Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
Episode 49


__ADS_3

Mereka bertiga diam, tidak ada yang berbicara. Silvia dan Jonathan begitu kesal dengan Ryu.


''Dad mom aku ada saran'', kata Ryu.


''Apa itu??, tanya balik Jonathan


''Apa tidak sebaiknya daddy menemui dokter Firman dan dokter Aisyah terlebih dulu. Mungkin mereka tahu bagaimana aunty Rania dan uncle Ar'rasi meninggal. Dokter Rei bilang ayahnya yang membantu proses persalinan Aunty Rania'', jelas Ryu


''Menurutmu begitu??, tanya Jonathan.


''Ya..., jawab Ryu, mungkin saja Dokter Firman tahu penyebabnya, tapi.....'',


''Tapi kenapa????, tanya Silvia


''Jangan membahas masalah penculikan dengan mereka, dokter Rei bilang kedua orang tuanya tidak tahu soal penculikan, kedua anak itu tidak mau masalahnya bertambah panjang jika sampai kedua orang tuanya tahu, dan lagi saat penculikan tidak ada berita tentang peristiwa itu jadi dia tidak akan melihat beritanya di media, itu sangat membantu proses pemulihanya, jadi jangan mengungkit masalah penculikan, agar Ara bisa segera pulih''.


''Baiklah, sebaiknya kita menemui mereka terlebih dahulu. Lalu bagaimana caranya daddy bisa bertemu mereka???.


''Aku akan minta bantuan dokter Rei untuk memberitahu mereka, kapan mereka bisa bertemu dengan kita pastinya akan aku kabari nanti''.


''Baiklah aku tunggu kabar darimu, aku kesini juga mau bertemu Eric ada yang ingin aku bicarakan denganya''.


''Mom saat ini Ara sedang di tempatkan di departement fashion dan desain. Kalo mommy ke sana sekarang bisa jadi akan bertemu dengannya disana'', tegur Ryu.


''Mommy ada urusan dengan Eric, lagi pula mommy tidak ada masalah dengannya, yang ada masalah itu kau Ryu. Apa kau lupa dulu saat aunty Rania hamil kau berjanji akan menjaganya, melindunginya, kau bahkan ingin menikahinya jika aunty Rania melahirkan anak perempuan, padahal waktu itu umurmu baru enam tahun, kamu tahu mommy dan daddy sudah setuju jika memang anak Rania terlahir perempuan, maka kalian akan menikah nanti, tapi jika laki- laki kalian akan terus mengembangkan bisnis bersama, dia akan menjadi saudaramu. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang dengan keadaan dia seperti itu, Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu''. Silvia bicara panjang x lebar.


Ryu tidak bisa berkata-kata lagi, baginya tidak masalah dia harus menikahinya, karena memang itu harapannya sejak kecil, tapi masalahnya Ara tidak pernah ingin mempunyai hubungan apapun denganya lagi, dari awal dia sudah meminta Ryu menjauhinya dan tidak mengusik kehidupannya, Ryu mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak bisa bertindak seenaknya, terlebih jika dia memaksanya bisa jadi dia akan depresi dan nekat melakukan hal tidak diiginkan. Ryu menyandarkan kepalanya yang terasa berat, matanya berkaca-kaca, berkali-kali dia mendesah.


Silvia keluar dari ruangan Ryu menekan tombol lift, dan berpapasan dengan Kevin yang hendak keluar Lift.


''Slamat Siang nyonya Silvia'', sapa Kevin sopan.


''Siang Kevin, apa kau tahu departemen fashion dan desain ada di lantai berapa???, tanya Silvia pada Kevin.


''Lantai 9 nyonya, nyonya mau kesana??, apa perlu saya antar??.


''Tidak perlu, trimakasih''.


Silvia langsung masuk ke dalam lift dan menekan angka 9


Kevin heran melihat nyonya besar keluarga Orland, ibu dari bosnya itu tampak terlihat kesal. Kevin segera masuk ke ruangan Ryu.


Ting..... lift telah sampai dilantai 9


Silvia segera keluar dari lift.


''Slamat siang nyonya'', sapa karyawan disana.


''Apa Eric ada di dalam??, tanya Silvia.


''Iya nyonya silahkah, mari saya antar''.

__ADS_1


Karyawan itu mengantar Silvia ke ruangan Eric.


''Nyonya Silvia, apa kabar???, sapa Eric yang melihat Silvia masuk ke ruang kerjanya, karyawan yang mengantar segera kembali ke tempat kerjanya, ''kenapa tidak mengabari kalau mau datang''. Mereka berdua saling berpelukan.


''Apa anda sendirian saja??, tanya Eric lagi.


''Aku datang dengan suamiku dia sedang bersama putraku'', jawab Silvia. Silvia melihat-lihat ruang kerja Eric.


''Begitu rupanya??, kata Eric kemayu.


''Apa kau sudah mencari informasi yang aku minta???, tanya Silvia.


''Sudah nyonya tapi aku belum mendapatkanya. Sepertinya dia sangat pandai menyimpan identitasnya. Dikota ini tidak ada butik atau desainer yang anda maksud, karyawan disini juga tidak ada yang tahu atau mengenalnya''. Jelas Eric.


Silvia melihat-lihat rancangan para desainer di sana, dan saat melihat sebuah gaun yang digantung di ruang kerja Eric, dia mengamatinya dengan seksama ada sebuah tulisan yang tidak begitu nampak namun masih bisa terlihat oleh Silvia.


''Eric gaun ini rancangan siapa??, tanyanya.


