
''Apa aku boleh menolaknya????, kata Ara tiba-tiba, menghentikan tawa mereka.
''Kau tidak harus menjawabnya sekarang princess, ayah dan bunda ingin kau mempertimbangkan dan memikirkan baik-baik, karena ini menyangkut masa depanmu, bukankah kau ingin ta'aruf. Kau bisa mengenalnya lebih jauh tentang keluarganya saat taaruf. Jika nanti kau tidak bisa menerima, kau harus punya alasan untuk menolaknya''.
''Ayah tidak bermaksud menjodohkanmu ataupun memaksamu menerimanya, Ayah juga tidak tahu di masa lalu hubungan mereka dengan orang tuamu seperti apa''.
''Aku belum ingin menikah yah'', kata Ara kemudian, ''aku ingin menyelesaikan kuliah dulu dan tinggal bersama ayah dan bunda kak Rei dan juga Kaijun'', mata Ara berkaca-kaca, dia terdiam tidak bisa melanjutkan perkataannya, dia tidak tahu apakah harus menerima atau menolak, Ara memang tidak mengenal keluarga Orland, kakek dan neneknya juga tidak pernah menceritakan tentang mereka.
''Sudahlah jangan terlalu dipikirkan'', kata Rei kemudian menenangkanya. Rei membelai rambut adiknya. ''Kakak juga belum ingin menikah, kita baru bisa berkumpul, setelah sekian lama, kenapa juga harus pusing dengan pernikahan. Nanti kakak akan bicara dengan direktur Orland. Kau tenang saja''.
''Oh ya sebelum nyonya Silvia dan tuan Jonathan kembali ke negaranya, mereka ingin berpamitan dengan kita, mereka akan mengadakan perjamuan di resort yang berada di bukit. Mereka mengundang kita semua. Termasuk bibi An'', kata Rei.
''Kapan kak??, tanya Kai
''Minggu depan mereka akan kembali ke negaranya'', semalam Direktur Orland memberitahuku, jawab Rei
Tiga hari kemudian nyonya Silvia dan tuan Jonathan serta direktur Orland mengundang keluarga Firman untuk perjamuan perpisahan mereka di resort milik keluarganya di bukit.
Rei berangkat dengan adiknya Kai dan bibi An, kali ini dia juga mengajak Lanlan. Entahlah kenapa Rei mengajaknya, dia hanya tidak ingin adik perempuannya tidak nyaman disana.
Sedangkan dokter Firman berangkat dari kota J bersama istri dan princess kesayangannya.
Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam dari kota J, akhirnya dokter Firman sampai di resort milik keluarga Orland.
Suasana di resort tampak tidak terlalu ramai, terlihat ada beberapa tamu asing yang sedang berjemur di tepi pantai didepan Resort. Suasanya tenang dan udara yang segar, serta ombak pantai yang pelan.
Lanlan yang datang lebih dulu bersama Rei, Kai dan bibi An, dia melihat kedatangan sahabat kecilnya Ara langsung berlari memeluknya.
''Ini bukanya teman kecil kamu sayang'', tanya dokter Aisyah.
''Iya bunda dia Bulan Tsabit alias Lanlan. Dia magang bersama Kai. Dia calon istri kak Rei'', bisiknya pada dokter Aisyah sang bunda, bunda tersenyum mendengar bisikan putrinya meski agak kaget.
Dan Kai berbisik pada ayahnya, 'dua calon istri kak Rei'', sontak saja Rei langsung menarik telinga Kaijun.
''Aduuhhh apaan sih kak'', keluh Kai.
''Halo dokter, sapa Lanlan ramah dan menjabat tangannya bergantian dan mencium tangannya''.
''Kamu sudah besar ya. Apa benar ini calon menantu bunda sama ayah''.
''Bukankan dia gadis kecil yang selalu minta gendong sama ayah saat princess ayah minta gendong''.
''Benar yah, dia Lanlan''.
''Wah sudah siap jadi istri Rei???, tanya dokter Firman
"Ara apa yang kau katakan?", wajah Lanlan langsung berubah merah menahan malu, bisa-bisanya sahabatnya mengatakannya di depan orang tua pria yang dia sukai selama ini.
