
Alia hanya bediri bungkam saat jenazah suaminya diangkat keluar rumah. dia tidak berteriak, menangis, atau menyentuh mayat aziz utk memberi penghormatan terakhir.
Alia hanya diam. dia larut dalam kesedihan, hingga semua orang memprediksi bahwa kejadian sang ibu akan terulang kembali pada sang anak. baik Alia maupun ibunya sama-sama menahan sedih di dada. tak ada seorang pun yg mengetahui apa yg ada dalam pikiran mereka.
Alia masuk kamar setelah pelayat mohon pamit. dia tidak ingin mengingat kembali kenangan-kenanganya dgn almarhum. dia juga tdk ingin memikirkan harta warisan aziz. yg ada dlm pikirannya hanyalah bahwa kini dia telah menjadi janda... menjadi janda di umur dua puluh sembilan tahun! sisa-sisa hidupnya akan dia jalani sebagai seorang janda... janda! Alia merasa setiap sisi dinding rumah seperti menuding dan mengejek.
" janda... janda... kau janda! "
Tiba-tiba pintu kamar Alia terbuka. dgn kebisuan yg masih menyelimuti, sang ibu terlihat masuk kamar.
Alia memandang ibunya dgn sorot mata marah penuh dendam. sosok yg bisu mengingatkannya akan nasib dan masa depan yg akan dia hadapi, masa depan seorang janda! Alia menjauh dari ibunya menuju pojok kamar menempel dinding,
" pergi... pergi.. " usir nya lirih. kemudian berteriak,
" pergi.. pergi!! "
dia mengusir dan mendorong ibunya keluar kamar sambil berteriak,
" keluar... aku katakan kepadamu keluar dari sini!! "
ibunya pun keluar. Alia membanting pintu kamar dgn keras, seolah lega karena berhasil mengusir hantu mengerikan, yg akan menuntunnya ke jalan gelap menuju kematian.
jalan gelap... jalan hidupnya.. Alia bersandar di dinding. saat pandangannya bertemu cermin, dia melihat bayangannya diselimuti kabut hitam seperti sosok sang ibu.. sosok sosok seorang janda... dia pun menjerit, lalu menyembunyikan muka diatas tempat tidur dan menangis.
❤❤❤
Alia menyendiri di kamar selama beberapa hari. dia tdk ingin melihat dan bertemu siapapun. sebenarnya, Alia tdk mengasingkan diri dari orang -orang. dia hanya mengasingkan diri dari ibunya.
dia protes terhadap ibunya. sebab ibunya lah yg menikahkannya dgn pria tua seprti aziz, meski tahu bahwa nasibnya kelak akan menjadi janda di umur muda. Alia merasa bahwa sang ibulah yg merampas masa mudanya saat berumur lima belas tahun. dialah yg membuatnya harus memakai baju hitam sebelum mencapai umur tiga puluh!
mengapa sang ibu menikahkannya?
mengapa dia ingin anaknya menjalani hidup seperti ini?
Alia tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan -pertanyaan itu. dia pun tdk ingin mencari tahu apa tdk diketahuinya. akan tetapi, saat Alia berontak pada sang ibu, dia pun berarti berontak pada dirinya sendiri, berontak pada kekerasan hidup yg dia jalani setelah menikah, berontak pada jalan pikir yg menguasainya, yaitu jalan pikir wanita berumur empat puluh tahun.
Alia menginginkan sesuatu yg lain yg telah hilang dri dalam dirinya. dia ingin umurnya dikembalikan, keremajaanya dikembalikan, kepolosannya dikembalikan, dan masa mudanya dikembalikan.
