
Pagi sudah berganti petang, burung-burung telah kembali ke sarangnya, Sore ini Ara ditemani dokter Firman dan dokter Aisyah, dan meminta bibi An pulang ke rumah untuk istirahat, karena sudah beberapa hari menjaganya.
''Sayang kenapa kau masih betah tidur, bunda kangen senyumanmu, ayah juga kangen masakanmu. Segera bangun nak, kami merindukanmu'', kata dokter Aisyah. 'Lihatlah kak Rei, Kaijun, bibi An dan teman-temanmu semua menantimu kembali'', dokter Aisyah selalu mengajak bicara putrinya, dan selalu menangis.
''Jangan menangis terus bunda, Bunda adalah wanita yang kuat, seperti putri kita dia juga kuat''. Kata dokter Firman yang berdiri dibelakangnya. ''Kita sudah berusaha, apapun yang terjadi nanti kita harus belajar iklas, ini ujian bukan untuk kita saja, tapi untuk putri kita juga. Semua yang terjadi adalah takdir, kita tidak bisa menolak atau menghindar''.
Dokter Aisyah tidak bergeming dia tetap duduk di kursi samping ranjang putrinya. Dia malah menangis mendengar kata-kata suaminya.
Dokter Aisyah menangis dan menaruh kepalanya di ranjang, sampai akhirnya dia tertidur.
Dokter Firman menyelimuti tubuh istrinya, agar tidak kedinginan.
''Sayang lihatlah bundamu dia sangat sedih, tiap hari dia menangis, kami merindukanmu princess, kembalilah bersama kami. Jangan tinggalkan kami, kami tulus menyayangimu. kamu adalah putri kami satu-satunya''. Air mata dokter Firman menetes begitu saja, dia sudah berusaha menahannya, namun jatuh juga. Sudah satu minggu putrinya belum mau membuka matanya, pikirinya berkecamuk, meronta, lelah badan dan pikiran tak dirasakanya, bahkan dia jarang sekali bisa tidur nyenyak.
Saat yang bersamaan air mata Ara keluar membasahi pipinya, Dokter Firman dengan perlahan menghapus air mata itu, ''jika ayah bisa ayah saja yang menggantikan sakitmu'', katanya sambil menghapus air mata Ara yang terus menetes.
Sementara itu Ara entah berada dimana, dia merasa ada di sebuah padang dengan aneka bunga berwarna warni. Dia berjalan mengitari dan memetik satu- persatu bunga itu, merangkainya menjadi satu.
''Apa yang kau lakukan disini sayang??, suara yang lembut terdengar ditelinga Ara. ''Kau sudah besar sekarang''.
Ara menoleh ke sumber suara itu dilihatnya seorang wanita cantik memakai gaun putih, berjalan kearahnya.
''Aku sedang memetik bunga aku ingin memberikannya pada bundaku, anda siapa??, apa nyonya mengenalku??. Apa anda ini bidadari atau peri, anda cantik sekali''.
Wanita itu tersenyum mendekati Ara, ''tentu saja aku mengenalmu, aku ibumu sayang, kamulah bidadari itu''.
''Ibuku!!!!..., benarkah kau ibuku??, aku tidak pernah melihatmu sebelumnya??.
''Maafkan ibu sayang, kita harus berpisah sebelum kau mengenal ibu''.
''Apa ibu tinggal disini, kenapa tidak tinggal bersamaku????.
''Maafkan ibu sayang, ibu tidak bisa menemanimu, ibu menemani ayahmu dan juga eangmu, lihatlah ayah dan eang disana''.
''Kenapa kalian tinggal bersama??, kenapa tidak mengajaku bersama kalian, bolehkah aku ikut bersama kalian''.
''Tidak sayang kau harus pulang. Kau punya ayah dan bunda yang sangat menyayangimu, mereka menunggumu pulang sekarang''. Jangan bermain sendirian!!!!.
''Kau bidadariku yang cantik dan baik, pulanglah dan dengarkan nasehat ayah dan bunda yang sudah merawat dan membesarkanmu, patuhlah pada mereka''.
__ADS_1
Datanglah seorang laki-laki tampan dan membelai rambut Ara yang mulai menangis.
''Kenapa menangis sayang, ayah disini selalu disampingimu''.
''Aku ingin ikut bersama kalian, kenapa tidak boleh??, kata Ara sambil menangis
''Tidak sekarang sayang, kau harus pulang sekarang, ayah dan bundamu menunggumu, lihatlah mereka sangat menantimu, mereka sedih menunggumu kembali kau malah bermain terlalu jauh''.
Ara menangis tersedu.
''Cucuku cantik jangan sedih dan jangan menangis, kau harus pulang dan belajar agar kau bisa membuat kami bangga. Kejarlah cita-citamu, buatlah bangga mereka yang sudah merawatmu dan membesarkanmu. Ini sudah mulai malam, sebentar lagi hari sudah gelap, cepatlah pulang, jangan bermain sampai larut''.
''Eang bolehkan aku bersamamu, aku rindu eang, kenapa kalian semua meninggalkanku sendiri''.
''Kamu tidak sendiri, kau punya ayah dan bunda juga saudaramu'', kata seorang kakek.
''Sayang dengarkan ibu'', kata wanita itu membelai rambut Ara, ''carilah El dia janji pada ibu akan menjagamu, dan membahagiakanmu'', kata Ibu.
