Merpati Kertas

Merpati Kertas
PENASARAN PADA SI PEMBANGKANG


__ADS_3

Jeni duduk berhadapan denganku di meja makan. Dia menatap piringnya seolah tidak percaya aku mengajaknya makan siang bersama. 


"Makanlah, aku tidak mau kau pingsan gara-gara tidak makan siang", aku mengunyah potongan dagingku. 


" Oke", jawabnya santai. 


Aku tersenyum kecil mendengar jawaban yang semaunya itu. 


" Setelah makan apakah aku bisa pulang?", Jeni bertanya sambil memotong dagingnya kecil-kecil.


" Ya, nanti Doni akan mengantarmu pulang", jawabku singkat.


" Tidak perlu, aku bawa mobil sendiri", jawabnya lagi. 


"Oke. Jangan lupa tugas pagimu. Besok kau tidak perlu berlama-lama di sini karena aku akan bekerja di kantor. Datang sebelum jam 9 pagi. Aku tidak suka orang yang tidak tepat waktu ", perintahku. 


" Hmmm", dia menjawab singkat karena sibuk mengunyah.


Aku memperhatikannya, wanita ini hanya sesaat saja menaruh curiga pada orang lain setelah itu sepertinya semua kecurigaannya menghilang begitu saja dan langsung nyaman dengan keadaan. Aku menggelengkan kepala. 


"Apa kau selalu begini?", Aku bertanya padanya. 


" Apanya?".


" Selalu cepat nyaman pada semua situasi?".


" Tidak. Aku adalah tipe yang selalu waspada", jawabnya kalem membuatku tertawa kecil.


" Bagaimana mungkin seorang yang selalu waspada bisa tidur di rumah orang yang mengancamnya?", aku menatapnya heran. 


Jeni balas menatapku dengan mata amber miliknya " Apa kau akan menyakiti wanita lemah sepertiku?", tanyanya balik.


" haha lemah? Aku tidak berniat menyakitimu", aku menjawab jujur.


"Ya, aku bisa lihat dari matamu. Walaupun kamu kasar padaku, tapi aku tahu kamu tidak akan membunuhku", jawabanya dengan berani.


Jawaban Jeni yang jujur dan berani itu membuatku terkesima. Sisi baik sebelah mana yang terlihat olehnya aku tidak tahu. Jika dia tahu masa lalu yang selalu menghantuiku, mungkin dia akan segera berlari menjauh dariku. 


Aku menarik nafas pelan lalu kembali memotong daging di piringku menjadi beberapa bagian kecil. " Tergantung perilakumu. Kalau kamu merugikanku maka aku tidak akan segan-segan padamu", aku menjawab dingin. 

__ADS_1


Dia menatapku dengan tatapan 'jangan coba-coba'. Aku melihatnya dengan sebelah alis terangkat. Sambil berusaha keras menahan senyumku yang hampir keluar karena melihat ekspresinya, aku berkata dingin  " aku serius". Sebisa mungkin aku berusaha mengatur ekspresi datar.


Tidak peduli pada perkataanku dia malah mengangkat garpunya dan menusuk tomat ceri milikku yang ada di piring. " Kamu tidak suka makan ini? Biar aku yang makan. Bagus untuk kesehatan", dia mengoceh. 


Aku melihatnya sedikit tercengang, wanita pertama yang berani mengambil makanan dari piringku. Bukan hanya sekali, tapi dua kali. Semua tomat ceri dimakan olehnya. Aku diam saja melihat kelakuannya, akan aku perhatikan sampai mana dia akan seberani ini padaku.


" Tolong ", dia mengarahkan gelas jusnya yang kosong padaku. 


Aku menatapnya heran, dia mengangkat alisnya memberi kode padaku untuk menuangkan jus ke dalam gelasnya. Aku menurut saja melakukan yang dia minta. 


" Sudah? ", aku bertanya. 


" Ya, sudah", jawabnya senang. 


" Sepertinya kau lupa siapa yang harus kau layani di sini? ", aku mengingatkannya. 


" Aku ingat. Aku harus melayanimu kan? Aku sudah menemanimu makan siang. Itu bagian dari melayani. Jadi sekarang aku akan pulang. Terima kasih untuk makan siang yang enak hari ini ", Jeni menangkup kedua tangannya seperti berdoa.


Tanpa menunggu respon dariku dia langsung berdiri dan pergi meninggalkanku yang duduk terdiam di meja makan.  Sepeninggalannya aku menatap berkeliling ruangan yang terasa kosong itu. Aku menyadari satu hal, baru dua hari dia ada di sini rasanya hidupku terganggu karena kebisingannya. Tetapi kenapa responku malah biasa saja?. Aku menegak sisa jus di gelas milikku. 


" Gadis yang menarik", aku tersenyum. 


