
Sepanjang jalan sampai masuk ke dalam apartemen, Cruz hanya diam saja. Noa juga ikut terdiam, tidak berani memulai pembicaraan. Noa melihat sekilas bagaimana Cruz tampak seperti orang lain saat memegang tongkat baseball itu.
Cruz terus menggengam sebelah tangan Noa sampai mereka masuk ke dalam ruang tamu. Milli menyambut mereka dengan mengeong pelan.
Cruz mendudukan Noa di ruang tamu dan berjalan ke arah kotak P3K di dekat dapur, lalu kembali dengan obat dan kompres es di tangannya.
" Aku ngak apa-apa kok", Noa berkata saat Cruz akan melihat pipinya.
" Sini ku lihat", Cruz memaksa.
Dengan terpaksa Noa memperlihatkan pipinya yang masih merah dan sedikit lembam di ujung bibirnya pada Cruz.
Cruz menghela nafas berat. " Seharusnya aku pukul pria itu dengan tongkat baseball", kata Cruz menyesal.
Noa tertawa mendengar Cruz ngedumel seperti itu. " Jangan dong, nanti kamu di penjara karena membunuh orang".
Cruz menempelkan kompres ke pipi Noa lalu mengambil salep dari dalam kotak P3K.
" Noa, berjanjilah padaku. Jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi", kata Cruz menatap Noa.
Noa terdiam, dia hanya bisa memegang kompres di pipinya sambil menatap Cruz.
" Jangan pernah berlari ke arah bahaya seperti tadi. Aku...mungkin kadang jahat sama kamu. Tapi aku tidak akan pernah menyakitimu seperti itu. Jadi aku bisa matiin siapa saja yang nyakitin kamu", lanjut Cruz.
Noa terdiam mendengar perkataan Cruz. Jantungnya berdebar cepat, mendengar setiap perkataan Cruz yang di ucapkan dengan tulus itu.
Cruz mengambil sedikit salep dan mengoleskannya ke sudut bibir Noa.
" Kenapa kau seperti ini?", Noa bertanya sambil menatap Cruz yang sibuk mengoleskan salep.
" Menurutmu kenapa?", Cruz melempar balik pertanyaan itu kepada Noa.
Noa terdiam. Kepalanya memikirkan seribu satu alasan kenapa Cruz begitu baik padanya.
'Apa Cruz benar-benar menyukaiku seperti perkataannya kemarin?. Tidak mungkin!. Kemarin Cruz hanya mengerjaiku. Jadi tidak mungkin ada perasaan seperti itu. Sadarlah Noa, buka matamu. Kau terlalu terpesona pada kebaikannya ',Noa membatin.
" Karena sekarang kita bersahabat?", Noa menjawab setelah pergumulan batinnya.
Cru tersenyum sambil menutup salep itu dan mengembalikannya ke dalam kotak P3K.
__ADS_1
" Hmm....mungkin begitu", Cruz menjawab ambigu.
Noa tertawa lega. 'Syukurlah aku tidak menjawab hal yang aneh. Kalau tidak aku akan malu seumur hidupku', batin Noa lega.
" Kau tidak ada keluhan lain kan?", tanya Cruz sambil meneliti pipi wanita tidak peka di depannya itu.
" Ya, aku baik-baik saja", Noa menjawab semangat.
" Baguslah, tapi aku suka tendanganmu di dadanya. Itu luar biasa", Cruz mengacungkan jempol ke arah Noa.
" Tentu saja. Itu adalah keahlianku. Cuma celana ini terlalu sempit jadi aku tidak bisa menendang lebih keras. Sayang sekali", Noa berkata sambil melihat celana yang di berikan Tan.
Cruz tersenyum melihat gadis di depannya ini, rasa gemas menyerangnya. Ingin rasanya dia mencium pipi Noa bertubi-tubi. Tapi Cruz mendorong jauh keinginan itu, sebelum Noa mendang kepalanya seperti pria tadi.
" Kau harus melakukan itu jika ada pria lain yang mendekatimu dan berniat jahat. Kecuali aku", Cruz membeikan saran kepada Noa.
" Kenapa ada pengecualian? Kau menjambak rambutku kemarin, itu termasuk tindak kejahatan", Noa menyipitkan matanya pada Cruz.
Cruz cengegesan " Itu kan kemarin. Sekarang kita sudah bersahabat. Jadi masa kamu tega memukul sahabatmu sendiri ", Cruz memberikan alasan.
Noa berpikir sejenak. " Iya benar sih. Tapi kamu kalau jahatin aku lagi awas ya", Noa mengancam.
"Apa?", Noa tidak mendengar.
" Tidak ada", Cruz tersenyum ke arah Noa.
' Haaaah.... Dasar wanita tidak peka', Cruz mengomel di dalam hati sambil menghela nafas.
