
Selama bebera hari ini, keadaan Ara tetap tidak ada perubahan, keluarga dokter Firman terus bergantian menjaganya, memantau perkembangannya, namun princess itu tetap belum mau membuka mata. Rei sendiri beberapa hari tidak bisa pulang karena bibi An jatuh sakit saat mendengar kabar putrinya itu koma, setelah selesai pekerjaanya di rumah sakit Orland, Kai selalu menjaga berggantian dengan bunda dan ayahnya saat mereka bekerja. Semua teman-teman dekat Ara membesuk ke rumah sakit, meski tidak bisa masuk ke ruang perawatan, dan hanya melihatnya dari luar kaca.
Pagi ini seperti biasa Kai menjaga saudara sepersusuanya, karena kedua orang tuanya ada meeting bersama di rumah sakit itu.
''Halo C apa kabarmu hari ini, Bagunlah pemalas, kenapa suka sekali tidur, aku sangat kesepian, tidak ada teman ngobrol di rumah. Beberapa hari ini bunda tidak memasak, Aku terpaksa memakan mie instan''.
''C, ayah bilang dia akan mengijinkan kita melanjutkan study keluar negeri bersama. Kau mau melanjutkan studi kemana, London, Amerika, paris, atau Jerman, aku akan mengikutimu atau kau punya usul lain, tidak masalah dimanapun asal kita bisa bersama-sama. Joy bilang dia ingin melanjutkan studinya ke Amerika. Aku belum memutuskan, aku menunggu keputusanmu, cepatlah bangun, ayo kita pikirkan bersama dimana baiknya. Aku tidak akan pergi kalau kau seperti ini. Mata Kai berkaca-kaca, aku tahu kau bisa mendengarku, aku tahu selama ini kau memendam sendiri kepedihanmu. Apa begitu sulit membagi denganku. Perkuliahan sudah dimulai, semua teman-teman menanyakanmu, kami semua merindukanmu, lihatlah Joy, Bisma dan Ken, setiap hari kesini dan rela tidur di kursi lorong rumah sakit, bangunlah C, aku janji akan belajar dengan baik. Apa aku tidak pantas menjadi saudaramu, karena aku tidak bisa menjagamu'', Kai terus mengajak Ara bicara sampai akhirnya tertidur karena semalam juga tidak tidur bicara diluar ruangan dengan Joy, Bisma dan juga Ken. Dia tertidur di kursi samping ranjang, kepalanya diletakan di samping tangan Ara. Tiba-tiba dia merasa tangan Ara seperti bergerak menyentuh kepalanya.
Kai segera bangun dan melihat tangan Ara, jari-jarinya bergerak perlahan, dia langsung berlari keluar tepat saat itu dokter Firman dan dokter Aisyah mau masuk.
''Ada apa Kai??, tanya dokter Firman.
''Ayah tangan Ara bergerak'', mereka langsung melihat kondisi Ara.
''Tadi aku tertidur, dan aku merasa tangannya memegang rambutmu, lalu aku bangun melihat tanganya bergerak''.
''Tadi pagi saat bunda mengelap badannya, kakinya juga seperti bergerak''.
''Ajaklah bicara terus saat menemaninya, ini perkembangan yang baik, dia mau merespon saat kita ajak bicara, setelah kejadian itu saat ayah menjaganya dan mengajaknya bicara, dia menitipkan air mata menangis''.
''Dengar Kai, kau ini calon dokter, sedang belajar ilmu kedokteran kenapa tidak faham. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, princess kita pasti akan segera bangun, iyakan sayang'', kata dokter Firman memeluk istrinya yang menangis haru.
''I... ya, dia pasti akan bangun untuk kita'', Kai ikut memeluk bundanya.
__ADS_1
Kak Rei tadi kirim pesan, dia bilang nanti bibi An ikut kesini dia sudah lebih baik kata Kai.
''Baguslah, biarkan bibi An berbicara denganya nanti''.
''Sayang ayo semangat, temukan jalan kembali, kami menunggu berkumpul bersama, kau dengar kan tadi bibi An akan datang nanti bersama kakakmu'', kata dokter Aisyah.
Hari itu setitik harapan, membuat keluarga Firman sedikit bahagia melihat perkembangan putrinya yang mau merespon ketika diajak bicara.
Kai segera memberi kabar kakaknya Rei, tetang perkembangan Ara. Rei sangat senang mendengar kabar itu dia segera bergegas pulang menjemput bibi An menuju rumah sakit pusat kota J. Saat insiden yang menimpa Ara, bersamaan dengan peristiwa itu bibi An kejatuhan gelas dan kena pecahan gelas, jadi sampai beberapa hari dia tidak bisa berjalan dan Rei juga tidak bisa meninggalkan bibi An sendiri.
Namun hari ini bibi An sudah bisa berjalan dan memutuskan ikut ke kota J, untuk melihat kondisi putri yang ia rawat sejak bayi hingga remaja.