Alia termangu di depan cermin. benarkah ini wajah wanita berumur dua puluh sembilan tahun? dia berusaha tersenyum lebar, lalu tertawa kencang tapi kering tanpa makna. Alia tertawa lagi. kali ini berusaha agar terdengar feminim. tangannya meraih rambut yg digulung ke belakang dan membiarkannya terurai menyentuh leher. dgn lembut tangannya mengelus-elus rambut itu, meniupnya, serta menggoyang-goyangkan diudara bagai kupu-kupu cantik. kemudian dia memegang belahan dada di balik baju, membukanya, lalu melihat dgn jelas keindahan bentuk dua gunung kembarnya itu. baru sekarang Alia sadar bahwa buah dadanya masih ranum, tidak ada tangan yg pernah meraih atau menodai kesuciannya. buah dada itu masih menjulang angkuh dan tdk butuh penyangga.
__ADS_1
air matanya berubah menjadi ketegaran. dia menantang ibunya, menantang baju hitam yg menyelimuti nya, dan kesedihan yg selalu menderanya. Alia ingin mengembalikan umurnya, masa mudanya dan memulai hidup baru.
tidak ada seorang pun yg tahu pergolakan dirinya. sebab Alia selalu mengasingkan diri didalam kamar. Alia berpikir, mungkin semua orang menyangka dia shock dgn kematian aziz, lalu menjauhkan diri dan menangis sepanjang waktu. adapun sang ibu, dia ttp tinggal beberapa hari dirumah Alia tanpa ingin mencampuri kesedihannya. dia tdk berusaha meringankan duka yg dialami anaknya. tapi meskipun begitu, sang ibu selalu melihat Alia dgn hati. dia bisa merasakan derita dan pikiran Alia. bisa jadi penderitaan dan pikiran-pikiran anaknya sama dengan yg pernah dia alami saat suaminya meninggal dunia...
hanya saja sang ibu sama sekali tdk berdaya utk menghibur Alia. dia sudah merasa cukup dgn hanya mendengar penjelasan dari para pelayan yg selalu mengantar makanan ke kamar anaknya, yg selalu kembali tanpa berkurang sedikit pun.
sampai suatu hari... seisi rumah terkejut.
Alia keluar kamar...
pelayan nobi sangat kaget melihatnya. matanya melotot seakan ingin meloncat dari tempatnya.
" Bismillahirrahmanirrahim! " ucapnya kaget.
Dua orang wanita yg menjadi tamu ibunya mengangkat alis kaget, lalu berbisik -bisik seperti desis ular. tapi sang ibu hanya diam mematung. dia tidak terkejut, tapi semakin sedih dan membisu.
Alia yg keluar kamar hari ini bukanlah Alia yg ditinggal pergi suami beberapa hari yg lalu...
Alia hari ini mengepang rambut nya di atas dada, lalu membiarkan ikatan rambut itu bergoyang-goyang di depan mata. Alia hari ini memoles pipi dan bibirnya dgn pemerah, dan memakai baju sederhana seperti anak kecil berumur lima belas tahun. sepatunya tdk bertumit seperti pelajar yg masih skolah. hanya baju berwarna hitam itu saja yg masih memperlihatkan rasa berkabung.
Alia berjalan menuju pintu keluar dgn cuek. dia tdk memperhatikan atau menyapa orang -orang yg ada dirumah. sorot matanya tajam, air mukanya seperti topan yg akan meniup siapapun yg mendekat. sang ibu mengikuti Alia ke ruang tamu. dia memanggil dgn suara yg diusahakan rendah dan lembut.
" Alia... Alia! " panggil sang ibu agak keras sambil mempercepat langkah. sekali ini Alia berhenti, lalu menatap ibunya dgn sorot mata menantang dan berani.
" kau mau apa?! " tanya Alia ketus.
baru sekaranglah Alia bicara kasar kepada ibunya tanpa memakai embel-embel didepan. Kata-kata nya pedas. tapi sang ibu menyembunyikan perasaannya. dia berusaha tampik tenang dan berwibawa.
" Alia, bisakah kita duduk sebentar utk bicara? "
" aku tidak ada waktu, " jawab Alia masih ketus. " apakah kau tidak lihat aku mau keluar? "
" iya, tapi ada hal penting yg harus kita bicarakan " jawab sang ibu berusaha tenang.
