
Malam telah berganti pagi, hari libur yang sangat dinanti untuk berkumpul dengan keluarga.
Pagi ini dikediaman dokter Firman anak-anak mereka telah berkumpul, si bungsu Kai yang magang di rumah sakit Orland, pulang ke kota J, semalam dia jaga di rumah sakit dan paginya langsung berangkat pulang ke kota J dengan mengendarai motor kesayangannya.
Sudah hampir sebulan dia tidak berkumpul dengan keluarganya. Sudah lama juga tidak menjahili saudara perempuannya, Ara yang semalam harus lembur kerja pagi ini masih enggan bangun.
Kai yang baru datang dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berolah raga pagi di sekitar rumah, kemudian langsung naik ke lantai dua, masuk ke kamar Ara tanpa mengetuk pintu dan langsung menggelitiki Ara yang masih malas bangun.
''Bangun pemalas'', Kai membangunkan Ara dan menggelitikinya
''Aaauuuhh, hentikan Kaijun geli ah, kak Rei tolong''. Ara berteriak minta tolong, suara teriakan Ara terdengar sampai luar dimana pasangan dokter itu sedang berolahraga santai, mereka berdua tertawa.
''Kak, ayah, bunda tolongin!!!!,, Ara meronta memanggil semua Kai masih terus menggelitikinya, dan mengacak rambut Ara, perut Ara terasa kaku. Ara berusaha membalas dengan menendang Kai
''Aduhhh'',, suara Kai yang kesakitan karena jatuh ke lantai.
''Hentikan Kaijun!!!, suara Rei menghentikan kegiatan mereka. ''Pagi-pagi sudah heboh'', seru Rei yang juga ikut masuk ke kamar Ara.
''Kangen???, jawabnya santai.
''Kau tidak kangen denganku''.
''Untuk apa kangen denganmu tiap hari juga bertemu'', jawabnya.
Rei merasa adiknya sangat menjengkelkan, pagi-pagi sudah membuat kehebohan, dia langsung merangkul adik bungsunya menjatuhkanya di ranjang Ara dan menindihnya. Ara yang melihat itu malah ikut naik ke punggung Rei dan menggelitiki Kaijun.
''Ampun.... ampun....hentikan, mohon Kaijun, aahhh sakit kak ampun, hentikan C ampun''.
''Rasain pembalasanku'', Ara menggelitik perut Kai tanpa ampun, Kai yang berada paling bawah dengan kedua tanganganya di tekan oleh Rei, tidak bisa bergerak dan tak bisa membalas lagi, tenaganya terasa habis dan lemas. Rei tertawa puas sudah lama dia tidak bercanda seperti ini dengan kedua adiknya.
''Apa-apaan kalian ini'', suara dokter Firman menghentikan mereka bertiga, ''pagi-pagi heboh di dengar tetangga kak''. Rei melepas tanganya yang menekan tangan adik bungsunya dan memegangi tangan Ara yang masih berada di punggunya Ara malah mengalungkan tanganya di leher Rei, agar tidak jatuh.
''Ayo turun semua bunda sedang menyiapkan sarapan, ada yang ingin ayah bicarakan'', seru ayah.
Mereka bertiga segera turun, mengikuti langkah dokter Firman yang turun lebih dulu, dan segera duduk di kursi mereka masing-masing.
''Princess ayah kemarin lembur lagi'', tanya dokter Firman, ''Apa ada acara lagi???.
''Sebenarnya tidak ada acara, tapi kemarin siang Ara hampir setengah hari keluar dengan manajer Eric dan nyonya Silvia serta tuan Jonathan''.
Mereka semua melihat ke arah Ara dan mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
''Mereka mengajakamu keluar kemana???, tanya Kai
''Hanya makan siang di luar''.
''Dalam rangka apa? tanya Rei,
''Jadi begini, selama ini aku menjual beberapa desainku ke pihak asing, dan ternyata perusahaan yang membeli desainku itu perusahaan milik nyonya Silvia untuk butiknya. Dan selama ini nyonya Silvia mengirim manajer Eric untuk mencariku dan untuk bekerjasama''. Ara menceritakan bagaimana nyonya Silvia mengetahui simbol dalam setiap desainya yang menjadi ciri khas desain miliknya, sampai akhirnya dia dan manajer Eric keluar makan siang bersama nyonya Silvia dan tuan Jonathan untuk merayakanya.
''Wah ini benar-benar kebetulan ya, kau dan mereka saling berkaitan C'', seru Kai.
''Itu bukan hanya kebetulan dek, tapi sudah takdir Ara bertemu dengan keluarga dari sahabat orang tuanya'', kata bunda lembut.
''Apa hanya makan siang saja???, tanya Rei
''Mereka memintaku untuk melanjutkan belajar ke Dubai, dan juga menceritakan tentang hubungan mereka dengan ayah dan ibuku sebelum mereka berpisah''.
Keluarga itu mendengarkan cerita Ara tanpa ada yang bersuara, bahkan mereka menghentikan memakan sarapanya sejenak.
''Apa kau menerima tawarannya? seru Kai.
