
Cruz memperhatikan Noa yang sibuk mondar mandir di dapur. Pagi ini Noa membangunkan Cruz untuk mengajaknya sarapan.
" Aku bantu apa?", tanya Cruz.
" Buat kopimu sendiri", jawab Noa sambil tetap melakukan pekerjaannya.
Cruz melakukan yang di suruh Noa, tanpa mengeluh dan mnegomel seperti biasanya.
Noa meletakan nasi goreng di atas meja makan. Lalu mereka sarapan bersama.
" Hari ini kegiatanmu apa?", tanya Noa.
" Mengaku dosa", jawab Cruz sambil menyeruput kopinya.
" Mengaku dosa kepada siapa?", Noa bertanya heran sambil mnegunyah makanannya.
"Jay... ", Cruz tersenyum.
Noa menatap Cruz dengan serius. "Apakah Jay akan marah?", tanya Noa sedikit cemas.
" Jay? aku belum pernah melihat dia marah, dia adalah orang paling tenang sekaligus paling berbahaya yang pernah ku kenal", jelas Cruz.
Noa terdiam seperti bingung " maksudmu dia seperti gangster?" Noa bertanya polos membuat Cruz tertawa kecil.
" Ya.. Yaa.. Dia seperti itu. Jadi kau jangan terlalu dekat dengannya. Paham?", Cruz memberi peringatan asal.
Noa hanya mengangguk paham. Walaupun secara pribadi Noa merasa Jay tidak seberbahaya itu.
Ponsel Cruz berdering. Cruz melihat layar ponselnya, nama Letu tertera di sana.
" Ya... Halo kak", Cruz menjawab telepon dari Letu.
" Halo Cruz, aku sudah kirim lewat email jadwal seminggu ke depan. Dan juga untuk masalah kemarin, sepertinya orang itu menuntut karena pengerusakan dan pengeroyokan", Letu menjelaskan panjang lebar.
Cruz terdiam sejenak seperti berpikir. Dia melihat ke arah Noa yang duduk didepannya tengah menikmati sarapan pagi. Bayangan pria itu memukul Noa melintas di kepala Cruz. Pipi Noa tidak tampak semerah tadi malam, tapi trauma itu pasti membekas di pikirannya. Cruz yakin soal itu.
" Orang itu ... punya nyali juga. Hari ini aku akan bertemu Jay kak. Kita lawan dia, jika dia ingin berdamai jangan pernah beri kesempatan apapun", Lalu Cruz menutup telepon setelah Letu menyetujui.
"Ada apa?", tanya Noa.
" Pria semalam menuntut kami karena melakukan pengerusakan", Cruz menjawab santai sambil memandang Noa.
Pemandangan indah di pagi hari bagi Cruz sekarang adalah melihat Noa yang suka ribut-ribut sendiri dan mondar mandi di dalam rumah. Dia sangat suka melihat Noa yang nyaman bersamanya.
__ADS_1
" Dia menuntut? Bagaimana jika citramu buruk Cruz?", Noa bertanya.
Cruz memandang Noa yang tidak peka terhadap perasaannya lalu tersenyum.
" Aku tidak peduli pada citraku. Memukul wanita dan anak-anak adalah hal yang paling menjijikan yang akan aku benci seumur hidupku", Cruz menjawab pertanyaan Noa.
Noa tertegun pada pernyataan Cruz, terlepas dari masa lalunya ternyata dia adalah pria yang sangat baik.
" Aku setuju", kata Noa akhirnya." Cruz, aku ingin bertanys soal penguntit itu. Apakah dia sudah di tangkap? ", Noa bertanya.
Cruz sedikit kaget dengan pertanyaan Noa. " Emm.. Sepertinya belum. Akan ku beritahu jika sudah tertangkap", Cruz berbohong.
Noa mengangguk lalu menghela nafas kecewa. Ada sedikit rasa bersalah di hati Cruz karena berbohong pada Noa. Tapi Cruz melakukannya karena rasa egoisnya yang menginginkan Noa tinggal dekat bersamanya.
Secara tidak langsung, keberadaan Noa membuat dia lebih bersemangat dan berwarna. Cruz belum ingin Noa menjauh darinya, untuk saat ini.
***
" Jadi, kalian berdua semalam kerasukan apa sampai mengamuk seperti itu ?" Jay berkata sambil mengayunkan stik golfnya pelan, berusaha berkonsentrasi pada bola golfnya.
Saat itu Cruz, Loco, Lucas dan Gilli pergi ke kantor Jay untuk mengakui dosa yang telah mereka perbuat tadi malam. Tapi tampaknya CEO mereka itu sangat santai mendengar masalah kemarin malam di club.
Cruz yang mengetahui tabiat Jay dengan santainya berbaring di sofa ruang tamu kantor Jay, sedangkan Loco duduk santai sambil bermain game di ponselnya. Hanya Gilli yang terlihat tidak begitu tenang. Dia malah heran bagaimana kedua temannya bisa setenang itu.
Jay mengangguk paham. " Boleh juga. Sayang saya tadi malam terlalu cepat pulang. Jadi tidak bisa ikut party itu", Jay berkata penuh penyesalan. Entah menyesal karena benar tidak ikut keributan itu atau karena bola golfnya meleset.
