
Noa meringis kesakitan, dia bisa merasakan sakit di pergelangan tangan kirinya. Rasanya bukan main, sepertinya ada yang retak di sana. Noa pernah mengalami rasa sakit seperti ini saat mengikuti pertandingan taekwondo tingkat nasional. Saat itu salah satu jari kakinya ada yang retak.
Letu berlari menuruni tangga dan wanita tadi sudah lebih dulu berlari melompati Noa dan menghilang di lantai berikutnya.
" Halo... Halo.. Noa kau kenapa ?!! ", Suara Cruz terdengar di ponsel Noa yang terlempar di sebelahnya.
Letu meraih ponsel itu dan berbicara cepat. "Cruz bawa tim medis ke tangga darurat lantai 6, cepat".
Letu meraih Noa dan mengguncang badan Noa pelan. " Penulis Noa kau tidak apa-apa?", tanya Letu.
" Kak, tangkap wanita itu. Dia penguntit Cruz", Kata Noa sambil meringis.
" Biarkan saja dia. Sekarang pikirkan keadaanmu", Letu geram melihat Noa seperti itu.
"Kalau begitu bantu aku duduk", pintah Noa.
Letu membantunya duduk dengan bersandar di dinding. Noa memejamkan matanya, dia merasakan nyeri pergelangan tangannya begitu menusuk.
" Kenapa kau datang ke sini sendirian?", tany Letu.
" Aku hanya ingin menangkapnya, dia menelponku kak ", kata Noa sedikit tersegal.
" Tapi itu berbahaya Noa", Letu menggelengkan kepala Heran lalu meneliti tangan Noa yang mulai kebiruan.
"Wanita itu terobsesi pada Cruz. Dia berbahaya kak, tolong cepat tangkap dia", Noa memberitahu Letu.
Letu diam saja menatap Noa. Gadis ini bisa-bisanya memikirkan orang lain daripada pergelangan tangannya sendiri.
Pintu terbuka, Cruz muncul dengan beberapa orang di belakangnya.
" Noa.. Kau kenapa?", tanya Cruz.
" Dia bertengkar dengan penguntitmu Cruz", Letu menjelaskan.
Cruz terdiam, melihat tangan Noa yang membiru.
" Apa kau merasa pusing?", tanya tim medis itu.
" Sedikit. Mungkin karena aku berguling dari atas", kata Noa.
Cruz melihat tangga yang di tunjuk Noa. " Gila ya... ini benar-benar gila. Lakukan sesuatu", Cruz berteriak pada tim medis yang sedang memeriksa Noa.
"Cruz tenanglah", Letu memegang bahu Cruz.
" Manajer Letu, sepertinya temanmu harus di bawa ke Rumah Sakit untuk lakukan foto pergelangan tangan dan scan kepalanya. Sekarang aku akan membebat tangannya ", kata tim medis itu.
" Baiklah. Noa kau bisa berjalan?", tanya Letu.
" Ya sepertinya bisa", kata Noa sambil memperhatikan tangannya yang di beri bebat.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita pakai ambulance", kata Letu.
" Jangan, aku tidak apa-apa. Itu terlalu menarik perhatian banyak orang kak. Aku tidak suka jadi pusat perhatian ", kata Noa menolak mentah-mentah.
"Kak Letu, ambil saja mobilmu. Aku akan menggendong gadis kepala batu ini", Cruz menatap Noa tajam.
" Baiklah, aku pergi", kata Letu.
" Cruz aku bisa berjalan. Jangan..", Noa berhenti bicara karena Cruz menyampirkan jaketnya ke kepala Noa agar bisa menutupi wajahnya.
" Naik", kata Cruz memberikan punggungnya.
" Tapi aku..", Noa masih keras kepala.
" Naik, atau aku yang akan menggendongmu dengan gaya bridal", ancam Cruz.
Noa langsung cepat-cepat naik ke atas punggung Cruz dengan sebelah tangannya yang di bebat dan satu tangannya bertengger di leher Cruz.
" Mas tolong tutup kepalaku dengan jaket ini, jangan sampe ada yang kelihatan", Noa meminta tolong pada salah satu tenaga medis itu.
Cruz tersenyum mendengar permintaan Noa itu.Noa benar-benar malu terlihat orang lain. Mungkin jika yang di punggungnya adalah wanita lain, mereka akan dengan bangganya mendeklarasikan bahwa Cruz adalah milik mereka. Wanita ini berbeda dan itu menarik bagi Cruz.
Noa membenamkan wajahnya di bahu Cruz. Wangi parfum Cruz yang menenangkan terhirup olehnya, Noa tersenyum menghirup wangi Cruz.
" Waaahh... Kau makan apa pagi ini?", Cruz berbisik. Saat ini semua orang sedang menatap mereka ingin tahu. Seorang superstar menggendong seseorang di punggungnya. Mereka ingin tahu siapa itu.
