
Cruz memarkirkan mobilnya di garasi rumah milik Noa. Dengan terpaksa Cruz menggunakan mobil yang lain untuk ke rumah Noa. Mobilnya yang berwarna metalic diam mendekam di garasi studio.
Cruz melakukan kucing-kucingan karena berita pertengkarannya dengan Noa di basment baru-baru ini. Beberapa paparazi selalu mengikuti Cruz karena penasaran dengan wanita yang bersama Cruz.
Cruz buru-buru masuk saat Noa membuka pintu rumahnya. Sampai di dalam rumah, Cruz langsung melepaskan kacamata, topi dan hoddienya.
" Kamu sembunyi-sembunyi ke sini?", tanya Noa.
" Yaaa.... Penuh perjuangan. Tapi sepertinya mereka tidak sadar aku naik mobil lain", kata Cruz.
Noa tersenyum. " Hal seperti itu pasti melelahkan", Noa berkata sedih.
" Tidak masalah. Aku suka bertemu denganmu", kata Cruz.
Noa tersenyum senang mendengar jawaban Cruz. " Kamu mau minum apa?", tanya Noa seraya berbalik untuk menunu ke dapur.
Cruz meraih pinggang Noa dan berbisik di telinga Noa " aku ingin air putih". Lalu mencium pipi wanitanya itu.
Wajah Noa bersemu merah. Dia belum terbiasa dengan perlakuan Cruz yang seperti ini.
Cruz tersenyum menatap pipi Noa yang bersemu merah. " Kamu.... malu?", Cruz mulai menggoda Noa seraya melepaskan pelukannya dari pinggang Noa.
Noa memegang pipinya yang terasa hangat dan merona. " Malu? Siapa? Tidak kok!", Noa mengelak saat Cruz menatap wajahnya dari dekat.
" Rona merah di pipimu kelihatan sekali", kata Cruz terus menggoda Noa sambil tetap menatap wajah wanitanya itu.
" Tidak...tidak...tidak....", Noa terus mengelak lalu berbalik dan berjalan ke arah dapur.
Cruz tertawa cukup keras dan mengikuti Noa ke dapur.
" Aku suka kalau kamu seperti ini. Apakah aku ciuman pertamamu? Karena saat aku menciummu pertama kali, pipimu merona merah seperti ini", Cruz menggoda Noa sambil berdiri di sebelah Noa.
Noa menatap Cruz tanpa mengatakan apapun. Cruz menutup mulutnya dengan tangan berlagak kaget.
" waaahhh serius, aku ciuman pertamamu?", Cruz tidak percaya karena tebakannya benar.
"Tidak.... Aku suda pernah di cium", Noa menjawab sedikit ragu.
Cruz menatap Noa tidak percaya.
" Di pipi", lanjut Noa memalingkan wajahnya malu.
Cruz terkekeh mendengar jawaban Noa. " Jadi aku yang pertama untukmu... Waah.. Aku suka sekali", Cruz berkata gembira.
__ADS_1
"Suka apa?", Noa mendelik pada Cruz.
Cruz mendekat pada Noa dan menarik gadis itu mendekat padanya. "Aku suka karena aku adalah yang pertama dan terkahir. Tidak ada orang lain", kata Cruz lalu mengecup bibir Noa lembut.
Noa menatap Cruz seraya mendorong pria itu sedikit menjauh. " Memangnya kau akan menikahiku. Kalau aku nanti menikah bagaimana?", kata Noa.
" Kau memang akan menikah. Kau akan menikah denganku. Hanya denganku", jawab Cruz.
Noa tersenyum. " aku akan menjadi yang paling bahagia jika menikah denganmu Cruz", kata Noa pelan di pipi Cruz.
" Tentu saja. Kau akan bahagia bersamaku", janji Cruz pada Noa.
Noa tersenyum dengan bahagia dan Cruz memeluknya penuh sayang.
Mereka lalu duduk di sofa sambil menonton TV.
" Kau sembunyi-sembunyi datang ke sini hanya untuk menonton TV bersamaku?", Noa bertanya sambil cekikikan.
" Ya, apalagi superstar ganteng ini bisa lakukan selain duduk bersama pacarnya di rumah", jawab Cruz enteng.
" Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?", tanya Noa.
" Ada. Aku ingin pergi bersamamu, tapi sepertinya saat ini paparazi ada di mana-mana. Aku tidak mau hidupmu tidak tenang", terang Cruz.
Noa mengangguk lalu terdiam sesaat. Kekasihnya itu menonton TV dengan begitu serius.
