Merpati Kertas

Merpati Kertas
BAGAIMANA RASANYA JATUH CINTA?


__ADS_3

Di lain hari Jeni menelponku yang saat itu tengah sibuk bekerja di kantor. Dia melayangkan protes karena aku tidak pernah mengirimkan pesan kepadanya atau menelponnya di tengah jam kerja. 


" Kenapa aku harus melakukan itu", tanyaku di sela panggilan video itu. 


" Karena itu yang di lakukan orang-orang yang pacaran Juan", katanya dengan mimik wajah heran yang lucu.


Aku tersenyum melihatnya "Jadi apa yang harus ku lakukan sekarang?", tanyaku. 


" Karena ini bagian dari pembelajaran, kamu harus rajin menelponku minimal sehari 2 kali", katanya lagi. 


" Jika tidak aku lakukan?", tanyaku penasaran. 


" Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia hehe", candanya. "Tentu saja kamu melanggar kontrak"  bisiknya di telepon. 


Aku tertawa melihat sifat kekanak-kanakannya itu. " Baiklah aku setuju. Jadi sedang apa kau sekarang pencuri kecil?", aku bertanya.


"Aku sedang bermalas-malasan, toko sudah selesai direnovasi dan semua barang sedang di tata ulang. Aku sedang menunggu pengiriman bunga untuk toko", Jawabnya lagi. 


" Jam berapa pulang?", tanyaku lagi. 


" jam setengah 8 malam. Sepertinya banyak yang harus aku kerjakan", katanya. 


" Baiklah kalau begitu. Nanti ku hubungi lagi", kataku lalu menutup telepon. 


Telepon berdering kembali. Aku menghela nafas menahan kesabaran. 


" Ada apa ? ", tanyaku.


"Juan, kalau mau tutup telepon harus bilang apa?", kata Jeni galak. 


"Apa? Bye?", tanyaku balik. 


Wajahnya mengerut kesal "pokoknya mulai sekarang setiap akan menutup telepon harus bilang. Bye sayang, Love you".


Aku bengong, suara tawa tertahan di sisi lain ruangan membuatku memijat keningku. Doni dan Max dengan bahagia menikmati drama anak remaja ini. 


" Bye sayang…. I…", mulutku kaku. Aku bukan pria romantis, aku mengatakan hal seperti ini selalu spontan karena aku benar mencintai. Aku tidak bisa melakukannya di bawah tekanan seperti ini. 


" I….L…O  ….V…E", Jeni mengeja setiap kata membantuku. 


Aku terbata mengikutinya, mulutku terbuka berusaha mengeja tapi suara yang keluar sangat kecil dan penuh keterpaksaan  " I…. L….O…. Aku tidak bisa Jen", aku berkata kesal di akhir kalimat. 


" Ck… Kamu memang pria paling tidak romantis di dunia ini. Ya sudah aku akan maafkan kamu hari ini. Besok jangan sampai terulang ya, ini bagian dari latihan", katanya lagi lalu menutup telepon. 


Aku menghela nafas panjang. Suara tawa bersambut di dalam ruanganku membuatku makin kesal. 


" Hahahaha Juan… Hahaha… Naga Asia… Hahaha budak cinta", tawa Max. 

__ADS_1


Doni tanpa takut ikut tertawa pelan. Dia tidak berusaha mencoba untuk menahan tawanya. 


"Diam kalian ck", aku berseru membuat tawa Max makin kencang. 


Jeni sepertinya mulai tidak waras, aku akan menghukumnya saat sampai di rumah nanti. Beraninya dia mengerjaiku.


***


“ Juaaannn…”, Jeni berteriak memanggilku saat aku pulang ke rumah.


“ Ada apa? Kenapa kau berteriak di tengah malm begini?”, aku meletakan kemejaku di sofa. “ Doni pulang dan istirahatlah”, kataku pada Doni yang langsung pamit undur diri.


“ Sini ikuti aku”, Jeni menyeretku ke ruangan makan. “ Happy birthday tuan sombong”, teriaknya sambil bertepuk tangan.


Aku menatap dekorasi ruang makan kecil itu, balon dan bunga penuh memenuhi ruangan makan. Aku menatapnya sambil tersenyum “ Ulang tahunku hampir lewat”, kataku pelan sambil mengusap kepalanya.


“ Ini baru jam 11 kok, masih sempat untuk merayakan ulang tahunmu. Maaf ya terlambat, tapi happy birthday Juan”.


Dia menyodorkan sebuah kue yang tidak terlalu besar ke arahku dengan lilin berbentuk angka 29 di atasnya.


“ Semoga di usia yang baru kamu menjadi lebih tampan, cepat dapat jodoh, tidak sombong lagi dan makin kaya”, doanya membuatku tersenyum.


“ Terima kasih doamu tapi beberapa bagian sudah terkabulkan. Emmm aku sudah tampan sejak lahir, aku sangat kaya, aku sudah menikahimu. Mungkin hanya mengurangi sedikit kesombonganku”, kataku lalu meniup lilin itu.


