
Beberapa hari setelah hari pernikahan Rei dan Lanlan, Keluarga Firman pergi bersama ke tanah suci dan mengajak serta bibi An, Mereka ingin memenuhi wasiat dari kakek dan nenek Ara, serta berlibur bersama keluarga lengkap mereka dan tentunya bertambah satu keluarga Firman yaitu menantunya Lanlan.
Selain menunaikan ibadah disana mereka mengunjungi tempat-tempat sejarah disana. Mereka berlibur selama beberapa hari. Tak lupa mereka mengabadikan kebersamaan itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi Ryu menyusul bersama kedua orang tuanya dan bertemu keluarga besar dokter Firman di tanah suci.
Ryu memang tahu saat Rei mengajukan cuti selama beberapa hari, selain untuk pergi bersama keluarganya Rei sengaja mengajak bulan madu istrinya ke tanah suci, dan itu tidak disia-siakan oleh Ryu, dia langsung memberi tahu kedua orang tuanya untuk menyusul kesana dan Ryu sendiri berangkat dari kota J untuk menyusul kedua orang tuanya dan menemui gadisnya.
Saat ini keluarga Firman dan keluarga Orland sedang berada di sebuah restoran untuk makan malam bersama.
''Senang sekali bisa bertemu kembali dengan keluarga dokter Firman, apa kabar??, sapa tuan Jonathan ramah.
''Kami sangat baik, kami juga sangat senang tuan dan nyonya Orland, maaf kami belum bisa mengunjungi anda dan malah anda menyempatkan datang kesini''. kata dokter Firman
''Tidak masalah dokter, jaraknya tidak terlalu jauh. Dokter Rei selamat atas pernikahannya dengan nona Lanlan semoga bahagia selalu, dan segera diberikan momongan''. Kata nyonya Silvia.
''Terimakasih nyonya Silvia dan tuan Jonathan'', kata Rei, Lanlan hanya tersenyum.
''Saya sangat ingin sekali putra kami segera menikahi putri cantik ini, karena daddy dan mommy ingin segera punya cucu'', kata nyonya Silvia.
''Mom, bersabarlah'', kata Ryu yang membuat mereka tertawa, Ara tampak malu dan menundukkan wajahnya, bagaimana tidak sedari tadi Ryu menatap Ara yang menggunakan pakaian tertutup dengan hijab hitam yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik.
''Kenapa kamu malu sayang, apa kau tidak ingin segera menyusul sahabatmu, jangan buat kami menunggu terlalu lama, mommy tahu putraku pasti sangat iri dengan kakakmu dokter Rei, sebenarnya dia sudah tidak sabar untuk mempersuntingmu''.
Kata-kata nyonya Silvia membuat semua tertawa dan wajah Ara semakin merona.
''Kami sudah menyiapkan hadiah untuk anda dan keluarga, untuk mengunjungi Dubai bersama kami, jaraknya sudah tidak jauh hanya beberapa jam saja dari sini, daripada harus berangkat dari kota J. itu pasti sangat melelahkan''.
''Wah kami sangat berterimakasih tuan dan nyonya. Anda sangat peduli dengan keluarga kami'', kata dokter Firman.
''Benar terimakasih banyak atas kadonya tuan dan nyonya Orland'', dokter Aisyah menimpalinya.
__ADS_1
''Untuk itu mari kita segera berbesan dokter, biar kita lebih sering saling mengunjungi dan bersilaturahmi''.
''Kau tahu daddy dan mommy sangat iri pada ayah dan bundamu. Dokter Rei dan nona Lanlan jangan menunda hal yang baik. Segera berikan ayah dan bunda kalian cucu'', kata tuan Jonathan.
''Tentu saja, kita sedang berusaha. Mereka tertawa'', kata-kata Rei membuat Ryu menendang kaki Rei, dari tadi Ryu hanya mendengar pembicaraan orang tua, begitulah Ryu tidak banyak bicara. Sejujurnya dia sangat ingin segera menikahi gadisnya, tapi apa mau dikata Ara masih santai dan terkesan cuek, terlebih hubungan mereka yang dilandasi kesalahan besar Ryu.
''Sayang apa kamu ingin putraku Ryu menunggumu lebih lama lagi'', tanya nyonya Silvia.
Ara diam tidak tahu harus menjawab apa, dia melihat ayah dan bunda, mereka semua terlihat menunggu jawaban dari Ara. Kemudian Ara melihat ke arah Ryu manik mata mereka bertemu, tidak ada keraguan di mata Ryu, Ryu sangat serius dengannya, sekelebat Ara mengingat pesan mimpi ibunya, mungkin saatnya dia berdamai dengan pikiranya, membuka hati untuknya dan memberi kesempatan seseorang untuk berubah.
''Sayang, jawablah'' kata dokter Aisyah mengagetkan lamunan Ara.
Ara menarik nafas dalam, ''aku mau ta'aruf dengan El'', kata Ara kemudian.
Seketika semua diam, mereka menatap Ara suasana hening sesaat. Mereka sampai menghentikan kegiatan makan bersamanya.
