
Pagi ini Cruz terbangun karena bunyi jam weker yang cukup keras di depan pintu kamarnya. Jam itu sangat berisik sampai membuat Cruz kesal. Dengan terpaksa Cruz bangun dari tidurnya dan berjalan keluar kamar untuk mematikan Jam sialan itu.
Jam itu di letakan oleh Noa di depan pintu dan ada kertas dengan tulisan 'Selamat pagi Cruz, ayo bangun. Jangan malas' tertempel di jam itu.
" Anak ini, begini cara membangunkan suami hah", Cruz mematikan weker di tangannya itu. Matanya berkeliling mencari sosok Noa tapi tidak terlihat. Sekarang waktu menunjukan jam setengah 7 dan cruz baru bisa tidur jam 5. Bayangkan saja betapa ngantuknya Cruz.
Cruz akhirnya berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Cruz mencari gelas tetapi tidak menemukannya sama sekali. Gelas yang ada di dapur seperti lenyap menghilang entah ke mana.
Cruz menggeram " Nooooaaaaaaaaaa".
***
Cruz duduk dengan wajah di tekuk, dia menyesap kopi yang di belikan oleh manajernya.
"Jadi Noa menyembunyikan semua gelas kopi di rumahmu?", Letu masih tertawa.
" Haaaaaahh..... Dia bahkan menaruh jam weker di depan kamarku. Waahh rasanya aku ingin mengajaknya bergelut", keluh Cruz.
Letu tertawa lagi mendengar cerita Cruz. " Kelakuan kalian di belakang kamera sangat konyol Cruz hahaha".
Cruz hanya memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia sedang memikirkan cara bagaimana harus membalas Noa nanti.
" Kak malam ini aku akan pergi bersama Loco dan yang lainnya", kata Cruz pada Letu.
" Baiklah", Letu menyetujui.
Malam harinya Cruz berkumpul bersama teman-temannya di bar milik Ran.
" Jadi bagaimana rasanya menjadi suami bayangan ?", Loco bertanya pada Cruz.
" Lumayan menyenangkan", jawab Cruz menyesap minumannya.
"Bukannya itu adalah gadis yang kau lihat di hari pembukaan bar ini?", Loco berusaha mengingat wajah Noa.
"Ya benar. Itu dia, teman istri Ran", jawab Cruz.
"Waaahh. . . Luar biasa. Mungkin kalian berjodoh", Gilli bertepuk tangan heran.
" Tidak mungkin. Di belakang kamera kami sering ribut. Kami sangat tidak cocok", sanggah Cruz.
" Masa? Aku lihat di acara itu kalian sangat cocok bahkan bergandengan tangan", kata Gilli tidak percaya.
Cruz tertawa "Saat bergandengan tangan ada adegan Noa berbisik padaku kan? Kau lihat adegan itu?", Cruz berkata pada Gilli.
__ADS_1
" Ya tentu saja. Di situ kau terlihat tertawa bahagia. Noa membisikan kata-kata gombalan padamu?", Gili penasaran.
" Bukan. Dia tidak akan mengatakan hal sekonyol itu. Saat aku menggandeng tangannya dia berbisik ' Jika kau melakukan hal yang lebih dari ini Cruz, aku akan menendang bokongmu dengan tendangan maut yang pernah ku pelajari'", Cruz menirukan ucapan Noa.
Mendegar itu semua teman-teman Cruz tertawa terpikal-pikal. Loco sampai mengeluarkan air mata karena cerita itu.
Akhirnya mereka tau apa yang membuat Cruz gelisah selama melihat Noa. Ternyata gadis itu dengan lantangnya menolak pesona Cruz mentah-mentah. Bahkan tidak tertarik sedikitpun pada Cruz.
Cruz yang selalu di puja pasti merasa harga pasarannya jatuh karena di tolak wanita yang biasa-biasa saja.
"Inilah sumber ketidakwarasanmu selama ini?", Lucas bertanya di sela tawanya.
Cruz hanya terdiam sambil menyesap minumannya sampai tandas.
Cruz pulang saat tengah malam. Cruz mengambil air mineral di dalam kulkas dan melihat berkeliling. Sepertinya Noa sudah tidur karena Cruz tidak melihatnya sama sekali.