Ara yang mendapat tatapan tajam dari sahabatnya langsung bersembunyi di belakang Rei,
Rei tersenyum melihat tingkah konyol kedua adiknya dengan sahabatnya.
Rei sesaat berfikir mungkin bagus juga punya istri sahabat dari adiknya, mereka bisa akrab dan tidak sungkan. Mereka bertiga tertawa melihat Lanlan yang selalu salah tingkah dengan kejahilan ke dua saudara sepersusuan itu.
__ADS_1
Nyonya Silvia dan tuan Jonathan beserta Ryu segera menyambut kedatangan mereka
Acara itu berlangsung dengan suasana kekeluargaan.
''Apa mereka semua putra-putri anda dokter???, tanya nyonya Silvia.
'isa nyonya, saya memiliki dua putra dan satu putri, dan ini teman kecil putra putri kami, Dia calon menantu kami'', kata bunda yang membuat Lanlan semakin malu dan tidak bisa menyembunyikan raut mukanya yang sudah seperti kepiting rebus.
''Jadi Dokter Reino sudah punya penggantinya???. Selamat ya saya tunggu undangnya''.
''Hahaha Direktur Orland bisa saja. Rei sedikit salah tingkah, hampir saja Ryu keceplosan. Dia memang sempat mengatakan pada Ryu kalau dia sangat mencintai Ara adik sepersusuanya, untung Ryu tidak menyebutkan namanya.
''Mari silahkan menikmati dulu hidanganya, nanti saja berbincangnya, perjalanan kesini lumayan jauh pasti melelahkan'', seru tuan Jonathan.
Mereka segera menikmati hidangan yang disiapkan oleh resort milik keluarga Orland. Ryu melihat ke Arah Ara yang terus menghindarinya. Ara terus mengabaikan keberadaanya.
''Hemmmm, Ryu mendekati Rei apakah kalian sudah memberitahunya, dia terus mengabaikannya''.
''Haahhh, kurasa anda terlalu cepat mengambil keputusan, dia belum memikirkan pernikahan dan aku sudah pernah bilang dia mau taaruf''. jawab Rei, sambil melihat ke arah Ara dan Lanlan serta Kai yang begitu akrab.
''Lalu aku harus bagaimana? apa aku harus menunggu lagi??, tanya Ryu.
''Aku sudah bilang, jangan memaksakan keinginanmu, dia bisa kabur, kalau kau tidak mau bersabar''.
''Apa hubunganmu dengan perempuan itu serius???, kau sudah bisa menghapus perasaanmu padanya???, mereka sangat akrab'', tanya Ryu.
''Dia sahabat Ara dari kecil sampai sekarang, kami sudah mengenalnya dari dulu, kedua adikku yang terus menjodohkanku, dulu saat mereka kecil dan kami berkunjung ke rumah eang dia selalu menemani Ara bermain, saat Ara minta gendong padaku atau pada ayah, dia juga begitu, sampai sekarang aku baru tahu kalau dia memiliki perasaan suka padaku, saat ini dia juga magang di rumah sakitmu dengan Kai''.
''Benarkah???, Kau punya pengagum rahasia rupanya, yang aku tahu adik Kevin juga menganggumi Kai, adikmu itu, tapi selalu diabaikan olehnya. Apa Kai juga menyukai saudara perempuannya sepertimu??.
''Entahlah, selama ini dia tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, dari dulu dia hanya ingin bisa tinggal bersama Ara, bahkan dia meminta pada eang agar Ara diizinkan tinggal bersama kami''.
Ryu dan Rei mengobrol sambil melihat Ara, Kai dan Lanlan yang juga terlihat akrab.
''Kenapa banyak sekali pria yang menyukainya, aku masih harus bersaing dengan pengacara Henry dan Morgan''.
''Apa anda takut, kalau dia tujuan anda, anda harus berusaha''.
Sedang Lanlan mereka duduk di meja berbeda dan mengomel kepada kedua sahabat itu.
''Apa yang tadi kalian katakan, kalian membuatku malu tahu???.
