
Rei sudah sampai di rumah Ara, yaitu rumah peninggalan kakek dan neneknya yang ditinggali bibi An.
Ara yang melihat Rei datang segera membukakan pintu.
''Assalamualaikum'', salam Rei.
''Kak Rei baik-baik saja?
Rei melihat kekuatiran Ara, ''jawab dulu salamnya''.
''Waalaikum salam, bagaimana kak???,
sambil melangkah duduk di ruang tamu.
''Kemana Kaijun dan Ken???.
''Kaijun istirahat di kamar kak Rei, Ken langsung pulang tadi dia dapat telefon dari cafenya''.
''Bibi An dimana???
''Bibi sedang menyiapkan makan malam. Ada ayah dan bunda mereka bilang tadi ke rumah sakit tapi tidak bertemu kakak, terus ke pusat perbelanjaan tapi tidak bertemu denganku juga, lalu pulang kesini, sekarang mereka sedang istirahat''.
Hari memang sudah mulai malam saat Rei sampai rumah Ara.
''Kakak mandi dulu ya gerah, habis ini kakak cerita, kakak sapa dulu bibi An''.
Rei segera ke dapur menemui bibi An.
''Halo bibi An apa kabar?? sapa Rei ramah, dia lansung memeluk bibi An, Rei tentu juga sangat rindu dengan bibi yang selalu baik saat keluarga Rei berkunjung ke rumah ini.
Bibi An yang di peluk seketika mematung, tidak pernah mengira kedatangan Rei, dulu saat liburan sekolah Rei selalu datang menemani Ara bermain pedang, berkuda, memanah dan berlatih beladiri. Meskipun hanya saudara sepersusuan dari Ara yaitu putri yang dia rawat dan dia besarkan, tapi Rei sudah dianggap seperti cucu di rumah ini. Mereka sudah seperti adik dan kakak.
''Benarkah ini den Reino???!! sambil mengurai pelukanya, bibi hampir tidak mengenalimu, kau sudah terlalu lama pergi'', dengan raut muka bahagia, kapan datang???.
''Sebenarnya sudah dua minggu bi, maaf baru bisa mengunjungi bibi sekarang''.
''Kenapa putri bibi tidak memberi tahu???.
''Kejutan'', kata Ara yang berdiri di belakang Rei sambil tersenyum.
''Kalau bibi jantungan gimana??, suka sekali bikin kejutan''.
''Jangan kuatir bi, ada dokter spesialis jantung disini, untuk bibi gratis konsultasi dan perawatan''.
Rei tersenyum mendengar kata-kata Ara sambil mengacak rambutnya
''Bibi kamarku masih tetap kan, aku mau mandi dulu gerah nih'', tanya Rei
''Tentu saja tidak berubah, pergilah mandi biar segar habis ini makan, panggil Ayah dan bunda, juga den Kai''.
Rei segera naik ke lantai atas menuju kamar yang biasa digunakan saat dia menginap dirumah ini, kamar yang bersebelahan dengan kamar Ara dan sekarang di pakai Kai adiknya selama magang di rumah sakit Orland.
Ara membantu bibi An menyiapkan makan malam.
Tak berapa lama dokter Aisyah keluar dari kamar tamu, melangkah menuju dapur.
''Bunda sudah istirahatnya??, tanya Ara yang berjalan kearahnya.
''Iya, apa kakamu sudah pulang??.
''Kakak baru datang sekarang di kamarnya''.
''Masak apa bibi An??, biar aku bantu''. tanya dokter Aisyah.
''Dokter Aisyah duduk saja ini sudah hampir selesai, ada putri bibi yang membantu dari tadi''.
''Putri bibi sudah pandai memasak sekarang, dia belajar langsung sama chefnya''.
''Benarkah begitu sayang??, tanya bibi An.
__ADS_1
''Ihhhhh..... bunda terlalu berbangga''.
''Tentu saja bunda bangga, bunda bahkan tidak sempat mengajarimu, bibi An melarangmu membantu memasak, tapi lihat sekarang sudah pinter masak, terus masakanmu enak lagi''.
''Bunda rasa Ken sangat menyukaimu, kalau tidak mana mungkin dia mau mengajarimu secara gratis dan itu resepnya rahasia restonya''.
