My Annoying Superstar

My Annoying Superstar
Bertengkar di Club Malam. Part 2


__ADS_3

“ Apakah dia seperti itu?”, tanya Noa. “ Wah aku sangat kecewa padanya”, Noa melanjutkan memasang wajah kecewa.


Seperti menemukan orang yang juga membenci Cruz, pria itu dengan penuh semangat langsung menanggapi.


“ Wah nona kau harus tahu betapa buruknya dia. Bermain perempuan dan suka plagiat”, kata pria itu. “ Aku rasa dia memiliki kelainan seksual”, kata Pria itu membuat darah Noa mendidih.


Kim yang baru keluar dari toilet memperhatikan interaksi itu. Jiwa manajernya keluar, dia tahu ada yang tidak beres. Cepat-cepat dia mendekati Noa dan Cleo lalu berbisik.


“ Ada apa?”, tanya Kim.


“ Akan ada petaka, tolong panggil mereka”, kata Cleo. Kim dengan cepat pergi dan menghilang di balik kerumunan menuju ke tempat duduk mereka.


“ Serius? Apa kakak berteman dengan Cruz?”, tanya Noa.


“ Tidak aku tidak berteman dengannya”, pria itu menjawab cepat. 


“ Kalau begitu kakak sering nongkrong dengan Cruz itu?”, tanya Noa lagi membinarkan matanya.


Pria itu menjawab sedikit ragu. “ Tidak juga. Tapi aku mendengarnya dari beberapa orang yang mengenal dia”, pria itu tersenyum.


“ Ha .. ha.. ha… “, Noa tertawa kesal. “ Bajingan ini, aku kira kau bermain bersama Cruz sehingga bisa menyebarkan gosip murahan seperti itu. Mengecewakan”, Noa berkata sinis.


“ Bajingan? kau memanggilku bajingan?”, pria itu melotot ke arah Noa. 


“ Ya, aku memanggilmu bajingan. Kenapa? ada masalah?”, Noa menjawab kasar.


“ Wanita ini. Beraninya kau memanggilku seperti itu”,pria itu berteriak ke arah Noa. teman-temannya menahannya.


“ Apa? Apa namanya pria yang suka bergosip tidak jelas. Bajingan kan? Oh aku tahu… Banci.. bencong?”, Noa berkata sinis. 


“ Kau akan ku pukul kau. Dasar wanita jal*ng. Kau siapa hah? beraninya mengataiku. Kau tidak tahu aku anak jendral, aku akan memenjarakanmu ”, kata pria itu.


“Anak jendral? hahahahahaha”, Noa tertawa seperti orang gila membuat Cleo merinding. “ Aku? Aku siapa? Aku adalah orang gila yang bekerja dan membayar pajak untuk memberi gaji kepada ayahmu yang jendral itu. Kau tidak tahu? Ayahnya Jendral dan anaknya ke club malam untuk bergosip”, Noa berbicara dengan berapi-api. 


Pria itu berjalan mendekati Noa dan langsung menampar pipi Noa, suasana hening. Cruz dan yang lainnya berada di sana tepat saat pria itu mencengkram baju Noa. Cruz hendak maju saat Noa berbicara dengan suara keras. 

__ADS_1


“ Kau yang memukulku lebih dulu”, setelh itu Noa langsung memberikan sebuah tendangan di ulu hati pria itu, membuatnya mundur selangkah.


“ Sudah ku katakan aku ini gila. Fans gilanya Cruz ”, Noa  berkata lalu mengambil kuda-kuda dan melakukan tendangan berputar tepat mengenai wajah pria itu. 


Pria itu tersungkur, Noa mengambil ancang-ancang untuk memukul lagi tetapi Cruz dengan cepat datang menggendongnya di bahu seperti mengangkut barang dan cepat-cepat pergi dari tempat itu. Noa terus menunjuk ke arah pria itu penuh emosi dari balik pundak Cruz. 


“ Hei bajingan kau…. beraninya kau mulut kotor. Awas kau kalau bertemu lagi, aku akan memasukan ulat ke dalam mulutmu… yaaaakkk… sini kau…..”, Noa berteriak emosi sambil menunjuk pria yang masih syok itu.


***


Noa manyun karena Cruz menatapnya tajam. “ Apa hobimu bertengkar?”, tanya Cruz pada Noa.


Noa menggelengkan kepala. Tangannya yang sebelah sedang mengompres es ke pipinya yang memerah.


“ Jantungku hampir copot karena dia memukulmu Noa”, kata Cruz sambil mengambil alih es itu dan membantu mengompres pipi Noa.


