My Annoying Superstar

My Annoying Superstar
Bidadari itu Ada


__ADS_3

July menatap Cruz dengan tatapan sedih. Tapi yang di tatap seperti tidak peduli malah sibuk ngoceh-ngoceh pelan karena Noa mulai mengomel d belakang punggungnya.


" Kau menginjak kakiku ", Noa berbisik di punggung Cruz.


" Aku tidak sengaja", Cruz membalas perkataan Noa sambil tersenyum.


" Lagian kenapa kita berdempet begini sih. Kan di sebelah sana masih luas", Noa mulai mengomel masih sambil berbisik.


"Aku sukanya begini, sudah diam saja jangan banyak ngoceh", Cruz balas mengomeli Noa.


Cruz menempatkan Noa di belakangnya karena merasa harus menyembunyikan Noa dari Jay. Dia tidak mau Jay melihat perubahan Noa yang sedang menggunakan rok pendek. Gurauan Jay tentang Noa yang menarik tiba-tiba saja menganggu pikiran Cruz.


Orang lain yang melihat mungkin mengira Cruz sedang bercanda gurau bersama pacarnya dengan berbisik-bisik. Jay hanya tersenyum mendengar suara bisik-bisik berisik di belakangnya.


Sedangkan yang paling tersiksa melihat adegan itu adalah July. Rasanya dia ingin menarik rambut Noa dari belakang punggung Cruz dan memisahkan mereka sejauh mungkin. July mengepalkan tangannya dengan marah.


Lift berhenti di lantai 2.


" Cruz, Noa kami duluan ya", Kata Jay lalu turun dari lift di sambut anggukan oleh Cruz.


July memperlambat langkahnya sampai Mia assistennya harus menahan lift agar tidak tertutup. July lalu berbalik ke arah Cruz dan tersenyum manis.


" Cruz sampai ketemu lagi", kata July lembut karena Noa mengintipnya dari belakang punggung Cruz.


Cruz tidak menjawab perkataan July sama sekali, hanya menatap wanita cantik itu dengan dingin. Setelah pintu lift tertutup Noa mendorong Cruz menjauh darinya.


" Waaah... rasanya sesak sekali di sini ya", Noa mengipas badannya dengan tangan.


Cruz diam saja seolah tidak terjadi apa-apa. Dia malah sibuk bersiul entah apa yang di senandungkannya. Mereka sampai di basment dan berjalan ke arah mobil Sport milik Cruz.


Saat di dalam mobil Noa mulai mengoceh. " Wanita tadi aktris ya? Cantik sekali seperti bidadari", kata Noa bersemangat.


" Hmm... ", Cruz menjawab acuh tak acuh sambil memacu mobilnya.


" Aku sampai terpukau padanya ", Noa masih melanjutkan tidak tahu bahwa yang sedang di bicarakannya adalah mantan Cruz.


" Memangnya kau pernah melihat bidadari?", tanya Cruz.


" Tidak pernah", Noa menjawab spontan.


" Trus darimana kau tahu bidadari itu cantik?", tanya Cruz lagi.


Noa berpikir sejenak. " Itulah yang di gambarkan di Film", jawab Noa.


Cruz tertawa kecil, " Bodoh. Dengarkan baik-baik, apa yang di gambarkan di Film adalah hasil dari khayalan mereka sendiri. Bidadari itu cantik karena mereka menggambarkan dikepala mereka seperti itu. Siapa yang tahu bidadari itu ada atau tidak? Atau ternyata bidadari wajahnya jelek dan baik hati atau malah sebaliknya wajahnya cantik tapi berhati buruk ", Cruz menjabarkan logikanya.


Noa tampak merenung "Jadi maksudmu selama ini penggambaran itu adalah pembodohan?", Noa menyimpulkan.

__ADS_1


" Tidak juga. Mereka hanya ingin kau melihat apa yang mereka bayangkan. Paham?", kata Cruz lagi.


Noa mengangguk paham. " Jadi, menurutmu bidadari itu apa?", tanya Noa.


Cruz tersenyum. " Bidadari itu adalah mereka yang memiliki hati tulus, apa adanya, bodoh dan suka marah-marah", Cruz mendeskripsikan sambil melirik Noa.


" Ha?", Noa berpikir dengan lemotnya. " Emang ada ya yang seperti itu?", Noa bertanya.


" Suka-suka aku dong. Itu kan definisi bidadari dalam pikiranku ", Cruz berkata sewot.


" Terserah deh", Noa menjawab malas merasa di kerjai Cruz.


Cruz tersenyum senang melihat reaksi Noa, rasanya senang memempermainkan gadis ini.


Mobil Cruz berhenti di depan rumah Noa. Hari sudah mulai malam.


