
Noa duduk di depan laptopnya dan melamun. Pikirannya campur aduk. Noa memikirkan Novelnya, lalu terkadang memikirkan utangnya yang tiba-tiba ada karena Cruz, lalu memikirkan betapa malunya dia karena kenyataannya dirinyalah yang mesum terhadap Cruz.
Noa menghela nafas panjang lalu mengambil ponselnya. Menyambungkan ponselnya pada speaker rumahnya, Noa memutar lagu untuk membangkitkan imajinasinya dalam mencari ide.
Tetapi ide yang di tunggu Noa tidak kunjung datang menghampirinya. Hanya suara Cruz yang bass dan terdengar maskulin terus berputar di memori kepalanya. Noa menatap datar ke layar laptop, lalu Noa mulai teringat pada perkataan Cruz.
" aku suka kupu-kupu birumu", bisik Cruz.
Tanpa sadar Noa tersenyum lalu tiba-tiba senyum itu hilang dari wajahnya, tangannya langsung menjitak kepalanya sendiri.
" Noa kau sudah gila, sudah lama tidak mendengar pujian dari laki-laki ya. Dasar sinting", Noa menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Noa membuat kupu-kupu biru di pinggangnya karena saat itu dia mengalami patah hati berat. Kekasihnya selama 6 tahun menikah dengan wanita lain yang lebih kaya darinya. Pada saat membuat kupu-kupu itu Noa menangis. Orang lain mengira Noa menangis karena merasa sakit di tusuk jarum berkali-kali, hanya Noa sendiri yang tau apa yang di tangisinya. Menangisi kebodohannya. Seharusnya dia memutuskan laki-laki brengsek itu lebih awal, bukan malah di campakan dengan menggenaskan seperti ini. Jadi Cruz adalah satu-satunya pria yang melihat tatonya itu.
Noa menghembuskan nafas dan mulai berusaha fokus pada pekerjaannya. Baru saja dia mengetik satu kata di laptopnya tiba-tiba ponselnya bergetar. Noa melirik ponselnya, nama kontak 'Si Iblis' muncul di layar. Noa menyipitkan matanya menunggu sebelum mengangkat, lalu dia menghitung sampai lima agar lebih lama.
" 1 .. 2 ..3..4..5", Noa lalu mengangkat telpon dari Cruz, suaranya di buat semalas mungkin.
" Halo", Noa menjawab Malas.
" Hei wanita bulan. Kenapa lama angkat telpon? ", Cruz terdengar sewot dari ujung sana.
" Hmmm... lagi sibuk", terang Noa, padahal kerjanya dari tadi hanya melamun dan melamun. " Kenapa menganggu pagi-pagi begini", Noa berkata ketus.
" Aku sudah buat surat perjanjiannya, datang ke apartemenku pukul 3 sore ini. Aku kirim alamatnya. Jangan menolak dan jangan terlambat. Kalau kau tidak datang aku akan mengirim tagihannya di kali dua dan tanpa cicil", Jelas Cruz cepat lalu memutuskan sambungan telepon.
" Tapi aku...", Noa belum sempat berargumen. " Aiss... Dasar dajal. Semau dia saja, setan. ck... Ngomongnya cepat banget lagi kayak lagi ngerap. Eh dia kan memang rapper ya", Noa mengomel sendiri.
Ting... Ponselnya berbunyi 1 kali. Noa membuka pesan masuk itu.
Iblis: Jl. Merpati, No 56. Apartemen X, lantai 10 nomor 107. terlambat 1 menit bunga 1%.
" Waah orang gila. Aku yakin matematika dia pasti 0 waktu sekolah dulu. 1% sinting... Hah", Noa melempar ponselnya ke sofa dengan kesal.
Noa memijat kepalanya yang langsung sakit karena perbuatan Cruz. Kalau sudah begini Noa yakin tidak akan menemukan satu idepun di kepalanya.
"Lebih baik aku makan cemilan sambil menonton drama di TV. Ya.. Healing terbaik saat di rumah", Noa berkata pada dirinya sendiri.
__ADS_1
5 menit berikutnya Noa sudah duduk di depan TV dan melakukan aktivitas healingnya dengan bahagia.
***
Jam menunjukan pukul 14.55, Noa sedang mencari-cari pintu apartemen nomor 107. Noa bisa masuk tanpa masalah karena Cruz memberi akses masuk saat Noa menghubunginya via interkom pintu basment parkir mobil.
Noa menekan bel pintu saat waktu tepat menunjukan jam 15.00. Terdengar suara kunci pintu di buka. Cruz mengintip dari balik pintu.
" Wanita bulan", Cruz memanggil.
"Ya ini aku", Noa menjawab malas.
