Merpati Kertas

Merpati Kertas
SEBUAH ARTIKEL


__ADS_3

Aku berada di luar kota selama 3 hari. Pada hari pertama di penuhi kesibukan dengan rapat lalu mengunjungi hotel dan beberapa proyek lainnya. Saat malam aku tiba di kamar tempatku menginap, aku membersihkan diriku lalu cepat-cepat mengambil ponsel. Banyak pesan masuk dari Jeni.


Jam 09.00 Love: Sayang sibuk banget ya?


Jam 10.00 Love: Kamu jangan lupa sarapan. Semangat.


Jam 11.00 Love: Aku sudah makan siang. Hari ini seorang artis memesan bunga dari tokoku.


Jam 12.00 Love: Sayang sudah jam makan siang, ayo makan.


Jam 13.00 love: (Seent you picture)


Aku membuka gambar yang di kirim Jeni. Itu adalah fotonya sambil memegang bunga berwarna pink. Lalu masih banyak chat nya yang lain setiap jam. Hatiku sangat bahagia dia benar-benar mengajariku setiap jam.


Aku langsung melakukan panggilan video kepadanya.


“ Hai”, Jeni menjawab dengan cepat.


“ wah baru di tinggal sehari kamu makin cantik saja”, aku menatapnya di layar.


“ Kamu sukanya menggombal. Gimana hari ini?”, tanya Jeni.


“ Hari ini cukup berat sayang, banyak sekali pekerjaan. Biasanya sih sampai besok pekerjaan akan menumpuk, nanti di hari ketiga akan sedikit lebih tenang”, aku menjelaskan sambil berbaring.


“ Aku kangen sama kamu”, wajahnya tampak sedih.


“ Aku juga kangen sama kamu”, jawabku sungguh-sungguh.


Tiba-tiba ponsel Jeni di rebut seseorang. Wajah Bella muncul di layar dan aku mendengar Jeni tertawa kecil karena Bella merebut ponsel itu. Adikku memang ku perintahkan untuk menemani Jeni saat aku pergi keluar kota.


“ Kerja saja yang benar, cari uang yang banyak, aku yang akan menjaga kakak ipar”, Bella berbicara di ponsel.


“ Minggir kau, mana Istriku. Aku ingin lihat wajahnya”, Aku berkata kesal.


“ Kak, aku akan membawa kakak ipar shopping untuk menghibur diri. Jadi kami akan gunakan kartu darimu ”, kata Bella sambil menunjukan kartu berwarna hitam yang ku berikan pada Jeni.


" Bella, jangan menjual namaku", Jeni berbicara di sampingnya sambil tertawa kecil.


" Kakak ipar tenang saja. Kak Juan tidak akan jadi miskin karena kita berdua", Bella berbicara lembut ke arah Jeni.


“ Benar kau akan pergi bersama istriku?”, aku bertanya.


“ Ya tentu saja”, jawab Bella. “ Pria macam apa kamu tidak membelikan kakak ipar baju yang bagus. Untuk apa uangmu yang banyak itu”, Bella mulai mencelaku.

__ADS_1


“ Bella, jangan begitu sama kakakmu. Aku yang menolak ”, Jeni membela suaminya.


Bella hanya cengengesan tidak jelas karena di tegur oleh Jeni.


“ Hei dengar ya anak durhaka, istriku tidak sepertimu yang hanya tau menghabiskan uang keluarga. Minggir aku mau lihat istriku”, aku berkata sewot.


" Huuu..nyebelin", Bella sewot.


Wajah Jeni muncul di layar. “ Sayang jangan kasar pada Bella”, Jeni menegurku.


“ Ya sayang besok tidak kasar lagi. Pergilah belanja bersama Bella, pakai kartu yang ku berikan padamu”, aku menyuruhnya.


“ Oke, besok kami akan pergi ke salon dan shopping”, Bella menjawab dari balik layar.


“ Tapi itu membuang-buang uang”, Jeni menatapku dari ponsel.


“ Pergilah, uangku tidak akan habis hanya karena kamu pergi ke salon dan berbelanja”, Ucapku meyakinkannya.


Jeni mengangguk sedikit ragu, aku tersenyum meyakinkannya. Tiba-tiba ada ketukan pintu dari luar kamar. Aku beranjak dan membuka pintu, Anna berdiri di sana.


“ Ada hal mendadak yang harus kita rapatkan”, kata Anna lalu masuk dengan tergesa-gesa.


Aku menatap kembali ke layar. “ sayang nanti ku telpon lagi ya. Bye”, kataku lalu menutup video call itu.


“ Seseorang menjual informasi kita kepada pihak luar, aku takut investor akan menarik dana mereka”, Anna menjelaskan cepat-cepat.


Aku terdiam lalu memanggil Doni melalui sambungan telepon. Tidak sampai 1 menit Doni sudah tiba di kamarku.


