
Ramses street, Heliopolis
pelayan nobi keluar dari sebuah villa megah. matanya sibuk mengitari jalanan yang lengang. hening. sore itu angin bertiup sepoi-sepoi, menyanyikan lagu senja pada dedaunan yang melambai malas. hari mulai berganti malam...
Nobi mengerutkan kening sambil mulutnya tiada henti mengeluarkan kata yang tidak bisa dipahami. angin sore berhembus menerpa tubuh, seperti berusaha mengumumkan pemberontakannya pada nasib dan dunia. Nobi merasa dari dalam dadanya keluar rasa nyaman diiringi rasa pasrah terhadap takdir dan dunia...
Dengan langkah lebar, Nobi menyusuri jalan hingga sampai di Baron Street yang indah. mata tidak bosan memandang sisi-sisinya. jalan itu tidak berpenghujung bagi sepasang kekasih, kecuali saat berpapasan dengan polisi yang sedang patroli!
Nobi semakin mempercepat langkah. matanya terus mencari seseorang di sepanjang jalan yang terbentang luas... Dia seperti gugup dan berlari-lari kecil, sedangkan mulutnya masih mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti, sampai pandangannya bertemu dengan gadis remaja yang sedang bermain atraksi sepeda dari kejauhan. spontan dia lari sekuat tenaga untuk mengejarnya. tangan yang satu memegang jubah putih, sedang tangannya yang lain melambai ke udara sambil berteriak,
"Nona Alia... Nona Alia! " panggilnya.
Nona yang dipanggil itu tertawa sambil menoleh sumber suara. rambut emasnya terurai menyentuh kening. alia menggeleng-gelengkan kepala, lalu menghampiri sepeda, dan mengayuhnya sekuat tenaga sambil menjauh. Lagi-lagi sebuah tawa menghiasi kedua bibir itu dengan muka polos tanpa dosa.
Pelayan Nobi tanpa putus asa terus mengejar, memanggil, dan melambai-lambaikan tangan ke arahnya. napas orang tua itu naik turun hampir putus. tidak berapa lama dia berhenti, lalu duduk di atas trotoar sambil memegang dada, seakan takut kalau jantungnya berpindah tempat.
"Jangan seperti ini, nona! tidak baik. " ucapnya tersengal-sengal.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba dia meloncat dari trotoar sambil berteriak marah, "Ya Allah... " katanya gemas. Alia datang mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi. sepeda itu hampir saja menabraknya. untung dia cepat bergeser sedikit dari tempat duduk. melihat paras muka pelayan Nobi yang terkejut ketakutan, Alia pun tertawa senang.
Kemarahan pelayan Nobi semakin bertambah melihat kelakuan Alia...
"Dengar nona! aku sama sekali tidak suka dengan permainan mu ini. apa engkau belum puas membuat jantungku hampir putus? mari, kita kembali ke rumah. nyonya besar menginginkan nona sekarang juga! " bentaknya kesal.
Untung saja Alia menurut. nona kecil itu berlalu sambil tertawa. di sepanjang jalan menuju rumah, Alia bermain bel sepeda dengan jarinya. sebuah senyum pun akhirnya mengembang di bibir pelayan Nobi melihat tingkah laku nona kecilnya.
"semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungi, nona! " gumamnya berdoa memperlihatkan gigi-gigi putihnya.
Alia memasuki taman rumah sambil mengendarai sepeda. dia mengangkat sepedanya menaiki tangga setingkat demi setingkat. hatinya penuh gelora remaja. jiwa muda itu seperti hidup dalam setiap denyut nadi, hingga membuatnya melayang ke angkasa seakan tak lagi menginjakan kaki di bumi.
"ibu... ibu... " teriaknya.
Dia membuka semua pintu yang dilaluinya sambil berteriak, "ibu... ibu... "
Begitulah kebiasaanya, padahal dia sudah tau dimana bisa mendapati si ibu. ya, di sebuah kamar mungil yang berhadapan langsung dengan taman rumah. kamar itu paling indah dibandingkan kamar-kamar yang lain. suasananya nyaman, dihiasi perabot sederhana dengan beberapa lukisan yang tergantung pada setiap sisi dinding. di antara lukisan itu ada sebuah foto besar bergambar lelaki tua yang berwibawa dengan uban di seluruh kepala. dahulu, sebelum ajal menjemput, lelaki itu pernah menjadi tuan di rumah ini..