" tidak ada lagi hal yg penting dalam hidupku... "
sang ibu mengeraskan suara, lalu bicara tegas seperti memberi perintah.
" dengar Alia, " kata sang ibu. " aku harus pulang hari ini, dan kau harus ikut bersamamu. "
__ADS_1
Alia tersenyum mengejek mendengar perintah itu.
" siapa bilang aku harus ikut pulang bersamamu? kalau kau mau pulang, pulang saja. aku tinggal dirumahku sendiri. aku akan tinggal disini selamanya! "
" tak mungkin. rumah ini harus ditutup, " jelas sang ibu berusaha tenang. " anak wanita tidak boleh tinggal sendiri didalam rumah! "
hampir saja senyum mengejek Alia berubah menjadi tawa.
" anak?! kau pikir aku masih anak-anak? aku sudah janda! apakah kau lupa aku telah menjadi janda, sama sepertimu? "
" tapi kau masih muda, anakku. nanti apa kata orang?! "
" siapa bilang aku masih muda?! tanya Alia mengejek. " selama ini aku tidak merasa muda. aku baru mau merasakan masa mudaku hari ini! sekarang lah masa mudaku. tidak ada seorang pun yg bisa melarangku menikmatinya. kau lah orang pertama yg melarang. aku tak akan pulang bersamamu, dan tidak ingin mendengar kata-kata mu. aku tidak ingin menjadi seperti mu. aku ingin menikmati dunia dan masa mudaku. "
sang ibu terdiam sebentar, lalu kembali bicara.
" aku berdiam diri di rumah demi kau dan kakakmu, supaya aku bisa membesarkan kalian, tanpa kehadiran pria asing, " katanya lirih. tapi hati Alia tdk juga tersentuh mendengar keterangan itu.
" itu kamu, " ucap Alia keras kepala. " tapi aku tidak punya anak wanita dan pria. biarkan aku menikmati duniaku. apa kau ingin aku membalas budimu? rasanya sudah sangat cukup apa yg telah aku lakukan untukmu. aku telah memberikan semua umur dan hidupku. kau menikahkan ku saat aku masih seorang bocah. kau terlalu cepat memberiju kesedihan. kau terlalu cepat membuatku janda disaat aku masih muda! "
sang ibu merasa sedih dan kasihan mendengar keluh Alia. tapi dia harus bisa meyakinkan agar Alia mau pulang.
" Alia, " kata sang ibu sabar. " sekarang bukanlah waktu yg tepat utk membicarakan hal ini. jangan begitu. almarhum pun belum tenang didalam kubur. " ujarnya. tapi mendengar kata-kata almarhum Alia malah berteriak marah.
" apa kau bilang? almarhum yg kau katakan itu, dia melaknat ku sebelum meninggal. tak ada lagi seorang pun yg bisa merebut masa mudaku. apa dia ingin membawaku juga ke dalam kuburnya? "
Alia diam membisu. tak lama kemudian air matanya mengalir membasahi pipi. melihat Alia menangis, sang ibu terenyuh lalu mendekat dan mengulurkan tangannya mengelus punggung Alia.
" anakku, pikiranmu sudah lelah, dan kau perlu istirahat. mari, kita pulang kerumah. umurmu masih panjang. nanti kau bisa menikah lagi, dan bisa menikmati dunia, " hibur sang ibu. tapi Alia kembali berontak mendengar kata menikah.
" apa?! aku menikah lagi?! tidak, Terima kasih! aku harus mencari masa mudaku yg telah hilang. kau tak usah repot-repot menikahkan ku, sebab aku yg akan mencari suamiku sendiri. hanya aku! "
Alia menuju ke arah pintu besar lalu menoleh,
" kalau kau mau pulang, pulang saja. aku akan ttp tinggal disini sendirian! " kata Alia sambil bergegas pergi.
sang ibu tdk bisa berbuat apa-apa. dia hanya menjatuhkan diri ke atas sofa sambil membisu.
❤❤❤
__ADS_1