Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
Episode 82


__ADS_3

Malam itu Lanlan tidak turun makan, Rei menyuruhnya untuk istirahat.


Kai menyiapkan makanan di meja. Dokter Firman sudah menunggu di meja makan.


''Kenapa kau yang menyiapkan makan malam??.


''Bunda tadi menemin Ara, ini tadi kakak ipar yang masak, sepertinya kakak ipar sedang tidak enak badan, katanya mual, kak Rei sedang menemaninya di kamar, jadi aku diminta meneruskanya.''


''Baguslah kau bisa masak sendiri, nanti kalau melanjutkan studimu ke luar negeri bunda tidak kuatir, karena kau bisa mengurus makananmu sendiri.''


''Santai yah masih satu tahun lagi.''


''Kenapa lama princess ayah sudah mau wisuda''.


''Ayah kan tahu aku dan dia beda jurusan''.


Tak berapa lama Bunda dan Rei datang bergabung di ruang makan. Tadi bunda Aisyah membersihkan diri terlebih dahulu, setelah menenangkan dan mendegar curahan hati putrinya.


''Bagaimana dengan princess ayah??, apa dia sudah tenang??.


''Sebentar lagi dia akan turun, Dia menangis karena merasa bersalah, karena sampai saat ini belum bisa memaafkan direktur Orland, dan malah mendengar berita yang belum jelas, dia takut jika kemungkinan terburuk direktur Orland tidak kembali, dia akan jadi anak durhaka, karena tidak bisa melaksanakan amanat kedua orang tuanya. Terlebih mereka berempat yang sudah membuat masa remajanya kacau dan hidup dalam ketakutan'', elas dokter Aisyah.


''Haahhh, kita masih harus menunggu kabar'' desah dokter Firman.


''Kak bulan kemana??, kenapa tidak bergabung??, tanya dokter Aisyah.


''Kakak ipar sakit bunda, aku yang nerusin masaknya tadi.''


''Benarkan??, bunda Aisyah melihat ke arah Rei, sakit apa tadi baik-baik saja??.


''Dia tidak sakit bunda, dia hanya mual saat mencium bau masakan, Ayah dan bunda sebentar lagi akan segera punya cucu''.


''Benarkah??, kaget mereka bertiga bersamaan.


''Iya, aku menyuruhnya istirahat, sepertinya dia tidak bisa mencium bau masakan. Nanti aku akan ambilkan makan untuknya.''


''Ohhh syukurlah,'' senang dokter Aisyah, mereka tampak bahagia.


''Pantas saja tadi pas makan siang di kampus tiba-tiba dia lari ke kamar mandi, ku pikir kebelet.''


''Kau ini, apa tidak mengerti hal semacam itu, sebaiknya kau ambil spesialis kandungan saja, biar nanti kalau kau punya istri kau bisa tahu istrimu sedang hamil atau tidak''. Kata Rei


Hahaha tawa mereka bersama,


''Dokter kandungan boleh juga, tiap pasangan yang sudah menikah pasti ingin punya anak, dan wanita yang menikah pasti ingin bisa hamil'', kata bunda Aisyah.


''Dokter anak juga tidak apa-apa, sepertinya kau nanti akan sibuk mengurus keponakanmu'' kata dokter Firman.


''Mending dokter anak ngurus keponakan dan anak-anak, daripada ngurusi istri orang''. jawab Kai


Mereka berempat tertawa.


Tak berapa lama Ara turun. ''Maaf menungguku ya, ada apa sepertinya ayah dan bunda lagi senang, kakak iparku mana?'' Ara selalu memanggil sahabatnya dengan panggilan kakak ipar jika berkumpul bersama keluarga, tapi kembali memanggil Lanlan jika hanya berdua. Tidak seperti Kai yang sudah biasa memanggil sahabatnya itu dengan sebutan kakak ipar.

__ADS_1


''Kau akan segera punya keponakan'', jawab Rei


''Keponakan, maksud kak Rei Lanlan hamil sekarang, serius kak??.


Rei mengangguk,'' iya ini kakak mau ambilkan makan untuknya''.


''Wah selamat ya, biar aku yang antar makanannya.''


''Kau makan saja, biar ku antar nanti.''


''Aku ingin memberi ucapan selamat untuknya, sekalianlah'', kata Ara


''Ya sudah ini'', kata Rei sambil menyodorkan nampan yang berisi makanan.


Ara segera membawa nampan itu ke kamar yang ditempati Rei dan Lanlan. ''


Ayah dan bunda makan dulu saja nanti aku menyusul.''


Mereka berempat melihat princess keluarganya yang sedang dalam kekuatiran.


''Apa dia akan baik-baik saja''. tanya Kai yang selalu mengkuatirkan saudara perempuannya itu.


''Ayah tahu dia sedang kuatir, tapi itu masih normal, banyak hal terjadi padanya, itu akan menjadikanya lebih kuat menghadapi setiap permasalahan yang akan datang''. kata dokter Firman.


''Ayo kita makan, dia pasti ingin mengobrol dengan sahabatnya.''


tok...tok... tok..


''Masuklah, eh kenapa kau yang membawakan makanan untukku, kemana kak Rei??.


''Apa benar kau hamil???, Ara tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, dia malah balik bertanya, dan menaruh nampan di meja samping tempat tidur.


''Lanlan langsung memeluk Ara dan menangis, iya jawabnya sambil terisak, terimakasih ya''


''Selamat ya, kenapa menangis, terimakasih untuk apa??.


