Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
Episode 44


__ADS_3

''Benarkan ini teman kecil kamu dek??, yang tomboy itu, yang dulu biasa main ke rumah??, tanya Rei


''Iya Kak dia Bulan Tsabit alias Lanlan, cantik kan sekarang, gak tomboi lagi, lebih feminin??, jelasnya.


Lanlan semakin tersipu, wajahnya semakin merah.


''Dia sudah menunggumu bertahun-tahun, dia bilang jatuh cinta sama kak Rei sejak dulu dan cita-citanya ingin menikah dan menjadi istri kak Rei'', jelas Kai.


''Benarkah??, Rei mendekat dan duduk di kursi sebelah Ara tepat di depanya, memandangi gadis yang wajahnya seperti kepiting rebus, bahkan tidak berani melihat ke arahnya.


Kai dan Ara mengerjainya habis-habisan. Mereka tersenyum melihat sahabatnya yang biasanya cerewet sekarang menunduk diam.


''Direktur jangan dengarkan mereka, mana mungkin seperti itu''. kata Lanlan


''Aku bukan direktur lagi'', kata Rei.


''Maksudnya? Lanlan mengangkat wajahnya malu-malu


''Ini di rumah bukan di rumah sakit, kenapa memanggilku direktur, panggil saja seperti dulu kau memanggilku''.


''Baik Direktur... maksudku kak Rei''.


''Kau sudah dewasa sekarang dan cantik!!!, puja Rei yang semakin membuat jantung Lanlan berdetak kencang.


''Jangan menggodaku terus, aku malu''.


''Ngomong-ngomong sudah dari tadi disini??, lagi libur ya???.


''Aku masuk sore kak, bareng Kaijun, mumpung Ara pulang jadi main ke ke sini!! jawab Lanlan.


''Sebenarnya dia kesini ingin ketemu kakak, kemarin katanya cuma lihat sebentar, hari ini masuk sore tidak bisa bertemu kak Rei katanya'', ledek Ara.


''Ara kau ini, aku kan baru tahu kalau yang aku lihat kemarin di rumah sakit itu bener kak Rei''.


''Terus kalau beneran aku kenapa??.


''Tidak apa-apa, aku senang saja bisa melihat kak Rei lagi''.


''Siapa yang bilang tadi seperti jatuh cinta pada pandangan pertama'', kata Kaijun.


''Kaijun....!!!!, teriak Lanlan dia langsung menaruh mukanya di meja.


''Hahaha.....''mereka bertiga tertawa melihat Lanlan tak bisa berkutik menahan malu.


''Sudah...sudah ngomong-ngomong kakak sudah menghubungi direktur Orland dan nanti malam dia mengajak ketemu'', kata Rei.


''Dia mau menemui kita kak, dimana??? tanya Ara.


''Aku minta Morgan untuk mempertemukanku dengannya dan dia langsung menyutuinya, persiapkan semua, kalau begitu kakak istirahat dulu ya'', Rei beranjak dari duduknya meninggalkan mereka bertiga


''Tapi.....baiklah'' jawab Ara


''Tidak perlu kuatir, ada kakak yang menemanimu'', hibur Kai yang melihat Ara terkesan ragu-ragu.


''Siapa direktur Orland, maksudnya pemilik rumah sakit Orland, apa yang bersama kak Rei kemarin??? atau maksudnya direktur Dave Morgan, kenapa menemuhinya???, Lanlan semakin penasaran.


''Gak usah kepo, kak Rei sama Ara kan orang penting sekarang!!!.


''Iya sih, bagaimana kau bisa jadi desainer, ceritakan padaku''.


''Aku hanya magang di departemen fashion di perusahaan Orland'', Ara mulai bercerita tentang bagaimana dia bisa mengadakan pertunjukan fashion show, padahal dia baru magang.

__ADS_1


Lanlan memang tahu kalau sahabat kecilnya mempunyai hobi menggambar dan mendesain sejak kecil, tapi tidak menyangka kalau hasilnya membuat bangga.


Hari sudah mulai malam, Kai dan Lanlan sudah berangkat ke rumah sakit. Rei dan Ara bersiap menemui direktur Orland di tempat yang di janjikan.


