
Aku menatap Jeni yang menangis tersedu di pinggir tempat tidur ruang UGD rumah sakit. Kakek Darmawan sedang tertidur setelah diberikan obat oleh dokter UGD. Seorang dokter datang menghampiriku dan Jeni lalu berbicara.
“ Wali dari bapak Darmawan”, panggil dokter itu.
“ Ya”, aku dan Jeni menjawab serempak. Jeni berjalan menghampiriku, kami bersama berdiri mendengarkan penjelasan dokter.
“ Tuan Darmawan mengalami serangan jantung. Apakah beliau sering mengeluh nyeri dada?”, Dokter bertanya kepada kami.
“ Tidak. Beliau tidak pernah mengeluh”, Jeni menjawab cepat.
“ Dugaan saya kakek anda sudah sering mengalami nyeri dada. Dari hasil pemeriksaan rekam jantung beliau harus segera dilakukan tindakan kateterisasi jantung oleh dokter ahli jantung, kami sudah melakukan konsul ke ahli jantung rumah sakit kami”, kata dokter itu.
“ Apa tindakan itu harus segera dilakukan?”, aku bertanya.
“ Ya benar, ini harus segera dilakukan. Untuk lebih jelasnya akan ada spesialis jantung yang akan menjelaskan pak. Dan untuk pembiayaannya anda bisa bertanya di bagian rekening jaminan pemerintah. Kalau begitu saya permisi”, Dokter tersenyum ramah.
“ terima kasih dokter”, Jawabku.
Aku melihat Jeni terbengong. Aku tahu dia pasti memikirkan tentang uang untuk membiayai semua ini. Mungkin saat ini aku adalah si jahat tetapi aku merasa dewi Fortuna sedang berpihak padaku. Aku tidak akan menawarkan bantuan tetapi aku akan menunggunya datang kepadaku.
“ Bisakah kamu menunggui kakek? aku akan ke bagian rekening dan menghubungi keluargaku”,Jeni menatapku.
“ Pergilah”, aku tersenyum.
Sepeninggalan Jeni aku mengambil ponselku dan menghubungi beberapa orang.
“ Doni, segera urus pindah rawat kakek Darmawan ke rumah sakit kita. Urus semua pembiayaannya”, lalu aku menutup panggilan itu.
Lalu aku menekan sebuah nomor dan melakukan panggilan telepon “ Selamat pagi dokter Farhan”, aku menyapa seorang dokter ahli jantung nomor satu di negeri ini. Terdengar sapaan akrab dari seberang telepon.
“ Dokter, aku butuh bantuanmu segera”.
***
Jeni duduk bersamaku di dalam mobil. Dia ingin berbicara denganku berdua saja. Ada sedikit bekas air mata di pipinya.
__ADS_1
“ Juan, aku…ingin meminta pertolonganmu”, katanya. “ Keluargaku tidak bisa memberikan bantuan karena keuangan mereka sedang sulit”, dia menelan ludahnya cemas.
Aku tahu itu adalah sebuah kebohongan. Keluarganya pasti menolak membantunya. Info yang ku terima adalah, ayah Jeni memutuskan hubungan dengan pamannya karena sang paman yaitu kakek Darmawan tidak merestui pernikahannya dengan ibu tiri Jeni saat ini. Oleh karena itu dengan sekuat tenaga ibu tiri Jeni mengusir mereka berdua dari keluarga besar itu dengan cara yang berbeda.
“ Aku akan membantumu. Tapi kau harus membantuku juga untuk mendapatkan tanah itu”, kataku terdengar licik. Aku tahu saat ini aku berdosa, karena melakukan dosa besar dengan memanfaatkan ketakutan dan kesedihan gadis ini. Tetapi aku melakukan ini bukan hanya karena masalah bisnisku, aku ingin bersamanya sebentar saja. Tampak egois tapi aku ingin memastikan apakah aku benar menyukainya atau hanya sekedar mengaguminya semata.
“ Jika kakekku ingin aku menikah sebagai persyaratan agar bisa menjual tanah itu. Aku akan menikah. Tapi beri aku waktu untuk mencari pasangan, aku belum pernah memiliki pacar”, Jeni berkata pelan sedikit malu karena pengakuannya di akhir.
Aku sedikit terkejut mendengar perkataannya. Gadis semanis ini bagaimana mungkin belum pernah memiliki pacar. "Kamu benar belum pernah pacaran?", aku penasaran.
Dia mengangguk malu " Aku terlalu sibuk berjuang untuk bertahan hidup karena aku memutuskan keluar dari rumah saat SMA. Jadi aku harus bekerja sampingan untuk membayar biaya sekolahku", katanya ringan seperti bukan sebuah kesedihan.