''Oh nyonya Silvia apa anda menyukainya??. Gaun ini dibuat oleh pekerja magang, kemarin dia baru mengadakan fashion show pertamanya dalam rangka peresmian pusat perbelanjaan Orland di pinggiran desa kota J. Beberapa hari setelah acara desain pakaiannya terjual habis, hanya tersisa gaun ini'', jelas Eric


''Apa dia bekerja disini??, tanya Silvia lagi.


''Iya dia sedang magang disini sekarang''.


''Bisakah aku bertemu dengannya???,


''Apa anda sangat tertarik dengan rancangannya??, tanya Eric


''Aku penasaran dengan desainer gaun ini, apa kau bisa lihat detail desain ini, dimana terdapat tulisan yang tidak begitu terlihat, tapi aku bisa melihatnya. Ini hampir sama dengan desain baju yang aku beli secara online. Apa setiap desainnya selalu ada simbol seperti ini''.


''Seperti sangat mirip'', Silvia mengeluarkan ponselnya menunjukkan foto-foto dimana setiap desain itu ada sejenis simbol yang mirip dengan desain gaun yang ada di ruang kerja Eric.


''Bisakah kau panggil dia kesini??, pinta Silvia.


''Tentu saja, tunggu sebentar nyonya aku panggil dia dulu''.


Eric segera memerintah karyawanya untuk memanggil Ara ke ruanganya.


Tak berapa lama Ara masuk ke ruang Eric, dia sedikit kaget melihat nyonya Silvia berada disana, begitu juga dengan nyonya Silvia.


''Baby Ara kenalkan dia ini nyonya Silvia Orland, desainer sekaligus pemilik perusahaan fashion yang sangat terkenal di Dubai. Nyonya Silvia dia Mutiara Cinta, orang yang mendesain gaun di tangan anda itu''.


Ara menganggukan kepalanya.


''Sayang, kau disini??, pura-pura Silvia tidak tahu, sebenarnya Ryu sudah memberitahunya.


''Iya nyonya, Silvia langsung memeluk Ara membelai wajahnya ''kau cantik sayang''.


''Hemmm, nyonya sudah mengenalnya??, tanya Eric heran.


''Eric dia ini putri Rania?

__ADS_1


''Apa maksud nyonya Silvia? Rania siapa yang anda maksudkan?


''Tentu saja Rania istri Ar'rasi rekan kita di Dubai''.


''Apa....???, kaget Eric, ohh baby kenapa kau tidak bilang, lalu dimana Rania dan Ar'rasi???, tanyanya


''Duduklah dulu sayang'', ajak Silvia menarik tangan Ara mengajaknya duduk di sofa.


''Apa nyonya Silvia serius, dia benar-benar putri Rania dan Ar'rasi??, tanya Eric


''Iya, aku datang kesini karena dia. Aku dapat kabar beberapa hari lalu, Ryu telah menemukan putri Rania dan Ar'rasi. Aku dan Jonathan langsung terbang kesini. Tapi sayang Rania dan Ar'rasi sudah tiada'', kata Silvia dengan sedih. Silvia memegang tangan Ara mengelusnya. Matanya berkaca-kaca.


''Ohhh, bagaimana bisa, aku senang tapi sekaligus sedih mendengarnya''.


''Bagaimana putra tampanmu itu bisa menemukannya??, tanya Eric lagi.


''Ceritanya panjang Eric??, kau tanyakan saja padanya.


Ara hanya diam, entah kenapa dekat dengan Silvia membuatnya tenang. Dia merasa dekat dengan ibu dan ayahnya, walaupun dia tidak pernah tahu kedua orang tuanya.


''Sayang apa benar gaun ini hasil rancanganmu??.


''Iya benar nyonya Silvia''.


''Kau yakin??, tanyanya sekali lagi


''Saya yakin'', jawab Ara.


''Apa kau pernah menjual desainmu secara online??, tanya Silvia lagi.


''Iya saya menjual desain saya secara online''.


Silvia mengambil ponselnya membuka folder album foto dan menunjukkan ke Ara, ''apa ini juga desainmu??.


''Itu dari mana anda mendapatkan desain foto itu nyonya???.


''Jadi benar ini desainmu sayang????.


''Iya, saya sudah menjualnya secara online ke pihak asing.Bagaimana nyonya Silvia punya desain itu???.


''Tentu saja, karena perusahaanku yang membeli desainmu selama ini sayang'', kata Silvia


Ara melongo, membeliakan matanya dan segera menutup mulutnya, begitu juga dengan Eric hari ini dia benar-benar mendapat kejutan dari nyonya Silvia.


''Benarkah'', tanya Ara terkejut hampir bersamaan dengan Eric.


''Selama ini aku mencari informasi tentang desainmu, aku mengirim Eric kesini untuk mencari tahu sekaligus mehendel pekerjaan disini. Tadi aku menanyakan pada Eric tapi dia bilang belum mendapatkan informasi yang ku inginkan. Aku melihat gaun ini dan mencocokkan dengan desain-desain yang ku beli, bukankah ini seperti simbul dari rancanganmu. Ini seperti tulisan MC. Arasi''.


''Bagaimana anda bisa tahu nyonya, tidak ada yang tahu kalau itu sebuah simbul'', tanya Ara.


''Aku sudah mengamatinya lama sayang, mungkin sudah takdir Tuhan kita dipertemukan dengan cara seperti ini'', kata Silvia.

__ADS_1


''Ohhhh aku benar-benar terharu, kau banyak membawa kejutan baby, kita harus merayakannya nyonya''.


''Kau benar Eric, kita harus merayakannya, ayo kita pergi makan siang bersama sayang aku akan menghubungi Jonathan''.


__ADS_2