
Aku memandang baju Juan yang tergantung di kamarku. Aku ingat saat Juan mengantarku pulang malam itu, dia sempat memintaku sebisa mungkin menjauhi Nandes.
Apapun yang dilakukan Nandes, Juan memintaku untuk mengabaikannya.
Persahabatan yang baru saja terjalin antara aku dan Nandes membuatku kalut. Nandes bukan teman yang buruk tapi aku tidak ingin menyakiti hati Juan. Aku melamun sampai suara telepon mengagetkanku. Aku melihat layar ponsel dan nama Nandes tertera di sana. Aku mengangkatnya tanpa berpikir panjang.
“ Halo “, jawabku.
“ Hai enu. Apa kabarmu hari ini? “, sapa Nandes dari seberang telepon.
Aku diam sejenak “aku baik. kamu sendiri bagaimana? apa lukamu parah?”, tanyaku khawatir.
“ Lukaku cukup parah “.
Aku terdiam sejenak merasa bersalah “ separah apa?”.
“ Parah banget sampai wajah ganteng ku tidak terlihat”, Nandes berbicara sambil tertawa.
Aku tersenyum mendengar keceriaan dalam suaranya. Sedikit rasa lega di hatiku dan rasa bersalah yang masih tertinggal di sana. Nandes memanggilku, mengira sambungan telepon terputus.
“ Halo Embun. Hei… kamu nangis ya?”.
“ Hai, ya hampir ”, suaraku pelan.
“Jangan menangis, ini tidak sakit. Berkelahi itu hal yang biasa di antara laki-laki. Kalau aku masih bisa menelpon kamu dan tertawa, itu menandakan aku baik-baik saja. Maaf sudah membuat kamu khawatir”, suara Nandes yang lembut membuatku tetap merasa sedih.
Aku sedih memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menghindari Nandes. Agar Nandes tidak dekat kepadaku. Aku tidak ingin hal seperti kemarin terjadi lagi.
Dengan terbata-bata akhirnya aku berbicara “ Kak Nandes… maafin aku… sepertinya mulai sekarang kita … tidak bisa …”, belum selesai aku berbicara Nandes memotong.
__ADS_1
“ Kamu mau menghindar dari aku? kamu mau aku pergi dari kamu? Juan menyuruhmu. Apa perlu aku memukul Juan lagi. Sepertinya kemarin aku terlalu banyak mengalah”, Nandes berbicara dengan nada marah yang berusaha ditekannya, seperti tau arah pembicaraanku.
“ Bukan seperti itu. Aku tidak mau kalian ribut lagi seperti kemarin ”, aku mulai frustasi karena merasa Nandes tidak bisa memahami ku.
“Tunggu.. aku perlu bicara langsung”, Lalu Nandes memutuskan sambungan telepon.
“Halo… Kak Nandes… “, aku melempar hp ku ke atas tempat tidur dengan kesal karena sambungan telponnya di putus sepihak. Aku memejamkan mata berusaha meredam rasa marah yang tidak tau harus ku salurkan ke mana.
15 menit berikutnya Nandes berdiri di depan pintu rumahku.
“ Kak berhenti melakukan hal seperti ini”, kataku pada Nandes saat aku menemuinya di depan rumah.
“ Apa? berlari kepadamu seperti ini? atau kelakuanku yang menyukaimu?”, Nandes menjawab dengan dengan gampang.
“ Keduanya. Aku tidak mau kalian seperti kemarin. Setiap melihat kalian bertemu rasanya aku seperti tercekik, merasa was-was kalian akan berkelahi. Dan lagi Kenapa kakak tiba-tiba menyukaiku? kenapa tiba-tiba selalu mengejar ku? apa karena aku pacar Juan dan dia adalah musuh kakak? apa aku harus berada di tengah-tengah pertengkaran kalian”, aku marah. Aku sangat marah. aku lelah dengan mereka berdua.
Nandes terdiam, dia hanya berdiri mematung melihatku yang marah di bawah naungan awan sore yang mendatangkan angin dingin sepoi-sepoi.
Setelah berkata begitu Nandes masih tetap menatapku sesaat. Aku yang terdiam dan terpaku sedang mencerna setiap kata yang diucapkannya dengan baik tanpa bisa membantah satu katapun.
Karena tidak ada respon dariku, Nandes lalu memegang kedua lenganku dan membantuku berdiri dengan tegak. Dia mengacak-acak rambutku seperti biasanya lalu berbisik pelan disebelah wajahku.
