengan Cendrawasih Health Center. Agar aku bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan mereka dan menjaga organisasi itu tetap berfungsi seperti seharusnya?", Embun berharap.
Aku menatapnya heran " Hanya itu? Tidak ada permintaan lain misalnya berlian atau tas mahal?".
" Ah ada satu lagi", Embun menatapku dengan mata berbinar.
" Ya, katakan apa yang ingin kamu beli", Aku mengelus kepalanya.
" Ada satu orang anak yang dulu aku asuh di sana. Aku ingin menyekolahkan dia. Apakah boleh?", Embun menautkan tangannya seperti memohon ke arahku.
Aku mengangkat sebelah alis karena bingung dan heran dengan permintaannya. Tapi inilah wanitaku, wanita yang baik hati. Karena itulah aku menyukainya.
" Baik. Akan ku kabulkan semua permintaanmu", aku tersenyum.
" Benar? Janji?", Embun mengangkat jari kelingkingnya.
" Ya.. aku janji", Aku mengaitkan jari kelingking ku padanya.
__ADS_1
***
Monica menerobos masuk ke dalam kantorku dan meletakan ipadnya di atas meja. “ Again?”, Monica membaringkan dirinya di sofa seperti biasa. Aku mengangkat ipad itu dan membaca Headlinenya. CEO melakukan kekerasan di club YB.
“ CEO MEMUKUL MANTAN KEKASIHNYA YANG SEORANG MODEL BERINISIAL N. CEO MENCAMPAKAN MANTAN KEKASIH SETELAH MELAKUKAN KEKERASAN”, aku menarik nafas panjang. Di tengah kesibukanku mengurus pernikahan, muncul berita seperti ini.
“ Judulnya tidak penting tapi lihat foto yang bertebaran itu Nandes. Aku rasa Embun akan menghajarmu saat pulang ke rumah nanti”, Monica tertawa senang.
Aku melihat setiap foto yang tertera di isi berita itu. Aku ingat foto itu, foto saat Nadia datang ke privat room di club YB dan Embun datang lalu terjadi salah paham. Nadia sudah mengatur semuanya.
Aku menelpon Rian dan memberikan perintah padanya.
“ Rian, bereskan masalah ini secepatnya. Aku tunggu di YB”, lalu aku menutup telepon. Wajahku merah karena marah Aku sangat kesal. Sebentar lagi pasti orang tuaku pasti akan menelpon dan memarahiku.
Sebuah video Call masuk dan membuat jantungku hampir copot karena melihat nama Embun tertera di layar Hp.
“ Hai sayang”, aku merubah air wajahku. Monica mencemooh dari arah sofa.
“ Hai yank, kamu pulang jam berapa?”, Embun bertanya ceria. Elsa duduk di sampingnya melambaikan tangan ke arahku sekali.
“ Oh kalau begitu hari ini aku akan berbelanja beberapa barang untuk pernikahan kita. Kamu suka warna apa? Emas atau Silver?”, Embun nyerocos.
Dari caranya berbicara aku sangat yakin dia belum membaca berita itu. Aku tersenyum “ Apapun yang kamu pilih aku akan setuju”.
“ Baiklah, aku akan memilih warna gold. Oke deh bye sayang”.
“ Ya Bye. I love you”, aku menatap layar hp lekat-lekat.
“ I love you too”, Embun membalas dan panggilan terputus.
Alex yang sudah ada di ruanganku bertepuk tangan. “ Gila, ternyata sebucin itu CEO kita. Luar biasa, ternyata CEO kita bisa tersenyum malu seperti orang pada umumnya. Hebat.. wow…”, Alex terus mengolok-olok disambut tawa Monica yang senang karena menemukan kelemahanku.
“ Diam kau. Ikut aku ke YB. Monica tolong urus Nadia. Aku tidak suka berlaku kasar pada wanita”, aku meminta bantuan Monica.
“ Oke. Tapi dengan caraku”, Monica memainkan kukunya seolah sedang memberikan persyaratan.
“ Ya. Lakukan saja”, Aku memberi izin.
__ADS_1
***
Ayahku menelpon, aku menghela nafas panjang “ Ya halo ayah”, aku menjawab sopan.
“ Nak, sebentar lagi kamu akan menikah. Bagaimana bisa skandal seperti itu muncul ke publik. Bagaimana tanggapan keluarga Embun Nanti? Kamu dengan seorang wanita di pangkuanmu? Ya ampun Nak, ibu pusing dengan kelakuanmu. Mau taruh dimana muka ibu saat bertemu ibu Embun”, Ibuku yang berbicara duluan.
“ Ibu berita itu tidak benar. Aku…”, belum selesai berbicara wajah ayahku sudah muncul di layar.
“ Cepat urus semua masalah itu Nandes. Kasihan Embun jika melihat berita itu. Ayah tidak mendidikmu untuk menyakiti hati wanita. Segera berkunjung bersama Embun. Makan bersama di rumah”, ayahku berbicara lebih bijaksana.
“ Baik ayah”, aku menyahut patuh.
Setelah telepon terputus aku berdiri dan berjalan keluar ruangan. Hpku berdering, ada telepon masuk dari Alex.
“ Halo?”, aku menjawab sambil menekan tombol lift.
“ Datanglah, aku menemukan tikus itu”, Alex berbicara datar.
Aku menutup telepon dan masuk ke dalam lift dengan wajah datar. Tikus-tikus kotor ini berani sekali mengganggu ketenanganku, sepertinya aku kurang menunjukan taringku lagi di publik.
“ YB”, aku berkata singkat ke arah supir dan mobil melaju meninggalkan halaman kantorku.
***
Aku berjalan masuk ke ruang itu. Pintu menutup di belakangku, membuat lagu yang hingar bingar menjadi redup. Seorang pria setengah babak belur sedang berlutut ke arah sofa. Aku masuk dan mengambil duduk di sofa menghadap ke pria itu.
Di Sebelahku duduk pemilik Club YB yang juga sama cemasnya dengan pria itu. Mungkin dia berpikir aku akan menutup usahanya hanya dengan satu jentikan jari. Alex duduk di sisi yang lain, tangannya sedikit berdarah dan darah itu tentu saja dari pria yang berlutut di depanku. Aku menuangkan minuman dengan tenang, menyesapnya sedikit sambil menunggu sesuatu. Suasana hening, tidak ada yang bersuara termasuk Alex. Sepertinya dia lelah karena memukul pria itu.
Beberapa menit kemudian Monica masuk dengan Nadia di belakangnya. Mata Nadia tertutup kain, seorang bodyguard Monica melepas kain itu saat sudah berada disebelah pria yang berlutut.
Mata nadia membelalak saat melihatku “ Nandes… Nandes… bukan aku…”, Nadia berlari dan bersimpuh di kakiku.
Dengan cepat Rian menarik Nadia agar menyingkir dari kakiku. Nadia memberontak, Rian mencengkram lengannya “ Diam. Nona tenanglah, anda tahu sifat Tuan yang tidak suka kebisingan kan?”, Rian membentaknya. Nadia langsung terdiam, badannya gemetar ketakutan.
Aku menyalahkan rokokku, menghisap dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara. Aku menatap tajam ke arah pria itu “ Bagaimana jika kau mati saja? ”.
***
__ADS_1