
Tak berapa lama manajer Eric datang.
''Dengar semua sini berkumpul, dua minggu lagi direktur utama akan berkunjung dalam acara pembukaan mall baru, semua harus mempersiapkan diri membuat desain baru untuk fashion show di acara pembukaan Mall, masing-masing membuat tiga desain, jangan sampai mengecewakan, ada pertanyaan, kalau tidak segera kerjakan''.
''Manajer kenapa mendadak sekali hanya dua minggu, mana cukup'', para desainer itu menggerutu.
''Iya benar'', sahut yang lain.
''Manajer apa aku boleh ikut'', tanya Ara
Semua menoleh pada Ara.
''Eemmmmaksudku, apa aku boleh ikut mendesain juga''.
''Baby apa kau bisa, kau itu bukan lulusan desain tapi dari hubungan internasional, kenapa juga hrd menempatkanmu disini''. ketus Eric
''Aku memang bukan dari jurusan desain tapi aku hobi mendesain. Aku punya beberapa desain di rumah, kalau anda setuju besok aku akan membawanya, manajer bisa lihat dulu, bagaimana??, jelas Ara.
''Aku tidak yakin dengan desainmu, dan aku tidak ingin mengecewakan direktur utama''.
''Apa salahnya manajer, waktu dua minggu tidak akan cukup mendesain dan membuatnya, kita bisa melihat desainya besok dan kalau cocok dengan tema kita langsung bisa membuatnya''.
''Berilah dia kesempatan kak Eric, tidak masalah dia bukan dari jurusan desain'', kata salah satu desainer.
''Iya benar saat ini kita sedang mengerjakan desain untuk produk bulan depan, kalau ditambah dengan desain untuk pembukaan mall baru, waktunya tidak akan cukup'', kata desainer yang lain.
Eric tampak berfikir.... ''baiklah baby bawa desainmu besok, dan buatlah desain baru juga sekarang, aku mau melihat desainmu''.
''Siap manajer, Ara mengangkat tangan kananya memberi hormat''.
Eric membulatkan matanya sambil lalu.
''Maksudku kakak Eric'', kata Ara sambil tersenyum semanis mungkin.
Ara segera mendesain sesuai tema yang di minta Eric, tak terasa waktu telah lewat jam pulang, Ara berhasil menyelesaikan 3 desain sekaligus dan segera menyerahkan ke manajer Eric
''Kak Eric ini desainku, kau bisa lihat dulu''.
Ting..... bunyi notifikasi di ponsel Ara.
''Ku tunggu di lobi bawah'', sebuah chat dari Joy.
Eric melihat desain yang Ara buat, dia nampak mengamati dengan seksama sesekali mengernyit melihat Ara yang berdiri di depannya.
''Lumayan bagus, kau belajar dari mana???, tanya Eric.
__ADS_1
''Itu hanya hobiku kak'', jawab Ara
''Benarkah, apa saja yang kau desain??
''Pakaian, sepatu, tas juga perhiasan''.
''Oh ya, sepertinya kau berbakat, tapi aku belum bisa menyetujuinya, bawa desain yang sudah kamu buat besok, aku akan tunjukkan pada Dave''.
''Maksud kakak Dave Morgan?? tanya Ara
''Iya siapa lagi???, jawab Eric
''Dia itu karyawan disini ya???.
''Haahhh apa maksudmu baby, dia itu wakil direktur utama''.
''Haaahhh....???, Ara nampak kaget.
''Bukanya kau mengenalnya, dia bahkan memintaku menjagamu, apa hubungannya denganmu???.
''Tidak ada...,, jawabnya sambil menggelengkan kepalanya, ''apa aku sudah boleh pulang kak??, temanku Joy menunggu di lobi''.
''Pulanglah jangan lupa besok bawa desainmu!!.
Pintu lift terbuka terlihat Dave Morgan dan dua orang laki-laki dan perempuan yang cantik dan seksi di dalamnya, ''mau turun juga??, tanya Dave.
Ara ragu mau masuk ke dalam lift, tapi Joy sudah menunggu di bawah. Ara tidak mau ambil pusing, dia segera masuk ke dalam lift.
Dave menggeser badanya, berdiri di belakang Ara, kepalanya condong dekat telinga Ara, ''mau pulang bersamaku???, bisiknya lirih.
''Tidak, aku pulang dengan Joy''.
''Haaaahhh apa kau berkencan dengannya???.