Aku mencengkram stir mobil kuat, perasaan benci terhadap ayah Jeni melanda. Bagaimana mungkin dia menelantarkan anaknya karena seorang wanita. Dan Jeni mengganti kata 'diusir' menjadi 'memutuskan keluar' membuatku kesal. Aku menarik nafas.
“ Jangan cari pria lain”, kataku tiba-tiba.
“ Maaf?”, Jeni menatapku bingung.
“ Ya. Jangan cari pria lain. Menikahlah denganku”, aku menatapnya dalam.
“ Ya aku tahu. Kita menikah sampai tujuanmu dan tujuanku terpenuhi. Setelah operasi ini aku yakin kau memerlukan banyak uang untuk pengobatan dan kehidupan kalian. setelah semua ini berlalu kau boleh pergi dariku”, kataku asal.
Mottoku saat ini adalah perkara hari ini akan ku selesaikan hari ini, untuk hal yang terjadi besok akan aku pikirkan kembali. Aku melakukan ini spontan tanpa memikirkan hal lain.
“ Baik aku setuju. Tapi kita akan membuat peraturan yang saling menguntungkan satu sama lain”, katanya mengulurkan tangannya.
Aku menyambut uluran tangannya sambil menatap kedua bola matanya yang berwarna amber. Mari kita lihat apakah aku mencintaimu atau hanya sekedar mengagumimu aku berkata di dalam hati.
***
Aku memindahkan kakek Darmawan ke Rumah sakit milikku. Beliau ditangani dengan baik dan ditempatkan di ruang VVIP. Saat ini aku sedang duduk di sofa dan Jeni duduk di samping tempat tidur pasien sambil memijat pelan tangan Kakeknya.
“ Nak Juan”, kakek memanggilku pelan. Aku langsung berdiri dan menghampiri tempat tidurnya. “ Terima kasih karena sudah menolong kami. Usiaku sudah terlalu lama, seharusnya aku tidak perlu menjalani operasi ini. Tapi terima kasih kau sudah menolongku”.
“ Ya kek, aku menolong kakek karena aku tidak ingin melihat Jeni menangis setiap hari”, aku berkata jujur.
__ADS_1
Kakek tersenyum “ Jeni kamu harus segera menikah agar ada orang lain yang bisa menjagamu. Kakek sudah tua, kita tidak tahu kapan Tuhan akan mengambil ciptaannya. Kakek ingin pergi tanpa memiliki beban, kakek ingin kamu bahagia. Hidupmu terlalu berat selama ini”, kakek Darmawan menatap sedih ke arah Jeni.
Ini adalah drama sebuah keluarga yang sebenarnya tidak ingin aku dengar tapi entah kenapa aku tidak beranjak dari sana.
“ Kakek jangan bicara begitu. Kakek sudah dioperasi oleh dokter ahli jantung terbaik. Aku yakin kakek akan segera pulih dan bisa ikut jalan sehat lagi dengan teman-teman kakek”, Jeni berusaha ceria.
Kakek tersenyum lalu menatap Juan “ Apa kalian belum berencana menikah?”, kakeku tidak mudah dialihkan.
“ Ada. Jika anda merestui saya akan menikahi cucu anda”, aku berkata tegas.
Jeni menatapku kaget, menurut rencana kami akan berbicara soal pernikahan setelah kakeknya keluar dari rumah sakit. Aku mengabaikan tatapannya.
“ Benarkah Jeni?”, kakek bertanya pada Jeni.
Jeni gelagapan “ ah, iya. Aku akan menikah dengan Juan kek. Karena aku mencintainya, dia juga begitu”, katanya penuh kebohongan. Aku diam saja mendengarkan.
“ Jeni kenapa kamu tidak pernah memperkenalkan nak Juan pada kakek?”, Kakek bertanya penasaran.
“ Karena waktunya belum tepat. Juan sangat sibuk bekerja”, Jeni menjawab sebelum aku sempat berkata-kata.
Kakek Darmawan mengangguk senang. “ Baiklah aku akan beristirahat. Kalian istirahatlah”, kata kakek lalu menutup matanya.
Jeni berdiri dari kursinya dan menggandeng tanganku tanpa aba-aba.
“ Kakek kami pergi dulu”, Jeni berpamitan.
Aku dan Jeni berjalan keluar ruangan itu masih saling menggenggam tangan satu sama lain. Sampai di luar pintu dengan cepat dia menguraikan genggaman tangannya, meninggalkan bekas rasa hangat di telapak tanganku.
“ Kita perlu bicara”, katanya.
“ Ayo kita ke tempatku”, aku mengiyakan.
“ Tidak. Di tempatku, apartemenku”, katanya tegas.
***
__ADS_1