“ cari tahu siapa yang menjual informasi perusahaan pada pihak luar. Sekarang, seret dia ke hadapanku ”, aku memberi perintah dengan geram.


“ Baik tuan”, Jawab Doni cepat.


***


Masalah ini ternyata sangat rumit. Aku memang kembali ke Jakarta tepat setelah 3 hari tapi aku menjadi sangat sibuk sampai belum sempat bertemu Jeni.


Dari bandara aku langsung menuju kantor untuk menyelesaikan masalah ini. Orang yang menjual informasi ini adalah salah satu orang kepercayaan Max. Betapa murkanya dia, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Kami harus memulai lagi dari awal untuk proyek ini, aku cukup mengalami kerugian yang besar.


Lalu aku pergi lagi keluar kota untuk proyek yang lain. Satu minggu ini adalah minggu panjangku untuk tidak bertemu Jeni. Sebelum hari keberangkatanku keluar kota aku menyempatkan diri untuk pulang sebentar menengok Jeni.


Sudah hampir tengah malam saat aku masuk ke dalam hotelku. Jeni sedang tidur dengan nyenyak nya. Aku mandi dan berganti baju dengan baju yang lebih kasual, lalu menghampirinya di tempat tidur. Aku mengelus kepalanya dengan penuh sayang.


“ Sayang kamu sudah pulang?”, Jeni terbangun karena kaget.

__ADS_1


“ Ya, aku hanya singgah sebentar untuk melihatmu. Maaf ya aku begitu sibuk akhir-akhir ini sampai tidak bisa bersamamu “, aku mencium keningnya.


Jeni memelukku senang. “ Tidak apa-apa, aku mengerti kok”.


“ Aku akan menemanimu sampai tidur. Ayo aku akan memelukmu”, aku naik ke atas tempat tidur.


Jeni dengan cepat masuk ke dalam pelukanku, seperti anak kecil yang baru bertemu orang tuanya.


“ Aku kangen banget sama kamu. Kamu boleh pergi kalau aku sudah tidur nyenyak ya”, katanya di dalam pelukanku.


“ Ya sayang”, aku menghirup wangi rambutnya.


Satu jam berlalu, aku terbangun dari tidur singkat ku. Jeni masih ada di dalam pelukanku, aku melepaskannya pelan lalu turun dari tempat tidur berusaha tanpa suara. Aku menatapnya sekilas lalu beranjak pergi keluar dari kamar.


Aku membangunkan Doni yang juga tertidur di sofa ruang tamu. “ Doni ayo berangkat”, panggilku.


Dengan cepat Doni bangun dari tidurnya dan berjalan di belakangku. “ Maaf saya tertidur tuan”, katanya.


“ Tidak masalah kita sama-sama lelah karena proyek ini. Apa kau sudah menemukan apa yang ku minta?”, tanyaku.


“ Sudah tuan. Sudah saya temukan dan selesaikan. Tuan Max tidak ada hubungannya dengan bocornya informasi ini tuan”, jawab Doni.


“ Baguslah. Aku benci penghianatan”, kataku lagi.


“ Tuan hanya saja ada sesuatu yang anda harus tau”, doni menyodorkan sebuah artikel saat kami berada di dalam mobil.


“ Pengusaha J mempunyai simpanan lain? Apakah pengusaha J berselingkuh?”, aku membaca judul artikel itu dengan seksama.


Lalu melihat dibawah artikel itu foto aku dan Anna di kamar salah satu hotel. Aku sedikit tertegun, sebenarnya apa yang terjadi. “ Ada pengaruh apa artikel ini padaku?”, aku bertanya mendadak bodoh.


“ Tuan mungkin anda menganggap ini biasa, tetapi artikel ini mampu menurunkan citra anda didepan investor. Saya takut kita akan gagal dalam proyek ini karena mereka menjadikan ini sebuah skandal untuk menyerang anda”, Terang Doni.


“ Ya, kamu benar. Sebenarnya aku tidak peduli pada artikel ini tapi karena kau sudah membuka pikiranku maka aku jadi memikirkannya”, aku menghembuskan nafas.


“ Saya rasa ini adalah ulah lawan anda tuan, saya sudah menyelidiki skandal ini ”, kata Doni.


" Bagus, Jika benar mereka berusaha menyerangku maka kita harus menyiapkan perlawanan yang berarti", kataku dingin.


"Baik tuan", jawab Doni.


Aku salah saat itu, seharusnya aku lebih serius menanggapi artikel ini. Bukan untuk perusahaan tetapi kehidupan rumah tanggaku. Karena artikel ini, keluarga angkat Jeni memiliki celah untuk mencampuri urusan rumah tanggaku. Mengatasnamakan rasa sayang mereka pada Jeni, mereka mulai mencari masalah denganku.


***

__ADS_1


__ADS_2