
Hari sudah sangat larut saat pasangan dokter itu tiba di kota J, mereka sengaja tidak memberitahu kedua putra putrinya bahwa hari ini mereka akan kembali, memang mereka berdua bilang hanya pergi sekitar 10 hari saja. Perjalanan yang panjang dan tentunya perasaan senang sekaligus sedih di bawa pulang, senang bisa melepas rindu dengan putra sulungnya, bisa melihatnya lagi setelah hampir 6 tahun dan tentunya senang karena dia baik-baik saja disana, tetapi hati mereka juga sedih karena putranya selama ini memiliki perasaan yang istimewa terhadap putri angkatnya yang sejak lahir telah disusuinya dan sekarang telah tinggal bersama mereka, selama perjalanan mereka tidak banyak bicara, mungkin juga karena lelah, mereka lelah dengan pikiranya masing-masing, bahkan dokter Aisyah menahan air matanya untuk tidak keluar, dia menangis dalam diam, dia takut akan kondisi putranya, pikiranya terus berkecamuk, sanggupkah putra sulungnya itu memahami keadaan dan menerima kenyataan, terlebih dia harus menghadapinya sendiri, meskipun dia terlihat kuat tapi nyatanya dia sangat rapuh.
Saat mereka tiba di rumah, sudah sampai larut malam, putra-putri mereka sudah terlelap dalam tidurnya, meskipun hanya 10 hari meninggalkanya nyatanya mereka sangat merindukan mereka. Melihat istrinya yang kelelahan dokter Firman menyuruh istrinya untuk segera ke kamar.
''Istirahatlah, aku akan melihat anak-anak dulu!!, dokter Firman memang selalu melihat putra-putrinya saat dia terbangun malam, bukan apa-apa hanya memastikan bahwa mereka benar-benar sudah beristirahat.
***
kriiiiiiinggggggg....
Seorong gadis terlihat menggeliat di bawah selimutnya, saat mendengar bunyi jam wekernya, gadis itu adalah Mutiara Cinta, selama 10 hari ini dia selalu bangun lebih pagi, bukan apa-apa tetapi karena harus membuat sarapan sendiri yang biasanya sudah disiapkan oleh sang bunda atau terkadang membuatnya bersama-sama.
Ara menguap bangun dari tidurnya, dia melihat jam wekernya menunjukkan pukul 04.00 suara azan subuh mulai berkumandang, Ara berjalan masuk ke kamar mandi, setelah selesai rutinitasnya di dalam sana dia keluar untuk menjalankan ibadah solat subuh, setelah selesai dia segera turun, biasanya saat turun dari tangga dia sudah melihat sang bunda sibuk di dapur. Ara membuka lemari tempat penyimpanan bahan makanan dan kulkas, dia menimang-nimang akan membuat sarapan apa pagi hari ini, semalam dia melihat resep-resep masakan dari ponselnya.
Dia menanak nasi terlebih dahulu, setelah itu mengambil bahan-bahan untuk di masak, pagi ini dia ingin membuat nasi goreng spesial seperti yang di liatnya semalam dan ayam goreng kesukaannya.
Dia dengan cekatan menyiapkan bumbu-bumbu dan mulai memasak ayam. Ara memang sudah banyak belajar saat dia pulang ke tempat Ken. Ken selalu membuatkan masakan spesial buatnya yang membuatnya selalu menghabiskanya, Ken selalu senang apabila Ara menghabiskan masakan yang dia buat. Ara selalu memperhatikan saat Ken memasak dengan cekatan, tanganya sangat terampil, Ara tersenyum mengingatnya.
Bau masakan Ara membuat seisi rumah bangun, Pasangan dokter yang baru datang semalampun bangun, mungkin juga sudah terbiasa bangun pagi.
Dokter Aisyah segera turun dia melihat putrinya sedang sibuk di dapur.
''Masak apa sayang??, suara dokter Aisyah pelan tapi justru mengagetkan Ara.
Ara langsung menoleh ke sumber suara, ''Bunda....!!! kaget Ara, dia langsung berhambur ke dokter Aisyah. 'Ada kangen bunda''.
''Bunda juga kangen banget''.
Kai yang juga sudah bangun dan samar-samar mendengar suara bundanya segera bergegas turun.
''Kecilin dulu kompornya, nanti bisa gosong!!! kata bunda sambil melepas pelukanya.
''Bunda....,,,!!! sapa Kai, kok sudah di rumah kenapa gak minta jemput???, Kai langsung memeluk bundanya.
''Semalan sudah larut jadi ayah sama bunda putuskan untuk naik taxi saja''.
''Apa tidak ada yang merindukan ayah??? dokter Firman tiba-tiba datang bergabung dengan mereka, tanganya langsung merangkul putra bungsunya. Ara cemberut sambil masih memasak. Sini ayah lihat apa princess ayah tidak kangen sama ayah''.