“ Ck, masih tetap sombong seperti biasa”, katanya menatapku dengan menyipitkan mata.


Dia tersenyum “ Tidak aku di bantu Doni”, katanya.


“ Kapan? Dia bersama denganku sepanjang hari”,aku bingung.


“Doni menyuruh anak buahnya membantuku. Seandainya kamu lihat bagaimana anak buahnya dengan body yang kekar menghias dinding ini dengan balon”, Jeni terkekeh pelan.


Aku tersenyum, sadar bahwa aku menyukai suara tawanya. Menyukai senyum cerianya, menyukai saat dia meraih tangaku.


“ Ayo kita harus makan kuenya”, katanya dengan penuh semangat.


Kami duduk berdua di meja makan. Dia memotong kue bagianku lalu meletakannya di piring. Lalu memotong bagian miliknya, kami makan dalam diam


“ Bagaimana?”, tanyanya.


“ Apanya?”, aku balik bertanya.


“ Kuenya”, dia menatap penuh harap.


Aku langsung paham bahwa dia ingin aku memberikan pendapat tentang kue itu. “ Enak, tidak teralalu manis. Aku suka”, kataku jujur.


“ Tentu saja enak. Aku membelinya di toko langgananku”, katanya penuh bangga.

__ADS_1


“Aku tersenyum. “ Terima kasih Jeni”, aku menatapnya dalam.


Sepertinya dia sedikit salah tingkah, ada rona merah tampak di pipinya. “ Ya, tidak masalah. Ini hanya sebuah kue, kalau kamu mau nanti aku belikan lagi”, katanya canggung.


“ Bukan kuenya. Terima kasih karena mengingat hari ulang tahunku”, kataku jujur masih menatapnya.


Dia balas menatapku lalu terbatuk pelan “Ya, itulah yang di lakukan pasangan. Juan..”, katanya terbata.


“ Ya… “, aku masih menatapnya dengan lembut.


“ Jangan tatap aku seperti itu”, katanya lagi sambil memalingkan wajah.


“ Oh maafkan aku. Apa kau tidak nyaman?”, aku langsung sadar perbuatanku.


“ Ya, aku sangat tidak nyaman. Aku takut imanku goyah karena wajahmu”, katanya jujur.


Aku tersenyum “ Kau terpesona padaku?”, aku menjahilinya.


Wajahnya tampak merah karena malu. “ Habiskan kuemu atau ku simpan semuanya di kulkas”, ancamnya.


Aku tertawa “ Baiklah. Aku tidak akan menatapmu sekarang. Makanlah”, kataku.


Dia menuruti perkataanku tapi terus menatap kuenya. Aku tersenyum, bolehkah aku menyuakinya? Apa ada karma yang akan mengikutiku? Aku tidak tahu. Yang aku tahu saat ini aku bahagia bersamanya.


“ Juan… “, panggilnya lagi.


“ Ada apa?”, tanyaku.


“ Apa rasanya jatuh cinta?”, dia menatapku.


Aku terpaku mendengar pertanyaannya. “ Jatuh cinta?”, aku mengulang pertanyaan itu untuk diriku sendiri.


“ Hmm..”, dia menatapku menunggu jawaban yang keluar dari mulutku.


Aku memutar jari telunjukku di bibir gelas.


” Rasanya seperti duniamu hanya di penuhi oleh orang yang kamu suka. Jantungmu akan berdebar kuat walau hanya mendengar namanya di sebut, semua indera dalam dirimu hanya tertuju padanya. Dia menjadi pusat duniamu dan saat kamu bersamanya, kamu seperti tidak membutuhkan hal lain lagi. Ketika kamu berpisah darinya ada rasa yang aneh akan muncul", aku mencoba mengingat perasaanku terhadap Embun dulu.


" Saat dia pergi, duniamu seperti runtuh menimpahmu. hatimu akan terasa nyeri bahkan saat mendengar namanya dan kamu akan terus kesepian bahkan saat berada di tengah keramaian”, jelasku sambil terus memainkan jariku pada bibir gelas wine di depanku.


Aku lalu menatap Jeni yang terus menatapku. “ Dengarkan aku, saat kamu jatuh cinta pada seseorang. Saat itu juga kamu harus bisa belajar merelakan. Semakin besar cinta yang datang maka semakin besar pula rasamu untuk merelakan. Cinta itu bukan hanya tentang kebahagiaan, tapi tentang melepaskan”, kataku padanya.


Jeni tertegun menatapku. “ Juan.. apakah kamu pernah mencintai sedalam itu?”, Jeni bertanya.


Aku terdiam lalu menjawabnya.


“ Tidurlah. Hari sudah malam. Terima kasih untuk kejutannya. Aku ada sedikit pekerjaan”, aku berdiri dari kursiku dan meninggalkannya yang tertegun di meja makan.

__ADS_1


***


__ADS_2