" Terima kasih sudah mengantarku", kata Noa lalu hendak membuka mobil saat Cruz tiba-tiba berkata.


" Aku mau melihat Mili", kata Cruz.


" Ha?", Noa kaget.


***


Cruz duduk di ruang tamu Noa dengan canggung. Mili duduk di hadapan Cruz, seperti menatap seorang musuh. Cruz dengan kaku tersenyum pada Mili yang masih terus menatapnya.


" Kau sama juteknya seperti pemilikmu", Cruz berbicara pada Mili si kucing.


Noa datang membawa dua gelas minuman di tangannya. Noa sudah berganti baju dengan baju rumah yang nyaman dan mengepang rambutnya.


" Ini Kopi untukmu",Noa meletakan segelas kopi di hadapan Cruz.


" Terima kasih ", jawab Cruz.


" Mili bilang dia suka padamu", kata Noa sambil menatap Mili.


Cruz menatap Noa tidak percaya. "Kau bisa bicara bahasa kucing?", tanya Cruz.


" Tentu saja. Dia teman curhatku", kata Noa yakin.


Cruz mendengus tidak percaya.


" Lihat ya", Noa menantang. " Mili kau suka pada temanku kan?", kata Noa pada Mili.


" Meoong...", Mili menjawab membuat Cruz tercengang heran.


" Lihat kan? Aku tidak bohong", Noa berkata sombong. " Mili adalah teman curhatku", kata Noa jujur.

__ADS_1


Cruz mengangguk " Ya.. Ya ... Aku percaya padamu. Kau tinggal bersama siapa? ", Cruz bertanya.


"Bersama Mili", jawab Noa santai. " Orang tuaku sudah tidak ada. Aku yatim piatu Cruz", Noa menceritakan santai.


Cruz terdiam lalu menatap Noa kagum. " Orang tuamu pasti bangga melihat anak hebat sepertimu", Cruz berkata pada Noa.


Noa tersenyum hangat. " Terima kasih Cruz. Hanya kau yang tidak menatap kasihan padaku. Aku benci di kasihani", Noa berkata lirih.


Lalu suasana menjadi hening, ada kecanggungan di antara mereka yang tiba-tiba tercipta.


Beberapa saat kemudian Noa memecah keheningan di antara mereka.


" Aku bingung, kau adalah seorang superstar tapi kenapa seperti tidak punya pekerjaan? Kayaknya kau tidak sibuk ya?", Noa menuding.


Cruz tertawa hambar. "Aku sangat sibuk. Hanya saja aku meluangkan waktu untuk mengantar seorang gadis bodoh yang memakai rok pendek. Kau ingin menggoda siapa tadi?", keluarlah sifat jahat Cruz.


Noa terperangah dengan sifat Cruz, ke mana pergi sifat hangatnya yang tadi? Iblis ini bisa berubah dalam sekejap.


" Aku tidak menggoda siapapun. Aku hanya memakai yang di berikan", Noa menjawab jutek.


" Hah... Kau kira aku percaya. Waah... Gadis kecil ini. Ck ck ck...", Cruz menatap Noa seperti ibu tiri yang akan menyiksa anak tirinya.


Noa cemberut, Noa lalu berdiri dan mengambil gelas kopi milik Cruz.


" Aku baru minum seteguk", Cruz protes.


" Bodo amat. Sana pulang ke rumahmu", usir Noa galak.


" Kau marah? Jangan marah-marah nanti wajahmu makin jelek", Cruz berusaha membujuk.


"Hah... Hahaha jadi maksudmu aku jelek", Noa berkata kesal.


" Tidak kau cantik hanya sedikit... Kecil", Cruz berkata jujur sambil mempraktekkan kata kecil dengan jari telunjuk dan ibu jarinya di depan wajah Noa.


Noa menatap Cruz makin kesal, dia lalu membawa kopi itu ke wetafel dan menaruhnya di sana. Setelah itu Noa mendorong Cruz keluar dari rumahnya.


" Noa ayolah.. Jangan marah kita kan sedang membangun chemistry", bujuk Cruz.


" Bodo amat, sana pulang", Noa menutup pintu di depan wajah Cruz.


Cruz tersenyum melihat kelakuan Noa. Cruz mengetuk pintu lagi.


" Noa kunci mobilku di dalam", kata Cruz dari luar pintu.


Beberapa detik berikutnya pintu di buka, wajah Cruz tampak senang.


" Kau tidak marah....", belum sempat Cruz selesai bicara Noa sudah melempar kunci itu ke dada Cruz dan menutup pintu lagi.

__ADS_1


Akhirnya dengan berat hati Cruz pulang ke rumahnya, meninggalkan Noa yang masih marah padanya.


***


__ADS_2