
Aku sarapan bersama ayah dan ibuku. Serta adik laki-lakiku Tristan yang berusia 5 tahun, adik tiriku. Tapi aku sangat menyayanginya. Semalam saat aku masuk ke rumah adik tiriku berbisik “ Om Nandes kenapa tidak masuk?”.
Aku balas berbisik di telinganya “ Oh.. maaf ya. Aku dan om Nandes berpikir kamu sudah tidur. Nanti lain kali jika om Nandes datang lagi aku akan memberitahumu lebih dulu”, aku tersenyum pada adikku.
Adikku mengangguk senang. Tristan sangat menyukai Nandes, karena Nandes suka mengajaknya bermain bola, bermain game dan mengajaknya makan makanan yang dia sukai tanpa ketahuan ibuku. Nandes sangat dekat dengan Tristan.
“ Embun, kamu semakin kurus saja”, ayahku menatapku di meja makan.
“ Iya ayah, mungkin karena bekerja sambil kuliah aku jadi lebih lelah”, aku mengambil tempe orek diatas meja.
“ Bagaimana jika kamu mengambil cuti kuliah untuk sementara waktu nak?”, ibuku menyarankan.
“ Aku sedang mempertimbangkannya bu. Tapi aku tidak akan punya pemasukan untuk jajan”, aku tertawa.
“ Embun, tenang saja ayahmu akan memberikan kamu uang jajan setiap minggunya”, ibuku mengedipkan sebelah matanya padaku.
Aku tertawa, sisi manis ibuku yang seperti inilah yang baru aku tahu setelah kembali ke Jakarta. Jiwa mudanya sangat menyenangkan. Selama 3 tahun aku sekolah yang ku tahu hanya membencinya, tetapi dialah yang menemani ayahku di tengah kesusahannya. Tidak meninggalkan ayahku saat ayahku tidak punya apa-apa lagi. Ayahku sangat beruntung memilikinya sekarang.
“ Jadi kapan Nandes akan kesini dan memperkenalkan dirinya sebagai pacar kamu?”, Ayah menatapku lekat.
Aku kaget dan terbatuk-batuk. Ibuku melotot kepada ayahku karena membuatku terkejut.
“Ayah…jangan begitu. anaknya sedang makan”, ibuku mengomel.
“ Aku tidak tahan untuk membahasnya sayang. Sudah ku katakan dari awal kedatangan pria itu, cara dia menatap Embun sangat berbeda. Seperti bersedia menjadi tameng jika Embun akan di serang orang. Kamu yang bilang begitu padaku waktu itu, jadi aku memperhatikannya”, ayahku santai.
“ Ayah itu terlalu berlebihan”, aku melihat ke arah ayahku malu.
__ADS_1
“ Yaa… yaaa… ayah akan menunggu kedatangannya”, ayahku mengakhiri percakapan dengan tegas.
***
“ Jadi kamu akan mengajukan cuti sementara untuk bekerja karena kuliah?”, bosku membaca surat yang aku ajukan.
“ Ya dokter”, aku duduk di depannya.
“ Oke. Saya akan menyampaikan ke bagian departemen medik untuk mencari penggantimu di posisi tim khusus itu”, katanya sambil menandatangani surat pengajuan cuti milikku.
“ Terima kasih dokter”, aku tersenyum senang.
Akhirnya aku mengambil keputusan setelah berpikir cukup lama dan Nandes menyetujui keputusanku. Dengan ini aku sekaligus menghindari Juan dari semua usahanya untuk mengikatku dengan caranya yang licik.
Aku duduk di Nurse station sedang mengetik sesuatu saat Juan keluar dari lift bersama beberapa stafnya. Wajahnya terlihat sangat tegang dan kesal. Asistennya mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke ruangan pribadi keluarga dan aku bisa mendengar sedikit suara Juan marah sebelum pintu menutup sempurna.
Sejak kapan dia menjadi pemarah seperti itu. Setelah lewat satu jam staf yang bersamanya keluar dan berjalan menuju lift. sambil menunggu pintu lift terbuka seseorang diantara mereka berbisik tapi masih bisa ku dengar.
“ Huss.. kau lebih baik diam, bahkan dinding pun punya telinga”, temannya memberi peringatan yang langsung membuatnya terdiam.
