
Beberapa hari berlalu, sudah hampir 10 hari pasangan dokter itu berada di London, selain mengikuti seminar mereka juga berkeliling kota London, mereka ingin mengenang masa-masa honeymoonnya dulu dan terkadang ditemani putra sulungnya untuk mengunjungi tempat-tempat yang bagus disana, saat putra sulungnya itu tidak terlalu sibuk, hari ini pasangan dokter itu bersiap ingin membeli oleh-oleh untuk kedua putra putrinya yang mereka tinggalkan, dia berjanji dengan Rei putra sulungnya pergi membeli oleh-oleh, sebenarnya mereka masih rindu dengan putra sulungnya Rei, tapi mereka juga punya tanggung jawab pekerjaannya serta kedua putra putrinya yang pasti sangat merindukanya, meski setiap hari mereka saling berhubungan untuk memastikan keadaan mereka baik-baik saja.
Pasangan dokter itu keluar dari hotel tempat mereka berdua menginap. Rei menghubungi bahwa dia akan langsung datang ke tempat yang mereka tuju, mereka akan bertemu disana.
Setelah berkeliling mencari oleh-oleh, saat ini mereka sedang makan di sebuah restoran yang dulunya saat awal-awal kuliah Rei pernah bekerja part time sebagai tenaga cuci piring dan sampai akhirnya dia menyelesaikan kuliahnya, dia magang di sebuah rumah sakit dan bekerja disana sekaligus melanjutkan study untuk mewujudkan cita-citanya. selama 6 tahun berpisah dengan keluarga tentunya sangatlah berat bagi mereka.
''Rei.. besok pagi ayah dan bunda akan kembali ke kota J, kamu baik-baik disini, segera selesaikan studymu dan pulanglah, adikmu sangat merindukanmu, banyak rumah sakit yang pasti akan siap memperkerjakanmu!!!.
''Benar, jangan kuatir ayah dengar ada seorang pembisnis yang akan membangun rumah sakit di pinggir desa kelahiran princess ayah, bahkan mereka berniat membeli tanah milik kakeknya, ayah sudah bertemu dengan mereka, mungkin rumah sakit akan di bangun disekitar situ''.
''Lalu apa Ara mau menujualnya??, tanya Rei.
''Ayah sudah memberi tahunya, tapi dia bilang tidak akan menjualnya, dia bilang akan menunggumu pulang untuk memutuskannya''.
''Kenapa harus menungguku??.
''Ayah juga tidak tahu, dia bilang kakeknya sudah membuat surat wasiat kepadanya dan hanya boleh dibuka setelah kamu pulang''.
''Surat wasiat, Ara tidak pernah membicarakannya, dia hanya selalu merengek memintaku untuk segera pulang'', kata Rei sambil tersenyum mengingatnya
''Benar kak, jadi semangatlah, adik-adikmu selalu medukung dan mendoakanmu, bunda juga penasaran apa isi wasiat kakeknya, kenapa juga harus menunggumu pulang???, jelas bunda.
''Besok pagi jam berapa pesawat ayah dan bunda berangkat biar aku antar''.
''Apa kakak tidak sibuk?, tanya bunda
''Tidak aku sudah bertukar sip dengan rekanku'', jawab Rei
''Jam 05.00 pagi kita berangkat dari hotel, apa kakak tidak ada perkejaan sekarang???.
''Tidak ada, kenapa?? jawab Rei
''Ikut ke hotel saja kita ngobrol disana. Sebenarnya ayah sama bunda masih kangen sama kakak, tapi bagaimana lagi, kami punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, kakak juga sibuk''.
''Apa bunda tidak lelah seharian berkeliling, besok masih harus menempuh perjalanan jauh''.
''Tidak masalah bunda dan ayah bisa beristirahat diperjalanan, bantu bunda berkemas''.
''Baiklah aku juga masih kangen sama ayah dan bunda''.
Mereka segera meninggalkan restauran setelah membayar dan melanjutkan perjalanan ke hotel.
__ADS_1
Sekitar 45 menit mereka sampai di hotel tempatnya menginap, mereka segera menuju kamarnya.
Rei melihat sudah ada beberapa kantong belanja di sana, ''bunda beli apa saja???, ini sudah banyak kantong belanjaan''.
''Itu kemarin pas bunda jalan berdua sama ayah, oh ya bunda kemarin juga belikan mantel buatmu, disini sangat dingin, sebentar bunda ambilkan''.
