Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
Episode 43


__ADS_3

Pagi hari udara yang sejuk dipinggir desa kota J, suara burung berkicau, sinar matahari menerobos masuk dari celah jendela.


Rei sudah terbiasa bangun pagi, melihat ke arah adiknya Kai masih tertidur pulas, di rumah Ara memang sejak dulu satu kamar ini di gunakan untuk mereka berdua apabila liburan dan menginap di rumah ini, ada dua ranjang dan juga dua lemari dikamar itu.


Rei berusaha membangunkan Kai, adiknya yang masih pulas, dia menggoyangkan badan Kai


''Kaijun bagun, nanti kau terlambat ke rumah sakit''.


''Aku masuk sore kak'', jawabnya.


Kemudian Rei keluar dari kamarnya dan membiarkan adiknya tidur lagi. Dia berjalaan ke kamar Ara mengetuk pintu kamarnya.


tok...tok...tok...tidak ada jawaban


tok....tok... tok... masih tidak ada jawaban


Rei membuka perlahan pintu kamar Ara. dilihatnya Adik perempuannya masih tidur pulas. Semalam mereka memang tidur sampai larut, setelah melihat surat wasiat eang dan mendapat wejangan dari dokter Firman dan dokter Aisyah, setelahnya mereka pamit pulang.


Rei memandangi wajah adik perempuannya yang masih tidur pulas di bawah selimutnya. Ada satu hal yang mengganggu pikirannya, bagaimana adik perempuannya ini ada hubungan dengan direktur Orland yang tidak mereka ketahui.


Rei mengambil foto yang semalam dilihatnya bersama, foto itu jatuh dilantai, dimana foto itu menunjukan almarhum kedua orangtua ara bersama dua orang asing dan seorang anak berusia sekitar 5 tahun dimana foto ibu Ara yang terlihat tengah hamil besar. Ara pasti tidak bisa tidur memikirkan hal ini semalam, Rei juga berfikir keras tentang kemungkinan bahwa dulunya orang tua mereka saling mengenal.


Tidak ada yang tahu cerita keluarga Ara, setelah kedua orang tua Ara meninggal kakek dan nenek tidak pernah menceritakan tentang mereka mungkin mereka merasa sangat kehilangan anak dan menantunya, dan hanya meninggalkan bayi mungil Ara.


Bahkan hampir setiap tahunnya Ara tidak pernah merayakan ulang tahun seperti anak-anak pada umumnya. Setiap hari kelahirannya mereka hanya berdiam diri dirumah dan berdoa, keluar rumah hanya untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya, Rei mengingat dulu dia pernah datang ke rumah Ara untuk merayakan ulang tahunnya tapi kakek Ara malah mengajaknya mengunjungi makam keluarga Ara. Rei terus memandangi wajah Ara, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk adik perempuannya.


Ara mengeliat tatkala merasa ada yang membelai rambutnya, sentuhan tangan Rei membuatnya membuka matanya.


''Kakak sudah mau berangkat'', tanya Ara dengan suara khas bangun tidur, dia masih enggan keluar dari selimutnya, aaahhhhh Ara menguap''.


Rei tersenyum, tutup mulutnya kalau menguap, ''kau tidak bisa tidur semalam??. tanya Rei


Ara menyandarkan tubuhnya diranjang. Hari ini dia libur, karena dua minggu lalu dia kerja sampai lembur. Manager Eric memberikan libur selama 3 hari padanya.


''Kak setelah aku pikirkan, aku ingin bertemu direktur Orland, ada yang ingin aku kembalikan padanya, aku juga ingin tahu apa foto-foto itu benar keluarganya dan apa hubungannya dengan orangtuaku''.


''Mungkin sebaiknya begitu, sahut Rei, biar semua jelas dan kamu bisa tenang, tidak menjadi beban pikiranmu lagi''.


''Bagaimana caranya??!!


''Nanti kakak coba hubungi dia''.


''Kakak mau menemaniku bertemu dengannya kan??


