
Dokter Aisyah sedang menyiapkan makan malam di bantu putri kesayangan dan menantunya, mereka tampak asyik memasak dan bercerita.
''Kenapa bunda malam ini menyiapkan banyak menu masakan'' tanya Ara.
''Untuk merayakan kelulusan putri bunda dan kata ayah nanti akan ada tamu, jadi sekalian kita ajak makan malam dirumah''.
''Berapa banyak tamunya bunda'', tanya Lanlan
''Tidak tahu juga'', jawab dokter Aisyah
Tak berapa lama, suara mobil datang.
''Sayang sepertinya itu suamimu, sambut dulu sana'', suruh dokter Aisyah.
''Baik bunda,'' Lanlan segera berjalan keluar.
''Nanti kalau kamu sudah menikah harus begitu, sambut suamimu ketika pulang bekerja dan tersenyumlah''.
Ara tersenyum, ''kalau kita sama-sama sibuk bagaimana menyambutnya. Bahkan kadang perempuan juga sampai pulang malam''.
''Bunda harap kamu tidak seperti itu sayang, meskipun kau sibuk setelah menikah nanti usahakan jangan sampai pekerjaanmu melupakan tanggung jawabmu sebagai istri dan ibu rumah tangga itu sudah kodrat kita sebagai wanita. Melayani suami dan anak-anakmu adalah ibadah.''
'Ribet ya bunda menikah''?
''Tidak juga, menikah itu menghindarkan kita dari zina sayang, jangan berfikir sekarang kamu takut akan menikah''.
Ara tersenyum nyengir.
''Bagaimana dengan taarufmu, sudah sejauh mana kalian. Bagaimana makan siang kalian tadi.''
Haaahhh, ''Dia ingin segera menikah'', kata Ara kemudian.
''Oh ya, berarti dia itu serius padamu, sebentar lagi kamu wisuda kan''.
''Aku belum mendaftar wisuda, aku bisa menunggu Kaijun, kita bisa wisuda bersama nanti.''
''Kenapa harus menunggunya, Bukankah itu yang kau harapkan. Jangan menunda hal baik. Jika dia memang menyayangimu dia pasti akan mendukungmu. Lihatlah kak Rei dia tetap membolehkan Lanlan terus belajar kan''.
Ara terdiam sesaat, semua yang dikatakan bunda ada benarnya.
''Apa bunda suka jika aku menikah dengannya sekarang. Umurku baru menginjak 21 tahun.''
''Kalian yang akan menjalaninya. Menikah bukan hanya kau suka sama suamimu saja tapi kau harus bisa menyatukan dua keluarga, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Banyak orang menikah karena awalnya saling cinta, tapi berakhir perceraian, dan sebaliknya banyak juga yang tidak cinta tapi bisa sampai akhir.''
'' Kenapa dengan umurmu, dulu bunda malah ingin nikah muda tapi karena ayah harus studi ke London dan bunda baru awal kuliah, jadi mau tidak mau harus menunggu. Tidak masalah dengan umurmu, yang nikah usia di bawahmu banyak.''
Mereka terus mengobrol sambil memasak, dokter Aisyah menasihati putrinya dengan lembut.
__ADS_1
Lanlan mencium tangan Rei dan mereka masuk rumah.
''Assalamualaikum'', ucap Rei saat masuk ke dalam rumah, Rei mencium tangan bundanya. ''Halo adikku tersayang selamat atas kelulusanmu, kudengar kau mendapat beasiswa'', tanya Rei sambil mengacak rambut Ara.
''Terimakasih,'' jawab Ara lirih
''Kenapa lemas begitu, harusnya kan senang, adiku memang keren kakak bangga padamu'', kata Rei sambil mengacak rambut Ara lagi.
''Masaknya banyak banget bunda'', tanya Rei
''Kata ayah mau ada tamu, sana kamu mandi dulu''.
''Tamu siapa, rumah kita jarang ada tamu, paling cowok-cowok yang naksir adikku yang cantik ini'', goda Rei.
''Bunda juga tidak tahu.''
Rei mengangguk mengerti, ''Honey aku mau mandi dulu''. Kata Rei pada istrinya, yang diangguki oleh Lanlan.
Lanlan kembali melanjutkan membantu ibu mertuanya memasak.
Malam telah tiba, semua makanan sudah tersaji di meja. Dokter Firman dan dokter Aisyah sedang menunggu tamunya. Sementara putra putri mereka masih mengobrol dan bercanda di lantai atas.
Tak berapa lama, suara mobil memasuki halaman rumah kediaman dokter Firman. Dokter Firman segera berdiri untuk menyambut tamunya.
Seorang pria tampan turun dari mobil, berjalan ke arah pintu ruang tamu.
''Slamat malam direktur Orland mari silahkan masuk''.
''Bunda panggil anak-anak dulu, kata dokter Firman.''
Dokter Aisyah segera melangkah namun kemudian berhenti saat anak-anaknya terlihat beranjak turun.
''Sepertinya tamu ayah sudah datang ayo kita turun'', kata Rei mengajak istri dan kedua adiknya. Mereka berempat segera turun.
Saat sampai di bawah mereka kaget melihat tamunya yang tak lain adalah El Ryu Saviero Orland. Terutama Ara dia sampai melongo.