''Tentu saja kangen'', jawabnya
''Sini ayah peluk dulu'', dokter Firman memeluk putri kesayangannya membelai rambutnya.
''Lagi masak apa baunya sampai kamar???.
''Ayah dan bunda duduk dulu, pasti masih capek kan, tunggu sebentar lagi matang. Kaijun bantu tata piringnya ok'', perintah Ara sambil mengedipkan mata.
__ADS_1
''Siap chef'', jawab Kai, ''ayah bunda aku buatin teh ya??, kata Kai
''Kamu bisa dik??, tanya bunda.
''Bisalah, selama ayah dan bunda ke London kami bergantian masak kadang juga masak bersama''.
''Boleh juga'', jawab ayah.
''Apa selama ayah dan bunda pergi ada masalah''.
''Tidak ada''. jawab keduanya kompak.
''Bagaimana kuliah kalian???, tanya bunda.
''Lancar, ini minggu tenang bunda'', jawab Ara
''Aku masih ada praktek nanti siang''.
30 menit kemudian masakan Ara sudah siap untuk di santap.
''Nasi goreng istimewa ala Chef dan ayam goreng spesial''. ucapnya
''Wah, sepertinya enak kata ayah. Princess ayah sudah pandai memasak sekarang, pasti nanti suamimu semakin sayang sama princess''.
''Aamiin'', jawab bunda
''Itu kan doa sayang harus di amini dong!!!, kata bunda
''Ara kan belum mikir kesana bunda'', jawabnya.
''Dia lagi bingung milih siapa, sepertinya ayah sama bunda harus mengadakan audisi pemilihan suaminya nanti'', kata Kai sambil tersenyum.
''Kaijun!!!, ....Ara melotot ke arah Kai
mengambil paha ayam goreng.
''Emang iya kan!! Ara langsung memasukan paha ayam goreng ke mulut Kai saat mulutnya terbuka, jadi mulutnya penuh tidak bisa bicara dan mengunyah.
Kedua pasangan itu tertawa melihat kelakuan putra putrinya, selalu bisa mebuatnya tertawa.
''Bagaimana kabar Kak Rei???, tanya Ara
Dokter Aisyah tampak diam, dokter Firman melihat ke arah istrinya yang diam.
''Kakak baik-baik saja, dia kuliah sambil bekerja di rumah sakit sekarang. Setelah studinya selesai dia pasti pulang, ayah minta kak Rei untuk bekerja di sini saja, biar kita bisa berkumpul terus tiap hari''. jawab dokter Firman.
__ADS_1
''Berapa lama lagi kakak disana, betah sekali dia disana''. kata Kai.
''Sabar ya mungkin satu atau dua tahun lagi, nanti setelah semuanya beres kakakmu pasti pulang''.
''Apa kakak punya kekasih bule disana, maksudku perempuan sana'', tanya Ara.
''Tidak, dia terlalu sibuk belajar sambil bekerja'', jawab bunda
''Memangnya kenapa???
''Aahhh tidak apa-apa'', jawab Ara
''Dia takut kakak gak pulang dan menetap disana'', kata Kai
''Aku akan ke sana dan membawanya pulang'', jawab Ara sambil tersenyum mengejek Kai.
''Ngomong-ngomong oleh-olehnya mana???, tanya Kai.
''Masih di koper bunda belum sempat membongkarnya''.
''Kaya anak kecil minta oleh-oleh'', ejek Ara.
''Bawel, mentang-mentang sudah bisa cari uang sendiri, memangnya kamu gak mau??.
''Siapa yang bilang gak mau, mau banget weeekkk'', jawab Ara.
''Ada di koper yang merah, itu semua buat kalian berdua, sana bongkar biar bunda yang beresin, sebagian kakak yang belikan'', kata bunda.
Mereka berdua segera meninggalkan meja makan, membongkar koper, oleh-oleh yang di bawa ayah dan bundanya.
Drettttt..... drettttt
Suara getar ponsel yang baru di taruh di meja oleh Ara. Ara melihat panggilan masuk, yang ternyata kakaknya Rei, dia segera menombol tanda hijau.
''Halo kak Rei, kenapa kakak gak ikut pulang??? tanya Ara
''Belum bisa adiku tersayang'', jawab Rei, suaranya seperti tercekat.
''Kapan???, berapa lama lagi??, kalau kakak gak pulang juga, aku akan menyusulmu''.
''Sungguh apa kau berani'', tanya Rei
''Entahlah belum ku coba'', jawab Ara sambil tersenyum.
''Apa ayah dan bunda sudah sampai???.
__ADS_1
''Eemmm sudah ini Kaijun sedang bongkar koper, terimakasih ya kak''.
Mereka terus bicara, meski Rei harus menahan getir dihatinya, dia berusaha bicara seperti biasa.