''Tentu saja, kalau masih ngantuk tidurlah, Kaijun juga masih tidur dia masuk sore, kakak mau berangkat dulu''.


''Hati-hati ya''.


Rei segera keluar dari kamar Ara.


Ara mengambil foto yang ditaruh Rei di nakas, dia mengamati foto itu, semalaman memikirkannya, tidak juga mengerti bagaimana bisa kedua orang tuanya mengenal keluarga Orland. Ara mengamati foto anak laki-laki yang berada diantara orang tua mereka. ''Apa mungkin dia orang yang sama'',gumannya, dia membalik foto itu membaca berkali-kali nama yang tertulis di balik foto.


Ara memang sama sekali tidak mengenal sosok orang tuanya, selama ini kakek dan neneknya juga tidak pernah menceritakan tentang mereka, yang Ara tahu orang tuanya adalah dokter Firman dan dokter Aisyah, dulu dia berfikir kalau dokter Firman dan dokter Aisyah sibuk bekerja di kota, dan akan selalu pulang membawakan mainan untuknya saat libur kerja. Tapi semalam dokter Firman memberi wejangan kepada anak-anaknya tentang hubungan mereka sebagai orang tua dan saudara sepersusuanya.


dreetttt.... dretttt

__ADS_1


Ara segera mengambil ponselnya yang dia taruh di meja, terlihat nama Lanlan disana, segera dia menombol tanda hijau di layar.


''Halo.... ada apa Lan??, tanya Ara dalam telepon.


''Halo Ra, selamat ya sukses pertunjukan pagelaran karyamu, apa tidak ada perayaan?? mereka berdua mulai mengobrol di telepon.


''Trimakasih, perayaan apa Lan??.


''Jangan pelit Ara, kau sudah jadi desainer sekarang, acaramu muncul di siaran tv, kamu keren, kau tidak pulang ke rumah??!!.


''Aku di rumah sekarang''!!


''Maksudku pulang ke rumahmu di desa, bukan rumah Kaijun''.


''Aku di rumahku didesa sekarang Lan''.


''Benarkah....Ara apa kau tahu rumah sakit tempatku magang mengangkat direktur baru, dan wajahnya mirip dengan Kaijun, 11-12 lah sama dia, tapi dia lebih keren, tampan, dan berwibawa''.


''Ya aku tahu'', jawabnya.


''Ara aku kangen aku main ke rumahmu ya nanti, sekalian berangkat ke rumah sakit, aku ingin dengar ceritamu bagaimana kamu bisa jadi desiner''.


''Iya main sini, mumpung aku libur sekarang. Aku juga pingin dengar ceritamu bertemu dengan direktur rumah sakit yang keren, tampan dan berwibawa itu''.


''Ok, nanti aku kesitu ya da'',


panggilanpun diakhiri.


Hari ini Ara bermalas-malasan, enggan keluar dari kamarnya. Ara mencoba untuk tidur lagi tapi tidak bisa, lalu dia bangun dan masuk ke kamar mandi hampir satu jam Ara baru keluar dari kamar mandi.


''Sudah bangun sayang??, tanya bibi An yang melihat Ara sarapan sendiri di dapur.


''Iya bibi dari mana?


''Ara!!!, teriak Lanlan langsung berhamburan ke arahnya, mereka berpelukan sebentar.


''Jam segini baru sarapan Ra, jangan bilang kalau kamu baru bangun, ini sudah hampir makan siang'', kata Lanlan sambil duduk.


Tak berapa lama Kaijun juga turun bergabung dengan mereka.


''Hai Kaijun'', sapanya.


''Kenapa pagi-pagi kesini'', tanyanya.


''Ini sudah siang Kai!! kenapa kamu kemarin tiba-tiba pergi dan tidak kembali ke rumah sakit''.


''Aku ada urusan mendadak'', jawabnya santai sambil menyomot sepotong roti yang sedang di makan Ara.


''Mau kubuatkan lagi tawarnya pada Kai, dan diangguki olehnya.


