Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
Episode 80


__ADS_3

Selama hampir tiga bulan mereka telah menjalani taaruf, namun, Ara masih belum mengambil keputusan, justru Ara sangat disibukan dengan mendesain, permintaan dari manager Eric untuk model cantik Khaterina. Sejak bangun dari koma dan di nyatakan boleh beraktifitas seperti biasa Ara kembali lagi mendesain untuk mengisi hari-harinya.


Karya pertama yang dia buat setelah sembuh adalah gaun pernikahan untuk sahabatnya dan sekaligus saudara iparnya Lanlan serta Jas yang dikenakan Rei saat pernikahan yang membuat seorang direktur Orland merasa sangat iri padanya. Ara Hanya tinggal menunggu wisuda bersama Clara, Joy dan Ken. Setelah itu dia akan berangkat ke Dubai untuk melanjutkan studinya.


Ara sendiri tidak tahu harus bagaimana menghadapi pergelutan batinya, untuk itu dia menyibukkan diri dengan menggambar serta mendesain, dia sampai melupakan keinginannya memiliki galeri sendiri untuk desainya dan gambarnya. Selain itu karena ia ingin melanjutkan studinya ke Dubai jadi dia memilih menunda dulu keinginan memiliki galeri sendiri.


Berbeda dengan El Ryu, hampir setiap hari selalu menghubungi Ara, walaupun terkadang hanya melalui pesan singkat, dia terlihat sangat serius dengan hubungannya, dia sama sekali tidak tergoyahkan meski Ara terus saja berusaha menghindar, beberapa kali El Ryu ingin mengajaknya keluar hanya untuk dinner saja, namun beberapa kali pula dia di tolak.


Walaupun dia dan El Ryu belum ada keputusan yang jelas, namun diam-diam Ara telah membuat desain jas dan menyerahkan pada manajer Eric untuk segera dibuatkan.


Hari ini Ara bersiap untuk datang ke perusahaan Orland Group menemui manager Eric. Semalam Eric menghubunginya lewat pesan singkat memintanya untuk datang ke perusahaan. Ara berangkat dengan menggunakan taxi online. Setelah hampir 1 jam akhirnya Ara sampai, dan setelah membayar Ara segera turun dan mamasuki lobi.


''Slamat pagi Mbak saya ada janji ketemu dengan manajer Eric'', kata Ara pada staf front office.


''Di tunggu sebentar ya'', kata staf itu ramah. Setelah menunggu beberapa menit, ''nona Ara ya, silakan langsung ke ruangan manajer Eric lantai 9''.


''Terimakasih'', kata Ara dan berlalu menuju lift dan segera menekan angka 9 setelah masuk ke dalam lift.


Ting... Lift telah sampai di lantai 9, Ara segera melangkah ke ruang kerja Eric.


''Slamat pagi manajer Eric'', sapa Ara yang melihat Eric sedang sibuk dengan beberapa desainernya. ''Halo senior apa kabar juga'', sapanya pada karyawan disana.


''Halo baby kau sudah datang rupanya. Bagaimana kabarmu apa kau benar-benar sudah sehat.''


''Iya apa kau sudah boleh beraktifitas lagi'', kata senior itu.


''Aku sangat baik kak''.


''Ok lanjutkan pekerjaan kalian. Aku ada urusan dengannya''. Eric mengajak Ara berbincang di ruang kerjanya.


''Baby ku dengar kau akan melanjutkan studi ke Dubai, apa itu benar???, tanya Eric''.


''Iya kak Eric, tahu dari mana??.


''Tentu saja calon ibu mertuamu yang memberi tahu. Aku ingin membicarakan kerjasama kita meski kau akan tinggal disana sebentar lagi. Aku mau kau tetap mendesain aku juga sudah bicara dengan nyonya Silvia dan tuan Orland, mereka sangat mendukungmu, bahkan kami akan membantu untuk membuat brandmu sendiri. Apa kau tetap ingin memakai nama itu untuk brandmu sendiri.''


''Iya kak, Aku sudah ada website juga jadi tidak perlu diganti.''


''Kapan kau akan menikah dengan pria tampan itu??, tanya Eric dengan logat biasanya kemayu dan gemulai.


''Entahlah,'' jawab Ara.


