Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
Episode 81


__ADS_3

Ryu telah berangkat ke London pagi tadi, sebelum berangkat pagi tadi Ryu menghubungi Ara namun tidak ada jawaban. Princess cantik keluarga Firman itu masih tidur begitu pikir Ryu, beberapa kali Ryu menelfon tapi sepertinya ponsel Ara sedang di matikan, alhasil Ryu hanya bisa mengirimkan pesan.


Cuaca pagi ini membuat orang malas bangun, hujan dan awan gelap menyelimuti kota J.


Ara memang sudah tidak ada kegiatan ke kampus, sembari menunggu wisuda dia sibuk mengurus dokumen yang dibutuhkan untuk studinya ke Dubai, membuat beberapa desain atau pergi ke Ken'z cafe untuk sekedar bersantai dan menemui sahabatnya yang patah hati karenanya.


Pagi ini Ara sedang bermalas -malasan di kamarnya. Dia bangun dan bersandar di ranjang mengambil ponselnya. Ara selalu mematikan ponselnya kalau sedang tidur, karena tidak ingin di ganggu dengan chat grup ataupun panggilan masuk yang bisa mengaggetkanya. Dengan malas Ara membuka ponselnya, beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk membuat ponselnya bergetar.


Pesan 1... ''Princess kenapa ponselmu dimatikan, apa kau masih tidur??


Pesan 2...''Apa kau benar-benar tidak berubah pikiran, tidak ingin ikut bersamaku ke London???.


Pesan 3...''Aku sangat berharap kau mau ikut serta, kalau tidak aku benar-benar akan merindukanmu''.


Pesan 4...''Pesawatku sebentar lagi berangkat, bangunlah aku ingin mendengar suaramu sebentar saja''.


Pesan 5...'-Cuaca sangat gelap dan hujan, doakan penerbanganku lancar''.


Pesan 6...''Aku berangkat princess, jaga dirimu''.


Pesan 7...., ''Tunggu aku kembali


I LOVE YOU Princess Ara''.


Ara membaca satu persatu pesan yang dikirim Ryu dan melihat beberapa kali panggilan tak terjawab darinya.


Ara kemudian membalas pesannya, dia tahu saat ini pria itu sedang di dalam pesawat dan tentu dilarang menyalakan ponselnya.


''Maaf El aku tidak bisa, semoga lancar perjalanannya dan segera bisa menyelesaikan pekerjaan dan permasalahan di sana, take care''. Ara segera menekan tombol send.


Sore ini Ara sedang bersantai menonton siaran televisi, namun ada berita terdengar sangat tidak mengenakan, beberapa saluran televisi menyiarkan berita hilangnya sebuah pesawat yang terbang dari kota J menuju London. Ara melihat siaran berita televisi itu, tiba-tiba jantungnya seperti berhenti berdetak, pikiranya terbang memikirkanya.


Kai dan Lanlan ikut menyimak berita itu. Kai melihat Ara yang diam entah memikirkan apa.


''C kau kenapa wajahnya terlihat pucat??, apa kau sakit??, tanya Kai


''Tidak, tidak mungkin pesawatnya kan??, katanya lirih.


''Maksudnya??, kata Lanlan menoleh ke arah Ara.


''Pagi ini El bilang berangkat ke London.''


''Maksudmu direktur Orland menumpang pesawat itu???, tanya Kai


''Aku tidak tahu, dia menumpang pesawat mana.''


''Dia ke London, pesawatnya berangkat jam berapa??, tanya Kai


''Tadi pagi, dia kirim pesan sebelum berangkat.''


''Kenapa tidak tanya, coba hubungi dia dulu dia jadi pergi atau tidak.''


''Aku sudah mengirim pesan tadi, pesanku belum di baca.''


''Haaahh ...,semoga tidak terjadi apa-apa padanya'', kata Lanlan sambil memeluk Ara.


''Tenang jangan panik, kita tunggu saja dulu kabarnya'', kata Kai menenangkan saudara sepersusuanya itu.


Tak berapa lama dokter Firman dan dokter Aisyah datang,


''Assalamualaikum, tumben anak-anak bunda pada nonton bareng, nonton apa??? kenapa terlihat tegang??.


''Ini bunda, Ara bilang direktur Orland berangkat ke London tadi pagi, ada pesawat yang berangkat ke London hilang kontak. Ara tidak tahu dia menumpang pesawat mana??,'' Jelas Lanlan.


''Benarkah ??,, dokter Firman dan dokter Aisyah saling pandang kemudian ikut menonton berita.