''Lanlan kau mau kubuatkan juga''.


''Boleh juga'', jawabnya.


''Kalian enak ya satu tim, aku, Joy dan Clara di departemen yang berbeda''. Ara berdiri membuatkan roti isi untuk Kai dan Lanlan.

__ADS_1


''Kenapa dulu gak mau masuk fakultas yang sama'', tanya Lanlan.


''Karena aku tidak mau bergantung terus pada Kaijun, menempel terus padanya, akan membuatku tidak akan bersungguh-sungguh belajar'', jawab Ara


''Jadi itu alasanmu C ???, tanya Kaijun.


Ara tersenyum mengangguk sambil memberikan roti isi pada Kaijun dan Lanlan.


''Btw, tadi bilang mau cerita tentang direktur baru rumah sakit'', tanya Ara pada Lanlan.


''Ya itu dia, wajahnya mirip dengan Kaijun, tapi masih keren dialah, tampan dan juga berwibawa''.


Kai membelalakkan matanya sambil terus memakan sarapanya, dan Ara tersenyum mendengarnya, begitu juga dengan bibi An yang sedang memasak.


''Non Lanlan suka sama direktur barunya'', tanya bibi An.


''Sepertinya aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama, sayang sekali aku cuma melihatnya sebentar kemarin dan sekarang masuk sore, pasti tidak bertemu dengannya''.


''Hahaha kasihan sekali kau ya'', ledek Kai. Mereka terus mengobrol hingga waktu makan siang yang mundur karena mereka baru sarapan jam 10 siang, mereka melanjutkan ceritanya di belakang rumah.


Sekitar jam 14.00 Rei pulang dari rumah sakit.


''Assalamualaikum bi'', sapa Rei.


''Waalaikum salam'', jawab bibi An.


''Kai dan Ara sudah bangun bi???, tanya Rei.


''Sudah itu lagi ngobrol di belakang sama temannya''.


''Siapa temanya??, pikir Rei dan langsung berjalan ke belakang rumah.


''Kak Rei sudah pulang??, tanya Ara yang melihat kedatangan kakaknya.


Lanlan yang duduk membelakangi Rei yang baru datang langsung menoleh ke arah belakang dan betapa kagetnya dia melihat siapa yang datang dan berdiri di belakangnya.


Lanlan terpaku melihat pria tampan dan berwibawa yang kemarin di angkat menjadi direktur rumah sakit dan sekarang berada di rumah Ara.


''Sepertinya kamu akan sering ketemu dengan idolamu'', kata Kai.


Sejak dulu Lanlan sangat menyukai sosok Rei yang begitu menyayangi Ara, ketika dulu Rei berkunjung ke rumah Ara dan saat Lanlan bermain ke rumah Ara, mungkin itu awal pertemuan mereka, bahkan Lanlan pernah bilang pada Ara Kalau besar nanti mau punya suami seperti Rei.


''Hai!!!!, sapa Rei sambil tersenyum.


Wajah Lanlan menjadi merah, dia sangat malu bertemu dengan Rei setelah 8 tahun lamanya, apalagi tadi dia mengakui kalau dia jatuh cinta.


''Katanya kamu suka sama direktur rumah sakit yang keren, tampan dan berwibawa, sekarang sudah ada di depanmu'', kata Ara meledak sahabat kecilnya itu.


Lanlan semakin salah tingkah, wajahnya semakin merona, tidak tahu mau menyembunyikan dimana.


''Kak Rei sama bunda kan suruh cari istri, nah ini ada calon yang sudah menunggu kakak bertahun-tahun lamanya'', jahil Kai.


''Dasar kalian kenapa tidak memberitahu kalau dia memang Kak Rei'', kesalnya. Rahasia Lanlan yang telah diungkap oleh kedua sahabatnya yang sengaja menjahilinya.


''Hahahaha, semua tertawa jadi kau benar-benar menyukai kak Rei'', ejek Kai sambil tertawa ngakak.

__ADS_1


__ADS_2