
Alia keluar dari kamar mandi mengenakan baju berwarna merah mawar. polesan muka dan gaya sisiran rambutnya tampak berbeda. tapi semua itu dia lakukan agar terlihat lebih tua dari umur yg sebenarnya, bukan agar terlihat lebih cantik! Alia berandai kalau saja diberi izin ibunya utk memakai lipstik. dia pun segera tersenyum membayangkan ini. Alia mulai memikirkan warna-warna lipstik yg akan dia pakai seusai pesta pertunangannya. tapi senyum itu segera hilang saat tangannya memegang sepatu trepes yg tdk bertumit. ingin sekali dia membuang sepatu butut itu ke jendela. tapi Alia menarik nafas panjang, menghibur diri agar lebih sabar, dan kembali memakai sepatu!
tak lama kemudian Alia sudah berjalan bersama ibunya menuju ruang besar utk menyambut tamu. dia mencoba berjalan seperti wanita dewasa, hingga justru terlihat lucu.
tamu yg datang adalah Aziz Bek dan dua saudara wanitanya.
Aziz Bek berumur hampir lima puluh tahun, berperawakan tinggi, baju lebar, dengan potongan wajah menarik. kalau saja seluruh rambutnya tdk tertutup uban, atau dibawah matanya tidak terselubungi keriput, dia pasti terlihat seperti pemuda yg kuat. dia lebih pantas dicintai daripada disakiti.
Sosoknya menarik, humoris, berwibawa, dan pintar mengambil hati. Aziz Bek mampu meyakinkan lawan bicara tanpa terkesan mengajak debat. dia bisa ngobrol dlm tema apapun, dan omongannya pasti selalu enak didengar. Aziz Bek bangga dengan dirinya, kecerdasannya, dan kecakapannya menjalani hidup. tanpa sadar kita akan dibuat bersahabat dan bangga saat bicara dengan dirinya.
Aziz termasuk pria yang sukses, dia sukses mengatur tanah perkebunan warisan ayahnya. dia juga sukses berkecimpung dalam pemerintahan hingga menjabat sebagai wakil menteri. setelah pensiun, Aziz menduduki jabatan direktur utama di salah satu perusahaan raksasa. dia selalu bersikap baik. semua orang yg mengenalnya hampir semuanya memuji. dia termasuk lelaki yg paling ketat menjaga adat dan tradisi. tapi bukan berarti adat dan tradisi itu mendarah daging sampai membuatnya bersikap terlalu fanatik.
Tidak ada seorang pun yg tau sejauh mana hubungan Aziz dgn tuan rumah seblum kematiannya, atau sejauh mana hubungannya dengan sang ibu sepeninggal suaminya. yg jelas, baik sebelum maupun sesudah kematian ayah Alia, Aziz sering main kerumah.
Barang kali Aziz turut membantu ibu Alia dalam mengurusi harta yg ditinggalkan suami. bisa jdi juga, harta tersebut terkena krisis, hingga Aziz mempertaruhkan sahamnya agar keluarga itu bisa keluar dari krisis. tapi tak ada seorang pun yg curiga ketika Aziz sering berkunjung. Orang-orang sudah mengenal watak Aziz sbagai pria yg mempunyai latar belakang keluarga baik. Orang-orang juga tdk mencurigai sang ibu, karena dia pun terkenal memiliki sifat dingin, kemauan keras, dan suci.
Justru yang membuat orang heran adalah mengapa Aziz datang utk meminang Alia, dan bukan ibunya? mungkin yg tidak terkejut hanya Alia saja. Alia mungkin terkejut karena dilamar orang, tapi dia tidak terkejut dengan siapa yg melamarnya. Alia tdk merasa suprise sama sekali. jika yg datang melamar pria lain selain Aziz pun perasaanya pasti akan ttp sama.
Dengan malu-malu Alia menyambut tamu. mukanya tampak merah saat berjabat tangan.
__ADS_1
"wow..., " gumam saudari kandung Aziz yg pertama takjub. sedangkan saudari keduanya memeluk Alia, mendekap nya ke dada, lalu menciumnya. " semoga Allah selalu memelihara kecantikan dan kemudaanmu, Alia. ". Alia hanya menjawab singkat semua pujian itu. dia berterima kasih lalu duduk terdiam.
Aziz mengajaknya bicara. Alia pun segera berbincang akrab seperti biasa dia lakukan kalau masih kecil. keduanya ngobrol tentang segala hal, tentang musim dan kebudayaan eropa, Film-film bioskop, manusia, fashion, musik, sampai topik pelayan pun tak luput dari obrolan. hanya satu yg tdk mreka obrolan, yaitu msalah pertunangan. masalah ini seperti sudah pasti dan ditentukan jauh-jauh hari.
Ibu Alia tdk banyak bicara selama obrolan berlangsung. sesekali saja dia terdengar berkomentar. mungkin dia sibuk memperhatikan Alia dan Aziz, berpikir panjang tentang perbedaan yg sangat mencolok antara remaja lima belas tahun, dgn kakek-kakek berusia lima puluh tahun! tapi apa yg dia pikirkan tdk sampai terlihat di wajah. senyum tipis itu masih slalu menghiasi bibirnya.
sampai akhirnya para tamu mohon pamit, hingga tinggal Alia dan ibunya.
"bagaimana pendapatmu, Alia? " tanya sang ibu membuka obrolan. Alia menjawab dengan santai, seakan tak ada sesuatu yg harus dia putuskan.
"pendapat apa? " tanya Alia polos.
"tapi bukankah dia sudah meminang ku? " tanya Alia polos.
"iya, dia sudah meminangmu. apa kau setuju? "
"yang penting ibu setuju! " jawab Alia sambil merebahkan diri ke dada ibunya. "yang terpenting dalam hidupku adalah ibu... " ujar Alia lembut.
"dengar, Alia , " kata sang ibu sambil mengelus pundak Alia. "mereka ingin kau memakai gaun ini tiga hari yang akan datang ".
__ADS_1
" tapi mengapa, bu? apakah kita akan mengadakan pesta?! "
sang ibu mengelus pundak Alia dgn sayang. dia kasihan melihat kepolosan anaknya.
"benar kita akan adakan pesta besar. "
"benar, bu? apakah aku boleh memesan gaun?! " tanya Alia gembira.
"pasti sayangku... apapun yg kau inginkan. "
"berarti aku juga akan memakai sepatu tumit tinggi?! " tanya Alia mendesak.
"iya, tapi jangan terlalu tinggi. "
Alia mendekapkan diri ke dada ibunya.
"Terima kasih atas kebahagian yg telah kau berikan, bu! " bisik Alia sambil mengangkat kepala. "aku akan pesan model sepatu yg seperti di majalah fauj. sepatunya bagus sekali! " ucapnya semangat.
Alia segera bangkit menuju kamar. hampir saja dia terbang saking gembiranya. dia langsung ganti baju, menyambar majalah fauj, dan berbaring di tempat tidur. Alia mulai membolak balik majalah tersebut. saat matanya tertuju pada busana remaja, dia langsung membalik tanpa melihat sedikit pun. tapi matanya segera berhenti pada busana wanita dewasa. dia serius memperhatikan gaun pengantin pada majalah itu sampai sangat hafal.
__ADS_1
❤❤❤