__ADS_1


''Kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa padanya, selamat dan pulang kembali''. Kata dokter Firman sambil membelai princess kesayangannya.


''Iya sayang apa kau sudah menanyakan pada assistenya, dia berangkat dengan siapa??, menumpang pesawat mana??, Tanya dokter Aisyah yang di jawab dengan gelengkan kepala.


Tak berapa lama Rei pun juga datang, Lanlan langsung beranjak untuk menyambut suaminya, saat di luar Lanlan menarik tangan suaminya Rei, ''kita bicara di luar saja'', serunya.


''Ada apa Honey??, tanya Rei.


''Apa kakak tahu direktur Orland berangkat ke London tadi pagi??.


''Tidak, kenapa kau menanyakannya''???, tanya Rei sambil menatap mata istrinya penuh tanda tanya.


''Kakak tidak melihat berita, ada pesawat hilang kontak yang berangkat dari kota J ke London, Ara bilang tadi pagi direktur Orland menghubungi Ara sebelum berangkat ke London. Dia juga mengirim beberapa pesan karena ponsel Ara sedang di matikan''.


''Lalu kenapa???, tanya Rei santai.


''Ihhh kakak gimana sih, kakak cari tahu, tanyakan pada orang yang dekat dengan direktur Orland, dia naik pesawat apa. Ara sudah membalas pesannya tapi tidak ada balasan. Tadi seketika Ara langsung pucat, sepertinya dia sangat kuatir''.


''Kita masuk dulu, nanti aku tanya Kevin''. Rei merangkul istrinya dan mengecup keningnya lalu masuk ke rumah.


'' Assalamualaikum'', sapanya.


''Waalaikum salam'', jawab semuanya.


Rei melihat wajah adik perempuannya yang sembab, terlihat wajahnya berkaca-kaca, Air matanya mengalir membasahi pipinya dia duduk diantara kedua orang tuanya. Sedang Kai serius melihat siaran berita tv.


''Tenanglah, kakak akan cari tahu, aku akan tanyakan dulu pada asisten Kevin''. Ryu sedikit menjauh dari mereka dan mengambil ponsel mencari kontak Kevin. Terlihat Rei berbicara di telefon.


''Bagaiman??, tanya Lanlan yang melihat suaminya selesai menelfon.


''Kevin bilang dia berangkat dengan pesawat itu, tapi pesawat itu hilang kontak setelah transit. Kevin tidak tahu direktur Orland ganti pesawat keluarganya atau tetap menumpang pesawat itu. Kevin juga sedang menunggu kabar. Karena dia belum bisa dihubungi hingga sekarang. Dia juga tidak berangkat sendirian Sergio, Morgan dan Deigo ikut bersamanya. Kita tunggu saja kabarnya, semoga mereka semua selamat.''


Ara memeluk dokter Aisyah dia terisak menahan tangisnya.


''Kita berdoa saja sayang, semoga mereka semua selamat''. kata dokter Aisyah yang ikut berkaca-kaca memeluk putrinya.


Dokter Aisyah membawa Ara ke kamarnya bersama Lanlan, mereka berdua menemaninya di kamar.


''Bunda biar aku yang menyiapkan makan malam, bunda temani Ara saja'', kata Lanlan.


Dokter Aisyah mengangguk menyetujuinya, Lanlan segera keluar dari kamar Ara.


''Dengarkan bunda sayang, apapun yang terjadi adalah takdir, kita tidak bisa menghindarinya ataupun menolaknya''.


''Bukan itu yang Ara pikirkan bunda, Ara tahu semua ini takdir, Ara bisa menerimanya, aku berfikir kenapa orang-orang yang terlibat denganku harus mengalami nasib seperti itu, Aku sudah berusaha memaafkan mereka semua.'' Kata Ara sambil terisak.


''Ini bukan salahmu sayang, lagi pula berita itu belum jelas, belum ada titik terang. Semoga segera ditemukan dan semua bisa selamat. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu, ini tidak ada hubunganya denganmu, berfikir positif.''


''Bunda, seandainya El tidak kembali, apa aku akan menjadi anak durhaka''. Kata Ara sambil terisak


''Kenapa kau berfikir begitu''.


''Bunda masih ingat mimpi yang aku ceritakan saat aku koma, ibu dan ayah bilang Ara harus memaafkanya dan tidak boleh membencinya, tapi sampai sekarang Ara belum bisa menerimanya, bukankah Ara tidak bisa menjalankan amanatnya. Apakah aku sangat jahat hingga mereka mendapatkan karma itu,'' kata Ara sedih dan semakin terisak.