" Kakak berkata apa? kita aja sudah di hubungi terus sama wartawan. Apalagi jika kakak ikut keributan, mungkin wartawan akan berkemah di depan kantor CAIN ", Gilli merespon perkataan Jay heran dengan CEOnya itu.
" Kau benar juga Gilli. Jadi pemukul baseball itu punya siapa? ", Jay bertanya lagi sambil mengambil ancang-ancang kedua untuk memukul bola.
" Punyaku. Itu sudah lama tidak di pakai. Jadi mau mencoba lagi, apakah masih berfungsi atau tidak. Ternyata masih oke", Cruz menjawab dari balik sofa.
" Nanti bolehlah saya pinjam ", Jay berkata serius sambil memukul bolanya dan masuk.
Loco hanya menggelengkan kepala melihat reaksi Jay karena perbuatan mereka.
Jay meletakkam stik golf pada tempatnya lalu berjalan kembali ke arah meja kerjanya. Dia duduk di kursi dan menatap Cruz.
" Cruz tolong fokus untuk persiapan konsermu nanti", Jay mengingatkan. " Dan lagi untuk saat ini kalian jangan buat onar lagi. Karena kalian memiliki banyak kegiatan dan kolabirasi dengan berbagai brand", Jay berkata.
" Aku paham karena kalian membela wanita menjadi korban penganiayaan. Perusahaan akan melawan pria itu di pengadilan. Aku harap kalian bisa membjuk Kim dan Noa untuk menjadi saksi. Dan Loco, aku tahu Kim bersamamu sekarang. Kau akan di bawah manajer Cruz, jadi urus Kim dengan baik. Paham? ", Jay berkata panjang lebar.
Cruz dan Loco mengangguk bersamaan, menerima saran dari Jay.
__ADS_1
"Bagus", Jay senang dengan respon teman-temannya. Setelah itu Jay berjalan ke arah stik PSnya dan melemparkan salah satunya ke arah Gilli.
Gilli yang menerima stik itu hanya terbengong. " Gitu doang? Jadi kami ke sini bukan mau di hantam?", Gilli heran karena masalah yang mereka buat semalam cukup heboh.
Jay mengerutkan dahinya lebih bingung. " Tidak. Aku suruh kalia ke sini buat main PS. Kalian selalu berkumpul tanpa aku. Jadi lebih baik aku undang kalian ke kantor kan", Jay menjawab santai.
Gilli menggelengkan kepala " bos gendeng".
Loco dan Cruz tertawa mendengar perkataan Jay. Cruz pernah melihat Jay dulu lebih ganas dari mereka. Bagaimna Jay mengatasi kecemasan hebatnya, di bully dan sekarang dia jadi orang hebat. Makanya bagi Jay, apa yang Cruz dan Loco perbuat itu adalah kenakalan anak laki-laki pada umumnya. Dan dia bisa menanggapi itu dengan bijak.
Cruz tertidur di sofa cukup lama sampai Jay membangunkannya.
" Cruz, sekarang kau bisa tidur senyenyak itu tanpa obat?", Jay bertanya hati-hati.
" Ya, beberapa bulan terkahir ini aku bisa tidur nyenyak tanpa terbangun atau bermimpi gak guna", Cruz mengiyakan.
" Sejak kapan?", Loco penasaran.
" Sejak bersama Noa. Aku tidak tau kenapa, tapi terjadi begitu saja. Kalau didekat dia rasanya aku bisa tidur tanpa masalah, tanpa obat, tanpa minum", Cruz menjelaskan
" Apa dia seperti obat penyembuh untukmu ?",Jay bertanya lagi.
Cruz berpikir sejenak. Apakah Noa adalah obat penyembuhnya? .
" Aku tidak tahu. Mungkin iya dia seperti obat untukku. Tapi yang aku tahu, aku terhadapnya ada rasa ingin memiliki. Dan aku yang menginginkannya", Cruz menjawab dramatis.
" Waah.. Lihat siapa ini? Aku sampai kira kau orang lain", Loco mengejek.
"Diam kau", Cruz memaki Loco. "Lihat siapa yang membuat keributan karena rasa cinta?", Cruz membalas tidak mau kalah.
" Baiklah, aku diam", Loco terdiam setelah di ulti Cruz.
Jay menepuk bahu Lucas bangga karena pengakuannya yang gentel. " July tau?", Jay bertanya lagi.
"Aku tidak memiliki urusan dengannya", Cruz cuek.
" Yang kulihat dia masih menginginkamu. Mungkin terobsesi padamu", Jay berkata.
" Tempramennya parah jika menyangku Cruz. Itu kata Joy padaku. Sebaiknya kau jauhkan Noa dari July", Gilli memperingatkan Cruz.
Cruz tidak menyahut, dia tampaknya sudah tidak peduli pada wanita itu. Yang sekarang ada di kepalanya hanya Noa Noa dan Noa. Gadis yang membuat Cruz jatuh hati karena menolak pesona ketampanannya tanpa berpikir.
***
__ADS_1