" Apakah aku berat?", tanya Noa.
" Ya.. Aku seperti membawa karung beras tapi isinya batu", kata Cruz sambil tersenyum.
Noa mengeratkan kaitan tangannya di leher Cruz. " Aku turun saja kalau begitu", bisik Noa.
" Baiklah tapi saat ini semua orang sedang menatap ke arah kita", bisik Cruz ke arah bahunya.
" Benarkah? Waah untung aku pakai jaket ini. Cepat jalannya Cruz", Noa bebisik lalu mengintip sedikit dari bahu Cruz.
" Tidak bisa. Kau terlalu berat makanya aku jalannya pelan", Cruz berbohong. Baginya Noa hanya seringan bulu, Cruz malah berpikir mungkin gadis ini tidak makan di rumahnya.
" Ck.. Aku tidak seberat itu. Hanya 47 kg", omel Noa di bahu Cruz .
Cruz tersenyum senang. " Oh 47 kg. Tidak heran kau begitu kecil depan belakang", ejek Cruz.
" Iss.. Kalau tidak cedera aku pasti sudah menghajarmu", Noa mulai emosi.
Cruz semakin senang melihat Noa yang mudah terpancing.
" Mendengar kau marah-marah aku yakin kepalamu baik-baik saja. Sekarang turun, kita sudah sampai", Cruz menurunkan Noa dari punggungnya dan membantu gadis itu masuk ke dalam mobil.
Cruz duduk di sebelah Letu dan mobil langsung melesat keluar dari parkiran Cain Entertaiment.
__ADS_1
***
" Sedikit retak di pergelangan tangannya dan kepalanya baik-baik saja", dokter menjelaskan kepada Cruz dan Letu.
" Apakah boleh pulang? Besok dia ada pekerjaan yang harus di selesaikan", kata Letu cemas.
" Boleh. Aku akan memberikan resep obat. Ingat hindari mengangkat berat dan datang kontrol minggu depan ya di hari yang sama", kata dokter itu.
" Anda yakin dia tidak perlu di rawat inap?", Cruz memaksa.
" Tidak Pak Cruz. Nona Noa baik-baik saja. Dia bisa istirahat di rumah", kata dokter meyakinkan.
" Baiklah", kata Cruz lagi.
Noa tersenyum lebar. "Ayo kita pulang",ajak Noa.
" Ya ayo pulang", Cruz menjawab berat hati.
Saat tiba di apartemen Cruz duduk dengan wajah di tekuk. Sepertinya ada yang akan meledak darinya karena kejadian ini.
" Apa yang sebenarnya coba kau lakukan Noa? ", Akhirnya Cruz menumpahkan semua pertanyaan di hatinya.
" Aku... Hanya ingin menangkapnya", Noa menjawab takut-takut.
Cruz menggeleng " aku tahu kau seorang atlit. Tapi itu berbahaya. Bagaimana jika dia membawa pisau atau benda berbahaya lainnya? ", Cruz mengomeli Noa.
Noa terdiam tidak bisa menjawab apapun.
" Mulai besok, jika ada bahaya seperti itu berlarinya menjauh. Jangan menunjukan kemampuanmu Taekwondomu itu. Ingat, lari sejauh mungkin. Aku mau kau berjanji", Cruz menatap Noa tepat ke manik matanya.
" Ya, aku berjanji", janji Noa.
Cruz menghela nafasnya. Dia merasa bersalah, Noa bisa cedera seperti ini karena ingin menolong Cruz dari bahaya. Letu menceritakan semuanya pada Cruz.
Letu datang dan membawa kabar yang membuat Noa terbengong-bengong.
" Noa, untuk sementara Jay memberikan seorang manajer untukmu. Dan untuk sementara juga kau akan tinggal bersama Cruz di apartemen ini", kata Letu.
" Apa?", Noa kaget sedangkan Cruz biasa saja. " Kenapa aku harus tinggal di sini?", Noa protes.
" Karena kalian berdua sama-sama berada dalam bahaya. Pelaku itu masih dalam pencarian. Kita tidak tahu kapan dia akan datang ke rumahmu dan menyerangmu lagi. Jadi ku harap kau menerima tawaran ini. Dan juga menjadi mudah untuk melakukan syuting, kamu tidak perlu bolak balik", Terang Letu.
Noa tidak bisa membantah lagi. Alasan yang di katakan Letu memang masuk akal. Akhirnya Noa hanya bisa menyetujui semua rencana itu.
"Bagaimana dia bisa masuk ke CAIN?", Cruz penasaran.
" Dia masih punya akses masuk Cruz. Itulah kesalahan kita", Letu menghela nafas. " Selagi polisi menangkapnya, kalian tinggal bersama dulu dan bangun chemistry kalian. Ingat jangan bertengkar", Letu menatap Cruz dan Noa.
***
__ADS_1