''Itu hanya mimpi sayang, Kau tidur terlalu lama. Kau tidak jahat, Kalau kau belum bisa memaafkan itu hal yang wajar, karena mereka telah membuat hidupmu berantakan, masa remajamu di penuhi perasaan takut, tanpa ayah dan bunda tahu''. kata dokter Aisyah menenangkan putrinya dan ikut meneteskan Air mata.


Sementara itu Lanlan mulai menyiapkan bahan-bahan masakan, dia mengeluarkan bahan yang mau dimasak dari lemari penyimpanan. Dia mulai menanak nasi terlebih dahulu kemudian mencuci sayuran dan ikan yang mau di masak.


''Masak apa Honey, kupikir kau menemani Ara,'' tanya Rei.


''Aku sedang memasak untuk makan malam. Biar bunda saja yang menemaninya dulu, sebentar lagi waktu makan malam''.


''Haaahh, aku sudah minta Kevin untuk menghubungiku jika ada kabar tentang mereka. Mau aku bantu masak???, tanya Rei


.

__ADS_1


''Boleh, jawab Lanlan yang sedang mulai mengoreng ikan, tapi tiba-tiba Lanlan membekap mulutnya dan berlari ke kamar mandi yang ada di belakang dapur''.


Uwek.... uwek... uwek


''Honey kamu kenapa??, tanya Rei yang mendengar istrinya seperti sedang muntah.


''Tidak apa-apa kak, tolong teruskan menggorengnya,'' teriaknya dari dalam kamar mandi


Uwek.... uwek... uwek


''Ada apa kak,'' tanya Kai yang mendengar Rei bicara dan mengetok kamar mandi dengan sedikit keras.


''Kai kau teruskan menggoreng ikanya, sepertinya Lanlan sedang tidak beres, dia muntah di dalam.''


''Tadi waktu makan siang di kampus tiba-tiba dia juga lari ke kamar mandi''.


''Kenapa kau tidak bilang, apa dia sakit''


''Kupikir dia kebelet kak.''


''Kau ini, kenapa tidak faham, lanjutkan masaknya''. Rei berjalan mengambil segelas Air hangat.


Kai segera ke dapur meneruskan memasak.


''Honey, buka pintunya, jangan membuatku kuatir'', teriak Rei.


Tak berapa lama Lanlan membuka pintu, wajahnya terlihat pucat dan lemas.


''Honey kau kenapa??, apa kau sakit''. Tanya Rei begitu kuatir sambil memberikan segelas air hangat dan memegang kening Lanlan, dia segera meminumnya hingga habis.


''Perutku mual kak, aku tidak sanggup melanjutkan masaknya, ikan nya sangat bau''.


''Kalau begitu kau istirahat di kamar biar aku dan Kai yang melanjutkan masaknya. Ayo aku antar''. Rei mengantar istrinya ke kamar untuk beristirahat.


'' Kata Kai di kampus tadi kamu lari ke kamar mandi saat makan siang, kenapa?''


''Aku tidak apa-apa, aku hanya mual saat mencium bau masakan tadi.''


Rei menautkan keningnya, ''apa kau hamil,'' tanya Rei tiba-tiba.


Lanlan diam menatap Rei, sambil mengingat-ingat sesuatu.


''Kapan terakhir kau mendapatkan haidmu'', tanya Rei


''Bulan kemarin aku tidak haid ini sudah bulan kedua, aku juga belum mendapatkan haid''.


''Apa, jadi benar kau hamil, kamu punya tespack tidak'', tanya Rei begitu antusias.


Lanlan bangun dari duduknya mengambil tespack dari tas yang dibelinya tadi siang dan membawanya ke kamar mandi, setelah beberapa saat Lanlan membelalakkan matanya, terlihat garis dua di tespack tersebut.


''Honey bagaimana??, tanya Rei tidak sabar.


Ceklek, Rei menunggu di balik pintu, ''Bagaimana??, tanya Rei lagi.


Lanlan langsung memeluk Rei, ''aku hamil kak''.


''Benarkah??, tanya Rei membalas pelukan istrinya,


''Coba lihat hasilnya''


Lanlan menunjukkan tespack yang di pegangnya ''garis dua'', katanya.


Rei begitu senang, dia memeluk istrinya lagi dengan erat. kemudian merebahkan istrinya di ranjang, lalu Rei mencium perut Lanlan,


''Tumbuhlah dengan baik anakku'', kata Rei dan mencium perut Lanlan yang masih rata,

__ADS_1


''I love you, kami menantimu.''


__ADS_2