
“ Jadi apa yang membuatmu murung akhir-akhir ini Cruz?”, Letu bertanya saat duduk bersama Cruz di ruang tamu apartemennya.
“ Apa aku terlihat murung? Tidak ada apa-apa. mungkin aku hanya kelelahan”, jawab Cruz lalu membaringkan badannya di sofa.
“ Apa kau butuh liburan?”, tanya Letu.
“ Jadwal kita terlalu padat untuk berlibur”, jawab Cruz sambil menutup matanya.
“ Aku bisa mengaturnya untukmu. Tapi hanya untuk 1 hari saja”, kata Letu. Dia merasa kasihan melihat Cruz yang tampaknya benar-benar membutuhkan istirahat.
“ Terima kasih”, jawab Cruz lalu mulai berusaha tertidur. Tetapi dia tidak bisa, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
“ Aku akhir-akhir ini sulit tidur dan harus minum obat tidur lagi”, terang Cruz.
Letu yang sedang membuat kopi melihat ke arah Cruz. “ Sudah lama kau tidak mengkonsumsi obat itu. Ada apa? “, Letu mencoba untuk mengorek informasi lebih dalam.
“ Aku hanya kelelahan kak”, Cruz masih berbohong.
Letu hanya terdiam, bukan tidak tahu bahwa anak Cruz sedang berbohong kepadanya. Dia akan mencari tahu dan pada akhirnya memutuskan untuk menemui Noa.
***
Menurut Noa, Cruz berubah menjadi lebih murung sejak seorang tamu datang ke apartemennya. Noa tidak tahu siapa yang datang karena Cruz tidak mengizinkan Noa untuk melihat.
__ADS_1
Letu berjalan masuk ke ruangan security gedung apartemen Cruz. Ruangan itu memiliki banyak komputer untuk melihat CCTV di seluruh gedung itu.
“ Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”, seorang security menyapa dengan sopan saat melihat Letu masuk.
“ Selamat siang, saya ingin meminta tolong. Apakah bisa saya melihat rekaman CCTV pada tanggal dan jam ini?”, Letu menyerahkan secarik kertas.
“ CCTV adalah hal internal, kalau boleh tahu anda siapa?”, tanya petugas itu.
“ Saya adalah seorang staf yang bekerja bersama salah seorang penghuni apartemen ini”, jawab Letu sambil mengeluarkan kartu karyawan SAINT entertainment miliknya.
Setelah mengamati beberapa saat, akhirnya petugas itu membantu Letu untuk melihat rekaman di hari ayah Cruz datang.
Letu melihat rekaman CCTV itu saat seorang pria berdiri cukup lama di depan interkom milik Cruz.
Letu membeku saat melihat dengan jelas wajah ayah Cruz di layar. Yang terlintas di benak Letu saat ini adalah bagaimana bisa ayah Cruz tau di mana tempat tinggal Cruz.
***
“ Jadi apa maumu kali ini ?”, tanya Tian tanpa menatap July.
July menarik nafas panjang dan mencicit pelan. “ Aku mundur dari perjodohan ini”, kata July tanpa amarah.
Tian tersenyum di sudut bibirnya. “ Jadi kau sudah memutuskan rupanya”, kata Tian mengerti.
__ADS_1
“ Ya, aku sudah memilih”, jawab July lagi.
“ Kau tau semua sponsor akan ditarik darimu. Kau hanya akan memiliki sedikit sponsor mulai hari ini”, Tian mengingatkan.
“ Ya, aku tau”, jawab July lagi.
“ Baiklah kalau begitu”, Tian mengakhiri percakapan mereka.
“ Tapi aku ingin minta satu hal padamu”, July berkata dengan suara yang tegas.
“ Ck.. harusnya aku tau, tidak ada yang gratis di dunia ini”, ejek Tian.
July menarik nafas lalu menatap Tian dengan mata yang sedikit sedih. “ Kita memang tidak akur, tapi jika boleh aku meminta. Tolong keluarkan aku dari nama keluarga kalian, aku ingin hidup dengan caraku”, cicit July.
Tian tertegun mendengar permintaan July. Baru kali ini dia melihat July yang berbeda, bukan July pemarah yang selalu membangun tameng untuk melawannya. Bukan July yang selalu terlihat angkuh.
Di mata Tian saat ini July tampak seperti wanita lelah yang memiliki segudang kesedihan.
“ Baiklah, aku akan melakukannya”, kata Tian.
“ Terima kasih Tian”, jawab July.
“ Tapi namamu akan menjadi incaran paparazi nantinya”, Tian mulai sedikit mengingatkan.
__ADS_1
“ Aku tidak peduli. Lakukan saja. Aku memang berencana hiatus dan ingin hidup normal”, jawab July tegas.
****