''Aku bilang akan memikirkanya, dan menyampaikan pada ayah dan bunda, oh ya katanya mereka ingin bertemu dengan ayah dan bunda''.
''Benarkah???, kata Ara sambil tetap memakan sarapanya.
''Keluarga direktur Orland mengundang kami makan, mereka ingin tahu bagaimana kedua orang tuamu tiada'', jelas ayah pada Ara.
''Mungkin itu alasan mereka ingin bertemu dengan ayah dan bunda''.
''Bukan itu saja, ada yang ingin ayah bicarakan denganmu princess''.
Ara diam melihat ke dokter Firman ayahnya yang terlihat serius.
''Semalam saat kami makan malam bersama, keluarga Orland bermaksud meminangmu''.
Uhuk-uhuk Ara langsung tersedak, Rei segera menepuk punggung adiknya itu dengan pelan dan Kai mengambilkan minum memberikan kepada Ara. Kai juga terlihat kaget.
''Pelan-pelan sayang!!!, seru dokter Aisyah.
''Apa ayah menerimanya???, tanya Kai.
''Ayah tidak menolak atau menerima, ayah belum memberikan jawaban''.
__ADS_1
''Dengar sayang ayah dan bunda tidak memaksamu, kau sudah dewasa bisa mengambil keputusan sendiri. Ayah dan bunda ingin kau memikirkanya dengan baik, yang terpenting dalam pernikahan adalah iman dan komunikasi yang baik, saling percaya dan saling menghormati'', Dokter Firman memberikan wejangan pada anak-anaknya, mereka semua tampak diam mendengarkan.
''Dan yang perlu kamu tahu sayang, mereka bilang, sejak dulu keluarga mereka dan kedua orang tuamu telah berjanji akan menikahkan kalian berdua. Dan itu atas permintaan direktur Orland sendiri saat kamu masih dalam kandungan ibumu dan disetujui'', tambah bunda.
''Apa bunda percaya cerita mereka, bisa saja mereka mengarang cerita'', kata Kai seperti tidak setuju.
''Bunda tahu sayang, tapi berbakti kepada orang tua itu penting, terlebih itu amanat orang yang sudah tiada, keluarga mereka dan orang tuamu merintis usaha bersama, dan kau sebagai anak harus meneruskanya agar tidak sia-sia. Bunda selalu berdoa yang terbaik untuk kalian semua, akan tetapi keputusan ada ditangan kalian sendiri'', kata-kata dokter Aisyah yang lembut dan menenangkan putra-putri mereka.
''Ayah merasa baru kemarin kita bisa berkumpul, tapi sekarang ada yang sudah mau membawa pergi princess ayah, rasanya ayah tidak rela, tapi cepat atau lambat itu pasti akan terjadi juga''.
''Nyonya Silvia dan tuan Jonathan juga bicara seperti itu kemarin. Tapi aku tidak percaya begitu saja, aku baru mengenalnya. Bukanya Kak Rei yang harus menikah lebih dulu'', kata Ara melihat ke kakaknya.
''Aku....'',,, tunjuk Rei pada dirinya sendiri, ''tidak masalah kalau adik kakak yang cantik ini menikah dulu, kakak harus pastikan dulu laki-laki yang menikahimu harus bisa membahagiakanmu, menjaga dan melindungimu, serta bertanggung jawab'', kata Rei.
''Kakak saja dulu, kan sudah ada yang menunggu lama''.
''Benar kak Rei, jangan biarkan dia menunggu lagi'', kata Kai
''Ini sedang membicarakan siapa sih???, tanya Bunda.
Dokter Firman melihat ke arah putra sulungnya. ''Kakak sudah punya calon, kenapa tidak dikenalkan sama ayah dan bunda''.
''Aku tidak ada yah, princess ayah saja dulu, sudah ditunggui sejak masih dalam kandungan''.
''Itu kan kata mereka kak, apa yang dikatakan mereka belum tentu benar, apalagi keluarga orang itu'', gerutu Ara.
''Umur kakak juga sudah pantas menikah loh. Kalau memang sudah ada calon ajak ke rumah kenalin sama ayah dan bunda'', ucap bunda semangat.
''Ayah dan bunda sudah kenal lah, dia pernah main kesini'', Jawab Kai.
''Benarkah siapa?
''Kalian berdua ini ya benar-benar'', Kesal Rei.
''Benar-benar adik kakak'', jawab Ara sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
''Dengar ya adiku tersayang, jangan bertingkah seperti itu di depan pria manapun, mereka bisa tergoda padamu''.
''Ihhhhh, apaan sih kak'', Ara cemberut sambil mengerucutkan bibirnya.
Mereka semua tertawa, suasana sarapan pagi di kediaman keluarga dokter Firman terasa hangat meski terlihat serius tapi mereka masih bisa bercanda. Kedua pasangan dokter paruh baya itu tahu putra sulungnya Rei sudah berusaha keras untuk menganggap Ara sebagai adik saja tidak lebih, kedua orang tua itu merasa lega melihat putra sulungnya bangkit dari luka hatinya menghapus perasaan suka pada adik sepersusuanya, walaupun itu sulit untuk Rei.
__ADS_1