Mutiara Cinta

Mutiara Cinta
Episode 78


__ADS_3

Ryu mengantar Ara pulang ke rumah, tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua, suasana sangat hening, Ara memalingkan wajahnya melihat ke sisi jendela, mereka berdua tampak canggung.


Ryu memberanikan diri meraih tangan Ara dan mengenggamnya.


''Maaf kata Ryu'',


Ara benar-benar marah padanya karena telah mencuri ciuman pertamanya, dan baru saja dia menciumnya lagi sampai dua kali.


Ara menoleh sebentar lalu mendesah panjang, tak menghiraukanya.


''Aku akan segera memberitahu mommy dan daddy. Kau mau pernikahan seperti apa''?


''Apa bisa, kak Rei baru beberapa bulan lalu menikah, aku tidak ingin merepotkan ayah dan bunda''. Ara kembali memalingkan wajahnya melihat ke luar.


''Kenapa tidak bisa, kau tidak perlu memikirkan apapun, kau hanya perlu mempersiapkan dirimu saja, Aku akan minta seseorang untuk mengatur semua untuk pernikahan kita, tapi aku ada satu permintaan, kata Ryu pelan''


Ara menoleh menatapnya, ''permintaan apa''? tanyanya kemudian.


''Aku ingin memakai setelan jas hasil desainmu untuk pernikahan kita nanti, Aku sangat iri dengan Rei, karena dia orang pertama yang memakai jas pertama hasil desainmu sendiri''.


Ara menyungingkan senyumnya


''Kenapa tersenyum begitu, kau tidak mau mendesainnya untukku??.


''Entahlah'', jawab Ara sambil mengangkat bahunya.


''Haahhh....''Bagaimana kalau kita menikah di Dubai saja, biar mommy dan daddy yang mengurus pernikahan kita, dan keluargamu bisa datang dan berlibur ke Dubai lagi, atau kita menikah dulu disini lalu mengadakan pesta juga di Dubai biar mommy dan daddy senang''.


Ara diam saja, Dia sedang berfikir di usianya yang baru menginjak 21 tahun, sudah akan menikah.


''Kurasa kita terlalu terburu-buru El'', kata Ara kemudian.


Ryu menautkan keningnya. ''Kamu pikir ini terburu-buru, aku sudah menunggumu selama 21 tahun, sekarang sudah menginjak 22 tahun, apa aku harus menunggu lagi. Aku sudah menunggumu lebih dari usiamu, aku tidak ingin terlalu tua saat anak-anaku besar nanti''.


Ara membelalakkan matanya mendengar kata anak.


''Kenapa melihatku begitu'', tanya Ryu


''Anak, belum apa-apa kau sudah memikirkan anak''.


''Tentu saja aku memikirkanya, karena anak-anak kita nanti adalah penerus kita, pewaris Orland. Aku mau kau melahirkan anak-anaku nanti, kita akan membesarkan bersama dan menua bersama. Aku juga ingin punya anak yang banyak agar saat kita tua nanti anak-anak kita bisa bergantian mengunjungi kita, kita sama-sama anak tunggal, kalau perlu setiap tahun kita punya anak, aku juga mau kalau dapat anak kembar'', Kata Ryu.

__ADS_1


Ara semakin membelalakkan matanya, dia tidak menyangka pria di depannya yang baru saja di minta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, bicara begitu santai tentang rencananya yang gila.


''Kau gila El, kamu pikir bisa tiap tahun hamil''.


''Kenapa tidak bisa, lihatlah Keluarga artis yang punya banyak anak itu siapa namanya Gen Halilintar, berapa anaknya''.


''Umurku baru menginjak 21 tahun El, bagaimana bisa merawat anak begitu banyak, aku masih mau melanjutkan studiku, kenapa keinginanmu banyak sekali''.


Ara tidak bisa membayangkan kalau harus punya banyak anak, seperti artis yang disebutnya tadi.


''Memangnya kenapa dengan umurmu, kurasa itu usia yang pas untuk menikah, aku juga tidak terlalu tua untukmu, usiaku hanya selisih satu tahun diatas kakakmu Rei''.


''Kau dan Lanlan seumuran kan, dia langsung menikah tanpa berkencan atau taaruf lebih dulu. Dan lagi tentang memiliki banyak anak, aku tidak akan membiarkanmu mengurusnya sendiri, kita urus bersama dan aku akan bawa bibi An ikut bersama kita, untuk membantu kita mengurus dan menjaga anak kita, aku yakin bibi An pasti tidak akan menolak, Kalau masih belum cukup kita pekerjakan babysitter, tiap anak punya sendiri-sendiri''.


''Kau benar-benar gila El, Itu jalan yang mereka pilih, mereka dan kita beda cerita, kenapa harus mengikuti mereka, kita punya cerita sendiri'' kata Ara.


