
Pagi ini Ryu, Morgan dan Kevin bersiap mengunjungi makan Nyonya Rania dan tuan Ar 'rasi, akan tetapi masih harus menunggu kedatangan kedua orang tuanya yaitu Jonathan Orland dan Silvia Orland, Sergio dan Deigo sudah berangkat ke bandara untuk menjeput kedua orang tua diirektur Orland, setelah pertemuanya dengan Rei dan Ara semalam dan mengetahui bahwa Ara adalah putri dari Aunty Rania dan uncle Ar'rasi, Ryu langsung menghubungi kedua orang tuanya. Mendengar kabar itu mereka langsung memutuskan untuk datang ke kota J malam itu juga.
Rei masih bekerja dirumah sakit, saat Morgan memberitahu bahwa keluarga Orland akan datang ke Kota J, dan akan pergi bersama-sama mengunjungi makam nyonya Rania dan tuan Ar'rasi.
Ara sudah bersiap, Ara memakai baju dress berwarna putih selutut dipadukan dengan sepatu ket dan topi.
''Apa aku boleh ikut??, tanya Kai
''Apa kau tidak lelah, bukanya nanti kau masih harus pergi ke rumah sakit, kak Rei bilang acaranya diundur, direktur Orland masih menunggu kedua orang tuanya''.
''Aku bisa memberitahu Lanlan, aku akan datang terlambat''.
''Kau yakin direktur Orland adalah putra dari teman dan rekan kerja ayah dan ibumu, apa eang tidak pernah cerita soal itu''.
Ara menggelengkan kepalanya. ''Segeralah bersiap, kita akan tahu nanti'', Seru Ara.
Kai segera naik ke atas untuk bersiap.
''Sayang ini bibi sudah menyiapkan, bunganya, bibi memetiknya dari kebun belakang rumah''.
''Terimakasih bibi, wah banyak banget, apa bibi mau ikut??.
''Apa boleh bibi ikut, Bibi juga sangat ingin mengunjungi mereka''. Biasanya bibi An akan mengunjungi makam mereka sebulan sekali. Dialah yang menanam aneka bunga di makam mereka, dan terkadang meminta orang untuk membersihkan area makam.
''Kenapa tidak, kalau begitu bibi An segera bersiap, sebentar lagi kak Rei datang, Kai juga ikut kok''.
''Baiklah'', bibi An segera masuk ke kamarnya dan bersiap.
Tak berapa lama Rei datang, ''Kau sudah siap princess, kenapa kau cantik sekali mengenakan baju itu'', tanya Rei
''Bukanya aku cantik dari lahir ya!!, jawab Ara, tunggu Kai dan bibi An sebentar, mereka sudah lama tidak berkunjung kesana, bolehkan mereka ikut??, tanya Ara.
__ADS_1
''Tentu saja, direktur Orland juga mengajak beberapa orang'', kata Rei. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Orang tua direktur Orland sudah tiba dikota J tadi pagi''.
Kai dan bibi An sedang bersiap, tak lama Kai turun dari lantai atas, bibi An juga keluar dari kamarnya yang terletak dilantai bawah.
''Sudah siap semua, ayo berangkat!!!, Seru Rei, semua menuju mobil. Kai hari ini tampak santai memakai kaos putih dan kemeja kotak-kotak hitam serta celana jean dan topi, tak lupa sepatu ket yang sama dengan milik Ara, sepatu itu di belikan Rei sebagai hadiah ulang tahun mereka berdua.
Rei sendiri memakai kemeja kerja putih dan celana bahan, terlihat sangat berwibawa.
Mereka segera memasuki mobil dan segera berangkat, mereka janji bertemu di Jalan menuju ke bukit.
Setelah perjalanan mereka akhirnya Kendaraan Rei menunggu rombongan kendaraan dari direktur Orland, tak berapa lama merekapun bertemu dan langsung berangkat menuju pemakaman lereng bukit.
30 menit kemudian mereka sampai di sebuah tanah yang tidak begitu luas yang berada di lereng bukit, suasananya sangat sepi namun udaranya sejuk, kanan kiri jalan banyak pohon besar dan banyak ditumbuhi rumput ilalang saat tiba di depan pemakaman milik keluarga Ara, beraneka bunga mawar, bunga krisan, dan bunga matahari serta bunga lain tumbuh dan tertata rapi disana.
Diantara bunga-bunga yang tumbuh dan tertata rapi itu terdapat empat batu nisan.
Rei, Kai, Ara dan bibi An berjalan lebih dulu diikuti Ryu yang membawa seikat bunga berwarna putih, dan nyonya Silvia dan tuan Jonathan bersamanya, kemudian dibelakang mereka ada Kevin, Morgan, Sergio dan Deigo. Nyonya Silvia dan tuan Jonathan nampak bergandengan, Nyonya Silvia mengenakan kaca mata hitam berjalan dengan anggun.
