Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
Episode 54


__ADS_3

Ting..... bunyi lift telah sampai di lantai 25, Ara keluar dari lift dengan malas. Dia berdiri di depan lift tampak begitu ragu, dan benar-benar ingin menyerah saat ini.


Ara masih berdiri disana, dia sudah bersiap akan menekan tombol lift untuk kembali dan tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka menampilkan sosok pria yang selalu ingin dia hindari.


Ryu sudah tahu hari ini Ara akan ke ruanganya dan selama sebulan dia akan belajar langsung pada Ryu untuk mengurus perusahaan. Pihak HRD telah menghubunginya sesaat setelah Ara keluar dari ruang HRD, dan Ryu melihat cctv yang tersambung ke laptopnya. Terlihat Ara hanya berdiri di depan lift dan diam disana. Ryu segera berdiri membukakan pintu.


''Kenapa diam saja disitu??, masuklah!!!!, seru Ryu, manik mata mereka saling bertemu dan menatap. Ara masih tidak bergerak dari tempatnya, mereka saling bertatap muka.


''Apa kau akan diam terus disitu, banyak yang harus kau pelajari'' kata Ryu tegas dan berbalik meninggalkan Ara, dengan pelan Ara melangkah masuk ke ruangan itu mengikuti Ryu.


Lantai 25 hanya ditempati oleh Ryu, ruangan yang sangat luas di bagi dalam beberapa bagian, ruang kerja Ryu, mini bar, kitchent room, ruang tamu, tempat bermain billiar, bioskop mini dan juga ruang berbagai alat olah raga yang biasa dipakai Ryu, dan kamar pribadi Ryu, tidak ada karyawan disana. Setiap hari ada petugas khusus yang membersihkan ruangan itu.


Ara melihat-lihat ruangan disana tampak semua tersusun rapi dan bersih. Benar-benar pria perfect, semua harus tampak bagus, tanpa sadar Ara bergumam sendiri.


''Masuklah'', kata Ryu mengagetkan lamunanya.


Ara masuk ke sebuah ruangan dimana Ryu terlihat fokus dengan leptopnya, terlihat benar-benar pekerja keras. Dia berdiri melihatnya.


''Duduklah apa kau akan berdiri terus seperti itu??.


Ara berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruang kerja Ryu, dia masih sibuk membaca beberapa dokumen.


''Kau sudah siap bekerja??, tanya Ryu setelah beberapa saat, suaranya yang tegas dan sangat berwibawa.


''Ara mengangguk''.


''Jangan sungkan begitu, perusahaan ini milik orang tuamu juga. Awal mulanya daddy dan ayahmu memulai usahanya di Dubai bersama setelah aku besar aku belajar bisnis ke London dan mengembangkannya disana bersama Kevin yang kebetulan berasal dari kota J. Lalu aku ingin mencari aunty Rania dan uncle Ar'rasi, sehingga aku minta bantuanya untuk mengembangkan usahaku di sini, agar jika aunty dan uncle melihat gedung ini dia mengingat kami, makanya kami menamai semua dengan Orland Group''. Jelas Ryu


''Apa yang harus aku pelajari, aku tidak tahu bisnis, aku hanya hobi menggambar dan mendesain'', jujur Ara.

__ADS_1


''Kau harus tahu dulu perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan kita, kau tidak perlu tergesa-gesa belajar, perusahaan ini bergerak di beberapa usaha, kau sudah tahu itu, kau baca dulu buku di atas meja itu, dan kau pahami, setelah selesai jelaskan padaku, apa yang kau pahami atau ada yang tidak paham bisa tanyakan padaku''.


Ara melihat beberapa tumpukan buku di atas meja di depannya. Ara membelalakkan matanya. ''Sebanyak ini??, tanyanya kemudian.


''Itu belum seberapa, kau harus mempelajari semua yang ada di lemari itu''.


Ara membeliakan matanya, ''apa pekerjaanku hanya membaca??. Suaranya terdengar sedikit meninggi. ''Aku tidak suka membaca, aku hanya suka menggambar'', keluhnya.


''Aku rasa kau bukan gadis manja nona Ara. Kalau kau tidak membacanya kau bisa tahu dari mana. Bacalah dan pahamilah setelah itu jelaskan padaku, dan ingat ini dokumen rahasia perusahaan, jangan sampai bocor ke tangan orang lain, karena kau juga pemilik perusahaan jadi kau harus tahu dan memahaminya''. Kata-kata Ryu tegas dan tidak bisa dibantah, ''kalau kau haus atau lapar kau bisa ke kichent room'', jelasnya dan kemudian kembali ke meja kerjanya.