“ Aku tidak suka dia menjelekanmu. Aku tidak bisa diam saja saat dia mengatakan hal  buruk tentangmu, padahal dia tidak pernah bertemu denganmu. Orang seperti ini adalah orang yang jahat ”, kata Noa tidak menatap Cruz. Kelihatan sekali Noa sangat jengkel pada reaksi Cruz. 


Cruz tersenyum mendengar pengakuan Noa. “ Pacarku memang sangat berani. Tapi aku tidak ingin ini terulang lagi Noa. Sebagai public figure aku pasti bisa dipuja ataupun di hujat, itu hal yang biasa. Jika suatu saat kamu mendengar hal seperti itu lagi, aku ingin kamu mengabaikannya”, Cruz berbicara sambil menatap Noa. 


“ Apapun yang orang lain katakan tentangku jangan pedulikan itu, karena aku yakin kamu lebih mengenalku dengan baik”, lanjut Cruz menggenggam tangan Noa.


Noa langsung memeluk Cruz dengan penuh sayang. “ Aku tidak bertengkar lagi. Tapi jika ada yang membuatmu sedih beritahu aku”, kata Noa.


Cruz membalas pelukan Noa dan memejamkan matanya. Merasakan hangatnya pelukan Noa membuatnya terlena, Cruz sadar dia tidak bisa hidup tanpa wanita ini sekarang. 


***


Tian menatap gedung-gedung tinggi di hadapannya. Gelas di tangannya yang berisi wine sudah tandas sejak tadi, tapi Tian masih enggan untuk meletakan gelas itu di atas meja. 


Pikirannya kemana-mana, memikirkan banyak hal. Salah satunya terkait Noa yang semakin hari terus membayangi dirinya. 


Sedikit penyesalan menghinggapi diri Tian, seharusnya dulu Tian memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya terhadap Noa. Saat itu ketika Tian memiliki niat seperti itu, kabar buruk datang membuatnya membatalkan semua rencananya. 


Ayahnya membawa wanita simpanannya ke rumah. Setelah sekian lama menyembunyikan kekasihnya itu. Bahkan tanah pusara ibunya belum mengering. Betapa bencinya Tian pada ayahnya. 

__ADS_1


Sebisa mungkin Tian menghindari interaksi dengan ayahnya, selalu menghindari makan malam di rumah utama atau sekedar lewat di depan rumah utama. 


Warisan perusahaan dari ibunya sangat membantu Tian untuk menghindari bekerja bersama ayahnya, perusahaan yang dulunya kecil telah berubah menjadi perusahaan yang tidak bisa di pandang sebelah mata. Semua perjuangan ini Tian lakukan untuk membalas ayahnya. 


Pada akhirnya ayahnya mulai bangkrut dan saat itulah Tian mengambil perusahaan itu. Semua adalah miliknya sekarang. Kekayaan, ketenaran. Tapi mengapa rasanya masih belum cukup? rasanya dendam itu belum sepenuhnya terbalaskan. 


Ada satu hari di mana Tian ingin mengusir ayah dan istri barunya itu tetapi hati nuraninya melarang. Bagaimanapun juga mereka tetaplah manusia, jadi dengan terpaksa Tian membiarkan mereka tinggal di rumah utama dan ayahnya kembali mengurus anak perusahaan darinya. Setidaknya Tian masih memiliki kebaikan hati dari ibunya. 


Tian menghela nafas panjang. Pikirannya mulai kalut, Tian tau Noa dan Cruz sudah bersama tetapi Tian tidak peduli. Tian meletakan gelas kosong itu di atas meja dan mengambil ponselnya. 


“ Halo Noa”, Tian menyapa Noa saat gadis itu mengangkat teleponnya.


“ Hai Tian. Ada apa?”, tanya Noa.


“ Apa kabarmu?”, tanya Tian.


“ Kabar baik”, jawab Noa.


“ Noa.. apakah besok kita bisa bertemu?”, tanya Tian.


“ Besok? bisa. Ada apa?”, tanya Noa.


“ Aku ingin berbicara denganmu”, kata Tian.


“ Baiklah. Mari kita bertemu”, jawab Noa menyetujui.


“ Aku akan menjemputmu”, kata Tian.


“ Tidak perlu Tian, aku akan berangkat dengan mobilku. Jangan merepotkan dirimu sendiri”, kata Noa.


“ Tidak apa-apa. Aku tidak repot. Aku akan menjemputmu”, Tian memaksa.


“ Baiklah. Bye”, jawab Noa mengakhiri telepon mereka.


Tian menatap keluar jendela sekali lagi. Lalu bergumam pelan “ Bisakah kau menjadi milikku Noa?”.

__ADS_1


****


__ADS_2