Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
episode 2


__ADS_3

Alia berumur lima belas tahun lebih beberapa bulan. dialah satu-satunya kecerian dalam rumah megah tersebut, yg kerap kali membuat keributan di rumah. dia satu-satunya suara yg membawa cahaya kehidupan, kegembiraan, dan jiwa muda. Alia selalu mengisi suasana rumah dengan keakraban dan keriangan. dia selalu cerewet bicara di telepon, membuat masalah dgn para pembantu, tukang masak, atau tukang kebun. tapi Alia selalu bisa memecahkan masalah-masalah yg terjadi di antara mereka. kemanjaanya selalu bisa memaksa Adel untuk menemaninya ke kolam renang, makan di restoran, atau nonton sinema. Satu-satunya hobi Alia adalah mengendarai sepeda.


Seisi rumah sangat mencintai Alia. bila dia tidak ada, rumah akan tampak sepi, mereka mencintai kesucian hati Alia, jiwa remajanya, ketangkasan nya, dan kebaikan budi pekertinya. sang ibu memberikan kebebasan kpd Alia utk mengekspresikan jiwa mudanya. namun dia tdk pernah luput dari pengawasan. meskipun demikian, Alia menganggap wajar pengawasan itu. sebab, dia sangat percaya dan tidak pernah berusaha utk menyembunyikan rahasia apapun dari ibunya. dia menganggap bahwa pengawasan itu sebuah keniscayaan. sama sekali tak ada keinginan utk berontak, protes atau menjauh dari pengawasan ibunya.


Alia sangat mendewakan ibu dan kakak kandungnya. dia selalu mempercayai kata-kata mereka. bagi Alia, apa yg telah mereka putuskan dan lakukan adalah demi kebaikan nya saja. begitu pun sebaliknya, apa yg dilakukan Alia hanyalah utk kebaikan mereka juga.


❤❤❤


Alia membuka pintu kamar ibunya sambil berteriak keras seperti ketika masuk rumah,


"ibu... ibu... "


sang ibu mengulurkan tangan sambil masih duduk di tengah kamar.


"selamat datang, arusyah!"


Alia tdk memperhatikan kata arusyah yg diucapkan ibunya. dia tidak terkejut. justru yg membuatnya terkejut adalah sikap ibunya ketika memeluk, mendekap wajah dan membelai-belai rambutnya. Alia tak biasa mendapat perlakuan seistimewa ini. ibunya tdk pernah memeluk, membelai, atau mencium rambutnya, kecuali pada momen-momen tertentu saja. meskipun begitu, cinta dan kasih sayang Alia terhadap ibunya sangat besar, takkan pernah melemah atau berkurang walau tdk mendapat perlakuan seperti itu.


Ketika dalam pelukan itu, Alia seperti bisa merasakan gejolak hati sang ibu yg sekian lama memendam duka dan kesedihan. dia merasakan seakan air mata ibunya berjatuhan didada, bak tetesan embun yg memberi tahu turunnya hujan. tapi ketika mengangkat kepala, Alia tdk melihat hal itu. justru yg dia lihat adalah senyuman manis yg jarang sekali mekar di kedua bibir ibunya.


"semua baik-baik saja kan, bu?! " tanya Alia.


"iya, baik. semuanya baik-baik saja. " jawab sang ibu. Kata-kata nya seperti tersekat di antara lidah. "tapi aku benar-benar tidak menyangka kau sudah sebesar ini, Alia! ".


Alia tertawa mendengar pengakuan tersebut.

__ADS_1


"aku sudah besar dari dulu, bu. bukankah sejak dulu aku sudah berusaha meyakinkan mu kalau aku sudah besar? aku sudah pantas memakai sepatu tumit tinggi! "


"iya.tapi aku benar-benar tidak tahu engkau sudah sebesar ini, sampai ada yg datang melamar mu! " jelas sang ibu. Kata-kata nya semakin tersekat di antara lidah.


"apa? aku... aku dilamar, bu?! " tanyanya dgn nada tdk percaya. entah mengapa Alia merasa senang sekali mendengar kata dilamar. dia berteriak kegirangan seperti mendapat baju baru.


"benar, Alia. sebulan yg lalu Aziz Bek datang melamar mu.


" siapa? paman Aziz?! "tanya Alia tidak percaya.


" siapa bilang dia pamanmu? "potong sang ibu.


