
Pagi ini Ara bersiap untuk segera pergi ke perusahaan tempatnya magang. Semalam dia telah memilah desain yang di minta manajernya Eric.
Ara keluar dari kamar menuruni tangga, dokter Aisyah sedang menyiapkan sarapan di meja makan.
''Selamat pagi bunda!!
''Pagi sayang, sarapan dulu biar lancar presentasi desainmu nanti!!.
''Kak Rei belum bangun ya??.
''Semalam kakakmu ngobrol sama ayah sampai malam, kamu saja sampai tertidur di sofa, dan di pindahkan ke kamar sama kakak''.
''Benarkah, kenapa aku tidak di bangunin saja??.
''Ayah sama kakak gak tega lihat kamu pulas banget tidurnya, capek ya magang''.
''Mungkin belum terbiasa saja, bekerja di kantoran sehari penuh bahkan sampai lembur gara-gara minta desain tiga sekaligus''.
''Dulu bunda juga gitu awal-awal magang di rumah sakit dan berhadapan langsung dengan pasien, dek-dekan ada rasa takut juga tapi lama-lama akan terbiasa''.
''Pagi semua!!!, sapa Rei yang turun dari tangga menuju meja makan, adik kakak sudah rapi''.
''Kakak juga sudah rapi, mau kemana?? tanya Ara sambil makan sarapanya.
''Hari ini kakak ada wawancara, jadi sebelum kakak pulang kakak sudah mengirimkan beberapa lamaran kerja, dan sekarang di minta untuk wawancara langsung''.
''Wahh.. kak Rei hebat, baru juga datang sehari sudah dapat kerja''.
''Kamu lebih hebat lagi, sudah membuat karya yang bagus, kakak doain presentasi desainmu lancar''.
''Terimakasih, semoga wawancara Kak Rei juga lancar. Semangat'', sambil mengangkat tanganya.
''Aamiin'', jawab bunda dan Rei bersamaan.
''Hari ini berangkat sama Joy kan??. tanya bunda.
Ting, suara notifikasi pesan masuk,
__ADS_1
''Pas banget bunda Joy sudah menunggu di depan. Ara berangkat dulu ya'', Ara berpamitan pada mereka mencium tangan bunda, dokter Aisyah memeluk ''semangat sayang'', katanya menyemangati Ara.
Rei ikut berdiri, ''aku bantu bawakan'', Rei mengantar ke depan membawakan tumpukan desain Ara menuju mobil Joy.
''Hai Joy apa kabar? tanya Rei pada Joy.
''Kak Rei, kapan datang??, mereka saling berjabat tangan.
''Sudah kemarin, titip adik aku ya, maaf merepotkanmu!!.
''Tidak masalah Kak, tenang saja, aman bersamaku, kami berangkat dulu'', kata Joy
Joy segera menyalakan mesin mobilnya, Sebelum Ara naik tiba-tiba langsung memeluk Rei, ''kakak semangat ya semoga sukses dan tiba-tiba cup.........'' Ara segera masuk ke mobil Joy.
Satu ciuman di pipi kiri Rei sontak membuatnya diam seperti patung. Seumur hidup Rei tidak pernah berpacaran, meskipun dia punya beberapa teman dekat, tapi benar-benar hanya teman tidak ada hubungan khusus, harapanya hanya ingin menikah dengan adik angkatnya namun harus menguburnya kembali setelah dia mengungkapkan keinginanya kepada kedua orang tuanya saat mengunjunginya ke London.
Ara membuka kaca pintu mobil dan melambaikan tangannya pada Rei tersenyum manis padanya.
Rei tertegun, dia benar-benar seperti tersengat aliran listrik, tanpa sadar dia mengelus dadanya yang berdebar kencang, ''kenapa dengan jantungku??, lirihnya.
Mobil semakin jauh meninggalkan Rei yang masih diam mematung. Desiran aneh itu tidak juga pergi, hampir dua tahun terakhir dia berusaha untuk menghilangkan sakit di hatinya, bukan sakit karena patah hati atau di tolak cinta ataupun di khianati seseorang yang dicintai, tapi patah hati karena harus membuang jauh perasaan dan harapannya ingin menikahi adik sepersusuannya harus dia buang jauh sebelum sempat dia ungkapkan dan akhirnya memberanikan diri untuk kembali ke kota kelahiranya, dia benar-benar berusaha menguatkan diri dan hatinya menahan semua gejolak di dada.