'''Hahaha'', Ara dan Kai tertawa,
''Dengar ya sahabatku tersayang, kak Rei itu sedikit lambat untuk menyadari perasaannya, kami sudah membantumu, selebihnya kau sendiri yang harus berusaha''. Kata Ara sedikit berbisik.
''Jangan kuatir, sebenarnya sahabat kecilmu ini juga sudah dipinang, dia hanya tidak tahu harus menerima atau menolaknya''. Kai menimpali.
''Benarkah, siapa yang sudah meminangmu???, tanya Lanlan.
''Kau lihat pria yang mengobrol dengan kak Rei'', kata Kai
Lanlan membelalakan matanya, ''maksudmu direktur Orland, serius Ra? eeeemmmmm''
Ara membungkam mulut Lanlan, Dia bicara sedikit kencang.
__ADS_1
"Siapa yang mau menikah dengan penculik seperti dia", elak Ara.
''Eeiiiittt, jangan bersumpah serapah, nanti bisa jadi kenyataan loh. Apa yang tidak mungkin bisa jadi mungkin, Tuhanlah yang maha membolak balikan hati manusia'', tegur Lanlan pada sahabatnya. ''Jangan terlalu membenci, benci itu beda tipis dengan cinta'', lanjutnya.
''Aku tidak membenci, tapi aku tidak suka cara dia seperti itu. Dia pikir semua bisa dinilai dengan uang, dan dengan uang dia melakukan apa saja yang dia mau, tanpa memikirkan akibatnya dengan apa yang dia lakukan'', kesal Ara.
''Lalu bagaimana dengan si cantik Clara, apa kau masih saja mengabaikannya??, tanya Lanlan, ''kau kejam Kai, kurasa dia tidak suka saat aku berada dekat denganmu''.
''Aku tidak ada hubungan apa-apa denganya'', jawab Kai santai.
''Haahhhh menyebalkan''.
Sedangkan di meja lain para orang tua juga terlihat mengobrol.
''Bibi An jangan sungkan, kami sangat berterima kasih pada anda, karena telah merawat putri sahabatku, Rania dan Ar'rasi''. Seru Silvia.
'Apa bibi An mengenal mereka, maksudku orang tua Ara'', tanya tuan Jonathan.
''Maaf tuan saya tidak mengenalnya, saya datang ke keluarga mereka waktu itu dibawa kakek dan neneknya saat Ara masih berusia tiga bulan, dan baru diambil dari rumah dokter Firman dan dokter Aisyah'', Jawab bibi An.
''Benar nyonya Silvia, bibi An memang yang merawat Ara dari bayi sampai sekarang, bibi An sudah seperti keluarga kami''.
''Kami sangat berterima kasih pada anda semua yang sudah merawat dan memberikan kasih sayang yang tulus padanya, kami juga ingin suatu hari nanti semuanya mau mengunjungi kami dan Ara mau tinggal bersama kami di Dubai, perusahaan yang kami dirikan disana adalah jerih payah kami dan orang tuanya. Kami berharap nanti dia mau melanjutkan study disana, dan saya harap dokter Firman sekeluarga berkenan mengijinkanya dan berkunjung ke sana. Lusa kami akan kembali ke Dubai''. Jelas nyonya Silvia.
''Terimakasih nyonya dan tuan semoga kita bisa menjalin silahturahmi ini dengan baik'', jawab dokter Aisyah.
''Bagaimana dengan pinangan kami dokter, apa Ara menerimanya???.
''Maafkan kami tuan nyonya, bukanya kami menolak, kami tidak bisa memaksanya, putri kami bilang dia belum memikirkan perihal berumah tangga, dia malah ingin kakaknya Rei yang menikah dulu, mungkin ini terlalu cepat, biarkan mereka saling mengenal dulu, kalau memang mereka berjodoh pasti akan dimudahkan'', jawab dokter Firman.
''Kami tahu dokter, ini mungkin terlalu cepat karena memang kita baru bertemu dan belum lama saling mengenal, tidak perlu sungkan. Kami terlalu senang bertemu dengannya, kami bersyukur mereka masih meninggalkan penerus keluarga mereka''.
