
Ryu memasuki appartementnya dan langsung melangkah ke ruang kerjanya.
Ceklek... pintu terbuka
Ara menoleh ke arah pintu yang terbuka dan menampakkan Ryu yang melangkah mendekatinya.
''Kau sudah selesai membaca??, tanya Ryu
Ara menggeleng, dia tidak membaca tapi malah sibuk menggambar.
''Sudah aku bilang aku tidak suka membaca dan aku juga tidak bisa memahami isinya''. Ara bicara tanpa melihat Ryu yang berdiri di dekatnya, dia asyik menggambar.
''Kau harus membacanya terus, nanti kau pasti paham'', kata Ryu sambil duduk di sofa depannya.
''Aku tidak tertarik, selama ini kau bisa mengurus sendiri perusahaanmu dan juga kau bisa mengembangkannya dengan para assistenmu, kau sudah membayarnya, aku yakin mereka dapat di andalkan, kenapa memaksaku belajar tentang perusahaanmu''.
Ryu membelalakkan matanya mendengar kata-kata penolakan Ara. Dia tidak menyangka gadis di depannya berani berkata seperti itu. Dia benar-benar terlihat berbeda.
''Aku bukan ahli berbisnis sepertimu. Kau akan bosan mengajariku, jangan buang waktumu, percuma kau mengajariku. Untuk apa aku belajar kalau akan membuat perusahaanmu gulung tikar'', kata Ara.
Ryu diam mencerna kata-kata Ara barusan, apa gulung tukar batinnya, dia mengamati gadis di depannya yang berbicara tanpa melihat lawan bicaranya dan malah asyik menggambar.
''Ahhhh akhirnya selesai juga'', kata Ara pelan sambil tersenyum. Ara menyerahkan hasil gambaranya kepada Ryu, "untukmu" katanya kemudian. Ara memasukan peralatan gambarnya ke dalam tas.
Ryu mengambil hasil gambaran Ara, dia mengamati gambar itu.
''Apa ini aku???, tanya Ryu.
''Ya'', jawabnya. Setelah makan siang dan Ryu meninggalkannya di ruang kerja, Ara tidak lagi membaca, dia melihat-lihat isi ruang kerja Ryu dan kemudian mengeluarkan isi tasya mengambil kertas dan pensil yang biasa dia gunakan untuk menggambar dan kemudian dia memulai menggambar.
''Apa aku setampan ini dalam ingatanmu?? tanya Ryu. Kau melukisku tanpa melihatku secara langsung, kau sangat detail''. Ryu tersenyum.
__ADS_1
Ara membulatkan bola matanya, ''kau sangat percaya diri tuan'', kata Ara kemudian.
''Trimakasih sudah melukisku, aku akan menyimpan ingatanmu padaku'', kata Ryu sambil tersenyum.
Ara diam mereka saling menatap, kemudian dia berdiri mengambil tasnya.
''Mau kemana? tanya Ryu
''Tentu saja pulang, ini sudah lewat jam pulang. Jangan bilang kau akan memintaku lembur, karena tadi aku tertidur''.
''Aku akan mengantarmu'', kata Ryu berdiri mengambil kunci mobilnya
''Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri''.
Mereka berdua diam dan saling menatap.
''Ayolah, aku hanya akan mengantarmu pulang, aku tidak akan macam-macam, jangan mengabaikanku lagi dan menghindariku. Apa kau tidak bisa memaafkanku'', kata Ryu pelan.
Ryu menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. ''Baby aku tahu aku bersalah padamu, aku ingin memperbaiki semuanya dan memulai dari awal, bisakah kau memaafkanku. Berikan aku kesempatan, percayalah padaku, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, aku benar-benar akan berubah menjadi lebih baik'', Kata Ryu dengan sedih.
Ara menghentikan langkahnya. ''Aku sudah memaafkanmu, bisakah kau tidak mengangguku, lebih baik kau menjauhi aku. Jangan memaksakan diri, Aku tidak tahu hubungan ayah dan ibuku denganmu ataupun orang tuamu dulu seperti apa, itu hanya tinggal cerita saja, aku tidak percaya padamu, meskipun cerita nyonya Silvia dan tuan Jonathan tentang mereka sangat membuatku iri, Aku juga iri padamu yang begitu dekat dengan kedua orang tuaku, aku tidak pernah mengenalnya, tentang perjanjian antara orang tuamu dan orang tuaku kita bisa membatalkanya, mereka sudah tiada''.