''Ken, cowok yang tadi itu sayang, yang pernah memohon sama bibi An minta restu waktu itu''.
''Maksud bibi An, memohon apa???, tanya dokter Aisyah
''Kalau yang dimaksud Ken yang mengantarmu pulang tadi, dia itu anak yang memohon sama bibi minta ijin buat jadi pacarmu, bibi masih ingat''.
Ara membeliakan matanya, ''tapi aku kan gak pacaran bi sampai sekarang hubungan kami hanya teman saja'',jelas Ara.
''Kamu menolaknya sayang??, tanya bunda.
''Dia itu tidak serius bunda, suka bercanda dan dia selalu berdebat dengan Kaijun, setiap bertemu pasti seperti itu. Dia menjuluki Kaijun dengan sebutan pososive brother''.
''Hahaha mereka bertiga''.
''Siapa yang possesive brother??, tiba-tiba Kai datang dan bergabung dengan mereka di dapur.
Semua menoleh ke arah Kai
''Menurutmu aku begitu??, Kai menyentil hidung Ara, Ara diam saja.
''Kalaupun iya kenapa?? bunda percaya kamu possesif itu karena bertanggung jawab untuk menjaganya, iya kan bibi An??.
''Iya Benar, bibi sangat berterimakasih karena den Kai selalu menjaga putri bibi''.
''Aku yang harus berterima kasih bi, tiba-tiba Ara memekuk Kai dan berkata di samping telinganya, terimakasih ya my possesive brother''.
Seketika Kai diam mematung tidak membalas pelukan Ara. Dia berusaha menahan bunyi detak jantungnya.
Rei selesai mandi tampak segar turun bersamaan dengan ayahnya keluar kamar mereka menuju ke dapur.
Rei melihat kedua adiknya yang sedang berpelukan dengan perasaan aneh, jantungnya terasa berdesir, ''kenapa denganku??, batinya.
''Tidak ada apa-apa'', jawab Ara, ''aku hanya berterimakasih pada Kaijun karena selalu menjagaku'', jawab Ara.
''Sudah mari makan dulu kata bibi An, semua duduk dan memulai makan malamnya sederhana namun terlihat bahagia.
''Ayah dan bunda setelah ini pulang, kami tidak bisa menginap besok pagi ayah ada jadwal operasi. Selamat ya Kak atas pengangkatan sebagai direktur rumah sakit Orland dan selamat juga untuk princes ayah kau hebat, ayah dan bunda selalu mendukung yang terbaik untuk kalian''.
''Bibi An saya nitip anak-anaku untuk tinggal disini dulu, Rei bekerja di rumah sakit Orland dan Kai juga magang disana, mereka belum ada tempat tinggal''.
''Jangan sungkan begitu dokter mereka sudah bibi anggap seperti anak bibi. Bibi senang semua berkumpul seperti ini, bisa makan bersama, lagi pula rumah ini terlalu luas jika ditempati sendirian dan tentunya sepi. Tidak perlu tinggal ditempat lain. Saya juga nitip putri kesayangan bibi yang sudah tinggal dirumah dokter''.
''Bibi An dia juga putriku'', kata dokter Firman sambil tersenyum
''Tunggu dulu, aku ambil surat wasiat dari eang mumpung kita semua disini'', kata Ara dia segera berjalan menaiki tangga memasuki kamarnya untuk mengambil surat wasiat dari kakek dan neneknya.
''Kita pindah ngobrolnya di sana saja, tunjuk bunda ke ruang keluarga. Bibi An juga harus ikut biar tahu isi surat wasiat kakek'', ajak dokter Aisyah
''Ayo bi'', ajak Rei.
''Bibi nanti menyusul biar bibi bereskan meja dulu''.
Mereka berjalan ke ruang keluarga. Dokter Firman merangkul Istrinya.
''Apa mereka selalu seperti itu??, tanya Rei pada adiknya
''Kau lihat setiap hari mereka pamer kemesraan'', bisik Kai pada kakaknya Rei, namun bisa di dengar kedua orang tuanya.
''Ayah bisa mendengar apa yang kalian bicarakan'', kata dokter Firman.
