
Pagi telah tiba, matahari bersinar terang, burung-burung berkicau menyambut pagi. Seorang pria tampan bangun dan menyandarkan tubuhnya di ranjang. dia mengambil ponselnya yang ditaruh di nakas, semalam dia mematikan ponselnya karena benar-benar butuh istirahat, banyak masalah yang terjadi di perusahaan, pikiranya juga tidak tenang akhir-akhir ini, karena memikirkan gadisnya belum sadar dari koma, akibat ketidaksengajaan yang dia lakukan. Ryu mendesah panjang melihat foto gadisnya di layar ponselnya, dia sudah berusaha menyelamatkanya, tapi justru membuatnya terluka lebih parah.
''Haaaahhh, Apa aku begitu kejam, dan tidak bisa dimaafkan olehmu. Andai saja kau tahu bahwa aku menyayangimu lebih dari menyayangi diriku sendiri, andai engkau tahu aku mencari keluargamu selama ini, andai kau tahu aku begitu tersiksa saat kau memintaku menjauhimu. Apa kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Kenapa semakin mengenalmu semakin banyak luka yang aku berikan. Tidak bisakah kita hidup bersama dan saling menyayangi. Baby ku mohon sadarlah, maafkan aku lirihnya''.
Ryu menghidupkan ponselnya dan melihat beberapa pesan masuk, Ryu membuka pesan dari dokter Rei dengan jantung berdebar.
"Ara sudah sadar dari koma semalam, sampaikan juga pada nyonya Silvia dan tuan Jonathan. Bisakah kau ke rumah sakit ada yang ingin kami bicarakan". Mata Ryu membelalak, tidak percaya, dia membacanya sekali lagi.
Ryu segera menghubungi nomor Rei sambil keluar kamar mencari kedua orang tuanya.
Dreettt.... dreettt
''Halo Rei, apa kau serius??, dia benar-benar sudah sadar,???, tanya Ryu dalam sambungan telepon.
''Ya benar, semalam langsung dipindahkan ke ruang perawatan vvip. sampaikan pada nyonya dan tuan Orland agar tidak kuatir. Aku sedang menuju rumah sakit sekarang, menggantikan ayah dan bunda. Kalau kau tidak sibuk temui aku di rumah sakit ada yang ingin aku biarkan''.
''Ok, aku akan segera bersiap dan kesana''.
''Mom - dad'', Ryu berteriak memanggil kedua orang tuanya yang baru saja datang dan masuk ke apartemen Ryu, sepertinya mereka baru saja berolah raga.
''Ara apa Ryu, Kenapa kau berteriak?? tanya nyonya Silvia.
''Mom Dad putrimu Ara sudah sadar dari koma, dia sudah bangun semalam''.
''Apa, kau tidak membohongi mommy kan''.
Ryu menunjukkan pesan dari dokter Rei, ''aku baru saja menelfonya, bersiaplah mom dad, kita kesana sekarang, ada yang ingin dokter Rei bicarakan dengan kita. Aku juga akan bersiap''.
Ryu segera masuk kamarnya lagi untuk membersihkan diri dan bersiap.
Nyonya Silvia membawakan beberapa foto yang di bawanya dari Dubai untuk ditunjukkan pada Ara.
Pagi ini Ara sedang di temani Lanlan sahabat kecilnya. Lanlan menangis memeluk Ara, mereka saling berpelukan erat dan menangis.
Tadi pagi Lanlan di jemput Rei dan berangkat ke rumah sakit, menggantikan keluarganya.
''Syukurlah kau sudah sadar, aku sangat takut'', kata Lanlan
''Maaf, aku telah membuat kalian kuatir'', mereka berdua saling menghapus air mata dan melepas pelukanya.
''Sudah jangan menangis terus'', kakak ke bawah dulu, kata Rei
Ara melihat sahabat kecilnya dengan wajah penuh pertanyaan.
''Apa, kenapa melihatku seperti itu??.
__ADS_1
''Ada yang ingin kau katakan padaku??, tanya Ara pada Lanlan, ceritakan padaku''.
Lanlan bingung, cerita apa?
''Tentang kau dan kak Rei, apa yang terjadi??.
''Tidak ada yang terjadi'', Lanlan mengelak dan sedikit panik.
''Benarkah, kak Rei itu tidak suka bohong, dia sudah mengatakan semua padaku''.
''Apa, dia mengatakan apa? dan kapan, kamu baru sadar semalam??.
''Apa benar kak Rei mencuri ciuman pertamamu??.
Lanlan membelalakkan matanya, ba... bagaimana kau tahu???
''Jadi benar, kalian sudah resmi jadian??.
Wajah Lanlan merah merona, ''entahlah kau tanyakan sendiri padanya. Apa maunya, aku tidak mengerti''.
''Kenapa? kau malu cerita padaku''.
''Bukan begitu Ra, aku gak tahu apa maunya kak Rei, itu terjadi begitu saja!!!. Lanlan jadi salah tingkah dan malu.