“ Kau harus ingat bahwa aku dan Juan akan selalu seperti ini dengan ada ataupun tidak adanya dirimu. Tetapi karena sekarang dirimu ada di antara kami maka suasana akan terus memanas. Jadi Jangan pernah berusaha menyuruhku pergi Embun, karena aku akan tetap datang kepadamu ”, setelah itu dia berlalu pergi meninggalkanku yang bengong dan wajah memerah karena perkataannya barusan.
Aku berdiri terdiam di depan pintu cukup lama, sadar bahwa Nandes tidak akan berhenti dan tidak akan mendengarkan ku. Bibi datang dan membuyarkan lamunanku.
" Non, ayo masuk udah sore. Jangan melamun di depan pintu nanti kesambet".
Aku hanya tersenyum untuk merespon perkataan bibi.
__ADS_1
Tentu saja setelah hari itu Nandes selalu datang kepadaku, sekeras apapun aku mendorong Nandes pergi dia tetap datang.
Aku merasakan tekad dari perkataannya waktu itu jadi kuputuskan untuk membiarkannya berkeliaran di sekitarku. Aku hanya akan akan memberikan batas antara aku dan Nandes yang ku harap suatu saat akan membuatnya lelah.
Satu hal yang membuatku sedikit lega adalah Nandes dan Juan tidak pernah bertemu lagi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka bertemu dan aku tidak akan sanggup menghadapi mereka.
****
Liburan akan segera berakhir. Aku dan Juan lebih sering menghabiskan waktu bersama. Juan tidak pernah mengungkit masalah hari itu, dia sering datang ke rumahku dan kami ngobrol sampai larut malam.
Kadang kami pergi ke tempat-tempat yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya. Dia membawaku melihat keindahan Danau Ranamese dan aku tertegun melihat keindahan serta kesunyiannya yang membawa ketenangan. Aku menyukai tempat ini dan aku menyukai Juan yang membawaku ke sini.
Nandes seperti biasa datang berkunjung dan meneleponku tanpa memperdulikan Juan. Aku beberapa kali tidak ingin menemuinya. Salah satu caraku mendorongnya pergi, tetapi dia tetap gigih dengan caranya. Jadi aku mengabaikannya.
Suatu malam Juan muncul di halaman rumahku dengan wajahnya yang terlihat lelah. Aku sedikit khawatir.
" Kakak sakit?", tanyaku sambil memegang dahinya saat dia baru membuka helm. " Tidak panas kok", lanjut ku.
Juan tersenyum " aku tidak sakit. Aku hanya kurang tidur cantik. Kamu jangan cemas. Perhatian banget sih", Juan mengelus kepalaku lembut sambil duduk di jok motornya sendiri sehingga aku tidak perlu mendongak untuk melihatnya.
Aku tersenyum lega " Jadi ada apa malam-malam kesini? Dua hari lagi kita masuk sekolah, pasti semester ini kakak sibuk banget soalnya kalian kelas 3 mau UN. Ya ampun kakak harus banyak belajar ya, jangan nongkrong terus sama Adam", aku ngoceh-ngoceh sambil merapikan helaian rambut Juan yang berantakan karena menggunakan helm.
Juan tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahuku dan menarik nafas panjang. " Mendengar kamu ngoceh-ngoceh membuat lelahku hilang. Boleh aku bersandar begini sebentar saja?", bisik Juan pelan di bahuku.
" Ya boleh. Bersandarlah sampai rasa lelahmu hilang", kataku kepada Juan.
Juan tidak menjawab lagi. Aku menepuk pelan punggungnya berusaha memberi rasa tenang kepadanya. Aku tidak bertanya apa yang membuatnya merasa lelah. Tetapi aku akan membuatnya merasa tenang dan aman bersamaku, sampai dia cukup percaya dan mengatakan keresahannya kepadaku. Hingga saat itu tiba aku akan menunggu.
__ADS_1
***
NB: https://www.google.com/search?q\=danau\+ranamese&client\=ms-android-samsung-ss&prmd\=imnv&sxsrf\=ALiCzsbwT4ghWmshxK-tNyn0K6bAsFEWgg:1656708136997&source\=lnms&tbm\=isch&sa\=X&ved\=2ahUKEwiG7oHgxtj4AhWN7nMBHSDAC1QQ\_AUoAXoECAIQAQ&biw\=412&bih\=781&dpr\=2.63\#imgrc\=4vBBLB-p9GJJFM