Ara mengambil tumpukan buku paling atas dia mulai membaca buku itu, lembar demi lembar ia baca, dia terus membolak balik buku pertama yang dia baca tapi tidak faham dan malah menguap beberapa kali, Ara menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang ia duduki, dan lama kelamaan matanya terpejam, dengan buku masih di tanganya.


Ryu sendiri sibuk mengerjakan tugasnya dia sama sekali tidak terusik, dia benar-benar fokus saat bekerja, sampai akhirnya waktu makan siang tiba, Ryu berdiri merenggangkan otot-ototnya, sesaat dia ingat kalau Ara diruanganya, Ryu melihat ke arah Ara tak ada pergerakan sama sekali, lalu dia berjalan ke sofa dan ternyata Ara tertidur dengan nafas teratur.


''Haahhhh, satu buku saja belum selesai kau malah tidur, bagaimana kau akan belajar mengelola perusahaanmu'', guman Ryu. Ryu keluar dari ruang kerjanya melangkah ke kamarnya mengambil selimut, dan menyelimuti tubuh Ara, kemudian Ryu melangkah ke kichent room dan membuat makan siang sendiri. Ryu memang termasuk Pria yang sangat mandiri, sejak di London dan jauh dari orang tua, dia selalu memasak untuk dirinya sendiri, dulu saat masih kecil sering kali Aunty Rania memasak untuknya. Ryu jadi mengingat bagaimana dia lebih dekat dengan aunty Rania dari pada mommynya yang selalu sibuk dan sering bepergian ke luar negeri. Ryu tersenyum mengenang masa kecilnya bersama Rania yang merupakan ibu kandung Ara.


Sementara itu, Rei baru saja selesai melakukan tindakan operasi pada pasien pemasangan ring pada jantungnya, dia kembali dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


tiing.... bunyi notifikasi pesan masuk.


Rei segera membuka ponselnya dan melihat pesan masuk, terlihat pesan dari direktur orland, Rei segera membukanya sebuah foto seorang gadis yang sangat dia kenal sedang tidur bersandar di sofa.


Rei segera menelfon balik Ryu


dreetttt... dreettt


Ryu menekan tombol hijau dilayar ponselnya, dia agak sedikit menjauh dari sofa agar tidak menganggu gadisnya yang tidur pulas.


''Apa yang anda lakukan padanya??, jangan macam-macam direktur??.

__ADS_1


''Dokter Rei, anda berani mengancamku'', jawab Ryu santai, ''aku tidak melakukan apapun, aku menyuruhnya untuk mempelajari beberapa dokumen perusahaan, agar dia kelak bisa mengelola perusahaannya, tapi lihatlah adik kesayanganmu, dia malah tertidur pulas''.


''Sungguh??, Rei sedikit lega.


''Semalam dia harus mengerjakan proyek baru dari manajer Eric, dia diminta membuat desain dan mengerjakanya hingga larut malam, dia pasti masih mengantuk''.


''Benarkah???, pantas saja dia sangat pulas dan melewatkan makan siang. Apa aku harus membangunkanya? tanya Ryu.


''Ya sudah bangunkan'', jawab Rei kemudian dan mengakhiri obroan teleponnya.


Ryu tampak ragu ingin membangunkannya, tanganya terulur membelai wajah Ara.


Belaian tangan Ryu membuat Ara merasa terusik, dan segera dia membuka matanya, Ara sedikit kaget melihat Ryu berdiri di depannya dengan tangan di wajahnya. Mata mereka bertemu dan saling memandangi


''Apa yang anda lakukan?, tanya Ara kemudian. mereka berdua terlihat salah tingkah.


''Aku ingin membangunkanmu untuk makan siang, kau sudah melewatkanya'', kata Ryu


''Maaf aku ketiduran. Apa boleh aku pinjam kamar mandimu sebentar''.


Ryu menunjuk kamar mandi yang ada di ruang kerjanya. ''Setelah selesai segera ke kichent room, aku sudah siapkan makan siangmu''.


Ara tidak menjawab dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, setelahnya dia keluar bergegas ke kichent room, terlihat Ryu sudah duduk disana menunggunya, dan diatas meja sudah tersaji beberapa menu makan siang.


''Apa kau membuatnya sendiri??, tanya Ara setelah duduk di kursi .


''Ya, sejak dulu aku selalu membuat makananku sendiri'' jawabnya, ''makanlah aku rasa sudah agak dingin''.


''Maaf merepotkan'', mereka segera menyantap makan siangnya dan tidak ada yang berbicara.

__ADS_1


__ADS_2