Mata Cruz tertumbuk pada tas kecil berwarna cokelat milik Noa di atas meja. Cruz tersenyum senang karena mendapatkan ide secara tiba-tiba dan terjadilah pembalasan Cruz kepada Noa.
***
Noa duduk dan mengerjakan Novelnya dalam keheningan. Dia begitu khusyuk mengetik. Ide mngalir begitu lancar dalam kepalanya.
Ponselnya berbunyi membuyarkan konsentrasinya. Noa terus mengetik tidak peduli pada ponselnya yang berbunyi. Tetapi ponselnya terus berdering berkali-kali seperti tidak menyerah.
" Apa?", jawab Noa galak.
" Buatkan aku jus jambu sekarang", perintah Cruz.
" Buat sendiri", jawab Noa kesal. Tentu saja Noa marah, sekarang Cruz sedang ada di ruang tamu bermain PS dan Noa ada di kamar. Kenapa dia tidak langsung melangkah ke dapur yang jaraknya hanya sejengkal dari ruang tamu.
" Ingat utangmu... cepat... Aku haus", perintah Cruz lalu menutup sambungan telepon.
Noa menatap ponselnya lalu memukul-mukul bantal di sampingnya dengan emosi.
" Dasar iblis", Noa memaki.
Noa berjalan keluar kamar dan melihat Cruz yang sibuk dengan PSnya. Noa menatap sewot ke arah Cruz yang tampak sebodo amat dengan Noa.
Noa mengambil Jambu dari dalam kulkas lalu mulai membuat Jus untuk Cruz dengan susah payah. Karena tangan sebelah kiri masih dalam proses pemulihan.
Setelah semuanya selesai Noa menyondorkan segelas jus ke bawah wajah Cruz.
" Ini pesanan anda tuan", kata Noa galak.
__ADS_1
" Terima kasih. Tapi kamu coba dulu, jangan-jangan kamu masukin sesuatu ke situ", Cruz curiga.
Noa lalu meneguk sedikit minuman itu. " Puas?", Noa berkata kesal.
"Ya... Puas", Cruz menerima gelas itu lalu meneguk minuman itu sampai tandas lalu menyerahkan gelasnya lada Noa.
Noa menatap sewot ke arah Cruz.
" Kenapa? Mau tidak di stampel bukumu?", Cruz mengancam membuat Noa mendengus.
" Mana stampelnya?", Noa mengulurkan tangan.
" Peraturan berubah", Cruz menatap Noa tanpa beban.
" Apa maksudmu?", Noa heran.
"Karena sekarang kita tinggal serumah. Stampel akan di berikan tepat jam 12 malam", jelas Cruz enteng.
" Apa? Kenapa kau seenaknya merubah peraturan?", Noa protes.
" Karena aku yang punya kuasa. Kenapa? Kau menolak? ", Cruz berdiri.
Cruz yang tampak menjulang di depan Noa membuat nyali Noa sedikit menciut.
" Aku Protes, ini tidak adil dan beradab", Noa mengumpulkan keberanian untuk protes.
" Aku menolak protesmu. Jadi kau mau apa?", Cruz mendekat ke arah Noa, membuat gadis itu mundur selangkah memeluk gelas Jus dalam dekapannya.
" Aku mau kau...", Noa belum selesai berbicara Cruz sudah maju sangat dekat dengannya. Membuat konsentrasi Noa buyar
" Kau mau apa hah?", Cruz menuduk sejajar dengan Noa.
Noa menutup matanya mengira Cruz akan menciumnya. Tetapi jari Cruz mengusap sesuatu di bibir Noa.
" Kalau minum Jus jangan belepotan dong", kata Cruz lembut.
Noa kaget langsung membuka matanya dan sadar bahwa Cruz sedang mengerjainya. Noa mendorong Cruz cepat lalu beralari masuk ke dalam kamarnya dengan wajahnmerah padam.
Sampai di kamar Noa terduduk di pinggir tempat tidurnya. Mengutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia berpikir Cruz akan menciumnya. Bagaimana mungkin Noa berpikir hal seperti itu akan terjadi padanya dan Cruz. Betapa bodohnya Noa.
Noa membaringkan badannya di atas tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan bantal. Dia sangat malu Cruz menggodanya seperti itu. Semoga Iblis itu tidak melihat betapa merah wajahnya tadi.
***
__ADS_1