''Apa kau sudah siap???, tanya Rei.


''Kakak aku jadi degdekan'', kata Ara.


''Jangan kuatir ada aku'', kata Rei.


''Apa tidak sebaiknya kakak saja yang pergi menemuhinya, aku tidak usah ikut''.


Rei menggenggam tangan adiknya, ''kalau kau tidak menyeselaikanya, kau tidak akan bisa hidup tenang, untuk apa kau menyimpan barang yang bukan milikmu. Kau hanya akan terus mengingat kenangan yang buruk itu dan kamu tidak akan tahu siapa mereka, apa hubungannya dengan keluargamu. Percayalah mereka tidak akan macam-macam lagi''.


''Dan jangan dandan terlalu cantik nanti dia bisa jatuh cinta padamu'', kata Rei untuk mencairkan ketegangan Ara.


''Siapa yang dandan cantik, aku bahkan tidak ingin bertemu dengannya lagi''.


''Kau memang sudah cantik dari lahir, apa kau tahu pengacara Henry dan direktur Morgan, mereka sedang bersaing sportif untuk mendapatkanmu''.


''Ihhh amit-amit aku gak mau, teman kakak itu gak ada yang bener yang satu penguntit, satu lagi pengacara apaan, kakak sedang tidak menjodohkanku dengan mereka kan''.


''Kalau kakak jodohkan apa kamu mau???.


''Tidak akan''


''Apa mereka juga akan datang??.


''Entahlah, ayo kita berangkat!!!.


Rei segera mengandeng tangan Ara mereka segera pamit pada bibi An dan berangakat.


Rei memang sudah sedikit bisa menguasai perasaanya, apalagi setelah mendengar wejangan kedua orang tuanya kemarin malam. Dia berusaha menjadi kakak yang baik yang bisa di andalkan adik dan keluarganya, bisa melindungi adik sepersusuanya itu, walaupun itu sulit untuknya.


Rei membukakan pintu untuk adiknya yang masih enggan turun.


''Turunlah, jangan membuatnya menunggu, kalau tidak sekarang mau kapan lagi, mungkin setelah ini dia akan kembali kenegaranya, atau pergi entah kenapa''.


Ara perlahan turun dari mobil. Wajah Ara tiba-tiba terlihat tegang dan pucat.


Rei segera memeluknya, ''jangan kuatir kakak akan selalu bersamamu menghadapi apapapun'', bisiknya ditelinga Ara, kemudian mencium keningnya. Dia bisa merasakan ketegangannya, Rei merasa bersalah selama ini Ara harus menghadapinya sendiri, traumanya belum hilang sepenuhnya meskipun dia selama ini tampak ceria.


''Tarik nafas yang dalam buang perlahan'', kata Rei setelah melepas pelukanya, kemudian merangkul adiknya berjalan ke arah restauran tempat mereka bertemu.


''Kenapa harus bertemu disini kak???, tanya Ara.


''Karena kau membawa senjata, tidak mungkin ke tempat ramai''. jawab Rei lirih seperti berbisik.


''Tapi disini agak gelap'', protesnya lagi.


''Ini kan malam hari tentu saja gelap, tapi tidak terlalu gelap, restauranya juga terang, lihat saja sekarang bukit kota J terlihat berkelap-kelip, lampu-lampu di vila-vila itu terlihat seperti bintang-bintang, baguskan!! hibur Rei agar Ara tidak terlalu takut.


Mereka telah sampai di restoran yang dituju, seorang pelayan menyambutnya dengan ramah.


''Slamat malam kak!!!!.


''Slamat malam mbk, ruang yang di pesan atas nama tuan Morgan''.


''Silakan mari saya antar''.


Pelayan itu mengantar Ara dan Rei ke ruang yang dipesan Morgan, Rei meminta Morgan untuk mengatur pertemuan dengan direktur Orland.

__ADS_1


Pelayan itu mempersilakan Rei dan Ara masuk ke daman ruangan yang sudah di pesan oleh Morgan.


Ruangan itu terpisah dari area restoran, sepertinya dia memesan ruang khusus untuk pertemuan mereka, Rei menarik kursi untuk Ara duduk dan menunggu kedatangan direktur Orland.