''Siapa El bu? aku tidak kenal'' kata Ara sambil menangis.
''El adalah anak tampan, yang dulu ibu rawat dan ibu jaga. Dia anak yang baik, jangan menyalahkanya, ibu menyayanginya seperti menyayangimu juga, semua yang terjadi adalah takdir. Dia sangat menantikan kehadiranmu. Maafkan dia, jangan membecinya, ibu dan ayah yang meninggalkannya begitu saja. Berjanjikan pada ibu, ayah dan eang kalian akan saling menyayangi dan menjadi anak yang patuh pada bunda dan ayahmu, jangan nakal ya''. kata wanita itu dengan lembut.
''Dia tidak jahat sayang, dia hanya tidak tahu bagaimana cara menemukanmu, kalian terpisah begitu lama, takdirlah yang memisahkan dan mempertemukan kalian. Kalian harus bahagia''.
''Sekarang hari sudah mulai petang, sebentar lagi malam, cepatlah pulang sebelum hari menjadi gelap''.
''Tapi aku ingin bersama kalian, aku tidak tahu jalan pulang. Ijinkan aku tinggal bersama kalian'', Ara menangis tersedu-sedu.
''Kami akan mengantarmu, lihatlah disana ada pintu, berjalanlah kesana bukalah pintunya. Kau akan menemukan jalan pulang. Lihatlah kami, kami selalu ada di dekatmu, simpanlah kenangan kita dihatimu, agar kau tenang bisa menjalani hari-harimu. Kau bisa ingat terus kami, kami keluargamu sayangku bidadari ayah''. Ayo kita antarkan putri kita sampai pintu, berjalanlah yang lurus, Ara berdiri mengikuti mereka yang mengaku sebagai ayah dan ibunya dan melambaikan tangan pada kakek dan neneknya.
Saat sampai di pintu Ara berhenti, ''ayah ibu aku lelah berjalan terus, biarkan aku ikut kalian saja, aku takut berjalan sendiri''.
Wanita itu memeluk putrinya, menghapus air matanya, ''kau bisa sayang, kau kuat, kau itu bidadari terbanglah, kau pasti akan menemukan jalanmu''.
''Berjalanlah yang lurus, tidak usah menoleh kebelakang, agar kau tidak takut, bukalah pintunya sekarang''.
Ara ragu-ragu ingin membuka pintu, lalu pria itu membantu membukanya dan melambaikan tangan, ''aku menyayangimu sayang, berjuanglah''.
Pria itu melepas tangan Ara dan mendorong Ara berjalan melalui pintu
__ADS_1
''Ayah aku takut, ayah...ayah...Ara melihat ke arah ayah dan ibunya yang melambaikan tangan, dia seperti meluncur dari lubang yang semakin jauh meninggalkan mereka, dia berteriak memanggil mereka yang sudah terlihat semakin jauh dimata Ara, ibu...ibu.... ayah.... ayah... ayaaahhhhh!!!.
Dokter Firman yang dari tadi menghapus mata Ara, tersentak kaget saat mendengar putrinya memanggilnya, dan seketika mata Ara terbuka ''ayah'', panggilnya sekali lagi, ''ayah''.
''Sayang ini ayah nak, kamu sudah sadar, benarkah ini,... Bunda bangun putri kita sudah sadar'', seru dokter Firman yang menangis haru.
Dokter Aisyah yang tertidur karena menangis, seketika langsung bangun, ''Putriku, sayang akhirnya kamu sadar, terimakasih ya Tuhan engkau kembalikan putri kami'', kedua pasangan dokter itu mendekap Ara saling berpelukan.
''Ayah, bunda dimana ini?? kenapa aku disini??.
Dokter Firman tak bisa berkata lagi dia menciumi tangan putrinya ''terimakasih sayang kau telah kembali'', dia menangis haru, begitu juga dokter Aisyah dia mendekap putrinya, ''jangan tinggalkan bunda sayang, kau putriku''.
''Bunda, aku tidak bisa bernafas, bunda terlalu er.... at meluknya''.
''Maaf sayang bunda lupa, bunda sangat senang dan bahagia''.
Dokter Firman langsung sujud syukur di lantai ruangan itu. Dia menangis tersedu.
''Apa yang terjadi, kenapa aku disini?, tanya Ara sambil memegang kepalanya.
''Apa kau tidak ingat apa yang terjadi padamu sayang??, tanya bunda
Ara menggeleng pelan. ''Dimana kak Rei dan Kaijun??.
''Kakak dan Kaijun mengantar bibi An pulang istirahat, sesudah beberapa hari menjagamu disini''.
Dokter Firman memanggil perawat untuk membantunya, mengecek dan melepas beberapa alat medis yang terpasang di badan putrinya.
Perawat itu segera mengerjakan tugasnya, ''dokter selamat putri anda sudah sadar semoga segera pulih kembali'', kata perawat itu.
''Trimakasih suster''.
''Sayang mana yang sakit, katakan pada ayah, apa kepalamu masih sakit???.
Ara mengangguk, ''ayah berapa lama aku disini???.
''Kau sudah satu minggu terbaring disini sayang'', jawab bunda.
''Bunda akan menelfonya kak Rei da Kaijun agar mereka kesini, tunggu sebentar ya'', Dokter Aisyah keluar dari ruangan dan segera menelfon putranya. Dia begitu senang sampai tidak memberi kabar kalau putrinya sudah sadar.
__ADS_1