''Terimakasih untuk semuanya, karena kau, aku menikah dengan kak Rei dan sebentar lagi kami punya anak, terimakasih karena selalu mendukungku dengan kak Rei, aku bahagia tapi aku juga sedih karena kau akan jauh dariku, aku sedih dengan semua yang terjadi padamu. Sejak kecil kita selalu bersama, rasanya tidak rela kau akan meninggalkan kami. Apa kau akan baik-baik saja??.


''Kau dan kak Rei memang sudah jodoh. Aku tidak apa-apa, aku pasti akan baik-baik saja Lan, kau jangan sedih nanti keponakanku ikutan sedih, kau harus selalu bahagia biar dia jadi anak yang ceria. Lagi pula aku tidak selamanya tinggal disana, setelah selesai studiku aku akan segera kembali. Kau juga bisa berlibur kesana, uang kak Rei tidak akan habis kalau hanya ingin bertemu denganku, lagipula aku hanya beberapa tahun saja. Aku akan kembali dan mewujudkan impianku untuk memiliki galeri sendiri. Jaga keponakanku dengan baik agar dia tumbuh dengan baik disana.''


''Bagaimana denganmu??, aku tahu kau sedang kuatir sekarang.'' Lanlan melepas pelukan dan menatap sahabatnya.


Ara tersenyum sambil menghapus air matanya. ''Lanlan sejujurnya aku tidak tahu, sejak mengenalnya hidupku tidak baik-baik saja, tapi kau lihatkan aku masih tetap hidup bersama kalian. Mungkin aku harus banyak bersyukur, aku punya orang tua dan saudara yang baik serta sangat menyayangiku, aku punya teman-teman dan sahabat yang tulus sepertimu, Joy, Bisma, Clara dan juga Ken. Aku juga sangat bahagia kau menjadi bagian dari keluargaku. Aku akan belajar ikhlas menerima semua, apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan, suka tidak suka kita tidak bisa menghindar dan hanya bisa menjalani, bukankan Tuhan tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuan kita. Sudahlah cepat makan keburu dingin.''


Lanlan membekap mulutnya, ''Aku tidak mau makan itu Ra, bilang sama kak Rei, aku mau makan yang lain, cepat bawa makanannya turun perutku mual.''


Ara manautkan keningnya, ''Baiklah, aku akan minta kak Rei segera kesini. Aku turun dulu, istirahatlah''. Ara segera mengambil nampan yang di bawanya tadi dan segera keluar dari kamar Lanlan, kembali ke ruang makan, disana keluarganya masih berbincang sambil menyantap hidangan makan malam.


''Kak Rei, kakak iparku tidak mau makan ini, dia minta yang lain, sebaiknya kakak segera kesana'', kata Ara sambil menaruh nampan di meja.


''Terus mau makan apa dong???.


''Aku tidak tahu, kak Rei tanya saja sendiri''.

__ADS_1


''Sepertinya istrimu sudah mulai mengidam, cepat selesaikan makanmu, segera temui istrimu,'' kata bunda.


Rei segera beranjak meninggalkan meja makan, dan naik ke lantai atas menemui istrinya.


''Honey kenapa tidak makan??, kau mau makan apa??, tanya Rei saat sudah sampai dikamar.


''Aku ingin makan rujak buah kak yang ada kedondong dan mangga mudanya''.


''Dimana mencarinya malam begini, sepertinya kau mulai mengidam.''


''Kakak tidak usah cari, temani aku disini, kakak suruh Kaijun saja ya.''


''Baiklah, biar aku suruh Kaijun dulu''.


Rei tersenyum akhirnya dia bisa ngerjain adik bungsunya dengan alasan istrinya, Rei mencari ponselnya dan menelfon adik bungsunya.


Dreettt... dreett


Kai melihat ponselnya bergetar, dan segera melihat ke layar ponsel, ''kenapa kakak telefon??.


''Siapa??, tanya dokter Firman.


''Kak Rei cuma di kamar saja telefon, halo ada apa kak??.


''Kaijun kakak iparmu sedang ingin makan rujak buah yang ada kedondong dan mangga mudanya, dia minta kamu yang belikan''. (Suara dalam telfon)


''Apa!!! dimana belinya malam begini.''


''Ya kamu cari diluar sampai dapat, apa kamu mau keponakanmu ileran nanti kalau kamu tidak mendapatkan makanan yang dia mau. Jangan lama-lama''. Rei menutup telfonya begitu saja tanpa menunggu jawaban adik bungsunya.


''Haahhh, dasar!!! istrimu yang ngidam, kenapa aku yang disuruh, ribet memang wanita hamil satu ini'', gerutu Kai.


Dokter Firman tersenyum mendengar anak bungsunya mengeluh. ''Ini baru awal nanti pasti keponakanmu itu banyak merepotkanmu'', kata ayahnya


''Ada apa??, tanya bunda


''Nih bun kak Rei minta aku beli rujak buah yang ada kedondong sama mangga muda, katanya kakak ipar yang minta.''


''Oh ya, ya sudah sana belikan!!!.


''Aku temani ya'', sahut Ara yang baru bergabung.


''Serius kalo begitu ayo berangkat'' Kai segera menarik tangan Ara.


''Ayah bunda kami keluar dulu'' pamit Ara.


''Hati hati sayang, ada-ada saja. Sepertinya cucu kita nanti akan dekat dengan pamanya''.


''Sepertinya begitu'', haaahh sedih dan bahagia datang bersamaan''.


''Kita serahkan saja semua pada Tuhan, sepertinya princess ayah sudah belajar menerima kehendak Tuhan.''


''Semoga saja, mereka semua segera memberi kabar dan selamat semua Aamiin,'' ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2