Sesaat Ryu terpaku melihat gadis di depanya itu bicara panjang dan tegas. "Haaaahhh, justru karena mereka sudah tiada, kita harus tetap menjalin silaturahmi, agar tidak terputus dan kita seperti orang yang tidak saling mengenal. Apa kau tahu aku sangat menantikanmu sejak kamu dalam kandungan aunty Rania'', kata Ryu hatinya sangat nelangsa dan perih melihat kenyataan dimana Ara masih ingin dirinya menjauhinya.
Ara, menatap tajam mata Ryu, ''sebaiknya anda urus diri anda sendiri tuan Orland''.
''Bisakah kau tidak memanggilnya tuan Orland baby''.
''Kenapa, bukankah itu namamu??
''Aku lebih suka kau memanggilnya dengan sebutan yang lain bukan sebutan yang di gunakan orang padaku''.
__ADS_1
Ara memutar bola matanya, ''Jangan memanggilku baby, itu juga bukan namaku, aku tidak suka kau memanggilku seperti bayi'', Ara segera melangkah pergi menurutnya tidak ada gunanya dia bicara pada orang seperti tuan Orland. Dia segera melangkah meninggalkan ruangan dan Ryu yang bengong.
Seketika Ryu lupa akan niatnya mengantar Ara, pikirannya buntu sampai bunyi ketukan pintu mengagetkanya.
Kevin masuk ke ruangan, ''kenapa lagi bos kau melamun dari tadi, apa nona Ara sudah pulang??, kau bilang akan mengantarnya''.
''Dia menolak, tidak mau kuantar pulang''.
''Kau tidak mengejarnya, apa kalian bertengkar??, tanya Kevin
Ryu duduk kembali di sofa, "tidak" dia masih tidak mau berhubungan denganku, dia memintaku menjauhinya''.
Kevin mengambil kertas yang ada di meja dan ikut duduk di sofa ruangan Ryu. Kevin mengamati gambar di kertas itu. "Apa dia melukismu", lukisan yang bagus, dia sangat detail, ini benar-benar mirip dirimu yang angkuh''.
''Apa aku terlihat seperti itu???, Dia melukisku tanpa melihatku sebagai obyeknya, tadi aku menyuruhnya membaca buku-buku perusahaan, tapi malah tertidur, setelah makan siang aku meninggalkannya untuk meeting, dia malah menggambar. Dia menolak tidak mau membaca. Dia bilang tidak suka membaca dan hanya hobi menggambar''.
''Hahaha, kurasa kau salah menempatkannya bos, dia gadis yang jujur tidak menutupi kelemahannya dan mengatakan kemampuannya padamu''.
''Apa salahnya belajar, dan lagi perusahaan ini milik keluarga dia juga''.
''Jangan memaksakan diri bos, aku tahu kau melakukannya karena kau ingin dekat dengannya, mengenalnya lebih jauh. Kalau kau terus memaksanya dia pasti benar-benar akan pergi darimu. Nona Ara memiliki jiwa seni yang tinggi, dia mempunyai pemikiran yang bebas, sepertinya dia tidak ingin terpaksa ataupun di paksa''.
''Menurutmu begitu, aku hanya ingin memperbaiki hubungan???.
''Aku tahu niat baikmu Ryu, tapi seorang gadis yang pernah kau culik apa dia akan percaya padamu begitu saja. Dia akan tetap curiga padamu meski kau memberikan gunung emas. Sebaiknya biarkan dia belajar di lantai 24 bersama Clara dan juga Joy. Aku minta mereka belajar disana, tidak berdua saja denganmu itu akan membuatnya tertekan. Sebulan lagi mereka menyelesaikan kerja magangnya, jangan membuatnya sulit. Apa kau tidak kasihan padanya'', kata-kata Kevin ada benarnya, sedikit menyadarkan Ryu, mungkin dia memang tertekan dan tidak leluasa berada satu ruangan denganya.
''Baiklah.... kau atur saja bagaimana baiknya''.
''Ok, tidak masalah, sebaiknya kau istirahat aku mau pulang sekarang''.
''Bye'', Kevin berdiri dan keluar dari ruang kerja Ryu dan langsung pulang.
__ADS_1