''Aku kan bisa beli sendiri bunda, aku sudah punya gaji'', jawab Rei
''Bunda tahu, tapi bunda ingin belikan untuku, ini dia kau coba dulu'', bunda memberikan sebuah kantong belanja yang berisi mantel yang sengaja dia beli untuk putra sulungnya.
Rei pun mencobanya, ''wah bagus kan, kakak semakin tampan'', puji bunda sambil tersenyum ''bukankah begitu yah???.
''Heeemmm'', dokter Firman mendekati istrinya dan memeluknya, dia selalu begitu kepada istrinya saat mendengar istrinya memuja anak laki-lakinya tidak pada Rei tapi juga pada Kai.
Rei tersenyum melihat kemesraan kedua orang tuanya. Rei bahagia kedua orang tuanya meski sudah berumur dan punya kesibukan sendiri tapi tetap menjaga keromantisanya.
''Apa kakak sudah punya calon???, tanya bunda.
''Calon apa?, tanya Rei
''Calon istri lah'', jawab bunda singkat.
''Aahhh, aku sibuk bunda tidak ada waktu memikirkanya, aku tidak ingin melukainya karna aku terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuknya''.
''Betul kak , kau harus pikirkan masa depanmu'', nasihat bunda.
''Tenang saja bunda, jodoh tidak akan kemana'', jawab Rei, dia membantu ayah bundanya berkemas.
Rey menata oleh-oleh yang mereka beli, agar rapi dan muat di koper.
Setelah selesai mereka bergantian mandi.
''Apa ayah dan bunda belum mengantuk??, ini sudah malam'', tanya Rei setelah keluar dari kamar mandi.
''Tidak apa-apa kita mengobrol saja sampai nanti ngantuk, sambil nonton tv''.
''Ayah bunda ada yang ingin aku tanyakan'', kata Rei
''Tentang apa???, sini duduk ajak bunda''.
Rei diam sesaat dia berfikir seperti takut mau mengatakanya, takut apa yang dia katakan akan menjadi beban pikiran kedua orang tuanya.
__ADS_1
''Apa yang ingin kau bicarakan?? katakan!!! ayah mengawali pembicaraanya.
''Sebelumnya aku minta maaf, ada yang aku ingin tahu sesuatu dan aku belum begitu jelas dan faham''.
''Tentang apa itu??? tanya ayah.
''Eeeee... ''Rei tampak ragu memulai, ''Begini, ...apa,....apa setelah aku pulang nanti, aku boleh menikahi Ara''.
''Apa....!!! kaget mereka berdua.
''Apa maksudmu kak, Ara itu saudaramu!!!, kata bunda dengan sedikit penekanan.
Dokter firman menggenggam tangan istrinya yang duduk di sebelahnya, mereka berdua shok dengan perkataan putra sulungnya.
''Adik apa bunda, bukankah ayah kemarin cerita dulu kita tidak mengenalnya, dan bukan siapa-siapa kita. Aku sangat senang saat pertama kali ayah dan bunda membawanya pulang ke rumah, aku menyukainya sejak dulu, aku selalu memikirkanya. Aku ingin selalu membahagiakanya, membuatnya senang dan hidup bersamanya.
Aku masih ingat bagaimana saat aku memegang tangannya yang mungil dia memegang tanganku erat. Aku pikir dulu adikku terlahir kembar, tapi setelah besar aku sering diajak eang bersama Ara pergi mengunjungi makam orang tuanya. Aku tahu kenapa Ara tinggal bersama eang saat kecil sampai dewasa, itu karena dia bukan anak kandung ayah dan bunda, melainkan anak orang lain, dan mengangkatnya menjadi putri ayah dan bunda, jadi apa salah jika aku ingin menikahinya''.
Dokter Firman dan dokter Aisyah terdiam mendengar cerita putra sulungnya.
''Rei....,,,,kata dokter Firman pelan ''dengarkan ayah dan bunda baik-baik, dan ayah harap kamu mau mengerti dan memahaminya''.
''Haaahhh begini kak!!!, dokter Firman mulai menjelaskan ''Ara memang bukan anak kandung ayah dan bunda, seperti yang ayah ceritakan sebelumnya, tapi sejak bayi bundamu telah menyusui Ara hingga 2 tahun, memang Ara tidak menyusu pada bunda secara langsung, hanya beberapa bulan saat bunda masih cuti, dan setelahnya ayah yang mengantarkan asi bunda untuk Ara di desa, karena dia harus di rawat keluarganya dan bunda harus kembali bekerja, sedang bunda juga harus merawat adikmu Kai''.