Dia segera masuk ke dalam rumah mengambil tasnya dan berangkat bersama ibundanya menuju rumah sakit, mengantarkan sang bunda terlebih dahulu. Hari ini Rei ada janji bertemu dengan seseorang yang dia kenal saat di London, orang itulah yang meminta Rei pulang untuk membantunya mengelola rumah sakit sekaligus sebagai dokter di rumah sakit mereka.
Selama perjalanan Rei diam, entah apa yang di pikirkannya. Seperti istilah layu sebelum berkembang, itulah yang di rasakan Rei saat ini.
''Kak'', suara bunda membuyarkan kosentrasi Rei yang sedang melamun sambil menyetir, ''Kakak janjian ketemu dimana sama temanya??, tanya bunda.
''Kami janji bertemu di perusahaanya bunda''.
''Semangat ya!!!, tidak perlu tergesa-gesa untuk memutuskannya'', tapi kenapa tidak bertemu di rumah sakit saja''.
''Teman Rei itu bukan seorang dokter bunda''.
''Lalu, kenapa dia memintamu untuk menjadi dokter di rumah sakitnya??, tanya bunda
''Dia bilang perusahaanya baru-baru ini memperluas bisnisnya di sini dengan membangun rumah sakit, karena dia tidak ahli di dunia kesehatan, makanya dia meminta Rei untuk membantu mengelola rumah sakitnya, dia sendiri mengurus bisnis yang lain''.
__ADS_1
Tak berapa lama mobil yang mereka kendarai sampai di rumah sakit, dokter Aisyah turun dari mobilnya, Rei menurunkan di depan lobi rumah sakit, hari ini Rei meminjam mobil bundanya.
''Semangat ya, sukses buat kakak'', kata bunda sambil memeluk putranya.
''Terimakasih bunda, Rei langsung berangkat ya'', pamitnya mencium tangan bunda.
Rei segera masuk kembali ke mobil, dia melambaikan tangannya.
''Hati-hati'', dokter Aisyah melambaikan tangan dan memasuki rumah sakit.
Rei telah sampai di sebuah perusahaan milik temannya bekerja, dia berjalan ke arah resepsionis.
''Permisi, saya ada janji ketemu dengan tuan Dave Morgan, di lantai berapa ya mbk???, sapa Rei sopan.
''Maaf dengan siapa???, tanya resepsionis cantik yang terpana melihat wajah bersih Reino, dengan kulit kuning langsatnya.
''Oh ya saya Rei'', jawabnya sambil tersenyum manis.
''Ohhh eeee.. tunggu sebentar'', jawabnya ramah, resepsionis itu langsung menghubungi sambungan ke ruang kerja Dave Morgan dia berbicara di sambungan telepon.
Rei menunggu sambil berdiri di depan meja resepsionis, ada beberapa perempuan dan laki-laki di sana, ''maaf apa anda dokter Reino Abhipraya''.
''Iya benar saya'', jawab Rei.
''Silakan langsung ke lantai 23 dokter, tuan Dave Morgan sudah menunggu anda''.
''Terimakasih, permisi''.
''Ohhh Tuhan, dia seorang dokter, mukanya bersih banget dan juga tampan, senyumnya bikin hatiku adem, menenangkan, mau dong jadi pacarnya'', resepsionis itu berbicara dengan teman disampingnya.
''Ciihhhh dia itu teman direktur Morgan gak level sama kita, jangan mimpi ketinggian nanti jatuhnya sakit''.
''No.. no..no, justru kita harus bermimpi setinggi bintang kalau jatuh kita jatuh diantara bintang-bintang'' jawabnya.
''Mana ada, yang ada kamu jatuh ke lantai, orang tidur kamu di kasur, bintang apa, yang ada jatuh ke ubin, kamar kos kami sempit gitu''.
''Iihhh kamu ini, kalau ada pemandangan indah yang menyegarkan otak harus di nikmati, aku berharap tiap hari tamu yang datang tampan-tampan, biar tidak stres tahu''.
__ADS_1
''Ya... ya... ya bersyukur kalau yang datang ke sini seperti dokter tadi, tapi kalau yang datang seperti manajer Eric, amit-amit deh''.