Tak berapa lama, El Ryu datang bersama Morgan.


Rei segera berdiri menyambut El Ryu dan Morgan, diikuti Ara. ''Slamat malam direktur Orland'' dan menganggukkan kepala.


El Ryu dan Morgan tidak menyangka, kalau Rei mengajak Ara bersamanya. Ini adalah pertemuan yang kedua bagi El Ryu setelah dua tahun meninggalkan kota J dan meminta Morgan menjaganya.


Pertemuan yang tidak dia sangka setelah kemarin dia terkejut melihat Ara berjalan di catwalk bersama Eric dan sekarang gadis itu duduk di depannya.


Ryu melihat ke arah Ara menurutnya gadis di depannya semakin cantik dan menarik pantas Henry dan Morgan bersaing untuk memenangkan hatinya.


Morgan dari tadi hanya diam melirik ke arah Rei.


''Apa kabar nona Ara???, saya tidak menyangka nona punya bakat yang yang luar biasa, selamat untuk acara kemarin, terimakasih atas kontribusi anda, sepertinya kedepanya kita bisa bekerjasama''.


''Seperi yang anda lihat saya baik-baik saja. Trimakasih atas tawarannya''.


Ryu tampak berfikir, melihat sikap Ara yang terkesan seperti menjaga jarak terhadap dirinya. ''Apa mungkin dia masih trauma??, pikir Ryu


Seorang pelayan masuk membawakan menu yang di pesan Morgan sebelumnya. Selamat menikmati, katanya ramah setelah menyajikan menu ke meja mereka.


''Baiklah mari kita makan terlebih dulu'', merekapun mulai menyantap makananya tanpa suara hanya denting sendok dan garpu.


Hampir 30 menit mereka telah menyelesaikan makan malamnya, dan Morgan segera memanggil pelayan untuk membersihkan meja mereka.


''Baiklah kita langsung saja, ada apa dokter Rei minta bertemu dengan saya???, apa ada masalah dengan rumah sakit???.


''Tidak direktur, sebelumnya saya minta maaf dan terimakasih direktur Orland mau meluangkan waktunya untuk kami. Saya hanya mendampingi adik saya untuk bertemu direktur''.


Ryu mengernyitkan dahinya. ''Ada apa nona Ara ingin bertemu saya???.


Ara diam kata-kata yang sudah disusun tidak bisa keluar dari mulutnya.


Rei menyenggol lengan Ara yang terlihat diam saja, ''bicaralah!!!.


''Eeee....begini'' Ara membuka tasnya, mengambil bungkusan dan menaruhnya di depan Ryu.


''Sa... saya mau mengembalikan ini, saya tidak ingin menyimpannya, karena membuat saya tidak tenang dan selalu mengingat peristiwa yang terjadi di masa lalu, tolong terimalah!!!!, kata Ara sambil membungkuk.


Ryu melihat bungkusan yang di serahkan kepadanya oleh Ara.


''Saya harap Direktur Orland mau menerima kembali barang milik anda'', kata Rei menimpali, ''agar adikku bisa lebih tenang, anda tahu dia mengalami trauma, meskipun terlihat biasa tapi dia selalu merasa curiga dengan orang yang ada di sekelilingnya''.


Mendengar penuturan Rei, Ryu merasa sangat bersalah, dia merasa menjadi orang yang paling kejam di dunia, membuat gadis penyelamatnya menjadi trauma.


''Saya minta maaf nona Ara atas apa yang saya perbuat, saya akan bertanggung jawab''.


''Ada lagi direktur'', kata Rei.


''Apa anda mengenal Jonatan Orland dan Silvia Orland??, tanya Rei


''Mereka orang tuaku'', anda tahu dari mana itu??, dokter Rei


Rei melihat ke arah Ara, ''berikan padanya''.


Ara mengeluarkan foto yang terdapat dalam wasiat kakeknya, menyerahkan kepada Ryu.


Ryu mengambil foto itu dan mebelalakan matanya. Dia ingat foto dirinya saat masih berusia 6 tahun, dimana dirinya berfoto dengan kedua orang tuanya dan kedua sahabat orang tuanya yang tidak diketahui kabarnya lagi.

__ADS_1


''Ini.........''


__ADS_2