''Kau yang membuatku gila'', kata El Ryu dengan santai.


''Aku salut pada kakakmu, ku rasa Rei telah menemukan wanita yang tepat untuk menghilangkan luka hatinya, dengan menikahi sahabatmu''.


''Luka hati apa maksudmu?, tanya Ara.


Ara terdiam, apa yang dikatakan Ryu benar, dia ingat Rei mengungkapkan isi hatinya yang terpendam saat dia koma. Ara mengingat semua kata-kata setiap orang yang bicara padanya saat dia koma. Bagaimana ayah dan bundanya menangis setiap hari berharap dia akan segera bangun, kata-kata penyesalan Ryu yang menyesali perbuatannya dan menangis, pengakuan pengacara Henry tentang persaanya, kata-kata Morgan, Kai dan teman-temanya. Ara mengingatnya lalu dalam hatinya dia tersenyum, terlihat dari raut mukanya.


Akhirnya mereka sampai di rumah, kediaman dokter Firman.


''Aku akan bukakan untukmu'', Ryu turun setelah Sergio membukakan pintu dan memutar membuka pintu untuk calon istrinya.


Ryu menatap Ara sebentar, ''jangan pikirkan apapun, cukup persiapkan dirimu untuk malam pertama kita, aku akan mengurus semuanya''.


Kata Ryu terasa mengelitik di telinga Ara, membuat muka Ara menghangat dan merona,


''dasar mesum'' lirihnya namun masih bisa di dengar Ryu.


''Aku hanya mesum padamu princess, masuklah dan istirahat'' Ryu mengacak rambut Ara ''I love you'' bisiknya ditelinga Ara.


Ara membelalak dan segera meninggalkan Ryu yang tersenyum seperti orang gila, tanpa menghiraukan Sergio yang melihatnya.


Ara segera masuk, rumah masih tampak sepi, hanya ada art yang sedang bersih-bersih rumah. Art itu tersenyum menyapanya. Ara berlalu ke kamar dan langsung masuk kamar mandi, dia menguyur tubuhnya di bawah shower, setelahnya dia berendam hingga tertidur. Ara memang punya kebiasaan aneh sejak dulu suka sekali berendam sampai tertidur.


Hingga sampai hampir satu jam lebih, terdengar ketukan pintu dari kamarnya yang membangunkan tidurnya.

__ADS_1


tok...tok...tok


''Ra aku masuk ya'', suara Lanlan membangunkannya, tidak ada jawaban.


Tak lama Ara keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumahan, dia menguap saat keluar kamar mandi


''Jangan bilang kau tidur di kamar mandi dari tadi'', kata Lanlan yang sudah duduk di ranjangnya.


Ara tersenyum nyengir sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


''Bagaimana kecan makan siangnya?'' tanya Lanlan sembari menyandarkan tubuhnya di ranjang kamar Ara.


''Haahhh, apa kau suka jika aku menikah dengannya atau sebaliknya''.


''Kalau kau suka aku juga suka, itu pilihanmu, aku akan mendukungmu seperti kau mendukungku dengan kak Rei. Tunggu, apa dia mengajakmu menikah''?


Ara mengangguk pelan, ''ini semua gara-gara kak Rei''


''Kenapa dengan suamiku''.


''Kau tahu saat aku koma, di hari itu sebelum aku bangun dari koma, Ryu bilang dia telah''... Ara menjeda bicaranya


''Telah apa''?, tanya Lanlan tidak sabar


''Dia telah mencuri ciuman pertamaku, padahal aku sedang sekarat. Dia sangat menyebalkan dan menjijikan, kalau begini bagaimana aku akan menolaknya''.


Peeeffffff hhhhhh Lanlan tidak bisa menahan tawanya.


''Kenapa kau tertawa, apa itu lucu aku marah pada kak Rei suamimu, kenapa dia membiarkan Ryu menciumku. Lanlan kau harus memarahi kak Rei nanti'', rengek Ara.


''Kau yang dicium dia kenapa aku harus memarahi suamiku'' hihihihi. ''


Sebaiknya cepatlah menikah, sepertinya dia sudah tidak tahan ingin memilikimu. Kau bisa menghajarnya setelah menikah, saat dia mulai mesum padamu'' kata Lanlan.


''Apa kau menghajar kak Rei kalau dia bersikap seperti itu padamu''?


Lanlan mengeleng, ''aku dihajar kak Rei tiap malam, katanya biar cepat kasih ayah sama bunda cucu dan keponakan untukmu dan Kaijun'', kata Lanlan sambil tersenyum.


Ara membelalakkan matanya mendengar kata-kata Lanlan yang terdengar menyiratkan arti yang berbeda.


Peefff hhhhhh, mereka tertawa berdua di kamar Ara.

__ADS_1


__ADS_2