Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
episode 5


__ADS_3

Alia resmi menjadi istri.


Dia tidak menyadari perubahan besar pada dirinya. dia menyatu dengan peran sebagai istri, seolah peran itu memang ditulis untuknya, dan seolah dia hanya tercipta untuk suami.


Aziz juga membantu Alia memainkan peran tersebut. secara tdk sengaja, Aziz mulai menjauhkan Alia dari teman-teman sebayanya, lalu mendekatkan Alia pada teman-teman baru. sekarang Alia lebih dekat dgn para istri saudara Aziz atau istri teman-temanya, yg hampir semuanya telah melewati masa muda.


Mereka sering berjalan -jalan mengitari pusat pertokoan sekedar utk memilih baju Alia, atau membeli alat kecantikan. bukan hanya itu, Aziz pun slalu ikut andil dalam menentukan selera Alia. bahkan majalan dan buku yg dibaca Alia juga dipilih dan dia tentukan. Aziz tdk ingin mata istrinya terbuka, lalu melihat dunia yg tdk dia inginkan. bila berangkat kerja, Aziz melakukan berbagai cara agar istrinya sibuk. dia meminta Alia untuk menerima tamu-tamu wanita yg sudah dia pilih terlebih dulu, menyuruh Alia berkunjung ke rumah seseorang yg sudah dia tentukan, menyiapkan pesta atau menulis surat.


tapi itu semua tidak terlihat seperti sengaja, perintah, atau arogan. Aziz mampu mengemas semuanya dgn cerdas, pintar, lembut dan berwibawa hingga Alia tunduk dan merasa bahwa Aziz selalu menuruti apa yg dia inginkan.


Setelah beberapa bulan pernikahan mereka, Aziz mulai mengajak Alia ke tanah perkebunan miliknya. Alia pergi ke desa, bermain-main dikebun seperti anak kecil mengikuti kehidupan petani. Alia menemani para pekerja dalam arakan gerobak sampai mereka selesai mengisi gerobak dgn barang-barang. setelah itu, memanggil anak-anak petani untuk bermain dengannya. Alia mengajak mereka ke tanah perkebunan, duduk-duduk santai disana, atau menjadikan tanah perkebunan itu seakan sebuah sekolah. di depan mereka, Alia memperagakan gaya seorang guru saat berada di depan murid-murid.


namun, semua itu terjadi setahun yang lalu....


adapun sekarang, saat dia pergi ke tanah perkebunan bersama suami, Alia tdk lagi menikmati indahnya pemandangan desa. dia hanya melihat angka-angka hasil penjualan panen yg disodorkan pengawas perkebunan. dia slalu sibuk dgn masalah para petani, atau menghukum mereka bila salah.


pola pikir dan gaya bicara Alia sudah seperti wanita berumur empat puluh tahun. pandangan matanya yg tajam dan menantang juga mirip wanita berumur empat puluh tahun. bahkan dalam berpakaian dan berdandan pun Alia sudah mirip wanita berumur empat puluh tahun.


Alia sudah tidak seperti gadis berusia sembilan belas tahun. hanya kulit yg masih tampak segar dan darah muda di kedua pipi itulah yg menunjukan keremajaannya.


Dia baru menyadari kondisinya setelah melihat pemuda yg sedang merayu dan menggelayutkan tangannya dgn mesra dipundak sang kekasih, atau sepasang suami istri muda yg bahagia. Alia melihat semua itu setiap melewati Baron Street yg berada di pinggiran Heliopolis. dia tdk tau mengapa tertarik mencuri pandang ke arah mereka, lalu memperhatikan diri sendiri, memperbaiki cara duduk, tapi segera kembali menjadi wanita berumur empat puluh tahun lagi.


Selama ini Alia tdk pernah merasa kurang. apa yg dia inginkan bisa dibeli dgn uang. Satu-satunya yg membuat dia resah ialah saat malam tiba, saat dia harus menjalankan peran dan kewajiban seorang istri.