''Kak Rei cari istri sana biar tidak jeles sama ayah bunda'', kata bunda
Kai dan Rei saling pandang dan mereka tertawa berdua sampai ngakak, Rei bahkan sampai memegang perutnya
__ADS_1
Ara turun dari lantai atas membawa sebuah tas yang terbuat dari kulit dan terlihat sudah usang kemudian duduk diantara Rei dan Kai tepat didepan ayah dan bunda.
Semua diam melihat tas yang ditaruh Ara di tengah meja
''Bibi cepat kesini bergabung'', teriak Ara memanggil bibi An.
Bibi An tergopoh berdiri, ''kenapa bibi juga harus ikut??.
''Bibi An duduklah, eang berpesan bibi juga harus ikut menyimak surat wasiat darinya'', kata Ara.
Mereka masih diam semua. ''Sebaiknya Ayah yang membuka dan membacanya'', kata Ara.
Dokter Firman menatap ke arah putrinya Ara, dia diam sebentar.
''Haaahhhh baiklah ayah yang buka'', Dokter Firman segera membuka tas itu, didalamnya ada amplop coklat dan beberapa lembar kertas yang sudah di laminating, yang terbungkus rapi dalam map plastik.
Diambilnya amplop coklat yang berukuran sedang dan dibukanya, lalu dokter Firman membacakan surat wasiat dari kakek dan nenek Ara.
Semua diam menyimak, Rei yang duduk disebelah kanan Ara memegang tangan Ara, memasukan jari-jarinya disela jari Ara, sedang Kai yang duduk di kiri Ara merangkul tangan Ara menyandarkan kepalanya di pundak Ara.
Dokter Firman tidak menyangka kalau dirinya dan kedua putranya juga mendapat wasiat dari kakek dan nenek Ara, yaitu berupa permintaan untuk menjadi wali bagi Ara serta pergi berhaji bersama anak-anaknya dan diminta menghajikan kakek dan nenek serta kedua orang tua Ara, dengan tabungan yang sudah disiapkan oleh almarhum dan mengajak serta bibi An.
Selain itu Rei dan Kai juga mendapat warisan sebuah lahan yang sudah di sertifikatkan atas nama mereka, sedang Ara cucu satu-satunya mendapatkan bagian di amplop berbeda yang harus di buka oleh dia sendiri.
Bibi An mendapat warisan rumah yang mereka tinggali dan untuk seumur hidupnya tidak boleh meninggalkan rumah itu, karena kakek dan nenek sudah menganggap seperti keluarganya.
Kini giliran Ara menatap sebuah map plastik berwarna merah muda.
''Bukalah sayang'', kata bunda.
Perlahan Ara membukanya ada foto-foto kedua orang tuanya, diantara foto itu ada foto kedua orang tuanya bersama orang asing dan seorang anak lelaki kecil yang berdiri ditengah-tengah mereka. Siapa mereka? batin Ara, mereka semua ikut melihat foto-foto itu
''Waahh foto ayahmu tampan dan ibumu juga sangat cantik, pantas saja kamu cantik C dan juga menggemaskan'', kata Kai tersenyum.
Ara membalik foto yang di pegangnya, Ada tulisan dibelakangnya.
Best Friends
Daddy Jonatan Orland,
Mommy Silvia Orland
with
Uncle Ar'rasi
Aunty Rania
Me ''El Ryu Saviero Orland'' and coming soon my lovely baby girl name "Mutiara Cinta".
Ara melongo membacanya, ''tidak mungkin dia??.
Rei melihat Ara yang terdiam segera mengambil foto ditangan Ara dan membaca tulisan di baliknya, Rei nampak kaget.
''Apa dia direktur Orland??, tanya Rei dan menatap ke arah Ara. Ada hubungannya apa kalian??.
Kai melihat foto yang di pegang kakaknya. ''Ayah lihatlah'', Rei memberikan foto itu pada ayahnya.
''Coba lihat dokumenya ada sebuah amplop bersama tumpukan dokumen itu'', Kai mengambilkanya.
''Dear uncle Ar'rasi and aunty Rania
i'am so sad to day, why you go home to J city, i'am wait a little baby bonr in the word, i will take baby to around the word. When i grow up i wiill come to J city to see you and my lovely little baby''.
I will miss you
El Ryu Saviero Orland.
Mereka bertiga diam dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1