
Noa turun dari mobil Tian tepat di parkiran di depan kantornya. “ Terima kasih karena sudah mengantarku”, kata Noa pada Tian yang ikut turun dari mobil.
“ Sama-sama”, jawab Tian tersenyum tapi matanya menatap ke balik punggung Noa. “ Sepertinya seseorang sedang menunggumu “, ujar Tian membuat Noa berbalik dan menemukan Cruz sedang bersandar di mobilnya sambil terus menatap ke arah Tian dan Noa.
Noa mengerjapkan mata tidak percaya. ‘ orang ini apa tidak bekerja ya’, batin Noa sambil menatap Cruz.
“ Baiklah, terima kasih karena sudah merawatku Tian. Akan ku balas lain kali”, kata Noa pada Tian.
Tian sedikit maju dan menunduk ke dekat telinga Noa. “ Aku tunggu makan malamnya”, ujar Tian tepat di telinga Noa.
Noa tersenyum mengiyakan. Sebelum masuk ke dalam mobil, dengan sengaja Tian mengangkat sebelah tangannya pada Cruz seolah menegur. Cruz hanya tersenyum dingin tanpa membalas, hatinya panas karena Tian berbisik di dekat Noa.
Lalu setelah mobil meninggalkan parkiran itu. Cruz menatap Noa dan memanggilnya dengan jari telunjuk agar Noa mendekat.
Entah kenapa Noa merasa takut, seolah-olah Noa sedang melakukan dosa yang sangat besar. Noa berjalan mendekati Cruz dengan kaku. Saat sudah dekat Cruz langsung menempelkan telapak tangannya pada wajah Noa.
“ Apa kamu sudah sembuh? Apa Tian memperlakukanmu dengan baik?”, tanya Cruz.
Noa terdiam, tangan Cruz masih di wajahnya. “ Ya aku sudah sembuh dan dia baik padaku”, jawab Noa.
Cruz mengangguk legah, lalu menurunkan tangannya dari wajah Noa. Maafkan aku karena tidak bisa menolongmu saat itu, aku berada di tengah pekerjaan yang tidak bisa ku tinggal”, Cruz berkata penuh penyesalan. “ seharusnya dari awal aku mengantarmu pulang”, lanjut Cruz lagi menghela nafas.
“ Tidak apa-apa Cruz, aku baik-baik saja. Dan apakah kamu tidak ada pekerjaan hari ini?”, Noa bertanya heran.
“ Tidak, hari ini aku libur, meliburkan diri”, kata Cruz mantap. Noa menatap Cruz dengan tatapan tidak percaya.
“ Oke baik, aku membatalkan semua aktivitasku setelah kak Letu mengatakan kau sudah sembuh dan akan di antar ke kantor ”, Cruz menjawab jujur.
Noa mencubit pelan lengan Cruz. “ Kenapa kamu lakukan itu? Kamu membuat kak Letu pusing”, Noa mengomel.
“ Karena aku memikirkanmu dan hari ini adalah ulang tahun ibuku”, kata Cruz.
Noa terdiam mendengar jawaban Cruz lalu bertanya dengan menyesal karena sudah memarahi Cruz. “ Jadi apakah kamu akan pulang ke rumah ibumu?”, tanya Noa.
“ Ya, aku kesini untuk mengajakmu bertemu ibuku”, jawab Cruz tanpa malu.
“ Aku? apakah aku boleh ikut merayakan ulang tahun ibumu?”, tanya Noa.
“ Ya tentu saja. Kau adalah tamu khusus”, ujar Cruz.
Noa tersenyum pada Cruz. “ Kalau begitu aku akan bertemu editor Ying dulu untuk menyerahkan naskah, setelah itu kita pergi ya. Kamu mau tunggu di mobil saja?”, tanya Noa.
Bukan Cruz namanya kalau dia menunggu di mobil, maka terjadilah kehebohan di kantor Noa sepagi itu karena Cruz.
__ADS_1
***
Cruz dan Noa sedang berdiri didepan pintu pagar rumah Cruz dan Noa tampak tidak tenang di belakang Cruz.
“ Ada apa?”, tanya Cruz yang melihat Noa tidak tenang.
“ Kau yakin tidak apa-apa jika kau ikut?”, Noa malah balik bertanya.
“ Aku yakin, karena ibu sendiri yang mengundangmu”, kata Cruz.
Noa mengangguk menenangkan dirinya. “ Oke ayo kita masuk”, ajak Noa.
Cruz tersenyum lalu membuka pintu pagar rumahnya. Ibu Cruz menyambut mereka berdua dengan raut wajah bahagia saat membuka pintu.
“ Cruz, ibu kira kamu lupa hari ulang tahun ibu”, kata ibu Cruz.