Ryu mendekati batu nisan itu melihat diatasnya ada foto dan nama yang tertulis disana serta tanggal lahir dan wafatnya. Ryu berjongkok di depan batu nisan, dia tidak bisa menahan rasa di hatinya, punggungnya terlihat bergetar dia menyandarkan kepalanya di batu nisan, ''Aunty apa yang terjadi, selama 21 tahun aku selalu menunggumu kembali, apa kau tahu aku sangat merindukanmu, aku menyanyangimu, kenapa semua ini bisa terjadi'', Ryu menangis di depan batu nisan nyonya Rania, tangisanya terasa sangat memilukan.
Tuan Jonathan Orland melihat tulisan di batu nisan milik Tuan Ar'rasi dan Nyonya Silvia Orland ikut berjongkok di dekat Ryu dia melihat batu nisan itu dan ikut menangis.
''Rania benarkan semua ini'', guman nyonya Silvia, ''apa yang terjadi pada kalian berdua, selama 21 tahun kami mencarimu. Aku tidak percaya kalian meninggalkan kami begitu saja''. ucap nyonya Silvia, tuan Jonathan memeluk istrinya, dia tidak berkata apapun, wajahnya tertunduk dan punggungnya bergetar. sepertinya dia juga menangis.
Semua yang ada disitu ikut menangis, pertemuan yang sangat mengharukan, bertahun-tahun mencarinya dan hanya menemukan batu nisan saja, bahkan Sergio dan Deigo yang berbadan kekar tidak bisa menahan air matanya. Melihat direktur Orland yang biasanya berwibawa, kini terduduk menangis di depan batu nisan mereka.
Mereka larut dalam kesedihan
Tidak ada yang berbicara Rei, Ara Kai dan juga bibi An, juga ikut menunduk, air mata Ara mengalir begitu saja. Mereka berempat memang tidak ada yang mengenal ayah dan ibu Ara, tapi melihat mereka menangis di depan batu nisan keluarganya membuatnya pilu.
Sampai beberapa saat kemudian diam dan hening mereka berdoa dan diikuti yang lainya, dengan kepercayaan masing-masing.
__ADS_1
Nyonya Silvia berdiri ke arah Ara, ''apa kau putri Rania dan Ar'rasi???, tanyanya
''Iya Nyonya'', jawab Ara
Silvia melihat wajah Ara lama, kau benar-benar putri mereka, kau memilik perpaduan wajah kedua orang tuamu, bolehkan aku memelukmu sayang''.
Ara diam tak menjawab.
''Aku Silvia Orland dan dia suamiku Jonathan Orland, kami teman ibu dan ayahmu, sudah lama kami mencarinya, tapi tak juga menemukannya''.
''Apa Nyonya dan tuan sangat dekat dengan ayah dan ibuku. Aku sama sekali tidak mengenalnya''.
''Iya, kami bersahabat sudah cukup lama sebelum kami menikah, kami sudah seperti keluarga'', jawab nyonya Silvia.
''Kau mewarisi wajah kedua orang tuamu'', kata Tuan Jonathan yang berdiri di samping nyonya Silvia.
Nyonya Silvia segera menarik Ara ke dalam peluknya, dan diikuti tuan Jonathan. ''Bagaimana kau hidup selama ini''. Air mata nyonya Silvia mengalir kembali. Nyonya Silvia dan tuan Jonathan memeluk Ara erat, Ara diam saja tidak membalas pelukan mereka, kemudian tuan Jonathan dan nyonya Silvia melepas pelukanya.
''Kau tidak percaya kalau kami mengenal orangtuamu, ikutlah pulang bersamaku aku akan menceritakan semua tentangnya''.
Ryu melihat sikap Ara yang ragu-ragu, dia seperti takut pada mereka. ''Apa mungkin dia trauma??, batin Ryu.
''Mom panggil Ryu, Mommy baru datang dan langsung kesini, mommy harus beristirahat dulu masih banyak waktu untuk bicara dan mengenalnya, sebaiknya mommy sama daddy pulang dan istirahat terlebih dahulu, aku akan minta Morgan mengatur waktu untuk bertemu nona Ara, tapi setelah lelah mom hilang. Aku masih ada urusan dengan dokter Rei''.
''Dokter Rei ada yang ingin aku bahas dengan anda, kau ada waktu??.
''Tentu'', jawab Rei.
''Mom kembalilah dulu ke Vila bersama Deigo, beristirahatlah disana''.
''Baiklah mommy sama daddy pergi dulu, sampai ketemu lagi sayang'', mereka beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ara hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia jongkok di depan makam keluarganya ditemani Kai dan bibi An serta Rei, setelah itu mereka menabur bunga diatas keempat batu nisan itu.