" Tidak... Aku dulu bercita-cita menjadi seorang guru seperti ibuku. Tapi karena kendala ekonomi aku menggunakan satu-satunya bakatku dan terjun ke dunia ini", kata Cruz sambil membeli rambut Noa.
"Apa sekarang kau menyukai duniamu ini?", tanya Noa.
" Tidak. Aku tidak menyukai dunia gemerlapnya. Kita di tuntut untuk menjadi ini itu, tidak ada teman yang bisa di jadikan tempat bersandar saat kau lelah dan di tengah putus asa. Tapi dari semua itu aku suka bernyanyi, setelah sekian lama aku menyadari bahwa aku mencintai musik", kata Cruz.
" Kalau begitu jadilah guru musik", kata Noa polos.
Cruz tertawa lalu mencubit pipi pacarnya itu. " Semoga suatu saat aku akan menjadi guru musik. Aku sedang melebarkan sayapku ke luar negri. Aku ingin bergabung dengan salah satu manajemen di sana. Itu adalah satu-satunya mimpiku setelah menjadi seorang penyanyi", kata Cruz sambil tersenyum.
Noa mengelus pipi Cruz. "Semangat, jika kamu kelelahn datanglah padaku. Aku akan memelukmu", kata Noa penuh sayang.
Cruz tersenyum dan mencium kening Noa lembut. " Sebelum itu apakah bisa aku makan sesuatu?", kata Cruz membuat Noa kelabakan.
***
Tian memukul samsak didepannya dengan sangat keras. Pikirannya melayang pada Noa.
__ADS_1
Tian sangat kesal karena Cruz membawa Noa pergi malam itu. Saat ini Tian membayangkan samsak yang ada di hadapannya adalah Cruz.
Dengan penuh emosi Tian menghantam samsak itu sampai terlepas dari gantungannya.
Tian membuka sarung tinjunya dan duduk menegak air dari botol mineral. Lalu dia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
" Haah... Kenapa aku begitu menyukaimu Noa", Tian mengeluh pada dirinya sendiri.
Asistennya masuk " Selamat pagi pak. Apakah anda sudah selesai berolahraga?".
" Ya, aku sudah selesai. Siapkan mobil, 5 menit lagi aku akan turun", pintah Tian.
" Baik tuan. Tapi sebelum itu ada tamu yang ingin menemui anda", kata asistennya.
Tian menyipitkan mata. "Siapa?", tanya Tian.
" Aku ", suara July terdengar dari belakang asisten Tian.
"Maaf nona anda seharusnya menunggu di ruang tamu", kata asisten Tian.
"Aku terlalu lama menunggu kalian, aku juga ada pekerjaan. Minggir", July meminta asisten Tian menyingkir dari pintu, tapi pria itu tidak bergerak sedikitpun.
"Tidak apa-apa Daren. Biarkan dia masuk", perintah dari Tian membuat Daren menggeser badannya memberi jalan pada July.
" Kau. . . apa kau menarik satu sponsor dari sekolah milikku?", tanya July menahan amarah.
" Ya. Apa kau di rugikan karena itu?", Tian menjawab santai sambil mengeringkan keringat di lehernya dengan handuk kecil.
" Tentu saja aku merugi. Kau tau berapa banyak siswa di sekolahku yang menerima beasiswa dari sponsormu itu?", kata July kesal.
Tian tersenyum tenang. "Kalau begitu alihkan saja beasiswa itu. Aku tau kau mampu melakukannya", kata Tian.
Emosi July naik sampai ke ubun-ubun. " Kenapa kau lakukan ini padaku?", teriak July pada Tian.
" Ckkk... Isss. . Jangan berteriak", Tian berkata kesal. " Aku melakukan hal itu sebagai peringatan untukmu. Jangan membuatku kesal dengan semua ide gilamu itu dan jangan pernah datang kepadaku", terang Tian sambil menatap July.
" Kau marah karena Noa? Salahmu karena tidak bisa menjaga dia tetap diam di tempatnya", July berkata dengan ketus.
"Itu bukan urusanmu. Lebih baik kau urus Cruzmu itu dalam diam atau aku yang mengurusnya", ancam Tian penuh emosi.
Tian berjalan melewati July lalu berbalik. " Oh iya, ada berita yang sepertinya belum sampai padamu. Karena kau terlihat masih sangat bersemangat", kata Tian lebih tenang.
July berbalik menatap Tian menunggu.
__ADS_1
" Ayahku dan ibumu berencana akan menjodohkanmu dengan seorang konglomerat", terang Tian membuat July cukup kaget. " Untuk kebaikan perusahaan, jadi tenanglah dan jangan membuat skandal ", Tian tersenyum licik lalu pergi meninggalkan Julu yang diam dalam kebingungan.
***