
''Ini...... kenapa foto ini bisa ada pada kalian???, tanya Ryu dengan suara terbata.
''Apa direktur Orland mengenal mereka??, tanya Rei
Morgan heran dengan wajah bosnya yang tiba-tiba pucat dan tanganya gemetar memegang foto itu.
''Dia......'' Ryu tidak bisa melanjutkan kata-katanya, dia mengingat-ingat pecahan-pecahan masa lalunya saat masih bersama orang-orang yang ada di foto itu, foto itu diambil sebelum berpisah dengan mereka yaitu uncle Ar'rasi dan aunty Rania, teman dan sahabat serta rekan kerja kedua orang tuanya. Hubungan keluarga mereka sangat dekat. Saat kedua sahabat ayahnya yang banyak berjasa pada keluarga mereka berpamitan pulang ke kota J, dimana saat itu aunty Rania sedang mengandung anak pertama dan tentunya sangat Ryu nantikan, Ryu tidak sabar ingin melihat kelahiran putri aunty Rania dan uncle Ar'rasi yang diketahui berjenis kelamin perempuan, Ryu juga ingat kalau nanti putri mereka akan diberi nama 'Mutiara Cinta', mereka ingin melahirkan putrinya di kota J yang merupakan kota kelahiran aunty Rania, saat itu kondisi ibu aunty Rania sedang sakit, jadi mereka pamit kepada keluarga Ryu untuk mengunjungi orang tuanya di kota J.
Ryu sangat dekat dengan aunty Rania, dia sangat sedih harus berpisah dengan mereka, awalnya Ryu sangat senang saat tahu bayi aunty Rania akan segera lahir, tapi dia juga sedih karena tidak bisa melihat kelahiran putrinya. Dulu Ryu bahkan selalu ikut mengantar aunty Rania dan uncle Ar'rasi pergi memeriksakan kandunganya ke dokter, namun aunty Rania dan uncle Ar'rasi malah kembali ke kota J. Saat itu Ryu bahkan ingin ikut bersama mereka. Ryu ingat dialah yang memberikan foto kepada mereka, serta selembar surat dengan tulisan tangannya sebelum keduanya kembali ke kota J, saat itu Ryu sudah sekolah dasar dan pandai menulis, dia juga ingat aunty Rania sering menjemputnya ke sekolah kalau mamanya sibuk. Ingatan akan pecahan masa lalu bersama mereka muncul kembali.
''Bagaimana foto ini ada kalian??, dari mana kalian mendapatkannya??. tanya Ryu, suara Ryu bergetar dan matanya berkaca-kaca.
''Apa anda benar-benar mengenal mereka??, maksud saya orang-orang yang ada di foto itu tuan??, tanya Rei sekali lagi.
Ara tidak bicara dia hanya melihat expresi Ryu yang tiba-tiba berubah pucat dan berkaca-kaca dan seperti memendam sesuatu begitu lama.
''Ya aku mengenalnya''
''Jonatan Orland adalah papaku,
''Silvia Orland adalah mamaku,
__ADS_1
''Uncle Ar'rasi dan Aunty Rania, mereka berdua sahabat juga rekan kerja kedua orang tuaku. Dan anak kecil di foto itu aku'', jelas Ryu.
Semua diam suasana jadi hening, larut dalam pikiran masing-masing.
''Bisakah anda menceritakan tentang mereka, maksudku tentang hubungan mereka, apa mereka sangat deka???, kini Ara berani menatap Ryu, dia sangat penasaran dan ingin mendapatkan jawaban sekarang.
Ryu menatap Ara, ''apa nona Ara adalah Mutiara Cinta, putri dari aunty Rania dan uncle Ar'rasi???, tanya Ryu.
Ara diam saja, dia tidak tahu mau menjawab apa, mau bilang iya tapi Ara tidak mengenal kedua orang tuanya, karena yang ia tahu orang tuanya adalah dokter Firman dan dokter Aisyah.
''Nona Ara benar-benar putri mereka???, tanya Ryu sekali lagi. Ryu tidak sabar mendengar jawaban Ara, ''Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya sama sekali'', batin Ryu.
Wajah Ryu pucat, matanya yang sejak tadi berkaca-kaca, air matanya luruh juga. Dia tidak bisa lagi menahan hatinya yang teriris mendengar sepenggal cerita Ara. Dia tidak tahu harus senang atau sedih, setelah 21 tahun baru bisa bertemu dengan putri aunty Rania dan uncle Ar'rasi, dan pertemuan mereka yang bisa di bilang tidak baik, bahkan dia membuat kekacauan padanya. Ryu menarik nafas panjang dan menghapus air matanya, tampak penyesalan di wajahnya.
