My Annoying Superstar

My Annoying Superstar
Kata-kata Penuh Ambigu


__ADS_3

Saat Noa memutuskan untuk pulang duluan karena provokasi July, rasanya Cruz sedikit kecewa.


" Al, tetaplah di sini. Kau tau kan aku sangat merindukanmu", kata July mengelus pelan legan Cruz saat Noa sudah pergi.


" July, lepaskan tanganku sekarang. Aku sedang tidak ingin berargument denganmu", Cruz menarik lengannya sedikit kasar.


" Tapi Al, ayolah. Mau sampai kapan kamu begini padaku", July merengek di hadapan Cruz sambil berusaha memeluk mantan kekasihnya itu.


Cruz mendorong July pelan. " Sampai kau sadar dari obesismu padaku. Paham ", Cruz menatap tajam July membuat wanita itu terdiam.


Cruz berjalan keluar ruangan saat July hendak menarik tangannya lagi.


" Al cam'on", July berkata kesal membuat seisi ruangan kecil itu melihat ke arah mereka.


" Stop July. Please ", Cruz memperingatkan July dengan sedikit keras, membuat gadis itu terpaku. Ini pertama kalinya suara Cruz terdengar sedikit tinggi padanya.


Lalu Cruz pergi meninggalkan July untuk mengejar Noa.


***


" Kau mau ke mana tanpa aku?", Cruz menarik tangan Noa, membuat gadis itu sedikit kaget.


" Aku akan pulang. Kau bukannya harus bersama temanmu July ?", Noa menatap Cruz.


Cleo dan Ran memperhatikan mereka berdua.


" Aku datang ke tempat itu untuk menjemputmu bukan untuk berpesta bersama orang lain", Cruz mendekat pada Noa.


" Cruz, jadi kau akan pulang bersama Noa? ", Ran berbicara pada Cruz.

__ADS_1


"Ya Ran. Kalian duluan saja. Noa bersamaku", Cruz berbicara ke arah Ran sambil tersenyum.


" Oke kalau begitu. Bebh, kita duluan ya", Cleo melambaikan tangan lada Noa.


Noa mengangguk pada Cleo, sebelah tangannya masih dalam genggaman Cruz membuat Noa tidak bisa bergerak mendekat pada Cleo.


Sepeninggalan mereka, Cruz membawa Noa ke mobilnya. Ada sedikit kemarahan pada Cruz karena Noa lebih memilih pulanh bersama Cleo.


Cruz membantu Noa memasang sabuk pegamannya, lalu menatap Noa dalam jarak sedekat itu. Membuat Noa harus merapatkan dirinya ke pintu mobil.


" Dengarkan aku, lain kali jika ada yang merebut sahabatmu lawan dia. Jangan dengan mudahnya kamu merelakan. Jika ada yang ingin mengambilku darimu, lawan dia. Paham?", Cruz menatap manik mata Noa.


Noa mengangguk. " Tapi kenapa aku harus melakukannya?", Noa bertanya. Tapi demi langit dan bumi jantung Noa berdenar tidak karuan seperti akan meledak karena Cruz memberi jarak yang sempi di antara mereka.


"Karena aku milikmu, aku sahabatmu dan Kau milikku ", kata Cruz tegas.


Cruz tidak mengatakan Noa adalah sahabatnya karena Cruz tidak menginginkan persahabatan. Cruz menginginkan hubungan yang lain dari Noa. Hanya saja wanita di hadapannya ini harus di dekati dengan cara yang hati-hati, yaitu menggunakan jalur persahabatan.


" Cruz.... Sepertinya... Kita terlalu dekat", kata Noa pada Cruz.


Jarak mereka mungkin tinggal sejengkal, Noa bahkan bisa merasakan wangi parfum Cruz dan hembusan nafasnya yang hangat di pipi Noa.


Cruz tersenyum sambil menatap wajah Noa. " Aku suka jika jarak kita sedekat ini", Cruz menjawab membuat jantung Noa berdebar tidak karuan.


Darah Cruz berdesir, rasanya Cruz ingin menyentuh bibir itu sekali lagi. Dengan caranya, tanpa pengaruh alkohol.


Noa terpaku karena Cruz menatapnya dengan cara yang berbeda. Pipi Noa tampak merona merah. Cruz tersenyum penuh arti. Bunyi Klik dari sabuk pengaman Noa yang di pasang Cruz membuat suasana sedikit mencair.


Cruz menarik badannya menjauh dari Noa, kembali ke belakang stir mobil. Noa menghembuskan nafasnya legah.

__ADS_1


" Sudah siap? Ayo kita pulang", ajak Cruz.


Noa mengangguk setuju sedikit kaku. Cruz tersenyum senang.


Semakin hari Cruz sadar bahwa dia semakin menyukai Noa. Awalnya rasa yang muncul adalah keinginan untuk berteman, tetapi dengan berjalannya waktu rasa itu berubah menjadi mengagumi dan ingin memiliki.


Tetapi Cruz belum melihat rasa yang sama pada diri Noa. Yang di tunjukan Noa padanya hanya sebuah rasa persahabatan.


Cruz melajukan mobilnya. Meninggalkan Club malam itu dengan perasaan yang sudah di tentukannya. Walaupun wanita ini tidak menyadarinya, tapi Cruz akan membuat Noa menginginkannya. Itu harus terjadi.


Saat mereka sampai di apartemen, Noa dan cruz tidak langsung tidur. Mereka berdua duduk di ruang tamu dan melakukan ritual malam hari yang biasa di lakukan Noa.


" Sini aku yang pasang", Noa ribut-ribut.


" Aww pedes... Naik ke atas dikit dong Noa", Cruz mengomel.


" iihh jangan banyak ngomong. Nanti maskernya mengerut", Noa memukul paha Cruz.


Cruz memberi kode oke dengan jarinya. Mereka lalu berbaring di sofa sedang memakai masker dan menonton Film yang di putar Cruz.


Dirambut Cruz ada jepit dengan hiasan boneka kucing di sana. Mencegah rambut Cruz terjatuh ke wajah. Sedangkan Noa memakai bando dengan telinga kucing. Mereka berdua seperti sedang bermain salon-salonan


Cruz mencolek pundak Noa, memberikan kode agar Noa mengambilkan remot di dekat meja.


Dengan malas Noa memanjangkan kakinya dan mengambil remot TV dengan keahliannya melenturkan badan.


Cruz bertepuk tangan dalam diam. Mereka berdua tidak saling bicara karena makser yang terpasang di wajah mereka. Cruz menaikan volume TV dan mereka menonton dalam diam.


Semakin malam Noa lebih dulu terlelap. Cruz menatap Noa dan membantu melepaskan masker dari wajah Noa. Cruz menepuk pelan pipi Noa dengan kedua jarinya agar khasiat masker itu meresap. Lalu membelai pipi itu lembut.

__ADS_1


" Good Night", Cruz berbisik pada Noa yang tertidur lalu menyampirkan selimut pada Noa dan dirinya sendiri.


Cruz lalu ikut terlelap di samping Noa.


__ADS_2