
Cruz uring-uringan di kursinya. Letu yang sedang menikmati cemilannya menatap Cruz penasaran. Letu sudah melihat Cruz marah-marah sendiri sejak sore. Entah apa yang membuat Cruz seperti orang frustasi.
" Ada apa?", tanya Letu.
"Tidak apa-apa kak", jawab Cruz tiba-tiba tenang.
Letu tau Cruz pasti sedang kesal karena sesuatu. Tapi Letu membiarkan Cruz seperti itu.
" Cruz kamu mau makan di mana?", tanya Letu.
" Sushi saja", Jawabnya singkat.
" Oke baiklah ", Letu mengambil ponselnya hendak memesan makanan.
" Tunggu sebentar", Cruz membalikan badannya ke arah Letu.
" Ada apa?", tanya Letu.
" Kapan terkahir kita makan enak?", tanya Cruz.
Letu mulai mengingat-ingat. " satu minggu lalu saat Jay bosan makan di rumah", Letu mengingat saat itu mereka pergi ke restoran mahal karena Jay merasa bosan.
" Tunggu ya", Cruz tersenyum lalu mengambil ponselnya dan menelpon Noa lagi. Saat ini waktu menunjukan pukul setegah 8 malam.
" Halo", Noa menjawab telpon Cruz.
"Noa kami di mana?", tanya Cruz sok cool.
" Aku di jalan mau ke restoran Y. Ada apa?", tanya Noa.
" Tidak, aku hanya bertanya. Aku ada meeting di sekitar situ. Semoga nanti kita bertemu ", Cruz berbicara tenang.
" Terserah. Aku sedang sibuk sekarang. Bye", Noa menutup telpon.
"Wah... Gadis ini mengabaikanku. Bisa-bisanya dia pergi dengan pria lain saat aku menyukainya", Cruz mengomel sendiri.
Letu hanya menatap Cruz tanpa berkomentar. ' apalagi sekarang. Cinta bertepuk sebelah tangan? ', Letu ngedumel di dalam hati.
" Ayo kita makan makanan enak kak. Aku traktir", Cruz berkata sambil tersenyum penuh rencana.
Letu menurut dan akhirnya mereka berangkat berdua menggunakan mobil Cruz.
***
Cruz menatap berkeliling ruangan. Sibuk mencari keberadaan Noa.
__ADS_1
Cruz tidak fokus pada daftar menu makanan yang ada di hadapannya.
" Cruz kau mau makan apa?", Letu bertanya sambil emneliti makanan yang ada di daftar Menu.
Cruz langsung melihat ke arah daftar menu makanan dan menunjuk asal salah satunya.
Letu mengangguk mengiyakan, tidak memperhatikan bahwa Cruz saat ini sedang memperhatikan berkeliling ruangan dengan tatapan bak maling profesional.
" Kalau begitu aku ini saja. Tolong hindari sesuatu yang berbau kacang di dalam makanan. Terima kasih", Letu berbicara kepada pelayan yang melayani mereka.
Cruz menatap Letu yang terus melihat ke arah pintu masuk.
" Kau sedang memperhatikan apa sih dari tadi?", Letu penasaran sambil ikut melihat ke arah pintu.
" Aku sedang memperhatikan jumlah tamu yang datang", Cruz menjawab ngaco.
Tepat saat itu Noa masuk ke dalam restoran bersama Tian. Cruz langsung mengangkat buku menu dan menutupi wajahnya agar tidak terlihat.
Letu mengikuti apa yang di lakukan Cruz. " Ada apa? Apakah ada wartawan?", Letu bertanya.
" Bukan wartawan", jawab Cruz berbicara dari balik buku menu.
" Lalu ada apa?", Letu balas berbisik dari buku menunya.
" Noa. Dia datang dengan pria sinting itu", jawab Cruz membuat Letu meletakan buku menu itu dengan kesal.
Letu langsung bisa menemukan kenapa mereka memilih restoran yang jauh ini di bandingkan restoran biasa yang sering mereka kunjungi.
Seorang pelayan datang dan mengambil buku menu dari mereka, membuat Cruz tidak mempunyai tameng persembunyian lagi.
Dengan terpaksa Cruz menampilkan wajahnya dengan iklas. Cruz menatap ke arah Noa sambil menyipitkan mata.
Cruz melihat bagaimana Tian memperlakukan Noa dengan lembut. Cruz berdecak lalu mulai mengomentari setiap pergerakan dari mereka.
