
Rei segera menyalakan kendaraanya dan melaju meninggalkan perusahaan Morgan
''Kak Rei sibuk tidak??, tanya Ara.
''Tidak, kenapa??
''Mau jalan-jalan gak??, kita makan diluar, sebentar lagi kak Rei mulai kerja di rumah sakit, pasti sibuk''.
''Ok, kalau begitu kamu kasih tahu bunda kalau kita makan di luar''.
''Siaap'', Ara segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya mencari kontak bunda dan mengirimkan chat ke bunda dan ayahnya.
''Tumben hari ini tidak lembur, ngomong-ngomong mau jalan-jalan kemana??.
''Iya sudah hampir selesai semua persiapanya sudah 99%, tinggal menunggu hari H saja''.
''Woooww kamu benar-benar bekerja keras, kita makan dulu saja ya, sambil kita pikirkan mau jalan kemana''.
''Ok aku juga sudah lapar'', kata Ara.
''Kak kita makan di Ken'z cafe & resto saja ya, sudah lama tidak kesana''.
''Jieeeee ada yang kangen nih??, ledek Rei.
''Apaan sih kak, ya sudah kalau kakak tidak mau cari tempat lain saja'' ketus Ara.
''Siapa yang bilang tidak mau, aku bilang apa tadi??.
Ara memutar bola matanya, jengah dengan ledekan Rei, ''tidak lucu'', sambil mengerucutkan bibirnya.
''Maaf deh, memang sudah berapa lama tidak ketemu sama Ken??.
''Entahlah sebulan mungkin''.
''Bagaimana kamu bisa dekat sama Ken??, kakak jadi penasaran''.
''Dia teman satu jurusan denganku, biasanya dulu saat jadwal kuliah Kaijun penuh, aku ikut ke cafe Ken sama Clara, setelah Kaijun selesai kelas baru dia jemput aku di tempat Ken''.
''Jadi benar yang dibilang kasir di cafe Ken waktu itu, memangnya wajah kakak mirip sama Kaijun.
__ADS_1
''Mirip banget sama-sama berjenis pria'', jawab Ara sambil tersenyum.
''Hahaha bisa aja kamu'', Rei mengacak rambut Ara dengan tangan kirinya dan tangan kananya sibuk mengendalikan kemudi, ''kalau Clara siapa?
''Clara itu teman sekolah Kaijun, dan sekarang menjadi temanku karena aku, Clara dan Kenzo satu jurusan''.
''Sebenarnya Clara itu perempuan yang menyukai Kaijun sejak sekolah dulu, tapi tidak tahu kenapa Kaijun selalu mengabaikannya. waktu awal kuliah dia sempat tidak suka padaku, dia mengira aku dan Kaijun pacaran, setiap hari aku dan Kaijun berangkat dan pulang kuliah bersama, tapi setelah dia tahu aku dan Kaijun saudara, lama-lama dia baik juga padaku, jadi aku ke cafe Ken tidak berdua saja tapi ada Clara juga yang menemaniku''.
''Kenapa tidak menunggu di kampus saja sampai selesai, kenapa harus ikut Ken ke kafenya???,protes Rei
Entah kenapa Rei rasanya tidak rela adik perempuannya ini dekat dengan pria lain.
''Oh ya aku janji mau cerita sama kakak, ini ada kaitanya dengan peristiwa itu''.
''Peristiwa apa? Rei penasaran dia mengernyitkan dahinya.
''Kakak janji dulu jangan marah dan jangan sampai ayah dan bunda tahu, aku tidak ingin mereka kuatir padaku ini rahasiaku dengan Kaijun''.
''Iya kakak janji, tidak akan marah dan tidak cerita sama ayah dan bunda''.
''Janji dulu'', Ara mengacungkan jari kelinking kananya Rei membalas dengan menyatukan ke jari keliling kanan Rei, sambil tetap menyetir.
''Waktu itu ulang tahunku dan Kaijun yang ke 17 tahun, Kaijun menjemputku karena ayah dan bunda memintanya, seperti biasa hanya perayaan kecil di rumah, tapi sebelum pulang kami mengunjungi makam keluargaku, saat pulang dari makam kami mengambil jalan memutari bukit. Ara mulai menceritakan kejadian awal kejadian yang saling berkaitan.