''Ara sayang aku ingin bicara sebentar denganmu!!!, kata nyonya Silvia
''Sayang lusa kami akan kembali ke Dubai, dan kamu pasti sudah mendengar soal pinangan itu, mommy dan daddy ingin kamu memikirkanya dengan baik, mungkin ini terlalu cepat bagimu, kita baru kemarin saling mengenal. Masalah Ryu di masa lalu, mom sangat berterima kasih karena telah menolongnya dan tolong maafkan Ryu putraku atas apa yang dia lakukan di masa lalu. Kalau dia tahu kau putri Rania dan Ar'rasi dia pasti tidak akan melakukan hal seperti itu padamu''.
Acara mereka diakhiri dengan berkeliling resort, dan berfoto bersama, tanpa sepengetahuan Ara Ryu mengambil beberapa gambar melalui ponselnya.
Hari kian berganti, Nyonya Silvia dan tuan Jonathan sudah kembali ke Dubai, mereka memang menetap disana, dan putranya Ryu kini fokus pada bisnisnya di kota J, Ryu mengawali usahanya di London karena saat itu dia belajar bisnis di salah satu universitas ternama disana, dia memiliki beberapa bisnis di sana. Tapi kali ini dia punya alasan kuat untuk mengelola bisnisnya di kota J, yang awalnya hanya mempercayakan pada assintenya Kevin dan Morgan. Kini dia punya tujuan hidup yaitu mendapatkan Ara kembali, meskipun Ara sampai sekarang terus saja menghindarinya.
Waktu magang yang ditentukan hanya 6 bulan dan waktu itu dimanfaatkan Ryu untuk memperbaiki semua, seperti saat ini Ryu meminta pihak HRD agar Ara ditempatkan diruanganya, dengan alasan dia harus belajar mengelola perusahaan. Karena kedua orang tua Ara memiliki usaha bersama kedua orang tuanya di Dubai. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada, agar bisa dekat dengan gadisnya. Calon istri yang ia harapkan sejak masih dalam rahim sang ibu.
Sebelumnya Ara bertukar posisi dengan Clara sahabatnya yang merupakan adik dari asisten Kevin di departemen pertelevisian selama sebulan, setiap bulan berpindah ke divisi lain. Pagi ini Ara diminta untuk ke ruang HRD.
''Kenapa harus saya bu, bisakah saya ditempatkan di bagian lain saja'', tolak Ara pada HRD, yang memintanya bekerja di lantai 25 yang merupakan kantor dan appartement milik direktur Orland.
''Nona Ara ini permintaan direktur Orland, karena ini perintah langsung dari nyonya Silvia dan tuan Jonathan. Anda harusnya senang karena selama ini tidak ada karyawan magang yang ditempatkan disana. Direktur bilang anda harus belajar mengelola perusahaan dari sekarang. Saya tidak tahu hubungan anda dengan keluarga direktur Orland seperti apa''.
''Saya hanya menjalankan perintah nona, tolong bekerjasamalah, kalau anda tidak pergi ke lantai 25 saya bisa dipecat. Lagi pula nona tidak akan di terima di departemen lain, kata seorang wanita yang diketahui sebagai kepala di sana dengan raut muka sedih''.
Ara tidak bisa mengelak, sebenarnya magangnya tinggal 1 bulan saja, tapi dia tidak tahu harus menerima atau mundur. Kalau mundur dari magang dia harus memulai dari awal lagi dan mencari perusahaan lain, sangat disayangkan, kalau dia harus mundur.
Ara berfikir untuk mempertimbangkan, dan lagi menurut cerita kakaknya Rei, direktur Orland tidak akan berani macam-macam padanya. Dia tulus ingin memperbaiki hubungan dengannya, meski sedikit kuatir Ara akhirnya menerimanya.
"Baiklah kapan saya mulai belajar disana"
__ADS_1
''Sekarang nona bisa langsung kesana''.
''Ok saya permisi'', Ara melangkah ke lift dan menekan angka 25. Pikirannya berkecamuk, dia tidak tahu bagaimana nanti berhadapan dengan direktur Orland, dia ingin sekali menolaknya, tapi takut jadi anak durhaka.