''Semua masih tidak jelas, hari itu waktu berangkat ke pesta perayaan perusahaan Orland, tiba-tiba dia sangat posesive, aku tidak boleh tersenyum pada pria lain, tidak boleh dandan di depan umum dan hanya boleh dandan di depanya. Dia bilang setelah ini memintaku mengenalkanya pada keluargaku, tapi seminggu ini dia tidak bicara apa-apa, bahkan baru semalam menelfonku, memberitahukan bahwa kau sudah sadar, semalam aku ingin kesini melihatmu , tapi dia malah menyuruhku tidur dan tadi pagi menjemputku dan kesini'', jelas Lanlan.
''Ara terdiam, maaf ya??.
''Kenapa minta maaf padaku???.
''Karena aku sakit semuanya jadi tertunda''.
''Kenapa kau harus minta maaf, aku mengerti kok, kita semua mengkuatirkanmu''.
''Sedang membicarakan apa???, tanya Rei yang tiba-tiba masuk ke ruang perawatan Ara.
''Membicarakan kakak, apa yang sudah kak Rei lakukan padanya, lalu kakak mengabaikan. Apa kakak seperti itu???, kata Ara menunggu penjelasan Rei.
Rei mengerti maksud adik perempuannya itu, sahabat kecilnya itu pasti akan menceritakan pada adiknya. Aku hanya menunggumu sadar dan pulih''.
''Kalau aku tidak sadar, apa kau akan terus menungguku dan mengabaikannya''.
''Apa kau tega pada kakak dan sahabatmu, kakak sudah tidak ingin menundanya dan ingin segera meminangnya, cepatlah sehat''. Kata Rei begitu santai tanpa beban apapun.
''Benarkah???, Ara tersenyum lain halnya dengan Lanlan yang diam tak bisa berkata-kata, wajahnya merah merona, dia tidak berani menatap Rei.
__ADS_1
''Kau dengar, persiapkan dirimu, aku akan mendesain gaun yang indah untukmu'', kata Ara sambil tersenyum.
Tak berapa lama nyonya Silvia datang bersama tuan Jonathan dan Ryu.
''Sayang kau sudah sadar, oh syukurlah terima kasih Tuhan nyonya Silvia langsung memeluk Ara. Bagaimana keadaanmu, mana yang sakit''.
Lanlan langsung memberikan ruang pada Mereka, bagaimanapun direktur Orland yang menyebabkan sahabatnya koma selama satu minggu ini, dan dia sendiri juga terluka, jadi keluarganya datang membesuk.
''Syukurlah sayang kau sudah sadar, daddy dan mommy berencana membawamu berobat ke luar negeri jika kamu tidak segera sadar''.
Ryu melangkah ke Arah Ara dan memberikan seikat bunga anyelir. ''Selamat semoga segera sehat. Maaf aku yang menyebabkan kau terluka, sekali lagi maafkan aku'', Ryu membungkukan badanya memohon maaf pada Ara.
Lanlan dan Rei, tidak menyangka Ryu sampai memohon maaf seperti tadi.
''Sudahlah, aku sudah lebih baik tinggal pemulihan saja, terimakasih bunganya''. Kemudian Ryu berbicara dengan Rei dan tuan Jonathan.
''Sayang lihatlah, aku membawakan foto-foto saat kami bersama orangtuamu. Nona Lanlan duduklah disini kita lihat bersama'', kata nyonya Silvia
Lanlan berjalan ke sisi kiri ranjang Ara dan duduk melihat foto yang di bawa nyonya Silvia. ''Wah apa ini ibu dan ayahmu Ra, ibumu sangat cantik, ayahmu juga tampan, mereka pasangan serasi'', kata Lanlan.
''Iya, mereka sama persis dengan yang ada di foto ini''.
''Mereka siapa maksudmu??, tanya Lanlan.
''Ibu dan ayahku, aku bertemu mereka kemarin'' kata Ara, ''anak kecil ini siapa nyonya, apa dia El??.
Ryu menoleh saat mendengar Ara menyebut nama yang biasa di pakai aunty Rania dan uncle Ar'rasi untuk memanggilnya.
''Bagaimana kau bisa tahu kalau ini El'', kau tahu hanya ayah dan ibumu yang memanggilnya dengan sebutan nama itu, El.... terdengar sangat manis bukan''.
''Siapa El???, tanya Ara.
''El adalah Ryu sayang, ayah dan ibumulah yang memanggil dengan nama itu, dan Ryu kecil sangat menyukainya, dia tidak mengizinkan orang lain memanggilnya dengan nama itu, karena nama itu panggilan kesayangan dari ibu dan ayahmu untuknya''.
Ara menutup mulutnya.
''Kenapa sayang??, tanya nyonya Silvia.
''Jadi El adalah tuan Orland''.
''Iya itu nama depan Ryu. El Ryu Saviero Orland'', jelas nyonya Silvia.
''Bagaimana kau bisa tahu kalau ayah dan ibumu memanggilnya El??. Cobalah kau panggil dia dengan nama itu, dia pasti akan senang. Jangan panggil tuan lagi, dan mommy sudah memintamu memanggil kami dengan panggilan mommy dan daddy, jangan panggil tuan dan nyonya. Kau harus membiasakannya dari sekarang''.
Ara diam memikirkan El adalah Ryu, mencerna mimpinya kemarin saat bertemu ibu dan ayahnya yang memintanya untuk memaafkan El dan tidak boleh membencinya.
__ADS_1