***


Aku terbangun dari tidurku dan menemukannya sedang merangkai bunga itu di vas yang sama dengan kemarin. Bunga mawar hitam sudah di buang di tempat sampah. Pengetahuanku yang minim tentang arti dari bunga hanya bisa menatapnya.


" Hai… kamu sudah bangun?", dia menyapaku santai tanpa rasa takut sama sekali.


Aku memperhatikannya " bunga apa ini?", aku bertanya. 


" Ini bunga anyelir. Warnanya sangat banyak, khusus untukmu aku pilihkan yang berwarna merah pucat", dia berkata yakin. 


" Merah pucat?", aku memperhatikan bunga itu.


" Ya.. merah pucat", dia menegaskan sambil terus mempercantik vas itu. “ Baiklah karena tugasku sudah selesai, maka aku pamit undur diri. Selamat bekerja tuan sombong. Semoga hari anda menyenangkan di kantor. Permisi”, dengan cepat wanita mungil itu berbalik dan berlari keluar pintu kamar.


Aku tertawa kecil karena kelakuannya, aku terus melihat ke arahnya sampai punggungnya menghilang saat pintu tertutup. Aku menatap bunga itu seksama, bunga ini sangat cantik. Aku mengambil Handphone Ku dan mencari tahu arti dari bunga anyelir berwarna merah pucat. 


Aku tertawa keras saat tahu artinya dari penelusuran internet, bunga anyelir berwarna merah pucat melambangkan rasa sakit hati yang dalam. Dia benar-benar membenciku. Karena tahu kekuatan kami berbeda dia menunjukan kebenciannya melalui warna bunga-bunga ini. 

__ADS_1


" Doni ", aku memanggil.


" Ya tuan", jawab Doni di belakangku. 


" Kau tau arti dari bunga ini?", aku menunjuk ke arah bunga di atas meja itu. 


" Tidak tuan", Doni ikut memperhatikan bunga itu. 


" Bunga ini melambangkan rasa sakit hati dan kebencian Jeni padaku", aku tersenyum ke arah bunga itu. 


" Saya akan menghentikannya jika anda merasa terganggu tuan", Doni menjawab pelan. 


" Biarkan saja dia. Awasi terus dia dan kabari aku jika kakek itu sudah bersedia menjual tanahnya. Waktu kita tidak banyak", aku berbicara tenang sambil berjalan keluar ruangan. 


" Baik tuan", Doni menjawab patuh. 


Saat berada di dalam mobil menuju kantor aku memikirkan sesuatu “ Doni lewati toko bunga pencuri kecil itu. Aku ingin melihatnya”, aku memberi perintah.


“ Baik tuan, saya akan memutar balik”, Doni menjawab patuh.


Kami memarkirkan mobil agak jauh dari toko bunga milik Jeni. Aku memperhatikannya seksama dari dalam mobil. Dia tampak cantik berada di antara warna warni bunga itu. Caranya berinteraksi dengan karyawannya berbeda saat bersamaku. Dan yang membuat keningku mengerut adalah karena dia banyak tertawa.


"Doni kenapa dia sangat ceria sekali? Tapi saat di hadapanku wajahnya seperti penuh beban", aku mempertanyakan hal yang sebenarnya tidak perlu.


Doni tersenyum kecil " Apa saya boleh memberikan pendapat saya tuan?", dia bertanya memastikan.


" Ya katakan", aku menunggu.


" Sepertinya nona Jeni memasang tameng saat bersama anda, dia tidak mau merasa terintimidasi. Sepertinya dulu nona Jeni sering melakukan itu di dalam rumahnya sendiri. saya melihatnya menangis setelah anda melepaskannya pergi di hari itu tuan", Doni berbicara panjang lebar.


Aku merenung, menatapnya dari dalam mobil. Apa seburuk itu yang dialaminya di dalam rumah sampai dia berusaha kuat berdiri di atas kakinya sendiri. Di hari dia berlutut itu dia tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Benar, dia berusaha terlihat kuat di hadapan orang yang akan menindasnya.


"Cari tahu apa yang di lakukan ibu tiri Jeni kepadanya dan laporkan padaku. Gadis ini menarik perhatianku", aku memberi perintah kepada Doni sambil tetap memandang toko bunga itu.


" Baik tuan akan saya lakukan", Doni menajawab patuh.


"Sekarang kita ke kantor", perintahku singkat.


Mobil melaju pelan meninggalkan area toko bunga itu. Meninggalkan rasa penasaran seorang Juan kepada wanita yang terlihat familiar baginya di saat pertama bertemu. Wanita dengan mata indah berwarna amber, yang mampu menarik perhatiannya karena keberanian dan sikapnya yang selalu melawan seorang Juan, sang pemegang kasta tertinggi dalam dunia bisnis.

__ADS_1


***


__ADS_2