''Haaahhhh....,, saat itu usiaku baru 6 tahun. Aunty Rania bekerja dengan ibuku mengurus sebuah butik, setiap hari aku bertemu dengannya, dia sering menemaniku bermain, aku sangat dekat dengannya, dia wanita yang sangat sabar dan penyayang, meskipun aku melakukan kesalahan dia tidak pernah memarahiku, saat mamaku marah padaku aku selalu menceritakan kekesalanku kepadanya, kurasa dia sangat menyayangiku melebihi mamaku. Uncle Ar'rasi adalah seorang Arsitek dan bekerja sama dengan papaku, mereka teman saat kuliah dan akhirnya mendirikan usaha bersama'', Jelas Ryu.
''Sejak mereka kembali ke kota J, awalnya kami masih bisa berhubungan, tapi sebulan kemudian, kami tidak bisa berhubungan lagi, kami kehilangan kontak dengan mereka. Papa pernah menyuruh orang untuk mencari keberadaan mereka, tapi tidak ketemu juga. Bahkan papaku waktu itu mendatangi sendiri alamat rumahnya di kota J, tapi rumah itu sudah menjadi pantai asuhan anak yatim dan piatu. Orang-orang panti juga tidak tahu, sampai akhirnya perusahaan yang papa dan uncle Ar'rasi bangun bersama berkembang pesat, kami terus mencari tapi hasilnya nihil. Papa tidak ada waktu lagi mencari keberadaan mereka, karena sibuk sendiri mengurus perusahaan'', Jelas Ryu.
Ara diam air matanya mengalir begitu saja.
Rei mendekatkan kursi duduknya disebelah Ara, menggenggam tangannya, Rei berusaha tenang walaupun ia larut mendengar cerita Ryu, Rei meraih kepala Ara dan membenamkanya di dadanya, ''menangislah jangan kau pendam sendiri, kamu kuat'', Rei mengecup kening Ara dan membelai rambutnya menepuk punggunya pelan. Rei adalah tempat bersandar paling nyaman selama ini, dengan Rei Ara bisa cerita apa saja.
__ADS_1
Morgan juga terlihat menghapus air matanya yang tertahan, dia juga tidak menyangka cerita atasannya dan nona yang dia jaga selama beberapa tahun ini begitu memilukan, dia ikut berkaca-kaca, dia membayangkan bagaimana kalau hal ini terjadi pada adiknya Megan, masih beruntung punya ibu meski ayahnya memilih meninggalkan ibunya karena sakit-sakitan, dan menikah dengan wanita lain, melihat Ara yang sebatang kara rasanya sangat sakit di dadanya.
''Semua sudah jelas sekarang, direktur anda sudah menemukannya sekarang, bagaimana kalau besok kita mengunjungi makan mereka, mungkin direktur akan lebih lega'', ucap Morgan.
''Nona Ara anda gadis yang hebat bisa menghadapi semua, meskipun banyak kekacauan yang terjadi dalam hidup anda, bahkan sekarang semakin bersinar, anda sudah menjadi desainer terkenal sekarang''. hibur Morgan.
''Aku juga punya adik perempuan tapi mungkin tidak sekuat anda nona. Bahkan dia menangis saat laki-laki yang diidolakanya pulang ke negaranya kata Morgan sambil melihat ke arah Rei. Jangan ada air mata lagi, saya lebih suka melihat nona tersenyum. Tidak salah direktur Orland menyuruh saya menjaga anda, maafkan saya selama ini terus mengikuti nona diam-diam''.
''Direktur Orland yang meminta saya menjaga anda, karena kekacauan yang direktur perbuat terhadap anda, dan karena anda ingin dia menjauhinya waktu itu, dan meminta saya menjaga nona, sekali lagi maafkan saya selama ini sudah membuat nona Ara tidak nyaman'', jelas Morgan panjang.
''Direktur harusnya anda tersenyum sekarang, meskipun tidak bisa bertemu dengan tuan Ar'rasi dan nyonya Rania, tapi sekarang sudah bertemu putrinya, nona Ara tidak perlu lagi mencurigai kami dan takut pada kami'', jelas Morgan.
''Ya, baiklah besok kita akan mengunjungi makam mereka, siapkan semuanya''.
''Siap direktur'', jawab Morgan tegas
Dokter Rei dan nona Ara, ''apakah anda bersedia mengantar dan menemani saya ke sana???, tanya Ryu.
''Tentu saja'', jawab Rei
Malam makin larut, deburan ombak pantai memecah kesunyian, tidak ada orang lagi yang datang ke pantai malam ini. Pengunjung restauranpun hanya tinggal mereka, merekapun akhirnya meninggalkan tempat itu.
__ADS_1