''Kau terlihat sangat ragu padanya, apa kau tidak yakin. Jangan percaya pada berita murahan. Dia bukan mantan Khaterina. Aku tahu Ryu sejak kecil saat aku bersama nyonya Silvia, dia hanya berharap bisa bertemu denganmu. Bertahun-tahun mencari keberadaan orang tuamu dan sekarang bertemu denganmu, dia pasti sangat bersedih dan terluka kalau kau menolaknya'', kata Eric meyakinkan.


Ara terdiam dan mencerna apa yang dikatakan Eric barusan.


''Apa desain jas yang kau kirimkan itu untuknya???, dia pasti sudah tidak sabar untuk menikahimu kan''.


''Bagaimana kak Eric tahu?? dia minta aku mendesain jas untuknya. Dia bilang iri dengan kak Rei karena dia pria pertama yang memakai desain jas dariku. Simpan saja dulu kak, jangan tunjukan padanya.


''Itu sudah pasti, dia selalu ingin jadi yang pertama, terlebih itu kamu yang mendesainya, lalu mana desain gaun untukmu sendiri apa kau sudah mendesainya, aku akan segera buatkan untukmu.''


''Ara menggeleng, aku belum membuatnya'', katanya kemudian.


''Segeralah buat, agar tidak terlalu buru -buru mengerjakannya''.

__ADS_1


''Aku tidak buru-buru menikah kak''.


''Kau ini jangan biarkan dia menunggu lama, banyak yang ingin segera memangsanya'', kata Eric.


''Apa kau lihat Khaterina, dia sengaja datang kesini membuat sensasi memanfaatkan Ryu, dengan membuat berita konyol seperti itu, agar karirnya naik. Kalau kau menikah dengannya, kau harus siap dengan berita seperti itu dan harus berani menghadapi wanita-wanita yang datang mengodanya.''


Ara membelalakan mata, hatinya semakin menciut, dia tahu pria yang diajaknya bertaaruf bukan pria biasa, dan banyak wanita mengincarnya. Dia merasa tidak siap menghadapi hal semacam itu. Ara merasa dilema dengan semua, siapa yang bisa menjamin hidupnya akan baik-baik saja setelah menikah denganya, meski mungkin hidup bergelimang harta denganya, tapi tidak akan bisa menjamin apa yang akan terjadi dengan kehidupan setelah ini, bahkan selama ini perjalanan hidup masa remajanya yang harusnya dinikmati dengan suka ria, nyatanya dia hidup dalam ketakutan dan semua berawal dari pertemuannya dengan Ryu.


''Haaaahh, terimakasih atas saran kak Eric, aku akan memikirkanya baik-baik sebelum melangkah lebih jauh''.


Dreettt.... dreettt


Ara mengambil ponselnya yang bergetar melihat nama kontak yang tertera di layar.


''Apa itu dia??, tanya Eric yang diangguki kepala oleh Ara.


''Angkatlah'' seru Eric


''Halo...ada apa El''?


''Halo princess, apa kau ada waktu siang ini, aku ingin mengajakmu makan siang'' ...suara Ryu di telefon.


''Eeee... aku' ...,,,,Ara terdengar ragu menjawabnya.


''Ayolah princess kau sudah berapa kali menolak ajakanku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, jangan menghindariku terus'', mohon Ryu di telfon


''Aku..... sedang bersama manajer Eric sekarang''.


''Benarkah kau sedang di perusahaan??, tanya Ryu, kalau begitu apa kau bisa ke apartemenku atau kau mau aku menjemputmu di ruangan Eric.''


''Ok baiklah aku menunggumu, selesaikan urusanmu denganya. Aku matikan dulu ya''. Ryu menutup telfonya.


Mereka melanjutkan obrolan mereka, sampai waktu menjelang siang.


''Kak, ada yang ingin El bicarakan denganku''


''Ya sudah kau ke sana sekarang, aku tidak mau priamu itu marah padaku, karena menunggumu terlalu lama, dia itu cenderung posesif dengan apa yang sudah di klaim menjadi miliknya.''


Mata Ara membola, ''aku permisi dulu kak'', Ara bergegas meninggalkan Eric.


''Ingat segera buat desain gaunmu.''


Ara tidak menjawabnya, selama di dalam lift dia memikirkan kata-kata Eric tadi.