" Oke. Kau sendirian kan? Coba lihat apakah ada yang mengikutimu?", Cruz masih berbisik.
Noa awalnya bingung, lalu dia ingat Cruz adalah seorang idol yang pasti mencemaskan penguntit atau fans yang gila. Noa menatap ke kiri dan kanan lalu menggeleng ke arah Cruz. Dengan cepat Cruz menariknya masuk ke dalam apartemen lalu menutup pintu.
Cruz berjalan menuju ruang tamu sedangkan Noa tetap diam di tempatnya tidak bergerak.
" Kau mau sampai kapan di situ?", tanya Cruz dari arah ruang tamu.
Noa kaget lalu dengan spontan menyapa ke arah dalam rumah "Permisi".
Noa lalu melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu Cruz. Rumah Cruz sangat maskulin dengan dominan warna putih dan abu, serta interior yang dominan berwarna hitam. sebuah rak buku di dekat jendela dengan boneka teddy bear di atasnya dan sebuah kursi malas di sebelahnya. Mini bar berada di sisi lain ruang tamu dengan desain dominan hitam dan tampak bersih seperti jarang tersentuh. Noa terus memperhatikan ruangan ini, benar-benar menggambarkan pemiliknya.
Cruz berdiri di depan Noa membuat gadis itu terkejut. " Tunggu di sini, aku ada sedikit pekerjaan", kata Cruz.
Noa mengangguk mengiyakan. "Bolehkah aku melihat koleksi bukumu?", tanya Noa pelan.
" Boleh, lihat saja", kata Cruz acuh tak acuh lalu pergi meninggalkan Noa sendiri di ruang tamu.
Noa berdiri lalu berjalan ke arah rak buku. Dia duduk di kursi malas milik Cruz dan mulai memilih buku di sana. Cruz mengoleksi banyak buku dan di rak kedua terdapat banyak komik. Di rak ketika Noa melihat kumpulan naskah drama milik Cruz dari berbagai film yang di perankannya.
Noa teringat saat Cruz menolak bermain di film horor miliknya, betapa menjengkelkannya saat itu. Noa menghela nafas kesal mengingat kejadian itu. Seandainya naskah tulisanny ada di sana betapa bahagianya hati Noa, seorang idol besar bermain di film yang di tulis olehnya.
Noa lalu melihat boneka teddy bear milik Cruz. Boneka itu tampak lucu tetapi Noa merasa boneka ini terus mengawasinya. Noa menatap boneka itu lalu memalingkan wajahnay. 'Mungkin hanya perasaanku saja', batin Noa.
Noa lalu melanjutkan memilih sebuah komik anime Jepang dan mulai membacanya. Lama Noa menunggu Cruz, sepertinya Cruz memiliki banyak pekerjaan. Noa membaca sampai seri ke 6 saat Cruz datang dan menegurnya.
__ADS_1
"Kau lapar?", tanya Cruz.
" Sedikit", Noa berkata jujur.
Tentu saja sekarang sudah jam 6 sore dan Noa sedang menjalani diit, jadi dia tidak akan makan melewati jam 7 malam.
"Oke kita pesan makan saja", kata Cruz santai.
" Hei aku ke sini bukan untuk makan, aku ke sini untuk menyelesaikan perjanjian kita", Noa berdiri dari kursi malas itu.
" Ya aku tahu. Tapi aku lapar dan kalau sedang lapar aku tidak bisa berpikir. Kita bisa berbicara sambil menunggu makanan datang", Jelas Cruz keras kepala.
Noa negedumel di dalam hati. 'Tau begini mending bayar 1% saja. Dasar idol egois, semuanya sendiri. Dia kira aku tidak memiliki pekerjaan? '.
" Hei wanita bulan, kamu pesan apa?", Cruz membuyarkan lamunan Noa.
Noa berpikir sejenak. " Terserah", jawab Noa.
" Oke, kita pesam fast food ya", kata Crus mengetik di ponselnya.
" Jangan... Aku bosan fast food", Noa melarang.
" Oke, jadinya apa?", Cruz sabar.
" Apa aja deh, tapi jangan fast food", jawab Noa lalu duduk di sofa.
Cruz menatap Noa mulai kesal. " Oke, aku pesan sushi", Cruz memutuskan.
Noa berpikir sejenak "Jangan, minggu lalu aku makan sushi".
" Jadi maunya apa?", Cruz mendekati Noa gemas.
Noa tertawa malu "Pizza aja pizza", jawab Noa buru-buru sebelum Cruz menjitaknya.
"Oke", jawab Cruz lalu memesan cepat sebelum Noa berubah pikiran.
Setelah memesan makanan, Cruz duduk di dekat Noa dan mulai berbicara serius. " Jadi sampai di mana kita?", tanya Cruz pada Noa.
__ADS_1
***