__ADS_1
Ibu Alia masih muda. usianya belum genap tiga puluh lima tahun. kecantikan yang dia miliki telah menurun kepada putrinya. kulit putih mulus, dan pipi merah merona bagai tetesan sungai remaja buah karya sang Pencipta. rambut ikal keemasan yang terikat dengan kepang mungil di atas kepalanya itu seolah mengumpulkan segala kekayaan dunia dan mencairkannya dalam sebuah kisi-kisi. adapun sepasang bola mata itu tampak indah dengan panduan berbagai warna, belum lagi bibirnya merah delima yang menggoda dan tubuh ramping tanpa lemak.
Alia sangat mirip dengan ibunya. yang berbeda, sang ibu selalu hidup dalam bayang-bayang sedih dan kedukaan. dua kelopak matanya memperlihatkan bekas air mata yg tak pernah kering. raut mukanya selalu murung, dan tatapan matanya terasa dingin. dia seperti orang yang selalu menderita. tak ada seorang pun yang pernah melihatnya tertawa, kecuali hanya senyum tipis yang dipaksakan.
ibu Alia jarang bergaul, hanya beberapa orang saja yang dia kunjungi. bahkan juga jarang menerima tamu. walaupun begitu, sosoknya dikenal banyak orang dan namanya tercantum di segala bidang. Orang-orang yang mengenalnya merasa bangga, sedangkan yang belum mengenal berharap bisa kenalan. mereka sangat menaruh hormat. tak ada omongan-omongan buruk tentang dirinya. benar, dia hampir tidak punya aib seperti layaknya beberapa nyonya jutawan yang hidup mereka selalu diketahui khalayak ramai.
tidak ada seorang pun yang tahu mengapa dia sedih dan berduka. sejak dulu, saat pertama orang-orang mengenal, kondisinya memang selalu seperti itu. sebagian orang menduga bahwa dia serius menghadapi hidup karena memang begitulah gaya hidup orang bangsawan. tapi, meskipun keturunan bangsawan, ibu Alia tidak tinggi hati dan sombong, atau merasa bangga dengan apa yang telah dimilikinya.
saat ditinggal mati suaminya, keadaannya sedikit pun tidak berubah. kesedihan yang dia derita semakin hari semakin bertambah. tak ada seorang pun yang melihatnya menangis saat pemakaman suaminya, apa lagi menjerit atau meratap. yang terjadi justru dia semakin larut dalam kesedihan dan kebisuan. dia semakin mengasingkan diri dari lingkungan dan khalayak ramai. sebagian besar hari-harinya dihabiskan di dalam kamar kecil yg nyaman yg berhadapan langsung dgn taman rumah. tidak seorang pun yg bisa mengetahui apa yg ada dalam pikirannya. pusat perhatiannya saat itu hanyalah bagaimana dia harus mengatur harta warisan yg telah ditinggalkan suami utk dirinya dan anak-anak.
suaminya mungkin telah meninggalkan harta warisan yg banyak. tapi tidak ada seorang pun yg tahu berapa banyak harta itu, apa yg terjadi pada kekayaanya sepeninggal suami, atau bagaimana dia mengatur harta warisan yg melimpah. yg jelas orang-orang melihat bahwa kekayaan itu masih seperti dulu dan tak ada perubahan. rumah besar yg megah itu masih seperti dulu, jumlah pembantu yg bekerja di rumah itu jg masih sama, sedangkan mobil mewah yg terparkir di dpan rumah jg tdk berbeda. yg bertambah hanyalah mobil sedan mungil punya Adel. kakak Alia yg belum genap berusia delapan belas tahun.
Adel sangat mirip ayahnya, berkulit hitam manis, perawakan tinggi, dan berbadan atletis. tapi dia menuruni sifat pendiam, tampang serius dan wajah dingin ibunya. utk itu, dia terlihat lebih tua dari umur yg sebenarnya. dia sangat dihormati dan dicintai geng pemuda kota Heliopolis, padahal geng itu tidak pernah bersikap ramah, apalagi menghormati orang dan wanita. mereka sering mencuri mobil, mencopet uang, atau menjambret tas nyonya-nyonya kaya. perbuatan mereka tdk didasari oleh kebutuhan hidup yg mendesak, tetapi hanya sbagai aksi unjuk kekuatan dan berbangga diri mengikuti akting bintang film barat. namun mereka menghormati Adel. penghormatan itu mungkin karena kekuatan dan keberanian Adel yg selalu menang dalam stiap perlombaan olahraga. tp mungkin jga karena wajah sangar dan keseriusan yg slalu tampak pada air mukanya. atau, mungkin karena Adel tdk ingin bentrok dgn mereka yg kerap kali membuat onar. mereka pun juga menghormati Alia karena memandang Adel.
❤❤❤
__ADS_1