Aku merenung, apakah Juan berubah sejauh itu? Aku memikirkan kembali Juan yang dulu, yang sabar sebesar apapun kemarahannya, Juan yang selalu tersenyum dan dewasa. Aku membereskan peralatanku, hari ini temanku dr Bagas bertugas.
“ Bagas, aku pulang dulu ya”, aku menepuk pundaknya.
“ Gile ya.. kurang 5 menit. Bentar lagi napa?”, Bagas menggerutu.
“ Tidak, No thank you”, aku tersenyum sambil berlalu meninggalkannya di Nurse Station.
__ADS_1
Aku menyampirkan tas ransel di bahu dan berjalan menyusuri lorong menuju lift karyawan belakang saat Juan menarikku paksa dan membawaku ke tangga darurat. Klap, pintu tertutup. Juan berdiri didepanku sambil tetap memegang salah satu lenganku.
“ Ada apa?”, aku menatapnya sambil melepaskan diriku dari tangannya.
“ Kamu mengajukan cuti mendadak ? Kenapa? “, Juan bertanya padaku dengan tatapan sedih.
“ Wah, padahal aku baru mengajukannya tadi pagi tapi kamu sudah tahu duluan. Apa yang kamu tidak tahu tentangku Juan?”, Aku merasa kesal karena seolah-olah sedang di pantau.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Apakah kamu tidak nyaman bersamaku?”, tanya Juan.
Aku menatap matanya “ Ya, aku tidak nyaman. Bisakah kamu berhenti mengangguku seperti itu Juan?”, Aku tidak sepenuhnya bohong.
Juan menatapku sedih “ Kamu merasa terganggu? Apa tidak ada perasaan sedikit saja yang tersisa untukku?”, Juan melihat ke arahku berharap.
Aku menarik nafas berusaha menahan diri untuk tidak jatuh karena kesedihannya “ Tidak Juan, kamu tahu aku bersama Nandes sekarang. Aku menyukainya dan aku menyadarinya bahkan sebelum kamu kembali. jadi tolong berhenti Juan ”, setelah mengatakan itu aku berbalik turun tangga hendak meninggalkan Juan.
Juan menarikku dan menyandarkanku ke dinding, dia menciumku dengan kasar. Tas dan snelli¹ ku jatuh menuruni tangga. Aku berusaha mendorongnya menjauh dariku tetapi tenaganya lebih kuat dariku, dia menarik tanganku dan menguncinya di atas kepalaku, tangan sebelahnya memegang daguku agar aku tidak menghindarinya. Juan berusaha membuka mulutku dengan lidahnya, aku keras kepala menutup mulutku. Dia menggigit bibirku dan secara refleks aku membuka mulutku karena rasa sakit. Juan benar-benar seperti ingin memakanku, aku tahu kamera pengawas lantai ini di matikan atas permintaan keluarga jadi aku tidak akan bisa menuntutnya.
Percuma aku melawan Juan malah semakin agresif, aku sampai susah bernafas. Akhirnya aku diam, aku tidak melakukan perlawanan dan tidak membalas ciumannya. Merasa aku diam saja, Juan semakin lembut tapi masih tetap mengunci tangan dan kakiku, aku tidak bisa mendorongnya. Setelah itu dia melepaskan ciumannya di bibirku dan beralih ke leherku, dia mencium setiap jengkal leher sampai ke bahuku, baju kaosku yang berleher V memberikan peluang besar untuknya. Dia berhenti di bahuku dan menyandarkan wajahnya di sana nafasnya berat. Aku bisa merasakan hangat nafasnya di leherku. Mataku berkaca-kaca tetapi aku tidak ingin menangis di depan Juan, aku tidak ingin terlihat lemah di depannya. Aku menggigit bibirku menahan tangis, nafasku memburu karena marah.
Juan merenggangkan kuncian tangannya, mendapat kesempatan aku mendorongnya menjauh.
Plaak… aku menampar Juan dengan sekuat tenagaku.
Setelah itu aku berjalan turun dengan terburu-buru untuk mengambil snelli dan tas yang terjatuh. Karena mataku yang berkaca-kaca aku tidak menapakkan kakiku dengan baik di tangga aku terjatuh sampai ke tangga bagian bawah dan berhenti karena badanku menghantam tembok. Aku bisa mendengar Juan meneriaki namaku kencang.
“ Embun !!!”.
__ADS_1
***
¹ Snelli: Jas dokter.