***
Setelah malam itu ada beberapa berita yang keluar tentang perkelahian selebritis di club malam.
Tetapi bukan Cruz namanya kalau dia merasa tertekan karena itu. Cruz tampak biasa saja dan sebodo amat.
Siapa yang tertekan? Tentu saja Letu dan Nina. Mengurusi kedua anak ini seperti tidak ada habisnya.
Tetapi syuting Couple star mereka selama dua hari berjalan dengan lancar. Salah satu kegiatan yang di lakukan di luar rumah adalah mereka melakukan kegiatan sosial di sebuah yayasan panti asuhan.
Itu adalah ide Cruz. Mereka membagikan makanan dan baju baru untuk anak-anak di panti itu.
__ADS_1
Saat break syuting, Noa duduk di taman panti sambil menonton anak-anak bermain bola, Cruz mengobrol bersama Noa.
" Kau ingin mendengar cerita sedih tentang hubungan seorang anak dan panti asuhan ini? ", Cruz memulai pembicaraannya. " Hanya kau dan Letu yang mengetahui cerita ini".
Noa mengangguk sambil menunggu Cruz melanjutkan ceritanya.
" Dulu ada seorang anak berusia 6 tahun, yang hidupnya tidak terlalu susah tetapi cukup menyesakkan baginya. Ayah kandungnya meninggal karena sebuah tragedi dan Ayah barunya adalah seorang pekerja kantoran yang suka mabuk-mabukan. Ibunya seorang guru TK dan melahirkan satu anak lagi dari suami barunya".
" Ayah tiri anak ini selalu memukuli ibunya setiap kali dia mabuk dan ibunya selalu memaafkan suaminya keesokan harinya. Suatu hari karena tidak tahan dengan perlakuan suaminya, sang ibu meminta cerai. Tetapi jawaban dari suaminya adalah pukulan dan amarah yang membabi buta".
" Karena melihat suaminya yang gelap mata, sang ibu menyuruh anaknya yang berusia 6 tahun membawa pergi adiknya yang saat itu baru berusia 1 tahun. Pergi dengan membawa bekal sekotak susu dan sebuah dot untuk adiknya. Anak itu berlari menggendong adiknya di punggung tanpa melihat kebelakang dengan ketakutan. Takut ibunya tidak akan pernah mencari mereka lagi".
Noa terus mendengarkan Cruz, sambil menatap pria dihadapannya ini. Wajah Cruz tidak menunjukan kesedihan tapi sebuah luka yang sebenarnya berat di ungkapkan.
" Adiknya yang baik tetap tertidur di punggung kakaknya, tetapi kaki kakaknya sudah sangat sakit karena berjalan sepanjang hari sejauh mungkin dari rumah. Pada akhirnya sang kakak memutuskan untuk masuk ke sebuah halaman bangunan dan duduk di tangga. Beberapa jam berikutnya pemilik bangunan itu keluar dan dia adalah kepala panti asuhan ini".
" Dia merawat kakak beradik itu dengan sepenuh hati. Memberi mereka makan, pakaian dan selimut baru yang hangat. Merawat mereka selama berminggu-minggu tanpa meminta uang. Akhirnya ibu mereka datang menjemput setelah beberapa bulan berpisah. Mereka memulai hidup baru yang lebih baik walaupun dengan ekonomi yang kurang baik. Tapi mereka bahagia tanpa ayah tiri mereka", Cruz menutup ceritanya.
Cruz tersenyum pada Noa. " Itu adalah akhir ceritanya", kata Cruz pada Noa.
" Bagaimana kabar anak itu sekarang?", tanya Noa.
"Kabarnya baik. Sangat baik saat ini", Cruz tersenyum.
Noa tersenyum. " Syukurlah. Bisakah kamu menyampaikan pesanku kepada anak itu?".
" Kamu ingin bilang apa?", tanya Cruz.
" Bilang padanya kalau dia adalah anak yang hebat dan tangguh. Tetaplah menjadi kuat dan tangguh, karena banyak yang menyayanginya. Termasuk aku", Noa memberi pesan.
Cruz tersenyum pada Noa dan mengangguk " akan ku sampaikan padanya".
Cruz menarik salah satu tangan Noa dan menempelkan wajahnya pada telapak tangan Noa, lau mengatur nafasnya pelan.
" Biarkan begini sebentar saja. Aku butuh mengisi energy", Cruz lalu memejamkan matanya lalu mengatur nafas setenang mungkin.
Noa hanya tersenyum dan membiarkan Cruz melakukan itu.
Semua yang berkilau ternyata selalu memiliki kisah, begitu juga dengan cruz. Walaupun dia bersinar di setiap harinya ternyata ada luka dan trauma yang dia simpan selama ini. Itulah hidup.
__ADS_1
***