''Kau dan Kai tidak ada yang boleh menikah dengan Ara, karena kalian telah menjadi saudara sepersusuan, yang artinya dia telah menjadi saudaramu dan haram untuk kalian nikahi, bukan cuma kau dan Kai tapi seluruh keturunan ayah dan bunda nantinya cucu-cucu ayah, anakmu dan anak Kai nanti tidak ada yang bisa dan tidak boleh menikahi Ara ataupun anak-anaknya, itu sudah ada ketentuannya, dan itu dilarang dalam agama kita, kamu bisa mencari informasi itu, dan ayah mohon mulai sekarang hilangkan harapanmu ingin menikah dengannya, kenapa ayah dan bunda selama ini selalu mendekatkan kalian dengan saling mengunjungi, agar hal seperti ini tidak akan terjadi. Ayah sudah memikirkan jauh hari tentang ini, dan apa yang ayah kuatirkan benar-benar terjadi padamu sekarang. Kamu dan Kai boleh menikahi perempuan manapun kecuali Ara. Selamanya Ara akan menjadi princess ayah dan bunda, dan selamanya dia akan menjadi saudaramu dan juga Kai'', jelas dokter Firman panjang dan lebar.
''Benar kak selamanya dia akan menjadi saudaramu dan Kai , kalian berdua harus menjaga dan melindunginya, menyayanginya'', jelas bunda dengan lembut.
Rei diam menunduk, dia tidak berani mengangkat wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca dia terlihat sangat sedih.
''Tapi aku mencintainya bunda, aku tidak bisa membuka hatiku untuk perempuan lain selama ini, karena aku hanya ingin Ara satu-satunya perempuan yang ingin aku nikahi'', katanya dengan menunduk Rei tidak bisa lagi menahan gejolak hatinya air matanya luruh begitu saja, selama ini dia terlihat kuat bisa bertahan hidup sendirian di negeri orang tapi ternyata dia lemah soal perasaannya.
Bunda berdiri dari duduknya dan duduk disebelah Rei, dia mengelus kepala Rei dan memeluknya, bunda ikut meneteskan air mata. Rei semakin tidak bisa menahan air matanya dia menangis sampai tubuhnya berguncang dipelukan sang bunda.
''Kau memang harus selalu mencintainya, tapi sebagai saudara perempuan yang harus kamu jaga dan kamu lindungi, bukan sebagai seseorang teristimewa dihatimu''.
''Kamu hebat kak, bunda dan ayah senang kakak bisa berkata jujur pada kami, sebagai orang tua kami minta maaf kalau tidak mengatakannya dari dulu''.
Dokter Firman juga ikut berdiri mendekati putra sulungnya. Dia menepuk punggung putra sulungnya itu, ''sudahlah jangan sedih seperti itu, kakak harus bisa belajar menerima kenyataan meskipun ini berat, ayah yakin kakak bisa mengerti, dan ayah harap jangan sampai masalah ini didengar princess ayah, karena ayah tidak mau kalau dia tahu kakak punya perasaan yang istimewa padanya dia akan menjauhi kita bahkan pergi dari hidup kita, dia tidak punya siapa-siapa lagi, satu-satunya keluarganya adalah kita, dia menyayangimu juga, kalau tidak mungkin kemarin tidak akan merengek minta ikut kesini untuk bertemu denganmu, dia bahkan kemarin bertanya apa kamu punya kekasih disini, karena kamu tidak pernah pulang selama hampir 6 tahun ini, kau sudah belajar jauh darinya, kamu pasti bisa, ada wanita yang lebih istimewa yang akan menantimu meminangnya'', kata ayah dengan bijak. ''Ingat pesan ayah dan bunda ini baik-baik ya, ayah dan bunda percaya padamu, kamu bisa semangatlah''.
''Sebaiknya kita tidur, biar besok tidak ketinggalan pesawat'', bunda menghapus air mata Rei, ''sudah jangan menangis lagi, bunda tahu kau sangat menyayanginya, tapi kamu juga harus tahu batasnya'', tutur bunda lembut. Sekali lagi bunda memeluk dan mencium kening putra sulungnya itu, ''istirahatlah kak bunda juga sudah ngantuk''.
__ADS_1
''Ayo'', bunda membantu Rei berdiri memapahnya ke ranjang tambahan, Rei tidak ingin dipesankan kamar lain tadi karena ingin menemani kedua orang tuanya sebelum mereka kembali ke kota J besok pagi.