" sudahlah, sebaiknya sekarang juga kau bersiap-siap. pergilah berdandan, dan pakailah gaun merah mawarmu yg baru, karena kita akan menyambut tamu, " perintah ibunya.


Alia tdk berpikir jauh tentang sosok Aziz Bek yg datang melamarnya. sejak pertama kenal, dia selalu memanggilnya dgn sebutan paman Aziz sebagai seorang teman dekat almarhum ayahnya. yang terlintas dalam benaknya hanyalah satu hal, yaitu dia dilamar....


Alia sibuk memikirkan cincin tunangan yg akan melingkar di jarinya, atau gaun baru yg akan dia pakai. Tiba-tiba saja terlintas lah cerita film-film romantis barat yg pernah dia tonton, yg bercerita ttg pertunangan.


Hatinya tentram ketika ingat bahwa sebentar lagi sudah boleh memakai sepatu tumit tinggi. dia tertawa tertahan membayangkan ekspresi wajah Laila, teman dekatnya, bila mengetahui kabar pertunangan ini.


Ketika keluar dri kamar sang ibu. Alia berjalan dgn mengangkat satu kaki sambil melenggak lenggokan kepala ke kiri dan kekanan. tpi dia segera mendengar teguran ibunya di belakang.


"Alia, jalan yang benar! bukankah tadi kita sepakat kau sudah besar? " tegur sang ibu mengingatkan.


Mendengar teguran itu, Alia langsung memperbaiki cara jalannya sambil terus tersenyum menuju kamar. tapi dia segera mengurungkan niatnya utk mandi, lalu mengendap endap keluar kamar menuju tempat telepon, dan kembali dgn telepon masih dlam genggamannya. dia segera memutar nomor telepon rumah Laila.

__ADS_1


"halo... Laila, aku minta maaf, tak sempat meneleponmu. hari ini aku sibuk sekali! " ujarnya. "..................... "


"kami sedang ada tamu penting. "


".................. "


"sebenarnya aku ingin memberitahumu sbuah kabar, aku sudah dilamar orang, " bisiknya sambil menunggu respon Laila. benar saja. dia segera mendengar jeritan histeris Laila. dia tertawa bangga, tapi ditahan agar tidak sampai terdengar.


"tapi ceritanya nanti saja! " ujar Alia mengakhiri percakapan.


 


Alia langsung menuju kamar mandi sambil menyanyikan sebuah lagu prancis yg sudah tdk asing di telinganya.


"aku menantimu siang dan malam... "


"selalu menanti kapan engkau akan kembali... "


"aku menantimu bagai pengantin burung kecil yg berada di sarangnya".


 


Lagu tersebut tak ada kaitannya sma skali dengan suasana hati, atau apa yg ada dalam khayalan Alia. dia hanya menyanyikan apa yg didengar tanpa ada kesan apapun pada bibir dan telinganya. cuma sekedar musik. hati Alia adalah lembaran cahaya yg lebih suci dari hati para bidadari. putih bersih.


Dia tidak merasakan apa yg dirasakan gadis sebayanya. dia tidak pengalaman dlm urusan asmara. dia tdk pernah memperhatikan decak kagum para pemuda yg melihatnya bermain sepeda, atau pujian-pujian mereka. Alia hanya menyadari kefeminimannya saat berdiri didpan cermin atau saat memperagakan tingkah seorang aktris terkenal yg sering dia liat di TV atau bioskop. Alia adalah anak kecil tanpa dosa.

__ADS_1


Adel selalu tampak begitu perhatian dgn mobilnya. dia lebih bahagia dan perhatian dgn mobil dibanding dgn Alia. bahkan ketika didalam kamar mandi, saat berdiri telanjang didpan cermin, dia pun tdk memperhatikan rahasia keindahan dan kecantikannya. selama ini belum pernah terpikirkan siapa lelaki yg akan mengetahui segala rahasianya, atau kepada siapa dia akan menyerahkan kecantikan dan keindahannya. yg dipikir Alia justru beberapa banyak bekas luka dikaki karena sering jatuh dari sepeda. Alia menyentuh bekas luka itu dengan jarinya yg lentik khayalannya terus berputar. dia kembali membayangkan raut muka teman-temannya, dan bagaimana utk memamerkan kabar pertunangan ini.


❤❤❤


__ADS_2