__ADS_1


Aziz memang suami yg lembut dan baik. tapi kelembutan dan kebaikan Aziz tdk membuat Alia puas atau nikmat pada setiap sentuhan dan ciuman nya. sentuhan dan ciuman itu tdk mampu membangkitkan gairah. Alia selalu menyerahkan bibir yg dingin kepada Aziz. bagi Alia, smua itu hanya sebatas kewajiban. tanpa disadari, semua itu membekas dan memberi pengaruh besar pada dirinya. Alia menjadi sosok duplikat sang ibu yg selalu hidup dalam bayang-bayang sedih dan kedukaan. pada kelopak matanya selalu tampak bekas air mata yg tak pernah kering. raut mukanya selalu murung, dan tatapan matanya terasa dingin seperti sedang menghadapi bahaya dan bencana. tidak ada seorang pun yg pernah melihatnya tertawa, kecuali senyum tipis yg dipaksakan.


❤❤❤


tahun demi tahun berlalu.


sekarang usia pernikahan mereka genap dua belas tahun. Alia sudah berusia dua puluh delapan tahun, sedang kan Aziz, suaminya berumur enam puluh dua tahun!


Aziz jatuh sakit. dia menderita penebalan di dinding pembuluh darah dan Angina Pektoris yg tdk bisa disembuhkan. sejak saat itulah Aziz hidup dalam bayang-bayang hitam! dia merasa kekuatannya tlah hilang, karena tdk bisa menerima keadaan, Aziz berubah menjadi sosok lain. dia tdk lagi berperilaku lembut dgn sosok menarik. Aziz berubah menjadi sosok yg slalu murung, menentang, mendendam, egois, pencemburu, dan keras kepala. semua itu dia lampiaskan kepada Alia.


tdk hanya Alia saja yg berontak dgn kondisi tersebut, tetapi juga kemudaan, kesegaran, dan kekuatan hiduonya pun turut berontak. stiap kali merasa muda, Alia langsung teringat dengan ketuaan suami. stiap kali kesegaran melirik nya, Alia teringat dengan kelayuan suami. dan setiap kali kekuatan mengulurkan tangannya, dia langsung teringat kelemahan suami.


Alia adalah kehidupan sedangkan suaminya adalah kematian. kehidupan dan kematian berkumpul dalam satu atap. Masing-masing berusaha utk menjadi pemenang dan menarik yg lain.


Kadang Aziz menolak minum obat hanya karena ingin mendapat perhatian. tapi Alia akan ttp menuangkan obat ke sendok, mendekatkannya ke mulut, lalu mengeluarkan perintah tegas dgn suara menakutkan.


" minum! "


Ketika melihat sorot mata dingin Alia. Aziz pasti akan malu dan minta maaf atas kelakuannya yg mirip anak kecil, lalu minum obat! setelah itu, Aziz akan menanyakan kepergian Alia,


" kau tadi kemana ? "


" di dapur, " jawab Alia dgn suara rendah, seperti bicara pada diri sendiri.

__ADS_1


suara suaminya meninggi,


" mengapa?!... apakah kau mengusir semua pembantu?! " bentaknya. tapi Alia hanya menjawab dingin.


" tidak. "


" jadi apa yg kau lakukan didapur?! aku harus tau segala sesuatu yg ada di dalam rumah ini. aku belum mau mati! kau harus tau itu, aku belum mau mati! "


Alia tidak menjawab. dia malah menundukan kepala, memperbaiki posisi bantal suaminya, lalu pergi menuju kursi yg biasa dia duduki, membuka majalah, dan menyembunyikan mukanya dari suami.


Aziz tidak puas. dia masih berteriak dan mengulang kata-katanya,


" jawab! apa kau ingin membuatku gila hah....! aku tau kau ingin aku mati secepatnya. biar kau bebas dariku! "


tapi Alia tidak menanggapi dan hanya menyingkirkan majalah yg menutupi mukanya. Aziz melihat sorot mata marah sang istri. dia pun lantas diam dan kembali tenang.


" maafkan aku Alia.... " bisiknya dengan suara lemah.


Alia tersenyum tipis. dia mendekati Aziz, memijat kedua tangannya, lalu mengompres kening itu dgn air kolonia.


" Aziz jangan menyiksa diri. dokter bilang kau harus banyak istirahat. dua hari lagi kau pasti akan sembuh dan sehat. pasrahkan semuanya pada Tuhan! " ujarnya dgn sorot mata penuh kasih sayang.


Aziz kembali tenang. tapi tdk beberapa lama keegoisan dan kebenciannya kambuh lagi. dia pun mulai bertingkah dan membuat msalah baru. setiap hari Alia mengalami hal itu.

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2