“ Tidak mungkin aku melupakan ulang tahun ibu, aku sudah bilang kalau aku akan datang”, jawab Cruz.
“ Noa, apa kabar? senang bisa bertemu denganmu lagi”, ibu Cruz memeluk Noa hangat.
“ Terima kasih karena mengundangku tante. Tante apa kabar?”, Noa membalas pelukan hangat ibu Cruz.
“ Tante baik sekali. Maaf ya jika undangan tante mengganggu waktu kerja kamu”, kata ibu Cruz.
“ Yuk masuk. Adikmu sedang sibuk memasak di dapur”, Ibu Cruz mengajak mereka masuk.
Noa lalu masuk dan bergabung bersama adik Cruz, sibuk-sibuk di dapur. Mereka cepat akrab, sedangkan Cruz sibuk mengeluarkan barang belanjaan yang dibelinya bersama Noa.
Ibu menyenggol lengan Cruz. “ Jadi ini pilihanmu nak? “.
“ Ya, bagaimana bu? cantik kan?”, Cruz meminta pendapat ibunya.
“ Ya dia cantik dan hatinya juga sepertinya hangat”, kata ibu.
“ Ya. Dia memang sangat baik hati. Tapi sampai sekarang dia belum menerimaku untuk menjadi pacarnya. Ibu harus mendoakanku ya”, kata Cruz sambil cengengesan.
“ Ibu selalu mendoakanmu nak”, jawab ibu Cruz.
Beberapa saat kemudian lagu ulang tahun berkumandang di ruang tamu rumah Cruz. Mereka hanya berempat tapi suasana terasa sangat hangat dan ceria.
Cruz menyerahkan sebuah kado berukuran kecil pada ibunya. “ Ini kado untuk ibu”, kata Cruz.
Ibu Cruz membuka kado itu dan menemukan sebuah kalung emas yang sangat cantik. Ibu Cruz tersenyum “ ini sangat cantik Cruz, terima kasih”, kata ibu Cruz sambil membelai rambut anak laki-lakinya itu.
__ADS_1
“ Ini kado aku buat ibu”, adik Cruz menyodorkan sebuah bungkusan berisi jaket berwarna sangat manis.
“ Terima kasih anakku sayang. Kamu dapat uang dari mana bisa membeli jaket semahal ini?”, tanya ibu Cruz.
“ Tentu saja dari kakakku tercinta”, jawab adik Cruz yang disambut dengan atwa oleh kami.
“ Ini kado untuk tante”, Noa menyodorkan sebuah kotak kepada ibu Cruz.
“ Oh… terima kasih Noa. Tante suka sekali kado ini”, ibu Cruz kegirangan karena menerima alat pijat dari Noa.
Cruz bengong. “ Aku kira ibu lebih menyukai perhiasan dariku?”, Cruz tampak berpura-pura kecewa.
“ Ibu suka perhiasan. Semua wanita menyukai perhiasan Cruz. Tapi alat pijat adalah perhiasan berharga di usia ibu yang sekarang Cruz”, jawab Ibu Cruz.
Mereka semua tertawa mendengar jawaban ibu Cruz.
Usai makan malam, Cruz sedang merokok di halaman depan rumah. Saat ibu menghampirinya Cruz langsung mematikan rokok itu.
“ Cruz, ada sesuatu yang ibu ingin katakan padamu”, kata Ibu.
“ Ada apa bu?”, Cruz menunggu.
“Ayah kalian sudah keluar dari penjara. Ibu mengatakan padanya untuk tidak mengganggu kalian lagi”, terang ibu.
Cruz hanya diam saja mendengar cerita ibunya.
“ Ibu tidak tahu apakah dia sudah berubah atau belum. Tapi jika suatu hari dia datang padamu, ibu harap kamu tidak kaget saat melihatnya. Tapi ibu yakin dia tidak akan mendekatimu. Maafkan ibu ”, kata Ibu CRuz sedih.
Cruz masih tetap terdiam tidak memberikan respon apapun.
Untuk beberapa saat suasana hening. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“ Oh ya Cruz. Seorang temanmu mengirimkan kado untuk ibu, tas yang sangat mahal. Walaupun ibu tidak biasa memakai barang mahal seperti itu tapi tetap sampaikan terima kasihku padanya”, kata Ibu.
“ Siapa? Kak Tan?”, tanya Cruz heran.
“ Bukan.. namanya seperti ada di kalender. Juni? Juli?”, ibu sedikit lupa, nanti coba ibu lihat lagi.
“ Ya bu”, Cruz tersenyum ramah lalu ibu meninggalkan Cruz sendiri di halaman.
‘July? apa yang sedang coba kau lakukan?’, Cruz membatin.
***
__ADS_1