Lift itu membawa Ara ke lantai 25, disana merupakan ruang kerja dan apartemen Ryu. Lantai ini terlihat sepi karena tidak ada karyawan yang diijinkan memasukinya, kecuali orang-orang kepercayaanya.


Ara mengambil nafas dalam dan menghembuskanya perlahan saat lift terbuka dan dia segera keluar dari lift.


Dia diam sejenak di depan pintu, tak berapa lama pintu terbuka dan menampakkan sosok pria yang akan ditemuinya.


''Kenapa kau diam di depan pintu, apa kau takut akan masuk kesini??, kata Ryu sambil memberi jalan untuk gadisnya.


Ara hanya diam kemudian melangkah masuk, dan setelah itu Ryu menutup pintunya kembali.


''Apa kau mau makan sekarang selagi panas??, aku sudah menyiapkannya tad, kata Ryu.''

__ADS_1


Ara melihat dimeja ada makanan. ''Kapan kau mulai memasak??.


''Tadi setelah menelfonmu atau kau ingin makan di luar??.


''Tidak usah ini saja, sepertinya enak''.


Ryu segera menarik kursi untuk Ara duduki. Mereka berdua segera menyatap makan siang buatan Ryu. Tidak banyak menu hanya steak daging sapi, yang dipanggang dengan tambahan bawang bombay serta kentang goreng, wortel serta buncis di siram dengan saus dan juga salat buah serta lemon tea.


Mereka sangat menikmati makan siang mereka dan tidak ada yang bersuara selama beberapa menit.


''Ku dengar sebentar lagi kau wisuda'', tanya Ryu kemudian, kapan???.


''Bulan depan'', jawab Ara setelah menelan makanannya.


''Kau tidak mengundangku datang kewisudamu.''


''Kalau kau mau kau bisa datang, bukankah kau pernah mengajar disana.''


Ryu tersenyum, ''kau masih mengingatnya'', kata Ryu.


''Besok aku akan berangkat ke London ada hal yang harus aku urus.''


''Oh ya, berapa lama??, tanya Ara


''Mungkin dua minggu, tapi bisa jadi sebulan, sepertinya perusahaan disana sedang ada masalah. Aku harus kesana menyelesaikannya.''


''Masalah''... Ara menautkan dahinya, kenapa???.


''Kau tahu aku punya saham di beberapa perusahaan di London, saat aku studi disana aku coba-coba membeli saham disana, dari situ aku mengembangkan bisnis ke kota J sekaligus untuk mencari kedua orang tuamu. Selama beberapa tahun bisnis disini terus berkembang di berbagai sektor. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu dan aku sangat sedih karena tidak bisa bertemu aunty dan uncle. Aku sangat merindukan mereka,'' kata Ryu sedih.


''Bantu aku bersiap ya please'' pinta Ryu.


''Iya baiklah'', kata Ara kemudian. Mereka segera menyudahi makan siangnya.


Ryu segera mengajak Ara ke kamarnya untuk membantunya berkemas.


''Apa kau mau ikut aku ingin sekali mengajakmu.'' Kata Ryu sambil mengeluarkan beberapa pakaian dan memberikannya pada Ara untuk di lipat dan di masukan ke dalam koper.


''Tidak,'' tolak Ara.


''Aku sudah tahu jawabanmu, kau pasti akan menolaknya.''


''Lalu kenapa bertanya, kalau sudah tahu jawabannya.''


Ryu tersenyum, ''sapa tahu kau berubah pikiran!!, sambil memperhatikan Ara, Aku pasti akan merindukanmu nanti,'' katanya lirih.


Ara tertegun tidak tahu harus berkata apa.


''Apa sudah tidak ada lagi yang mau di masukan, tanyanya kemudian. Kalau sudah aku mau pulang,'' kata Ara dan lekas berdiri.


Ara berjalan keluar dari kamar dan diikuti Ryu, tiba-tiba Ryu memeluknya dari belakang. ''Sebentar saja biarkan seperti ini, kata Ryu. Aku pasti akan sangat merindukanmu princess,'' kata Ryu lagi dan menaruh mukanya di pundak Ara, hingga membuatnya meremang. Ara terdiam sebentar kemudian mengurai pelukan Ryu.


''Aku mau pulang'', katanya


''Aku akan mengantarmu''. Mereka segera keluar apartemen, Ryu segera menghubungi Sergio untuk menyiapkan kendaraanya.

__ADS_1


__ADS_2