Sementara itu kondisi Ryu telah membaik, walaupun masih sedikit sakit, hari ini dia diijinkan pulang, namun sebelum itu dia ingin melihat kondisi gadis yang sudah di klaim sebagai istrinya.
''Hati-hati Ryu pelan - pelan saja jalanya'', kata nyonya Silvia, mereka segera memasuki lift dan turun ke lantai 1 menuju ruang perawatan Ara.
Sampai dilantai bawah, mereka bertemu dengan Rei dan bibi An yang baru datang dan menuju ruang perawatan Ara.
''Halo Tuan dan nyonya apa kabar??, sapa Rei sopan,
''Kami baik-baik saja dokter Rei, halo bibi An kau juga datang, ayo kita lihat dan bangunkan putri kita'', ajak nyonya Silvia.
''Mari nyonya'', mereka berjalan lebih dulu sambil mengobrol.
__ADS_1
''Direktur Ryu sudah diijinkan pulang??, tanya Rei.
''Aku sudah lebih baik', jawab Ryu.
''Syukurlah mari'', mereka menuju ruang ICU dimana Ara masih di rawat disana.
Sore itu keluarga Firman dan keluarga Orland berkumpul, dan dokter Firman mengizinkan satu persatu dari mereka untuk melihat putrinya dan memberikan semangat. Mereka juga menceritakan bahwa Ara sudah mau merespon ketika diajak bicara.
Nyonya Silvia dan Tuan Jonathan dipersilahkan lebih dulu,
Nyonya Silvia membelai tangan Ara, ''Sayang mommy dan daddy datang lagi, kenapa kau masih saja tidur mommy bawakan sebagian album foto ayah dan ibumu saat bersama kami, segeralah bangun nanti kita lihat bersama, ayo semangat''.
''Iya sayang, daddy dengar dari ayahmu kau ingin membuat galeri desainmu dengan namamu sendiri, Ayo semangat dad and mom akan membantu, bangunlah sayang, jangan tidur terus itu tidak baik. Kami semua selalu ada untukmu'', Jonathan mengecup tangan Ara, begitu juga dengan Silvia.
Kemudian berganti Ryu dan Rei, Ryu tak bisa berkata apa-apa, dia diam mematung melihat Ara yang pucat dan berbagai alat medis yang tidak Ryu tahu kegunaannya terpasang di tubuhnya. Jantungnya berdetak begitu kencang. Matanya berkaca-kaca, ''Aku bersalah padamu, beribu maaf mungkin tidak akan pernah bisa menghapus lukamu, tapi aku akan tetap mengatakanya. Aku mohon maafkan aku dan bangunlah, Lebih baik kau menghukumku daripada melihatmu seperti ini. Aku mohon maafkan aku''. Aku pulang dulu besok aku akan mengunjungimu lagi'', Ryu segera menghapus air matanya dan keluar dari ruang perawatan. Dia tidak tega melihat kondisi Ara.
''Kau dengar dek, barusan direktur Orland memohon maaf padamu, jadi berikan dia maaf yang tulus, jangan mendedam, meski kau begitu membencinya, dia juga terluka demi menyelamatkanmu. Rei mengenggam tangan adiknya. Kakak juga minta maaf tidak bisa menjagamu dan menemanimu setiap hari. Hari ini kakak mengajak bibi An, dia sudah sembuh''.
''Apa kau mau tahu sesuatu'', kata Rei, ''ini rahasia kita ya!!.
''Kakak ingin meminang dan segera menikahi sahabat kecilmu Lanlan, kakak tahu ini mungkin terlalu cepat, dan mungkin kakak telah mengingkari janji kakak padamu, Aku menciumnya waktu itu, kakak tidak ingin menunggu lagi, kau akan mendukung kakak kan. Ternyata kakak telah jatuh cinta padanya, entah sejak kapan, tapi kakak tidak bisa berpaling lagi, kakak ingin segera memilikinya, kau tidak marah kan, apa kau ingin dia kesini, akan ku jemput nanti'', dan tangan Ara tiba-tiba bergerak memegang tangan Rei.
''Trimakasih dek, bangunlah kalau kau ingin kakak segera menikahinya, dan satu hal hagi, sejujurnya dari dulu kakak hanya mencintaimu sejak ayah dan bunda membawamu ke rumah, hingga sampai kakak mengatakan pada ayah dan bunda ingin menikahimu, tapi ternyata kita tidak boleh menikah, karena kau adik sepersusuanku, dan selamanya kau adalah adikku yang paling cantik, kuat dan hebat. Princess keluarga Firman, maafkan kakak yang telah keliru menyayangimu''. Air mata Ara mengalir turun, ''maafkan kakak karena sempat patah hati tidak bisa menerima kenyataan dan mengulur waktu untuk pulang. Kakak berusa menguatkan hati agar bisa pulang dan berkumpul kembali''. Rei ikut tersisak dan menghapus air mata adiknya. Air mata Ara terus mengalir, ''bangun adikku yang cantik'', kata Rei sambil menghapus air matanya sendiri.
__ADS_1