''Apa kau serius, maksudku tidak terpaksa karena keinginan mommy dan daddy yang terburu-buru ingin punya cucu dan terkesan memaksamu'', tanya El Ryu yang memecah keterdiaman mereka.
Sesaat Ryu terpana dengan kedewasaan Ara, dan dia begitu senang saat tadi Ara memanggilnya dengan panggilan ''El'', panggilan khusus dari aunty Rania dan uncle Ar'rasi. Baginya itu adalah panggilan kesayangan untuknya, karena selama ini hanya mereka yang memanggilnya dengan sebutan itu, selama ini Ara selalu memanggilnya tuan Orland seperti kebanyakan orang memanggil nama besar keluarganya, atau Ryu panggilan akrab dari teman dan orang-orang terdekatnya.
''Ayah bangga padamu princess, kau sangat bijaksana, kau sudah dewasa sekarang, sebaiknya memang begitu ayah setuju saja'', kata dokter Firman
''Tidak masalah kalau ingin taaruf, tapi harus ada batas waktunya, kata nyonya Silvia. Jangan sampai terlalu lama, karena tidak baik juga, setiap orang pasti punya sisi baik dan buruk, tinggal bagaimana kalian minyikapinya'', kata nyonya Silvia
''Setiap pernikahan pasti ada masalah, dan setiap masalah yang datang harus dihadapi bersama. Satu kunci dalam berumah tangga komunikasi yang baik dan tidak egois'', tutur tuan Jonathan, bukankah begitu dokter''.
''Benar sayang nasihat ini bukan untukmu saja, tapi juga untuk semua''. kata dokter Firman
Ayo kita lanjutkan makan malam kita.
__ADS_1
****
Beberapa hari kemudian perjalanan mereka dilanjutkan ke Dubai, dengan menaiki pesawat pribadi milik keluarga Orland, mereka diajak ke Dubai selama beberapa hari.
Dubai negara yang begitu indah, banyak bangunan gedung-gedung pencakar langit dengan arsitektur yang bagus. Kota Dubai tampak begitu indah terlebih di malam hari.
Namun sayang mereka tidak bisa berlama-lama menikmati liburan mereka, karena harus segera kembali ke kota J, mereka telah mengambil cuti selama beberapa hari.
''Kaijun'', panggil Ara yang sedang melihat kemegahan kota Dubai dari lantai atas rumah keluarga Orland. Mereka semua tidak diizinkan menginap di hotel, melainkan di rumah milik keluarga Orland.
''Ada apa, jawab Kai santai dan sedang melihat foto-foto yang berhasil dia abadikan.
''Bagaimana kalau kita melanjutkan studi ke sini, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan mencari informasi universitas yang sesuai untuk kita, aku ingin tahu bagaimana dulu orang tuaku bisa sampai disini, dan mengenal keluarga Orland''.
''Kau masih ingin melanjutkan kuliah, lalu bagaimana dengan taaruf yang kau jalani dengannya'', tanya Kai.
'Itu kan kalau cocok, kalau tidak berarti tidak akan ada pernikahan. Lagi pula orang tua El pernah menawariku untuk melanjutkan studi disini. Disini juga masih ada rumah orang tuaku yang bisa kita tempati''.
''Aku akan mempertimbangkannya. Tidak masalah yang peting kita bersama, kecuali kalau kau sudah menikah, tanggung jawabku padamu akan diambil alih oleh suamimu nanti. Besok sekalian kita cari oleh-oleh buat teman-teman''.
''Buat Clara juga'', tanya Ara dengan tersenyum, kata Clara dia tidak akan melanjutkan studinya ke luar negeri. dia diminta membantu kakaknya di perusahaan Orland. Sepertinya dia lelah mengejarmu''.
''Aku tidak pernah memintanya, tapi kalau boleh jujur dia gadis yang baik, terutama padamu C''.
''Dia memang baik, kau saja yang berfikir negatif tentangnya''.
''Entahlah, aku belum memikirkannya, aku mau fokus pada kuliah''.
''Ngomong-ngomong kau dan El sepertinya cocok, dia benar-benar telah berusaha memperbaiki diri, dengar C hidup kamu akan berubah dari princess keluarga Firman menjadi nona muda Orland''.
__ADS_1
''Kenapa begitu, apa sekarang kau berpihak padanya. Kau tergoda dengan harta kekayaan keluarga Orland''.
''Bukan seperti itu, apalagi yang kau cari, jika sudah ada seseorang yang dengan sungguh-sungguh menantimu bertahun-tahun lamanya, dan keluarganya sangat mengharapkanmu menjadi bagian dari keluarganya, bukan karena mereka bergelimang harta tapi lihatlah karenanya kita sekeluarga bisa disini, mereka menganggap kita adalah bagian darimu, mereka sangat menghormati keluarga kita, memperlakukan kita dengan sangat baik. Ku harap kau bisa melihat ketulusan mereka C'', kata Kai begitu dalam menyentuh hati Ara yang diam mencerna kata-kata saudara sepersusuanya itu sambil memandangi langit malam kota Dubai