Ara menceritakan dengan detail semua peristiwa yang dialaminya dengan Kaijun, dan sampai perihal penculikan yang terjadi padanya. hingga membuat Rei kaget dan mengerem mendadak.
Ciiiiiiitttttt
''Aduh'' teriak Ara
dengan cepat Rei memegang kening ara agar tidak terantuk kaca depan mobil .
''Apa kamu bilang kamu di culik??, tanya Rei.
Seketika Rei menghentikan mobilnya yang masih di tengah jalan, untung beberapa kendaraan dibelakangnya bisa menghindar karena Rei mendadak mengerem, terdengar suara umpatan dari kendaraan di belakangnya.
''Kak minggir dulu'', kata Ara sambil memegang dadanya.
''Maaf....'', Rei segera menepikan kendaraannya di pinggir jalan.
__ADS_1
''Dia melihat ke arah Ara, ''siapa yang menculikmu??, bagaimana bisa??, tanya Rei tidak sabar.
''Dengarkan dulu ceritanya, ini belum selesai kak'', kesal Ara karena kaget dan kepalanya hampir terantuk kaca
Ara mengambil nafas panjang dan mulai bercerita kembali, dia menceritakan bagaimana dia di culik dan terbangun di puncak bukit, lalu dia kabur dengan mengambil pistol dan menodongkan pistol itu kepada penculik agar mau memulangkanya. bagaimana dia meminta penculik itu mengendarai mobil dan mengunci bodyguard dan pelayan dikamar vila, hingga sampai akhirnya ia bisa sampai rumahnya yang ada di desa.
Rei mendengarkan dengan raut wajah tegang. tanganya mengepal dan wajahnya terlihat memerah.
Ara melihat ke arah kakaknya yang masih diam terpaku menatapnya.
''Kak masih mau dengar tidak??, tanyanya.
''Iya tentu saja, lanjutkan!!!.
Ara melanjutkan cerita saat penculik itu menjadi dosen di kampusnya dan terus menguntitnya, sampai akhirnya tiap hari dia harus ikut ke cafe Ken untuk menghindari penculikan tidak terulang lagi, dan akhirnya menjadi dekat dengan Ken.
Ara melanjutkan ceritanya saat bagaimana penculik itu menyadari kesalahannya, karena dia mengingat sosok Ara yang telah menyelamatkannya dan meminta maaf dengan cara ingin menghibahkan sahamnya kepadanya dan Kai
''Kau menerimanya??, tanya Rei.
''Tentu saja tidak, kami menolaknya''.
''Aku dan Kaijun memintanya untuk menjauhi kami, karena jujur saja kami takut dan tidak bisa percaya pada ucapnya, sejak kejadian penculikan itu aku tidak diizinkan sendiri, Kaijun melarangku di rumah sendiri ataupun di kampus sendiri. dan setelah pertemuan itu mereka tidak pernah lagi terlihat hingga sekarang''.
''Maaf, aku tidak memberitahu kakak karena tidak ingin kakak kuatir dan mengganggu belajar kak Rei'', kata Ara di akhir cerita.
''Maafkan kakak yang tidak bisa menjagamu'' mata Rei berkaca-kaca.
''Ini bukan salah kakak, mungkin ini sudah takdir aku bangga memiliki kak Rei dan aku senang kakak sudah kembali, kupikir tidak akan bisa bertemu dengan kakak lagi, mata Ara berkaca-kaca aku menyayangimu kak, jangan pergi lama dan tidak kembali''.
Rei meraih tubuh Ara mengecup keningnya dan memeluknya, ''maafkan kakak, kakak egois tidak pernah pulang selama delapan tahun ini'', mereka saling memeluk erat.
Tiba-tiba saja kruruk.... kluruk bunyi perut Ara.
Rei tersenyum ''kau sudah lapar ya??, ayo kita ke cafe Ken kita minta Ken masak untuk kita''.
''Ayo sudah lama aku tidak makan masakanya'', kangen juga.
''Kangen orangnya atau kangen masaknya??, ledek Rei
__ADS_1
''Dua-duanya'', jawab Ara sambil menjulurkan lidahnya ke arah Rei.
Mereka berdua tersenyum, Rei segera menjalankan kendaraannya menuju kafe milik Ken, dia menggenggam tangan adiknya sambil tangan satunya tetap menyetir.