Arah menoleh ke arah Dave Morgan, dia tidak menjawab dan matanya membola, baginya tidak penting menjawab pertanyaan seorang Dave Morgan, karena dia seorang mata-mata yang entah di suruh siapa.
Ting.....pintu lift terbuka dilantai satu yaitu lobi perusahaan, ara segera keluar tak menghiraukan Dave Morgan yang masih berdiri di belakangnya.
''Ara'', panggil Joy yang melihat Ara keluar dari lift.
''Ayo pulang'', buru-buru dia menarik tangan Joy.
Mereka menuju ke parkiran perusahaan, Joy menyalakan mobilnya, kemudian membukakan pintu untuk Ara.
''Mau makan dulu??, tanya Joy
__ADS_1
''Lansung pulang saja ya, aku makan dirumah''.
''Tidak mampir ke tempat Ken, sekalian lewat depan cafenya''.
''Tidak, aku lelah pulang saja''.
Joy segera menjalankan kendaraanya mengantar Ara pulang.
Sekitar satu jam Ara telah sampai di rumah, sebenarnya perusahaan tempat dia magang tidak jauh tapi saat jam pulang kerja jalanan sangat padat, banyak kemacetan dimana-mana.
Sekitar jam 8 malam Ara sampai rumah, saat sampai depan rumah tampak sangat sepi, bahkan lampu rumah tidak di hidupkan.
''Kenapa sepi, apa ayah dan bunda tidak di rumah??.
Ara membuka pintu rumah ''Assalamualaikum'', ucapnya, rumah tampak gelap, dia mencari saklar untuk menghidupkan lampu.
dan tiba-tiba lampu menyala semua.
''Waalaikum salam'', seorang laki-laki berdiri di depan Ara, laki-laki yang dirindukan dan ditunggunya selama ini, sudah delapan tahun lamanya mereka tidak bertemu, dialah Reino Abhi Praya, kakak sepersusuannya.
Ara diam terpaku, antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihatnya.
''Halo princess kau tidak merindukanku'', Rei mendekati Ara dan memeluknya erat, bagaimana kabarmu???.
Ara terdiam sesaat, kemudian membalas pelukan Rei dan air matanya keluar begitu saja, ''Benarkah ini kakak??, katanya lirih
Semakin lama pelukannya semakin erat, dan tangisan Ara semakin kencang di dada Rei. Ara sampai sesenggukan.
''Shuuutttt kenapa menangis??, tidak senang kakak pulang?, kata Rei sambil membelai lembut rambut Ara dan mengecup keningnya, "maafkan kakak ya??, kata Rei.
Walaupun Rei harus menahan gejolak di dadanya, membuang jauh perasaan cinta untuk adik angkatnya, nyatanya perasaan itu masih ada di dalam hatinya, hingga rasanya nyeri di dadanya, Rei terus membelai rambut Ara, "maafkan kakak tidak ada di dekatmu saat kepergian eang!!, kata Rei sekali lagi.
Ara terus memeluk Rei erat, seperti tak ingin lepas. Ara mendongak melihat ke arah Rei, ''Kenapa Kakak lama sekali, kenapa tidak bilang kalau mau pulang??, Ara kangen'', tanya Ara air matanya masih mengalir di pipinya.
Rei memegang pipi Ara, menghapus air matanya, ''sekali lagi maafkan kakak ya, kakak juga kangen banget, kau kuat''. kata Rei matanya terlihat berkaca-kaca, bagaimana tidak, selama delapan tahun dia meninggalkannya, saat itu Ara masih sekolah menengah pertama, Rei sangat sayang pada Ara sejak kecil, bisa dibilang sejak masih bayi saat di boyong ke rumahnya oleh kedua orang tuanya. Rasa sayangnya yang berubah menjadi rasa cinta ingin memiliki sepenuhnya, menjaga dan melindungi, tapi nyatanya dia harus membuang jauh keinginan dan harapan itu, yang belum sempat dia katakan dan harus diakhiri.
''Jangan menangis lagi, kakak tidak akan pergi lagi''. Rei menghapus air mata Ara dan mengecupnya sekali lagi, ''kakak menyayangimu''.
Rei menggendong Ara ke kamarnya, ''sekarang mandilah biar segar, setelah itu makan kau pasti lelah''.
''Ayah dan bunda kemana???, tanya Ara
''Mereka menghadiri undangan pernikahan rekanya''.
Rei segera keluar dari kamar Ara dan nenutup pintu, dia bersandar di tembok sambil memejamkan matanya, dadanya bergemuruh, dia harus bisa menerima kenyataan.
__ADS_1