''Slamat malam'' sapa Rei, ''ternyata tamunya anda direktur Orland sapa Rei.''
Ryu tersenyum dan berjabat tangan dengan Rei.
''Ayah yang mengundangnya, kita rayakan kelulusan princess ayah hari ini di rumah saja. Direktur Orland pasti jarang berkumpul dan makan bersama keluarganya. Karena sibuk dan jauh dari keluarga. Ayo kita mulai saja makanya ajak''dokter Firman. Mereka segera berjalan ke meja makan.
Malam ini Ara hanya menggunakan dress rajut selutut berwarna abu-abu yang sangat pas di badan mengikuti lekuk tubuhnya, rambutnya di cepol ke atas tidak begitu rapi, terlihat sangat seksi di mata Ryu bahkan kulit lehernya yang terexpos dengan anak rambut yang dibiarkan, tanpa memakai riasan apapun, benar-benar Alami, Ryu sangat terpesona. Dia sampai tidak sadar dari tadi melihat ke arah gadis sangat didembakan.
Mereka duduk mengelilingi meja makan, dan memulai acara makan mereka.
''Mari silakan di makan, beginilah masakan di rumah kami semoga anda menyukainya'', kata dokter Firman
__ADS_1
''Kau harus mencobanya semua, hari ini tiga wanita cantik dirumah kami yang memasak ini semua kata Rei, jangan sungkan'' timpalnya lagi.
''Terimakasih'', kata Ryu. Mereka mulai menyantap hidangan yang tersaji di meja, tidak ada yang bicara. Mereka justru melihat Ryu yang mencoba satu-persatu menu yang di hidangkan di meja.
''Sayang ambilkan sup untuknya,'' seru dokter Aisyah pada putrinya.
Ara segera mengambilkan semangkok sedang sup yang dibuatnya.
''Terimakasih'', kata Ryu saat Ara menyodorkan semangkok sup untuknya. Ryu langsung menghabiskannya.
Selama beberapa menit mereka menikmati makan malam itu.
Setelah makan malam mereka selesai, adokter Firman mengajak Ryu dan kedua putranya mengobrol di ruang belakang dekat kolam, suasana sangat sejuk malam ini. Sedang dokter Aisyah bersama putri dan menantunya masih di dapur membersihkan meja makan.
''Sayang antarkan kue ini ke sana,'' kata dokter Aisyah.
Ara segera mengantar kue ke tempat mereka mengobrol dan menaruhnya di meja.
''Princess duduklah ayah ingin bicara dengan kalian, Bunda dan kak Bulan gabung sini.'' Dokter Aisyah dan Lanlan pun segera bergabung.
''Hari ini sangat senang princess ayah sudah lulus dan dapat beasiswa juga. Ayah sangat bangga padamu, dan alasan ayah mengundang direktur Orland selain untuk makan di rumah karena ayah ingin tahu sudah sejauh mana hubungan kalian,'' tanya dokter Firman.
Ara dan Ryu saling menatap, Ara tidak tahu harus menjawab apa, meski dia tahu Ryu ingin segera menikahinya, tapi sepertinya dia masih bimbang.
''Saya ingin segera menikahi putri anda dokter, '' kata Ryu kemudian.
''Saya memang sudah berjanji pada aunty Rania dan uncle Ar'rasi akan menjaganya, dan keluarga kami ingin kami menikah jika telah dewasa, meski saya telah banyak melakukan kesalahan dan membuatnya bimbang. Diluar janji itu, saya sungguh-sunggung menyukainya, untuk itu saya tidak ingin menunda ataupun menunggu lama'', kata Ryu.
''Bagaimana denganmu princess, kau sudah dengar sendiri, sudah satu bulan kalian menjalani taaruf, tidak baik juga terlalu lama,'' jelas dokter Firman.
''Aku.....Ara menjeda bicaranya, sejujurnya aku tidak tahu ayah, ayah tahu aku dapat beasiswakan, aku sangat ingin melanjutkan belajar kesana dan tahu lebih banyak tentang orang tuaku. Aku tidak tahu harus memilih yang mana''.
''Aku sudah katakan padamu tadi siang, aku tidak akan melarangmu melanjutkan studimu, aku akan menemanimu disana'' kata Ryu begitu meyakinkanya.
''Bagaimana princess, sejujurnya ayah takut kalau kamu melanjutkan studi sendiri disana, dan dia bersedia menemanimu dan mendukungmu disana, itu sangat bagus, kalian tidak perlu berjauhan, apa tidak sebaiknya kalian menikah.''
Ara diam sesaat, ''apa harus sekarang menikahnya.'' Ara tampak ragu untuk mengambil keputusan.
''Bolehkan nanti dulu'', ucapnya kemudian.
'Bagaimana direktur Orland, apa anda mau menunggunya.''
''Saya akan menunggunya sampai putri anda mau menikah dengan saya dokter'', jawab Ryu.
''Ok ayah tidak akan memaksamu, dan untuk direktur Orland saya harap bisa bersabar dan memakluminya.''
''Tidak apa-apa dokter, saya tahu putri anda masih meragukan ketulusan saya, saya bisa memakluminya''.
__ADS_1