" Wah.... Lihat-lihat. Dia sepertinya tipe playboy berpengalaman ya? Ckckckck... Wah wah sungguh terlatih dan bisa-bisanya Noa terpesona padanya", Cruz berkomentar tidak jelas.
Letu hanya bisa melihat dan mendengar setiap komentar yang di lontarkan Cruz. Saat ini Cruz sedang cemburu berat pada Noa dan temannya itu.
" Mungkin mereka teman lama Cruz. Sepertinya mereka karab", kata Letu.
Cruz menusuk steak di depannya menggunakan garpu sambil terus melihat Noa.
" Tidak, aku sangat yakin pria ini menginginkan Noaku. Tindak tanduknya sangat terlihat", Cruz menjawab Letu dingin.
Letu terbengong, ' Sejak kapan Noa menjadi Noaku?', batin Letu.
__ADS_1
Letu tahu bahwa di setiap kesempatan Cruz selalu mengatakan menyukai Noa. Letu mengira itu karena penolakan yang di lakukan oleh Noa, ternyata rasa suka anak asuhnya itu terhadap Noa begitu serius.
" Wah... Lihat dia memyentuh pipi Noa. Lihat-lihat. . . gadis ini kenapa tersenyum selebar itu cuma karena di perlakukan seperti itu? Itu namanya pelecehan, menyentuh bagian tubuh tanpa ijin dari pemiliknya. Ini harus di laporkan ke polisi ", Cruz marah-marah saat melihat Tian menyentuh Noa.
Cruz tidak sadar diri bahwa dia lebih parah saat bersama Noa. Dia menyentuh wajahnya Noa bahkan mencium Noa tanpa ijin.
Letu menggelengkan kepala ikut frustasi menghadapi komentar Cruz. " Jangan gila, bagaimana bisa kau melapor ke polisi karena mereka bersentuhan? Dan lagi lihat Noa sedang tersenyum bukan menangis", Letu menyadarkan Cruz.
" Oh begitu ya? Oke.. Aku hanya menjaganya dari sini. Aku takut pria ini tidak benar ", Cruz berkata pelan sambil berbisik lalu memotonh daging di atas piringnya dengan kesal.
"Setidaknya dia tidak menjambak dan mengigit kaki Noa", lanjut Letu sambil meneguk minumannya.
Cruz terdiam, tidak peduli sedang di sindir oleh Letu. Dia menyuapi daging ke mulutnya tapi matanya menatap Tian dan Noa. Sedangkan yang di tatap belum sadar dengan kehadiran seorang pria pemarah di sebrang ruangan.
Karena kesal Cruz mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Noa.
Cruz: Noa, jangan terlalu sering tertawa. Aku tidak suka melihat gigimu.
Noa membuka pesan yang di kirim Cruz. Terlihat dia sedikit sewot menatap ponselnya lalu melihat berkeliling dan menemukan Cruz bersama Letu berada di sisi lain ruangan.
Noa: Bukan urusanmu. Jangan ganggu aku.
Noa membalas jutek lalu memasukan ponselnya ke dalam tas seolah tidak peduli dengan keberadaan Cruz di sisi lain ruangan.
Merasa tidak senang karena Noa mengabaikannya Cru mengatur siasat agar Noa mengakui kehadirannya. Cruz memanggil seorang pelayan.
" Makanan apa yang paling mahal di sini?", tanya Cruz.
" Yang ini tuan", jawab pelayan itu.
" Aku pesan itu tapi antarkan ke meja di sana itu. Wanita dengan baju berwarna putih", kata Cruz.
" Baik tuan", jawab pelayan itu.
Cruz tersenyum senang tapi Letu malah menatap Cruz aneh.
" Cruz, kenapa kau menganggu Noa?", Letu bertanya heran.
" Karena, aku tidak suka dia bersama pria lain kak. Pria dengan tujuan yang sama denganku", kata Cruz lagi.
" Tujuanmu apa?", tanya Letu lagi.
Cruz menatap Letu lalu berbisik. " Noa... Harus... Menjadi pacarku", katanya.
Letu hanya bisa tertawa mendengar Cruz mengoceh. Baru sekarang Letu melihat Cruz begitu gigih mengejar wanita. Dulu saat bersama July, tampaknya Cruz tidak segigih ini. Jadi Letu hanya bisa melihat apa yang akan di lakukan Cruz pada Noa.
__ADS_1
***